
"Pak maaf ini semua tugas minggu lalu." ucap Kinara seraya menyimpan buku tugas di meja pak Fahri.
"Ok makasih Kinar.. Oh ya tolong ini kamu tempel di mading jadwal remedial UTS Fisika kemarin." titah pak Fahri menyerahkan selebaran jadwal UTS.
"Baik Pak."
Kini sekolah sudah mulai sepi Kinara menunggu Azka menjemputnya di halte, sudah sejam ia menunggu tapi Azka tak menampakkan batang hidungnya. Sejak UTS Bahasa Inggris di jam terakhir Azka memang lebih dahulu keluar.
"Loh Ra? Kamu belum pulang?" tanya Rangga yang berhenti tepat di depannya tanpa turun dari motor.
"Eh iya belum di jemput, kamu ngapain kesini? kirain udah balik." balas Kinara
"Aku ada urusan dikit tadi sama kepsek, mau pulang bareng gak? aku antar, lagian ini udah hampir sore yang gua denger di lingkungan ini sepi dan rawan." Ujar Rangga
Kinara berfikir sejenak untuk menerima ajakan Rangga. Melihat keadaan sudah sepi dan Azka sejak tadi tidak datang menjemputnya mungkin ada baiknya ia menumpang daripada harus menunggu lebih lama lagi. Tapi kemana harus pulang? Kalau Rangga mengantarnya ke apartemen bisa gawat, kerumah papa apalagi? Kerumah ayah satu-satunya alasan agar tidak di ketahui Rangga. Sejurus kemudian ia meraih ponsel di sakunya dan mengirim sms pada Azka.
Kinar
Aku pulang kerumah ayah, jemput disana ya.
"Emm ya udah, gak ngerepotin kamu kan?" ujar Kinara mengiyakan ajakan Rangga
"Dengan senang hati " Ujar Rangga lalu memberikan helm pada Kinara.
Rangga melajukan motornya dengan kecepatan sedang. 30 menit kemudian mereka sampai di depan rumah kediaman Wibowo. "Nih makasih ya tumpangannya, maaf aku ngerepotin" ucap Kinara saat sudah turun dari atas motor.
"Sans aja sih. . Kamu gak pernah ngerepotin, ini rumah kamu?"tanya Rangga kemudian melihat sekeliling rumah megah itu.
"Iya" ucap Kinara
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Rangga agak ragu karna melihat rumah Kinara yang seperti tidak terawat.
"Ada Pak Asep dan Mbok Jum kok, lagian tiap hari ada pegawai yang datang bergilir" Jawab Kinara
"Oh gitu..Ya udah aku pergi dulu kamu hati-hati" Pamit Rangga berlalu dengan hati yang masih was-was.
Kinara memanggil Pak Asep dan Mbok Jum namun tak ada jawaban. Rumah tampak sepi. Halaman rumah tampak kotor tak terawat, bunga-bunga kesayangan Almarhum ibunya yang selalu ia rawat kering dan mati. Kemana mereka semua?? Kenapa tak ada jawaban?
Kinara meraih ponsel dan menghubungi Pak Asep, Mbok Jum, dan pegawai lainnya yang ia simpan kontaknya. Tapi nihil tak ada satupun kontak mereka yang aktif. Kak Revan, Om Wawan, dan Ayah pun tak bisa di hubungi. Kinara semakin dibuat bingung dan takut ditambah hari sudah mulai gelap.
"Mas angkat bentar telponnya kemana sih kamu? Aku takut!" batin Kinara seraya menghubungi kontak Azka berkali-kali. Kinara berjalan menyusuri kompleks berharap ada tetangga yang mau memberinya informasi.
**
Tengah malam Azka tiba di apartemen. Tumben lampu mati semua? pikirnya. karna Kinara selalu menyalakan semua lampu. Azka masuk ke dalam kamar dan kondisi masih tetap sama seperti saat di tinggalkan. "Kinara kemana?" batinnya.
