KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 103



Semilir angin sore melambai-lambai menggoyangkan dahan dan dedaunan bak penari latar yang meliuk-liuk di atas panggung.


Reno menatap deretan pohon yang berjejer rapi di tepi jalan. perasaan yang sama yang Ia bawa kembali seperti empat tahun lalu. rasa sakit, penyesalan dan bersalah yang menghantui hari-harinya.


Kini rasa sakit itu menjadi lebih nyata setelah apa yang hampir ia perjuangkan kembali demi kesalahan di masa lalu nyata nya tidak sesuai harapan.


Bukan lagi takdir mereka untuk bersama, meski mungkin mereka masih menyimpan harap yang sama.


Reno menatap layar ponselnya dan membaca kembali pesan singkat yang ia kirimkan untuk Keisya beberapa hari lalu sebelum ia berangkat.


Nyeri itu masih terasa, senyum dan tatapan matanya masih teringat jelas. rasa rindu itu tiba-tiba menyeruak bagai terhimpit dan merongrong ingin keluar. tak boleh. dia bukan untuknya lagi. mereka tidak memiliki takdir yang sama. hidup mereka sudah berbeda. jalan mereka sudah berbeda.


Reno mengusap air mata yang luruh di sudut matanya. mencoba mengabaikan ucapan Arzan yang mengatainya cengeng. Ya Arzan yang datang menjemputnya di bandara, dan Arzan juga tahu apa yang terjadi pada Reno.


"Mas mau singgah ke rumah mbak Andin dulu atau langsung pulang kerumah? perjalanan masih empat jam, istirahat dulu ya di rumah om Martin" tanya Arzan


"Terserah, yang penting nggak ada Andin di sana" kata Reno


"Siapa bilang, mbak Andin ada di sana, makanya tadi aku nawarin mau singgah apa nggak?" ucap balik Arzan


"Ke rumah bapak mu aja lah nginep disana, kamu bawa kuncinya kan?" tawar Reno


"Ya nggak lah, orang rumahnya udah di sewa orang, kalau rumah kos ku aja gimana?" ucap Arzan


"Ya udah deh terserah, yang penting nggak ada Andin dulu, masih nggak enak hati gue mau ketemu dia" ucap Reno menghembuskan nafasnya berat.


"Ya udah, kita ke kos aja, semoga aja nggak ketemu cecunguk itu lagi" putus Arzan


"Lo ada musuh di kos?"tanya Reno


"Nggak lah, cuma cewek iseng yang biasa datang ke kosan temen suka banget cari perhatian gue, sampai risih" jawab Arzan


"Kosan Lo bebas?" tanya Reno


"Ya nggak juga, itu tetangga kos gue punya adik cewek sering banget datang ke kos kalau ada tugas sekolah nya, minta kakaknya bantu ngerjain, nah itu temennya bar-bar selalu cari perhatian tiap kali gue ada di kos" cerita Arzan


"Owhh.. itu tandanya Lo masih laku hahahahahahahah" Seloroh Reno


"Anjai Lo, gue risih tau nggak liat cewek bar-bar, tipe gue itu kayak mbak Andin, kalem, pekerja keras, mandiri, dan sopan." kata Arzan


"Ya Lo ambil aja Andin" ucap Reno


"gue sih mau-mau aja, tapi orangnya yang sangsi sama gue, gue cocoknya jadi adek dia bukan pasangan, kan aneh jadinya" celetuk Arzan


"Hahahahahahahah" Reni tertawa mendengar celetukan Arzan


"Sumpah ya, kalau cewek yang berhasil naklukin hati Lo bakalan betah," Seloroh


"Betah karena apa? jelek iya, gagah juga lumayan, duit masih minta emak, apanya yang betah?" timpal Arzan


"betah Lo bercandain mulu" Seloroh Reno


"Ya resiko lah, mau sama gue ya harus mau sama slengean gue dong"seru Arzan


"betul" kata reno


"Lo bilang betul, kenyataannya Lo melow soal cewek preeet" ejek Arzan


"Ahahah bisa aja Lo" kata Reno menepuk bahu Arzan.


****


"Kenapa sih mas, kayak ada sesuatu yang mau mas bilang ke aku?" tanya Keisya saat mereka baru saja selesai melakukan photo_shot dan kini tengah menikmati makan malam sederhana di cafe milik Azka.


"Habisin dulu makannya, nggak baik makan sambil ngobrol" ucap Hanan menatap Keisya sekilas lalu sibuk dengan isian di piringnya.


