KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 40



"Aku berangkat ya mas mbak" Keisya pamit pada Azka dan Kinara yang mengantar mereka di bandara menuju ke Surabaya.


"Hati-hati ya salam buat ayah disana" ucap Kinara memeluk sang adik


"Mas Hanan saya titip Keisya ya, jaga baik-baik disana, di ingatin kalau salah" Kinara berpesan


"Iya nyonya" ucap Hanan menunduk patuh pada Kinara.


Kinara dan Azka melepas kepergian Keisya dan Hanan dengan senyum dan air mata haru. setelah berbulan-bulan Keisya rapuh kini dia sudah kembali menjadi dirinya sendiri yang sebenarnya berkat bantuan Hanan dan Dokter Fritz serta dukungan mental dari keluarga besar mereka.


"Mas berharap suatu saat mereka berjodoh" kata Azka memeluk pundak sang istri. Kinara menoleh seketika memandang sang suami dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kenapa?" tanya Azka lagi membalas tatapan Kinara


"Mas ngomong apa? mas tahu kalau Hanan ada rasa sama Keisya?" tanya Kinara


"Sesama pria sayang, apa sih yang mas nggak tahu, sejak awal mungkin memang Hanan sudah jatuh hati sama Keisya tapi tidak tahu kalau Keisya itu kembar, makanya mas marah waktu pertama kali ketemu Hanan di kampus waktu itu, nyalamin kamu bahkan mandangin kamu terus menerus" jelas Azka tanpa menatap sang istri, matanya tetap ada dua sosok yang sudah hilang di balik pintu masuk.


"Apa hubungannya coba? aneh" cibir Kinara


"Masih inget nggak waktu Keisya pamit ke desa sama ayah pertama kali, trus dua minggu kemudian kita ketemu Hanan di kampus" ucap Azka


"Nggak inget dan nggak perlu lah di inget, dah yuk pulang, anak-anak pada nungguin nanti" ajak Kinara menarik lengan sang suami.


****


"Mbak, mau di antar ke hotel sekarang atau mau tinggal di sini sampai agendanya selesai?" tanya Reno pada Vivi setelah sarapan.


"Tinggal di sini saja ya Bu dosen, biar rame dikit lah rumah saya" sahut Tante Rosa istri om Martin.


"Waduh gimana ya Bu, banyak nggak enaknya sih ngerepotin" ucap Vivi tersenyum.


"Nggak ngerepotin sama sekali, anak-anak saya pada kuliah semua dua-duanya di Makassar sama kakaknya si Arzan, sama-sama ambil kedokteran cuma beda aliran aja sih, kalau Gito kakaknya Arzan dokter umum, dua anak saya dokter penyakit dalam sama spesial tulang atau apa gitu saya juga nggak faham" terang Tante Rosa.


Vivi dan Vira sama-sama mengangguk dan tersenyum lalu saling melirik. entah apa yang ada di pikiran mereka.


"Udh semester berapa anaknya Bu?"tanya Vira seraya menyerypiteh manisnya


"Baru masuk tahun kemarin Bu dosen, kalau kakaknya Arzan kan udah mau ujian profesi nggak lama lagi" jawab Bu Rosa.


"Tante, aku sama Arzan pamit nanti ya jam sepuluh, soalnya Tante Meri juga ada pesanan kue buat hajatan tetangga" sahut Reno yang merasa di kacangi sejak tadi oleh ketiga wanita berbeda umur itu.


"Lah cepet banget sih, kirain besok baru pulang" seru Tante Rosa.


"Tante mau gantiin aku ujian praktek emangnya? kalau bukan karena titah nyonya besar aku juga nggak mau ikut ke sini kemarin, capek mana jalanan ngiung-ngiung kayak ban kempes"sahut Arzan membuat Tante Rosa memicing kesal ke arahnya.


Cetakk tak


"Dasar kau ya...kerjamu di rumah cuma tidor Mulu, banyak pula bacot kau itu Tarzan.. pulang mo ko jangan ko ba datang-datang lagi kemari bawa bacot saja" ucap Tante Rosa kesal.


Vivi, Rosa dan Vira tertawa melihat Tante dan keponakannya itu saling mengejek.


"Bilang om Martin, itu rumah di kampung cepatlah di bangun jangan di biarkan saja jadi sarang jin malam kalau lagi pesta" balas Arzan


"Tarzan sini kau...jangan lari ko bocah tengil" ucap Tante Rosa mengejar Arzan yang lari terbirit-birit keluar rumah.


"Emang tiap hari gitu ya mereka Ren?" tanya Vivi


"Keluarga mereka memang kocak, tapi saling mendukung satu sama lain, meskipun berbeda agama tapi mereka saling toleransi sekali" jawab Reno.


"Owh, jadi orang tua Arzan muslim?" tanya Vira


"Iya Tante Meri mamanya Arzan mualaf dan pernah jadi asisten ibu saya dulu waktu merintis usaha toko roti, dulu hidup mereka lebih susah makanya ibu mengajak Tante Meri ikut bekerja membangun toko mulai dari nol" jelas Reno.


"Wow...dan sekarang kamu nyasar kesini juga dan tinggal sama mereka, tau nggak aku sampai kalang kabut plus pusing ngurusin kepindahan kamu Ren dalam waktu satu kali 24jam harus kelar, nih orangnya bikin aku kesel" ucap Vira menunjuk pada Vivi.


"Beneran? bukannya mbak Vivi yang ngurusin" tanya Reno penasaran


"Kamu nggak tahu aja kalau Vivi itu bos diantara semua dosen, para dosen di kampus kamu aja nurut semua sama dia kalau udah keluar aslinya" sahut Vira.


"Mbak kok nggak ngomong kalau mbak Vira yang ngurusin kepindahan aku?"tanya reno


"Udah bagiannya sih, kenapa mesti gue repot kerja sendiri kalau ada yang lebih ahli" jawab Vivi


Klontang


Brak


"Arzaaaaan" suara teriakan Tante Rosa berbarengan dengan suara pot pecah. Vivi, Vita dan Reno keluar bersamaan di ikuti om Martin yang berjalan tergesa dari lantai dua.


"Apasih kau ma, pagi-pagi sudah bikin ribut saja kau ini heh!" ucap om Martin kesal.


"Papa, kau lihat ini keponakan mu, pot bunga mahal ku di tendang sampai hancur papa, hilang duit aku lima ratus ribu" ucap Tante Meri marah. sedangkan Arzan sudah bersembunyi di bagasi samping rumah.


"Alah, tiga puluh ribu kau bilang lima ratus ribu, mana otak kau itu ma" ucap om Martin mengibaskan tangannya


"Biaya perawatan, pupuk organik, air PAM , anti gulma, anti semut, penyubur tanah......"


"Alah nanti minta Danu suru ganti, kalau tak mau biar Boru yang Carikan kau pot baru yang lebih murah" potong om Martin kalau meninggalkan mereka semua di teras.


Vivi, Vira dan Reno menatap ke arah bagasi dimana Arzan bersembunyi.