KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 32



PoV Reno


"Hari ini kamu kuliah pagi Ren?" tanya om Danu saat kami baru selesai sarapan.


"Iya om, masuk jam sembilan pagi" jawabku seraya mengangkat piring kotor bekas kami berdua makan.


"Om mau ngajak kamu ke proyek padahal, tadi malam mandor nelpon katanya ada kehilangan beberapa alat bangunan di gudang, nggak banyak sih, sudah di konfirmasi sama semua kuli dan anak buah nya tapi mereka juga nggak tahu karena waktu selesai kerja mereka semua memasukkan kembali peralatan kerja di gudang" cerita om Danu


"Hem, kejadiannya sekitar jam berapa om?" tanyaku


"Tengah malam seperti nya, tapi nggak ada yang aneh, kondisi gudang juga masih baik-baik saja dan terkunci rapat" jelas om Danu.


"Nanti aja pulang kuliah aku nyusul sekalian nyelidikin siapa pelakunya, om jangan ngomong apa-apa loh sama mereka. oke?" ucapku


"Oke, kamu pulang jam berapa, om tunggu di kantor saja ya"


"Pulang jam dua belas, om duluan aja ke lokasi proyek, kalau aku udah dapat petunjuk nanti kita omongin di rumah"


"Gitu ya, okelah om tunggu"


",Sip"


Seperti ini hari-hari yang ku lalui selama enam bulan lebih berada di sini. hidup bersama orang tua angkat ku yang dengan legowo mau menerimaku dengan segala permasalahan yang ku hadapi. beruntung mereka tidak pernah menuntut apapun padaku.


Hari ini jadwal kuliahku pagi hingga pukul 12:00 siang. jadi aku masih bisa membantu om Danu di proyek yang sedang di tanganinya saat ini hingga sore hari.


Semalam Dimas memberiku kabar jika ibu akan ke Jakarta untuk melihat rumah dan dua toko rotinya yang sudah enam bulan tidak pernah ia kunjungi. meski setiap bulan aku mendapat transferan dari Dimas dari hasil kos-kosan tapi tetap saja aku masih harus mengecek sendiri kondisi kos-kosan yang sudah ku amanah kan pada bang Somat dan bang Randi serta dua anggota lainnya.


Selama ini aku memang menutup akses keluargaku yang lain sesuai amanah almarhum bapak sebelum meninggal, entah apa yang beliau inginkan saat itu, yang aku tahu sekarang aku tetap harus menjaga dan menyembunyikan identitas keluarga almarhum bapak sambung ku termasuk ibuku dan keluarga ibuku lainnya.


"Ren, nanti mampir ke ATM ya, Tante mau ngirim uang ujian sama kos-kosannya Gito, bisa kan?" ucap Tante Meri sembari menyerahkan amplop coklat padaku.


"Bisa, pake ATM aku aja Tan, uangnya Tante simpan aja dulu, kirim aja di wa no rekening mas Gito, tapi agak siangan ya, pulang kuliah bisa kan?" tanyaku.


"Bisa-bisa, tapi kamu ada uang nggak? ini banyak loh Ren, 10 juta" ucap Tante Meri


"Insha Allah cukup, aku nggak berani bawa uang sebanyak itu ke kampus Tan hehehe" ucapku menunjuk amplop coklat di tangannya.


Tante Meri tertawa mendengar ucapan ku. lalu kemudian berbalik masuk ke kamar untuk mengambil buku rekening Gito.


"Ini kamu foto aja buku rekeningnya, uang nya Tante transfer ke rekening kamu atau ibuk?" tanyanya


"Tante simpan aja dulu, buat simpanan nanti bayar ujian meja dan skripsi belum lagi kalau mau KKN." ucapku.


"hahaha bagus juga prinsip kamu, jadi Tante yang ngutang sama kamu kalau gini ceritanya Ren" ucap nya tertawa.


"Daripada ribet Tan, nggak enak kalau mau minta sama ibu apalagi Dimas" sanggah ku


"Lagian kamu ujian meja masih dua tahun lagi Ren, ya udah ini Tante simpen ya, kamu catat loh kalau Tante ngutang kamu 10 juta oke" katanya


"oke bae.... hahah...aku berangkat ya Tan?" pamit ku


"Nggak bareng sama om kamu aja Ren?" tanyanya


"Tanggung ini udah telat belum ngerjain tugas hehehe" ucapku setelah mencium punggung tangannya.


"hati-hati"


"Iya assalamualaikum "


"Waalaikumsalam "


Aku berjalan keluar dan langsung menstarter motor KLX yang baru ku beli dua bulan lalu untuk memudahkanku saat pergi ke kampus.


