KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 45



Sudah sehari semalam Hanan mendiamkan ibunya begitu juga dengan Gus Rohid. umi Tin semakin merasa tidak tenang semenjak kemarin malam Hanan menolak perjodohan dan berani menentangnya.


Malam ini sesudah sholat Maghrib Gus Rohid rencana mengajak Hanan kerumah tuan Wibowo tanpa pulang terlebih dahulu. Gus Rohid benar-benar menepati janjinya untuk ikut menemui orang tua dari gadis yang sudah di lamar sang anak semalam.


"Bah, apa kita nggak perlu ijin ibu terlebih dahulu?" tanya Hanan ketika mereka keluar dari masjid


"Biarkan saja umi mu itu, sesekali memberikan pelajaran agar menyadari kesalahannya dan tidak terulang lagi, bukan hanya mas mu Hanif yang merasa bersalah hingga sekarang, tapi Abah juga merasa sudah gagal menjadi imam sekaligus menjadi orang tua kalian, beruntung mbak Khusnul waktu itu berani menentang keras keinginan ibumu dengan elegan menurut Abah" ucap Gus Rohid tersenyum pada putra bungsunya.


"Apa Abah setuju aku melamar anak majikan ku?" tanya Hanan seraya memundurkan langkahnya sedikit ke belakang karena rasa hormatnya pada abahnya.


Gus Rohid berhenti dan menoleh kebelakang melihat anaknya yang menunduk. di pegangnya pundak sang anak lalu berucap.


"Abah, sudah merasa gagal dengan pernikahan mas mu yang pertama, kali ini Abah tidak ingin gagal lagi, siapapun pilihan mu Abah setuju selama masih bisa menerima anak Abah karena Allah bukan karena nafsu duniawi semata" ucap Gus Rohid meyakinkan sang anak.


Hanan mendongak lalu tersenyum, ia benar-benar merasa bahagia mendapatkan restu abahnya.


"Sudah siap? kita kesana sekarang, ingat seperti kata Abah sore tadi kalau kita kesana silaturahmi, biarkan anaknya saja yang memberikan keputusan, Keisya mau menerima atau menolak kamu harus lapang dada, kalau nanti Keisya meminta waktu, kamu harus sabar menunggu, menikah itu bukan soal cepet-cepetan tapi soal bagaimana menyatukan dua kepala sekaligus dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing" nasihat Gus Rohid.


Hanan semakin mengangguk mantap mendengar nasihat abahnya.


"Baik Abah, tapi tetap saja Hanan merasa ganjil kalau nggak pamit sama ibu" ucap Hanan


"Ya sudah sana kamu pamit, Abah tunggu di rumah pak Anom ada perlu sedikit" Gus Rohid mengizinkan Hanan menemui ibunya.


Hanan berbelok ke arah rumah,sedangkan ayahnya meneruskan langkahnya ke rumah salah satu tetangganya.


Hanan masuk ke dalam rumah tapi kondisi sepi, biasanya selepas Maghrib ibunya akan sibuk di dapur membuat hidangan untuk makan malam, tapi kali ini tidak terdengar apapun dari arah dapur.


"Assalamualaikum Bu, ibu dimana?" panggil Hanan mencari ibunya ke dalam kamar namun tak ada, ke dapur, ke kamar mas Hanif, kamar mbak Khusnul, ke ruang keluarga, ke dapur belakang juga tidak menemukan ibunya.


Hanan kembali ke ruang tamu dan melihat ibunya memasuki pagar dengan menenteng dua kantongan besar berisi Snack dan buah juga beberapa box minuman kemasan.


"Ibu darimana? belanja banyak sekali?" tanya Hanan heran. ibunya terdiam sejenak menatap wajah anaknya yang terlihat cerah malam ini.


"Abah kamu mana?" tanya umi Tin tanpa merespon pertanyaan sang anak


"Kerumah pak Anom, ada perlu katanya, ibu dari mana? kenapa belanja sebanyak ini?" tanya Hanan lagi seraya mengambil kantongan dari tangan ibunya.


"Kamu simpan dan susun semua Snack dan buahnya ke dalam box putih, lalu masukkan ke paper bag, segini mungkin cukup ya buat oleh-oleh untuk tuan Wibowo, nanti bawa mobil aja biarpun dekat nggak enak kalau nenteng makanan sebanyak ini di lihat tetangga" ucap umi Tin tanpa memandang sang anak yang kebingungan.


"Ya udah ibu ganti baju dulu, kamu siapin semuanya trus masukin ke dalam mobil, kuncinya ada di atas meja dekat televisi" lanjut umi Tin berlalu meninggalkan Hanan yang masih terpaku di ruang tamu.


Hanan mengerjap berkali-kali mencoba meyakinkan pendengarannya, sedangkan umi Tin sudah berlalu ke dalam kamar. tiba di kamar ia menghapus air mata yang sejak tadi ia tahan.


Jika siang tadi ia tidak menghubungi anak perempuannya dan menanyakan banyak hal tentang masa lalu pernikahan anak sulungnya, mungkin selamanya ia tidak akan menyadari kesalahannya selama ini.