Azka mengecek ponselnya terlihat 150 panggilan tak terjawab 50 pesan belum terbaca. Semua Kinara. Azka segera meraih kunci mobil dan jaket hitamnya lalu bergegas menuju kerumah ayah mertuanya. "Gawat ini gak bisa di biarin kalau Kinara kenapa-napa gua bisa kena marah ayah sama papa, kenapa gua bego banget sih?" gumamnya
40 menit kemudian Azka tiba di depan rumah Mertuanya, ia memarkirkan mobil dan membuka gerbang rumah dengan duplikat.
Azka memeriksa seluruh ruangan tapi nihil Kinara tidak bisa dia temukan." Ra kamu dimana? Maafin gue" Lirihnya.
Azka melajukan mobilnya dan menyusuri setiap sudut kota. Tapi nihil Kinara tak bisa di temukan. Azka teringat masih ada satu ruangan yang belum ia buka. Sebuah ruang rahasia yang hanya bisa di akses olehnya,ayah,dan papanya saja. Azka segera memutar arah kembali kerumah ayah dan membuka semua rekaman cctv.
"Rangga? Dia sama Rangga? aarggh sial." umpatnya frustasi. Ia melihat Kinara memanggil semua nama pegawai rumah ini namun setelah itu Kinara tak terlihat lagi. Di menit selanjutnya ada seseorang yang berpakaian serba hitam mengintip melalui pagar. "B***** ternyata orang itu lagi" umpatnya sekali lagi.
Azka mengepalkan tangannya geram ia menyalin semua rekaman cctv dan menyimpanya. Tepat saat terdengar bunyi Adzan subuh Azka keluar dari rumah itu dan melaju ke apartemen.
*
Azka tiba di sekolah saat belum banyak siswa yang datang. Ia sedang menunggu seseorang di tempat ia parkirkan mobilnya.
"Tumbenan lu bro" Sapa Bayu teman sekelasnya yang baru datang. Azka tersenyum lalu menyalami Bayu, mereka bercakap sebentar setelah itu Bayu pergi ke kelas.
Pucuk di cinta orang yang ia tunggu rupanya datang dan memarkirkan motornya di tempat khusus motor. Azka mengepalkan tangannya dan mengahampirinya.
"Buugghh" satu pukulan melayang di bahu kanan siswa itu. Ia menoleh dan
Bughh Bughh Bughh
Azka menghujaninya dengan beberapa kali pukulan di wajahnya. Ia tersungkur seraya mengumpulkan sedikit tenaganya yang tersisa.
"Apaan sih lo?" Sahutnya saat sudah kembali bangkit dan langsung melayangkan pukulan di pipi kiri Azka.
Azka bangkit dan meraih kerah baju lawannya. "Lu bawa kemana Kinar ******!"
"Apa urusannya sama lo ******?" bantah siswa tersebut
"Dia istri gue asal lo tau dasar *******" Sahut Azka semakin memperkuat cengkramannya. Ia lupa tanpa sadar sudah menyebut kata Istri dan di saksikan puluhan siswa yang mengerubungi mereka.
"Istri?? Hah Jangan ngimpi lo *******!" Sahut Siswa itu dan
Buggghhhh
Azka sekali lagi melayangkan pukulan ke wajahnya.
Reno dan Aldo datang berusaha memisahkan mereka tapi nihil tenaga Azka diluar dugaan, Azka bahkan semakin membabi buta. Reno kelawahan dan ia pun sempat mendapat bogeman panas juga di bahu kanannya.
"BRENTIIIIIII" Kinara berteriak saat ia sudah sampai di dalam kerumunan anak-anak yang menyaksikan perkelahian.
"Ada apa ini?" teriak Pak Herman guru BK yang terkenal galak dan tanpa toleransi baru saja tiba di sekolah.
*Ruang BK
"Kalian siswa berprestasi malah bikin malu sekolah bertengkar hanya untuk 1 orang siswi terutama kalian berdua apa sudah merasa paling jago?" Ujar Pak Herman geleng-geleng kepala.
