
Pov Kinara
Sudah kebiasaan setiap weekend aku bangun lebih pagi dari biasanya, setelah sholat malam aku tak langsung tidur kembali, aku menunggu waktu subuh tiba dengan membaca novel atau menonton melalui aplikasi mutube, yah namanya cewek nggak jauh-jauh dari yang berbau korea dan kawan-kawan. walau tak jarang rasa ngantuk itu menyerang bahkan aku sering tertidur dengan posisi duduk di kursi dan ponselku masih menyala.
Hari ini aku bangun setelah adzan subuh berkumandang, akibat kelelahan hebat melanda beberapa minggu ini karna harus prepare untuk ujian nasional berbasis komputer. Ku langkahkan kaki ku menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum sholat.
Tok tok tok
"Ra udah bangun?"
Ah baru saja aku hendak memakai mukenah mama memanggilku dari luar kamar. tumben sepagi ini mama Hanna datang ke kamarku, biasa kami akan bertemu di meja makan atau di dapur.
Ku buka pintu dan ku lihat wajah ayu itu terlihat sendu, gurat kesedihan terpancar jelas dari sorot matanya. ada apa ini? sepersekian detik perasaan tak enak menggelayuti relung hatiku. Ku persilakan mama masuk.
"Ada apa ma kok tumben?"tanya ku seraya membenarkan posisi mukenah yang ku pakai.
"Kamu udah sholat atau baru mau?" tanya mama tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Baru mau sholat, agak telat bangun hehe" jawabku sembari menata sajadah.
"Ya udah mama tunggu di bawah ya" Ucap nya seraya beranjak hendak keluar kamar.
"Ba..baik ma"
Ah ada apa ini? semoga saja ini pertanda baik karna tidak biasanya mama bersikap seperti itu. huuft ku hela nafas agar bisa menenangkan perasaanku yang tiba-tiba gelisah.
Ku mulai ibadah subuh ku dengan khusuk. setelah selesai aku beranjak turun menemui mama. aku melangkah ke dapur namun hanya Mbak Siti dan Reni saja yang sedang sibuk memasak. lalu ku langkah kan kaki ku ke ruang tengah tapi nihil tidak ada siapapun, akhirnya ku putuskan untuk ke kamar mama, namun saat hendak ku pegang knop pintu yang tidak terkunci, samar ku dengar tangisan pilu mama dan papa dari dalam.
Sungguh tak ada sedikitpun niatku untuk bersikap tak sopan seperti ini. tapi rasa penasaran ku yang entah muncul dari arah mana membuatku batal melangkahkan kaki dari pintu kamar mama.
"Sudahlah ma kita harua ikhlas tak ada satupun di dunia ini terjadi tanpa izin dari Allah swt. Kita berdoa untuk kesembuhan Azka, itulah kenapa papa minta Fritz kembali hanya untuk Azka, papa mau Azka sembuh dari trauma nya. papa tahu dan sangat faham Azka belum bisa menerima kepergian Rafka sampai saat ini dan semua kekejaman Anthony pada keluarga kita.
"Papa mohon ma jangan seperti ini lagi, kasihan Kinara jika harus melihat mama depresi, kuatlah ma demi Azka dan Kinar. papa akan balaskan dendam kita pada Anthony, dia sudah membunuh Rafka, bahkan membunuh Amina ibu kandung Kinara."
"Pa..papa ngomong apa? Anthony membunuh Amina sahabat ku?"
"Ya dia juga yang membunuh Amina, tapi dengan kelicikannya seolah Amina meninggal karna jantungnya melemah, selama ini papa sudah memegang semua bukti kekejaman Anthony tanpa Wibowo dan Denias tahu kebenarannya."
"Mama harus kuat jangan lemah di hadapan anak-anak, karna mereka kita bisa sampai detik ini, karna mereka juga mama bisa sembuh, karna mereka juga kita bisa bertahan, kasihan Kinara kalau mama seperti ini."
Demi Allah kenyataan apa yang baru saja ku dengar? mendadak dada ini terasa sesak, kulangkahkan kakiku meninggalkan kamar mama dengan lunglai bersamaan hatiku yang seperti terserang listrik milyaran watt.
"Ah..." aku mendesah kala sudah berada di ruang tengah, aku terduduk di sofa dengan hati yang begitu teriris, Ah Ibu betapa malang nasibmu, apa dosa dan kesalahanmu hingga dengan begitu teganya mereka membunuh mu?"
Entah mengapa air mata ini tak jua turun, bahkan dalam tidurku pun aku bisa saja menangis tapi kali ini rasa terkejut luar biasa yang ku dapat beberapa menit lalu seolah membuka kembali luka lama yang sudah pendam.
Karna terlalu larut dengan keterkejutan ini hingga membuatku tak sadar jika mama sudah duduk di sampingku.
"Sayang"
"A...eh..ahh ma.."
"Kenapa melamun?"
"Ah eng...enggak kok ma"
"Ra.. maaf maafin mama" ucap mama menunduk tangannya terulur untuk mengusap air mata nya yang jatuh.
"Ada apa ma?" tanyaku hati-hati, ah Tuhan kenapa perasaan ini begitu sakit.
"Azka...Azka hik hiks hiks"
"Ma bicara yang jelas Kinar nggak ngerti, Azka kenapa ma?"
