KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
46 Kontrakan Baru



Selepas sholat maghrib Kinara membantu mama Hanna untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. malam ini papa tidak pulang dan lebih memilih di markas untuk menyelesaikan masalah perusahaan yang belum stabil karna ulah Anthony.


Kak Sean beserta istri dan kedua anak kembar nya menginap di rumah nenek Handoko.


"Ma yang lain mana?" tanya Kinara yang tidak melihat satu pun art di dalam rumah utama.


"Yang lain udah mama suruh istirahat di rumah belakang, Lagian seharian ini mereka udah capek bebersih rumah."


"Oh gitu, emang papa nggak pulang ma?"


"Papa masih ngurusin perusahaan Ra, udah jarang pulang akhir-akhir ini karna kondisi perusahaan belum stabil sepenuhnya"


Kinara hanya manggut-manggut saja tanda mengerti meskipun ia sendiri kurang mengerti urusan perusahaan.


Setelah makan malam Kinara beranjak ke kamar untuk belajar seraya menunggu waktu sholat Isya tiba.


"Hm kenapa aku kepikiran Azka?" batinnya


"Apa dia baik-baik aja ya?"


"Arrgh nggak biasa nya aku kayak gini"


Kinara bermonolog sendiri. Buku yang baru di bacanya pun segera di tutup dan menyimpan kembali di atas nakas. Kinara merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata untuk menetralisir perasaannya yang masih kacau balau beberapa hari belakangan.


...flashback Siang sesudah tampil drama...


"Kita pulang ke rumah" ucap Azka yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang nya.


"Tap...tapi..."


"Nggak ada penolakan" Ucap Azka sedikit keras.


Kinara hanya menurut saja masuk ke dalam mobil sampai mereka tiba di rumah utama.


Braak


Azka menutup keras pintu kamar dan menguncinya membuat Kinara yang berada tepat di depannya berjengit kaget.


"Mas. .....mmmphhh mppphh" Azka m****** Kinara dengan rakus tanpa peduli keterkejutan Kinara.


Azka semakin memperdalam ********* tanpa memberi Kinara jeda untuk bernafas. bahkan kini tangannya sudah menggerayangi baju yang Kinara pakai.


Kinara menangis tertahan melihat sikap brutal Azka padanya. meski tubuhnya sedikit merespon tapi lain halnya dengan hati dan akalnya yang begitu menolak. saat ia merasa sudah kehilangan nafas, Kinara melepaskan Azka dan memberikan cap 5 jari di pipi Azka lalu meninggalkannya dan meluapkan kekesalannya di kamar mandi hingga sejam lamanya.


Flashback end.


Kinara menangis mengingat sikap Azka siang tadi. entah apa yang memicu Azka bersikap sebrutal itu padanya.


"Apa karna dia gak terima aku pukul saat itu?"


"Apa karna aku membentaknya di aula siang itu?"


"Bahkan semenjak pergi gladi bersih pun dia udah diemin aku"


"Salahku dimana?"


"Kalau soal Rangga kan aku udah ngomong sejujurnya malam itu"


"Lalu kenapa sikapnya berubah 360° dalam semalam?"


"Aaarhh bikin atensiku naik aja, dasar temperamen, dingin, bentar baik besok dingin kayak es batu, besok lagi sok jaim, besoknya lagi kayak kompor mleduk" gerutu Kinara.


Sementara itu di sebuah rumah petak yang terlihat usang dan tidak terawat terlihat dua orang anak muda yang masih bergumul dengan ***** bengek perabot di dalam rumah kontrakan yang sempit itu.


Mereka sedang membersihkan perabot usang yang di tinggalkan oleh pemilik sebelumnya. beberapa pintu juga sudah berlubang di makan rayap dan lebih parahnya lagi atap kamar yang mereka gunakan untuk beristirahat juga sudah bocor.


"Huh sama aja gue nguli bangunan kalo gini" keluh Beno yang sudah merasa lelah karna sejak jam 3 sore dia sudah berada di sini.


"Lo sih tadi nggak bilang kalo ni rumah udah bubrah jadi gue bisa mampir dulu di bengkel minjem alat yang bisa di gunain buat perbaiki atap" Omel Azka


"Gue tadi belum buka kamar panjul.. dateng langsung rebahan aja gue ngantuk."


"Molor mulu gimana mau sixpack kayak roti sobek?" timpal Azka


"Yang penting sehat... ya kan pemirsaaaah🤣🤣🤣" sahut Beno tak mau kalah.


Di tengah keseruan mereka, ada tamu tak di undang hadir menatap sekeliling rumah yang mereka tempati. setelah yakin orang tersebut masuk dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum mas mas....." ucap pria tersebut.


"Waalaikumsalam...eh setaaaaan" ucap Beno yang terkejut saat menoleh ke belakang.


Sosok tinggi jangkung pakai peci putih, baju koko putih selutut, sarung putih dan serban putih yang ia gunakan untuk menutup kepala sampai setengah tubuhnya seperti memakai mukenah.


"Ba...bapak siapa ya??"tanya Azka yang juga sama-sama kaget.


"Oh Hehehe... maap mas mas... saya pak RT disini, perkenalkan saya Sobirin rumah saya 3 rumah dari sini." ujar pak Sobirin yang memperkenalkan diri.


"Ooh maaf pak saya kira hantu abisnya... bapak pake pakaian serba putih sih kami kira hantu beneran."


"Silakan masuk dulu pak, tapi maaf masih berantakan soalnya baru pindahan tadi sore." ucap Azka mempersilakan tamunya masuk.