Keisya memilih diam dan melanjutkan makannya meskipun sudah tak lagi berselera. untung saja pelayan tadi tahu selera makan Keisya seperti apa jika tengah datang ke cafe.


"Kei, mas ke belakang dulu ya, sekalian sholat isya di mushola, kamu mau nyusul?" tanya Hanan begitu isi di piringnya telah tandas.


"Nggak mas aku tunggu disini, lagi udzur" jawab Keisya


"Iya."


Sepeninggal Hanan Keisya menatap nanar pada jendela cafe. nampak kendaraan lalu lalang hilir mudik menghiasi jalanan yang cukup padat dan ramai.


Senyum terakhir Reno masih terus membayangi hari-harinya,senyum yang penuh dengan luka dan kesakitan yang sama-sama mereka rasakan.


sore itu ia tahu jika Reno datang bertamu kerumah kakaknya dan sempat mencuri dengar tanpa sengaja percakapan mereka di ruang tamu.


Dengan gamblang Reno berucap tak ingin bertemu dengan nya. dan Keisya langsung berlalu masuk kembali ke dalam kamar.


Pupus sudah rasa rindu sore itu ingin menemui Reno meski untuk yang terakhir kalinya. Keisya tak mau lagi mendengar ucapan lain dari Reno yang lebih menyakitkan.


Meskipun sehari setelah lamaran dokter Fritz mengatakan kalau Reno sudah menikah, tapi rasa rindu yang sudah ia pendam selama ini tak mampu memupuskan keinginan nya. dan sore itu harapan nya terwujud namun lagi-lagi ia harus menelan kecewa karena Reno tak mau menemui nya.


"Hai, nona cantik, masih eling masa lalu ya?" suara cempreng bak burung Pipit terhimpit daun pintu itu datang menghampirinya. siapa lagi kalau bukan Kriting karyawan sekaligus rekan kerja kakak iparnya yang juga seorang chef.


"Masakannya gosong, kenapa malah kesini pak?" cibir Keisya menatap sengit pada laki-laki seumuran Azka itu yang sedang tersenyum jahil.


"Masa lalu udah pergi Ojo di gandoli"celetuk Kriting


"Ck, pergi sono, ganggu mood gue aja" usir Keisya melambaikan tangan seolah mengusir.


"Masa depan mu lebih cerah, jangan terlalu berat ngarepin masa lalu, jangan lupa bahagia" ucap Kriting lalu pergi membawa nampan.


Keisya mencibir dan menirukan gaya bicara Kriting saat pria itu sudah berjalan pergi.


"Kenapa mukanya kusut begitu?" tanya Hanan yang datang dengan wajah lebih segar karena usapan air wudhu.


"Biasa, ulat bulu datang ganggu makan ku"


"Ulat bulu? julukan buat siapa lagi kei?"


"Chef yang rambutnya keriting kayak kepiting rebus"


"Hahaha kamu ini ada-ada aja, nggak baik ngasih julukan begitu ke orang" tegur Hanan lembut.


"Ngeselin banget jadi orang, usil Mulu kalau aku kesini"


"Udahlah, nih di makan dessert nya"


Keisya menurut dan menghabiskan dessert yang sudah di bawakan oleh chef nya langsung.


"Kei, mas mau nanya boleh?" tanya Hanan hati-hati karena takut akan melukai perasaan Keisya.


"Nanya aja, kenapa?"


"Maaf kalau sekiranya omongan mas bikin kamu kecewa, aku ketemu mas Reno" ucap Hanan pelan tapi cukup membuat Keisya terkejut tapi mampu menguasai diri.


"Kenapa kalau ketemu mas Reno?" tanya balik Keisya menutupi kegelisahan hatinya


"Ya nggak apa-apa, mas sempat berbincang sebentar, lalu kami berpisah"


"Owh trus?"


"Apa...... kamu masih berharap? bukannya selama ini kamu berharap dia datang kan?" tanya Hanan hati-hati


Keisya diam dan membuang muka, sudah tak ingin lagi mengingat nama itu, tapi laki-laki di depannya justru membahas nya.


"Apa ada yang mas Reno katakan ke mas waktu kalian ketemu?"tanya Keisya


"Nggak ada, cuma ngobrol ringan nggak sampai lima menit kok"jawab Hanan.


"Trus apa yang mau mas omongin?" tanya Keisya lagi


"Apa kamu masih berharap? kalau memang iya mas siap untuk mundur kei, mas nggak mau menghalangi kebahagiaan kamu" ucap Hanan lalu menutup matanya.


"What's up?"