Azka, Rangga, Aldo dan Reno hanya diam menunduk. Sesekali Azka dan Rangga meringis menahan sakit.
"Saya dan Aldo tadi cuma melerai Pak" cicit Reno
"Kalian semua sama saja saya akan teruskan ke bapak Kepala Sekolah agar kalian di tindak lanjuti. Sekarang Aldo dan Reno keliling lapangan 30 kali. Dan Kalian berdua bersihkan Musholla,Wc, ruang guru, lab komputer, lab biologi, perpustakaan, semua halaman kelas dan terakhir gudang belakang." titah Pak Herman.
"Saya tunggu di ruang guru saat jam istirahat dan tugas kalian harus selesai semua" Lanjut Pak Herman.
"Baik pak" Jawab mereka berempat seraya melangkah keluar dari ruang BK dengan lesu.
"Gara-gara lu gua kena imbas.." Ucap Aldo sewot.
"Busyet kali ini gua liat hulek beneran sumpah remuk bahu gua njir" tambah Reno seraya memijat bahunyaa yang terasa nyeri.
Azka hanya diam menunduk tanpa menjawab ocehan kedua sahabatnya., ia sadar terlalu gegabah dalam bertindak tanpa berfikir dahulu. Bagaimana ia akan menghadapi Kinara.
"Masih ngoceh juga kalian?" Tegur Pak Herman dari arah belakang. Mereka berempat lari tunggang langgang melaksanakan tugas dari sang guru BK. Aldo dan Reno segera berlari kearah lapangan. Azka ke arah musholla bersama Rangga.
Bel berbunyi tanda jam pelajaran segera di mulai. Kinara berjalan lesu ke kelas setelah melihat adegan tak menyenangkan tadi dan yang paling menyakitkan saat mendengar ejekan siswa-siswi yang berpapasan dengannya. Kesal. Marah. Kecewa. Semua menyatu.
"Ra, langit mendung itu gak asik loh" ucap Ririn yang memeluknya dari belakang berusaha menghiburnya.
Kinara hanya tersenyum simpul. Ya langit mendung memang gak menyenangkan tapi apa kita bisa menolak?? Toh langit mendung meninggalkan kebahagiaan tersendiri pada akhirnya.
*
Kinara segera berlalu menuju ke kelas setelah bertemu papa mertuanya di ruang kepsek.
"Ra,..." panggil Azka saat mereka berpapasan di koridor. Kinara tetap berlalu tidak memperdulikan panggilan Azka. "Maafin gue Ra" batin Azka perih melihat Kinara mengacuhkannya.
Azka pulang kerumah bersama Papa setelah bertemu di ruangan Kepala Sekolah. Dia dan Rangga mendapat skorsing 1 minggu dan tidak bisa mengikuti beberapa UTS yang masih berlangsung.
Rangga mendapat sebuah hadiah panas di telinganya saat sudah tiba di rumahnya. Bukan hanya itu uang jajan dan fasilitas lain di bekukan sampai selesai Ujian Nasional.
*
"Plaaaakkk
"Kenapa kau tidak berubah Azka? Papa tidak pernah mengajarimu gegabah seperti itu" gertak papa nya.
"Maafin Azka pa"lirihnya sembari memegang pipi kirinya yang terkena tamparan dari papa
"Kau sudah membuat papa malu sama besan dengan tingkahmu seperti itu. Apa kau tahu seberapa berharganya Kinara untuk ayah dan papa Azka?? keselamatan perusahaan papa dan ayah ada pada kalian, dan keselamatan Kinara ada padamu. Jika sampai terjadi apa-apa pada Kinara bukan hanya ayah tapi papa juga hancur Azka. Apa kau tahu seperti apa musuh yang kita hadapi saat ini hah??" gertak papanya
"Maafin Azka Pa.." lirihnya
"Beruntung Kinara ada yang menolongnya jika saja ia bertemu ***** itu kemarin, apa yang akan papa katakan pada ayah mertuamu?"