"Azka kritis semalam"
Duaar
Duniaku serasa runtuh, kenyataan apa lagi ini? kenapa dengan hari ini? hari sialkah? ku tatap lekat wajah mama yang sendu, sejenak ku yakinkan hatiku semoga ini hanya lelucon. tapi melihat wajah kuyu mama inilah kenyataan yang aku terima hari ini. tak ada gurat bahagia sama sekali terpancar dari wajah mama, hanya kesedihan yang mendalam yang ku dapatkan.
"Semalam Azka nekat bunuh diri"
Duarr
"Ap...APA??" aku berteriak dan berdiri dari hadapan mama, ku mundurkan langkahku perlahan, seolah ini hanya bualan, hanya bualan saja. Tidak mungkin Azka nekat menghabisi nyawanya sendiri.
Selama ini meski kami tak pernah intens bahkan tak pernah serumah sejak kejadian beberapa bulan lalu. aku tahu dia laki-laki bertanggung jawab dan realistis. meski hubungan kami sering diwarnai pertengkaran tanpa sebab dan kesalah fahaman tanpa ada salah satu yang mengalah. walau aku sendiri pun tak bisa mencerna apa yang sedang hatiku rasakan padanya sejak dia mengucap kata akad hingga detik ini.
Dia pria aneh dengan sejuta keanehannya, tekadang marah tanpa sebab, temperamen, terkadang lembut, terkadang dingin, bahkan selalu membuatku seolah tak ada artinya. kesalah fahaman kami terakhir di kafe pun hingga saat ini belum terselesaikan. bukan aku tak ingin tapi dia yang selalu bersikap dingin dan datar bahkan seolah aku orang asing baginya.
Tapi hari ini, apa gerangan yang membuatnya melakukan hal keji seperti itu? apa semua karna salahku? atau ada hal lain?
"Ra, ikut mama ke rumah sakit sekarang, Azka butuh kamu di sampingnya" ucap mama lagi.
"Mama bohongkan? ini prank!" ucapku sedikit keras, entah kenapa hatiku menolak kebenaran entah kenapa dan ada apa dengan ku hari ini, kenapa seolah aku tak terima.
"Mama nggak bohong Ra"
Oh Tuhan dunia ku serasa melayang, suamiku nekat bunuh diri, apa yang salah dengan ku?".
Hampir saja aku terjatuh karna tak kuat menahan beban tubuh dan hatiku yang remuk redam jika mbak Siti tidak menahan beban tubuhku.
"Nona minum dulu" ucap mbak Siti memberikan ku segelas air putih, entah sejak kapan mbak Siti sudah berada disini seperti cenayan seolah tahu aku butuh kesegaran. ku raih gelas dari tangannya dan ku teguk hingga tandas tak bersisa.
"Ra"
Suara bas itu menyadarkan ku kembali, yah itu papa mertua datang menghampiriku yang terduduk lesu di sisi sofa.
"Ra, papa minta kamu harus kuat, Azka butuh kamu, kesampingkan semua masalah kalian fokuskan pada kesembuhan Azka."
"Aku nggak ngerti, apa yang salah denganku pa?"
"Nggak ada yang salah dan kamu nggak salah"
"Papa belum bisa jelasin sekarang, Azka butuh kamu di sampingnya"
Pada akhirnya aku hanya mengangguk mengiyakan permintaan kedua mertuaku, meski sebenarnya aku menuntut kejelasan.
Mbak Siti menuntunku ke kamar untuk bersiap, aku hanya mengambil tas slempang serta ponsel dan dompet.
Mbak siti menuntunku kembali menuruni anak tangga hingga kami tiba di halaman rumah. sopir pribadiku membukakan pintu dan aku langsung melesat masuk rupanya mbak Siti juga ikut denganku ia duduk tepat di sampingku.
"Aldo kenapa lo datang?" tanya ku pada Aldo
"Menjalankan tugas dari bos" jawabnya tanpa menoleh padaku. ku lihat sekilas wajah itu seperti menyimpan beban. ah entahlah kenapa aku harus memikirkan orang lain.
Mobil melaju cukup kencang karna kondisi jalanan memang masih sepi. hanya ada beberapa mobil dan pengendara motor melintas menerjang dinginnya angin subuh hari.
Tak terasa aku sampai di depan gerbang rumah sakit milik ayah. Mbak Siti masih setia menggandeng lenganku menuju ke kamar VVIP tempat Azka di rawat.
Sampai di depan ruang Azka, entah mengapa sekujur tubuhku terasa lemas, oh ayolah ada apa denganku? ku pegang erat lengan mbak Siti untuk menenangkan detak jantungku yang tak beraturan, ku penjamkan mata ini untuk menetralisir rasa aneh dalam diriku.
"Nona kenapa?"
"Tuan muda masih tidur"
Ucapan mbak Siti menyadarkanku seketika, ternyata kami sudah ada di dalam kamar rawat. ku lihat wajah pucat itu tidur dengan tenang seakan semua baik-baik saja. Ah ibu kenapa rasanya seperti saat aku kehilangan sosok mu? ada apa denganku? kenapa melihat nya terbaring lemah di brankar membuatku tak berdaya seketika.
"Mas..." lirihku
To be continue...
ceritanya lari-lari nggak jelas, ruwet. alurnya pontang panting kayak kebanjiran.. hehe. maaf ya para readers.. its my first novel I wrote. masih proses belajar dan belajar.
akan ada kejelasan dari semua part tunggu di akhir cerita..
jan lupa tinggalkan jejak. 🙏🙏🙏