"Iya nggak papa justru saya kasini karna dapat laporan dari istri saya kalo rumah kosong ini ada yang ngontrak."


"Oh gitu toh pak. oh iya silakan diminum dulu pak maaf cuma air mineral aja" ucap Beno yang datang menyuguhkan air mineral.


"Iya nggak papa maaf malah merepotkan" ucap pak Sobirin.


"Oh ya katanya kalian ini masih sma ya?" lanjutnya lagi.


"Iya pak kelas 3 sebentar lagi ujian tinggal tunggu 3 bulan lagi."


"Oh gitu, kenapa malah ngontrak, apa orang tua kalian jauh??"


"Kami nyambi kerja pak kalo ngontrak kan deket sama sekolah dan tempat kerja itung-itung kami belajar mandiri pak." Ucap Azka beralasan.


"Waaah bagus itu. yang begini harusnya jadi anak muda itu mas. jangan bisanya cuma minta sama orang tua." balas Pak Sobirin


"Oh ya apa rumahnya ada yang tidak beres kok ini pada berantakan semua?" tanya pak Sobirin melihat pintu yang sudah terlepas dan beberapa perabot yang usang.


"Ini pintu kamarnya udah rayapan pak, terus itu atap rumah nya juga banyak yang bocor, ini perabot dan lain-lain juga sudah nggak layak pakai jadi ya kami keluarin aja." Jawab Beno seraya menunjukkan beberapa perabot yang di maksudkan.


"Hmm ya maklumlah rumah ini udah 1 3tahun di tinggalkan sama pemiliknya" ujar pak Sobirin santai tapi Azka dan Beno saling memandang.


"Kenapa mas?" tanya pak Sobirin yang melihat gelagat aneh anak muda di hadapannya.


"Mak...maksud bapak 13 tahun?" tanya Beno penasaran


"Loh memangnya kalian nggak tahu? rumah ini udah 13 tahun tanpa penghuni mas"


"WHAT?" ucap keduanya serempak


"Kok serem gini sih ka?" bisik Beno yang sudah menempel di sisi Azka.


"Kalian kenapa?" malah pak Sobirin juga ikut terkejut mendengar mereka sedikit berteriak tadi.


"Pak maap nih ya, bapak bener ngomong gitu kalo rumah ini 1 3 tahun tanpa penghuni?" tanya Beno lagi dengan mimik yang sulit di jelaskan.


"Iya bener! kalian itu satu-satu nya orang baru yang tempati rumah ini setelah 13 tahun."


"APAAAAAA?" sahut keduanya lagi terkejut.


"Ada apa toh?" pak Sobirin tambah bingung.


"Terus bapak-bapak yang nawarin rumah ini kemarin siapa dong pak?"tanya Azka spontan


"Bapak-bapak maksud kalian?" kini giliran pak Sobirin yang kaget


"Lah kok nanya kami pak?"Beno ikut menimpali.


"Lah bukannya memang kalian yang minta ngontrak rumah ini kan sama istri saya?"


"Nggak" Jawab keduanya serempak


"Justru kemarin lusa itu ada yang datang ke bapak saya nawarin rumah ini untuk di kontrakan pak" Ujar Beno lagi yang mengingat cerita bos papa Anderson 3 hari lalu saat memintanya mencari rumah petak.


"Loh ini gimana ceritanya sih?" ucap pak Sobirin bingung.


"Loh kok nanya kita sih pak?" Azka balik bertanya.


"Orang yang nawarin itu siapa kalo boleh tahu?" tanya Pak Sobirin


"Bapak-bapak tua sih katanya rambutnya putih setengah botak, tinggi dan kulitnya putih kayak blasteran gitu katanya bapak saya." Beno menjelaskan cerita dari bos papa.


"Kalian jangan aneh-aneh loh ya... yang punya rumah ini dulu itu orang blasteran belanda udah tua, istrinya sudah meninggal karna gagal jantung trus setahun kemudian suaminya meninggal. sejak saat itu rumah ini kosong momplong gak ada yang nempatin karna pemilik rumah memang tidak punya anak kandung, dia punya anak angkat itupun juga udah meninggal sejak umur 17 tahun karna kecelakaan." papar pak Sobirin


"Bukannya kemarin mas ini yang datang kerumah bicara sama istri saya mau ngontrak rumah ini?" tanya nya seraya menunjuk Azka.


"NGGAK" jawab Azka cepat


"Loh kalian ini gimana sih?" tanya pak Sobirin tambah bingung tujuh keliling.


"Haduuh kok jadi merinding gini sih pak?" Beno mendesah ketakutan.


"Apa jangan-jangan yang orang-orang bilang itu bener?" Pak Sobirin bermonolog sendiri tapi masih mampu di dengar kedua sejoli yang sudah keringat dingin itu.


"Ben lo disini dulu tahan pak rt jangan sampai pulang. gue mau ambil barang kita abis itu kita out dari sini. ok" bisik Azka pada Beno dan di angguki lalu melangkah mengambil tas ranselnya dan beberapa kantong makanan miliknya dan Beno.


"Hem...pak saya boleh berkunjung kerumah bapak tidak?" tanya Beno basa basi


"Oh silakan dengan senang hati mas, kebetulan ada yang mau saya perjelas disini. kita makan malam saja kebetulan saya juga belum makan."


"Widiih beneran ini pak, rejeki nomplok kalo gitu"


"Hahaha" pak Sobirin tertawa melihat tingkah Beno.


Sejurus kemudian Azka kembali membawa dua tas ransel besar dan beberapa kantong makanan.