Motor melaju membelah jalanan yang sudah terlihat ramai oleh pengendara dan beberapa petugas polisi yang mengatur lalulintas. masih jam tujuh pagi tapi kesibukan manusia untuk mengais rezeki demi sesuap nasi sudah terlihat.


Jarak rumah dan kampus memang tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. aku berhenti di pom untuk mengisi bahan bakar yang sudah mulai berkurang.


"Loh bang Reno, mau kuliah?" tanya salah satu pengendara motor yang berada di barisan depan ku sedang membuka tutup bahan bakar motor nya.


"Iya bang, lagi banyak orderan sih heheh" ucapnya tanpa malu membuat ku sedikit bergidik mendengar nya.


Andin berlalu pergi setelah bahan bakarnya terisi. setelah membayar aku bergegas melaju kan kendaraan ku menuju ke kampus.


***


"Woi bro, pagi amat kamu" seru salah seorang teman sekelas ku di barisan samping. karena lampu merah aku berhenti.


"Tugas gue belum kelar San, da gue duluan" ucapku saat lampu sudah berubah hijau.


Tiba di kampus aku langsung duduk di taman tempat biasa aku Nongkrong bareng temen-temen saat jam kuliah sedang kosong.


Ku keluarkan semua peralatan tempur untuk presentasi hari ini. sementara menunggu laptop sedang loading, ponsel ku bergetar. rupanya panggilan dari ibu.


"Assalamualaikum Bu apa kabar?" sapa ku


"Waalaikumsalam ibu sehat kamu sehat kan?"


"Alhamdulillah, ada apa Bu kok tumben nelpon pagi banget?"


"Nggak apa-apa, ibu cuma mau ngasih tahu kamu, tapi jangan marah ya?"


"Loh kenapa emang, ada apa sih?"


"Ren, semalam tuan Denias datang kerumah"


Deg.


Aku terpaku mendengar ucapan ibu diseberang telpon, sebuah nama yang paling aku segani pemilik nya. tuan Denias datang menemui ibu? untuk apa?


"Ibu jangan bercanda"


"Ibu nggak bohong Ren, beliau datang sendiri tanpa di temani siapapun"


"Untuk apa Bu?"


"hanya memastikan sama ibu kalau kamu ada di tempat yang aman"


"Maksudnya?"


"tuan Denias selama ini sudah mengetahui dimana ibu dan kamu tinggal Ren, beliau datang hanya untuk memastikan kalau kita semua baik-baik saja, dan sekaligus meminta maaf mewakili tuan Wibowo karena sudah memaksakan kehendak sama kamu" cerita ibu panjang lebar.


"hah?"


"Ren, mereka nggak benci sama kamu dan ibuk, justru mereka, terutama tuan Wibowo meminta maaf karena sudah melakukan kesalahan"


"Trus ibu bilang apa?"


",Ya ibu cuma bilang kalau Reno hanya ingin meminta satu hal untuk di rahasiakan dimana dirinya berada sekarang itu saja kok"


Akhirnya aku bernafas lega mendengar ucapan ibuk. itu memang keinginan ku sendiri sejak awal meskipun setelah nya aku menyesal hingga detik ini. menyesal karena sudah menambah luka pada Keisya.


Obrolan kami berakhir saat ku dengar suara Arkan pamit akan ke sekolah. adik yang sangat ku rindukan meski aku tahu dia tidak menyukaiku.


Aku membuka akun sosmed ku yang baru dan melihat story Keisya beberapa menit lalu. Kini Keisya sudah bisa tersenyum terlihat dari story' nya yang sedang menggendong si kembar anak Kinara dan Azka.


Aku ikut tersenyum, betapa besar kesalahan yang sudah ku berikan padanya tapi dia mampu berdiri dan bertahan berkat kasih sayang orang tua dan keluarga.


Hanan, aku berterima kasih padamu karena telah memberikan Keisya semangat untuk melanjutkan hidup setelah ia merasa benar-benar putus asa karena kesalahan yang pernah ku buat. ucapku dalam hati.


Ya Hanan salah satu orang terpenting yang ikut memberikan semangat dan wejangan positif pada Keisya menurut cerita mbak Vivi beberapa bulan lalu.


Aku menutup ponsel dan langsung fokus untuk mengerjakan tugas dadakan yang harus ku kumpul hari ini.


Berlahan aku belajar untuk pasrah pada takdir hidup yang sudah tuhan tentukan untuk ku esok hari. biarlah yang sudah berlalu menjadi pelajaran berharga untuk kedepannya. dan semoga Tuhan akan kirimkan seseorang untukku menghabiskan sisa umurku nanti. seseorang yang tepat yang akan menemaniku hingga akhir hayat.