"Apa kau menemui Alexa? Apa Varo yang memintamu hah" tanya Papa keras
"Alexa yang meminta Pa.." jawabnya lirih.
Plaaakkk
"Sudah papa bilang jangan temui Alexa tanpa permintaan Varo cukup kau awasi saja Alexa tanpa ikut campur. Mulai saat ini jangan lagi kau temui Alexa meskipun Varo yang memintamu. Tugasmu sementara papa berikan kepada orang lain yang papa percaya sampai masa skorsingmu selesai." Ujar papa nya dan segera berlalu menuju ke kamar untuk menenangkan pikirannya.
Azka terduduk lesu, menangisi kesalahannya. Ada perih saat Kinara mengacuhkannya, lalu bagaimana ia menghadapi Kinara nanti?.
Nenek, Mama, Kak Rania dan Sean hanya bisa diam, sedih saat melihat papa semarah itu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karna semakin di cegah papa akan semakin geram.
"Azka bangun nak" titah Nenek pelan menghampiri cucunya dengan titihan air mata yang ia tahan sejak tadi.
"Nenek, maaf...maafin Azka nek, Azka gak becus...Azka......" lirihnya dalam dekapan nenek.
"Cup..sudahlah ini baru permulaan nenek yakin kamu bisa penuhi janji dan tanggung jawabmu". Ujar nenek menghibur seraya menepuk pelan punggung cucunya. Mama menangis lalu berbalik ke kamar menemui suaminya. Kak Sean dan Rania datang menghampiri Azka dan memberikannya semangat agar tidak terlalu bersedih.
*
Kinara tiba dirumah mertuanya bersama Aldo. Ya, Aldo mendapatkan tugas khusus dari papa untuk mengantar jemput Kinara ke sekolah selama masa skorsing Azka.
"Gua gak masuk, gak enak sama laki lo, pasti masih panas suasana di dalem. Lu baik-baik ye, besok gua jemput lagi. Kali ini lu dengerin apa kata orang tua lu nanti. Mulai hari ini lu jadi tanggung jawab terbesar gua dan itu gak gratis. Sampe lu kenape-nape gua yang kena imbasnya. Dan satu hal yang perlu lu tau, kalau lu mau kerumah ayah, lu harus pamit papa mertua lu. Inget ada bahaya sedang mengintai. Lu itu ibarat batu ruby berharga bagi keluarga lu dan keluarga Azka. So jangan gegabah. Soal gosip di sekolah lu jangan kuatir besok udah beres semua. Lu denger gua kan Ra..?" tutur Aldo panjang lebar tanpa menoleh ke kursi belakang.
"hikss...hikss ..... Hikksss " Kinara menangis. Dia sudah tidak bisa menahan air matanya sejak semalam. Semua menjadi rumit dalam waktu sesingkat ini. Ia sendiri tak mengerti apa dan dimana letak kesalahannya sampai keluarganya sendiri tak ada yang menghubunginya selama sebulan belakangan.
"Hedeewww... Gua harus ngapain Ra biar lo diem? Turun gih kalau Azka liat gua bisa berabe nih." titah Aldo sekali lagi. Kinara segera menghapus sisa air matanya lalu keluar dari mobil Aldo tanpa menoleh atau sekedar berterima kasih.
Saat masuk keadaan rumah terlihat sepi, ia memutuskan langsung ke kamar merebahkan semua lelah hati dan tubuhnya. Tidak peduli ada Azka atau tidak. Kinara masuk ke dalam kamar dan menaruh tas punggungnya asal lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Hanya terdengar gemericik air dari kamar mandi. Ia pun tak peduli. Menangis hanya satu alasan yang bisa memberinya ketenangan saat ini.
Azka keluar dari kamar mandi dan melihat Kinara masih terisak dalam tidurnya. Perih. Azka mendekati sisi ranjang dan membelai lembut kepala yang masih tertutup hijab itu.
"Maafin gue"..
Kemana sih Kinara sebenarnya?? Dia bertemu siapa? Vote dulu donk 😉