Hanan benar, anak bungsunya itu benar, jika almarhum Rurin menantu pertama nya meninggal karena mengidap kanker rahim yang ia sembunyikan selama bertahun-tahun dari orangtuanya juga Hanif. Meskipun pernikahan anak sulungnya itu terbilang sebentar tapi sang menantu sudah banyak memendam luka karena keegoisan orang tuanya juga dirinya sebagai mertua yang terlalu banyak menuntut.


umi Tin terisak dalam diam sebisa mungkin ia tahan suara suaranya agar tidak terdengar oleh sang anak. umi Tin benar-benar menyesali kesalahannya. Dulu ia memaksa Rurin menerima lamarannya tanpa ia tahu jika Rurin tengah menunggu lamaran seseorang, bahkan dengan paksaan dari orangtuanya akhirnya Rurin menerima dan laki-laki yang ia tunggu akhirnya datang melamar enam bulan kemudian setelah ia resmi menjadi istri Hanif.


Malang tak dapat di nyana, laki-laki yang melamarnya rupanya juga di usir secara kasar oleh orangtuanya saat itu dan mengalami kecelakaan maut saat perjalanan pulang kerumahnya.


Rurin mendengar kematian sang kekasih langsung drop begitu tahu jika pria yang pernah ia tunggu itu merasa frustasi mendengar Rurin sudah menikah dan juga di usir secara kasar oleh orang tua Rurin.


Kepada Khusnul adik iparnya ia menceritakan semuanya seminggu sebelum kepergiannya, Rurin memendam penyesalan dan rasa bersalah karena telah menyakiti pria yang pernah di tunggunya sebelum umi Tin datang melamarnya kala itu.


Hanif pun baru tahu penyakit Rurin setelah jenazah Rurin di kuburkan. Khusnul menceritakan segalanya pada kakak sulungnya itu tanpa ada satupun yang ia tutupi.


Penyesalan tetaplah datang di belakang, setelah mendengar kebenaran cerita dari Khusnul, umi Tin semakin diliputi rasa bersalah. dan ia takut jika tetap mengedepankan egoisnya, Hanan juga akan pergi meninggalkan nya seperti kedua kakaknya. Hanif memutuskan tinggal diam luar kota demi menjaga perasaan istri dan anaknya, begitu juga dengan Khusnul yang langsung pergi ke Mesir ikut dengan suaminya sebulan setelah menikah dan berencana akan kembali dan tinggal di luar kota juga yang jauh dari orang tua sama seperti Hanif.


Umi Tin tak pernah menyadari jika selama ini kedua anaknya merasa tak nyaman hidup dekat bersamanya. kali ini umi Tin tak ingin menyakiti Hanan satu-satunya anak yang selama ini tak pernah sekalipun menolak keinginannya meskipun ia sendiri merasa tak mampu tapi Hanan tetap diam dan menuruti semua keinginan ibunya.


"Maafkan ibu le, ibu sudah salah, kalau memang anak konglomerat yang jadi pilihan kamu, ibu menerima" batin umi Tin menghapus air matanya.


Umi Tin segera membenarkan letak jilbabnya begitu mendengar suara Hanan memanggil nya dari ruang tamu.


"Iya sebentar, ini lagi nyari peniti" ucap umi Tin lalu masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya agar tidak tampak seperti sudah menangis.


Hanan memasukkan paperbag ke dalam bagasi dan memadai mobil sembari menunggu ibunya bersiap-siap.


"Sebentar ibu lupa ngunci pintu belakang" teriak ibunya dari arah pintu.


"Hem kebiasaan" batin Hanan.


Beber saat kemudian ibunya sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Hanan memilih diam tak ingin banyak bertanya, sengaja ia berikan ibunya waktu sampai wanita yang sudah melahirkannya itu mau membuka diri lagi.


mobil melaju perlahan meninggalkan pelataran rumah. sampai di depan rumah pak Anom rupanya sang Abah sudah menunggu di depan pagar pemilik rumah yang terlihat tertutup.


"Orangnya nggak ada ya bah?" tanya Hanan begitu Gus Rohid masuk dan duduk di kursi samping kemudi.


"Baru di bawa ke rumah sakit kota sama anaknya, sudah dua hari sakit nggak bisa bangun" jawab Gus Rohid.


Hanan hanya ber-oh saja sembari fokus pada jalan setapak di depannya. semakin dekat dengan jalan besar jantung nya semakin berdebar tapi Hanan tetap bersikap santai hingga mobil benar-benar parkir di halaman luas rumah tuan Wibowo.


Mereka di sambut sang sopir ke ke keluarga dan membawa mereka masuk ke dalam rumah.


"Siapa mas Bin?" tanya Keisya dari arah dapur.


"Ada tamu nona, Gus Rohid dengan anak istrinya" jawab Bintoro dengan sopan


Deg...


Jantung Keisya langsung berdebar kencang, beruntung sang ayah langsung masuk saat itu juga dari arah pintu belakang karena baru saja memasukkan kayu bakar ke pondok kecil.


Keisya diam mematung memandang sang ayah yang juga kebingungan dengan sikap Keisya yang tiba-tiba seperti orang kesurupan.


"Tuan ada Gus Rohid dan keluarganya datang silaturahmi" ucap Bintoro. baru saja hendak bertanya pada Keisya, sang sopir sudah menjawabnya lebih dulu.


"Ya sudah tunggu sebentar saya ganti baju dulu, kei, bikinin minum ya" titah tuan Wibowo


dag


Dig


dug.