
"Aaaaaaaaaaa pindah Lo dari kaki gue" teriak Cici dengan suara khas cempreng nya. seekor katak hinggap di salah satu kakinya yang membuat ia terkejut bukan kepalang
"Hahahahahhahaa makanya jadi orang jangan sok-sok an mau nimba air, gini kan oleh-oleh nya" ejek Fikar seraya mengusir katak dari kaki Cici.
"Iiih geli gue, geliii cuciin kaki gue Fikar huaaaahhikss " rengeknya
"Astoge, ini anak kupret amat sih, cuma katak doang segitunya" timpal Fikar
"Pokoknya cuciin kaki gue" teriaknya nyaring
"Iya, iya bentar gue ambilin air" Fikar menimba air dalam sumur lalu memberikan pada Cici
"Cuciin Tembikar...jijik gue"
"Gue bukan laki Lo sembeb, ntar gue khilaf siapa mau tanggung jawab?" tantang Fikar dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Cici membuat Cici menghentikan nafasnya saat aroma tubuh Fikar masuk ke Indra penciumannya.
"Sono Lo...ngapain deket gue" usir Cici mendorong tubuh Fikar
"Nggak tahu terimakasih Lo ya, udah gue tolongin" Ketus Fikar meninggalkan Cici dengan muka kesalnya.
"Dasar buaya, eh tapi wangi juga ternyata cowok dingin itu" batin Cici
Fikar masuk kembali ke dalam serambi di samping kolam ikat dekat dengan dapur.
"Kenapa muka Lo kusut?"tanya Azka yang sedang menyeduh teh
"Ck gara-gara tulang krempeng tuh pagi-pagi udah bikin mood booster gue ilang"
"tulang krempeng?? sebutan buat siapa lagi itu?"
"Buat musuh bebuyutan nya lah, si cempreng" sahut Aldo dari arah pintu
"Ck sekali-kali lah akur Fik, jangan berantem Mulu ntar jatuh cinta beneran Lo" ujar Azka
"Basi banget gue mau jatuh cinta sama dia, nggak level gue" sungut Fikar merasa tidak terima dengan ucapan Azka
"Eh di bilangin ngeyel Lo, kejadian beneran kapok" timpal Aldo yang memang jengah melihat Fikar dan Cici berseteru terus sejak mereka masih SD.
Fikar melenggang masuk ke dalam rumah melewati Aldo yang masih berdiri di pintu dengan wajah engap.
"Baper amat kalau sama dia, pasti jodoh nih," omel Aldo saat Fikar sudah hilang dari pandangan di balik dinding sekat dapur dan ruang keluarga.
"Biarin aja lah mereka menikmati permusuhan sekarang siapa yang tahu suatu saat bakal jadi Boomerang buat hati mereka sendiri" sahut Azka
"Amiiin, jadi gimana rasanya gawang udah jebol?" goda Aldo pada Azka yang sedang menyeruput teh panas nya
brrrrrbrrrr
"Ah panas anjir, Lo kalo ngomong di saring dulu ngapa sih!?" omel Azka yang memuncratkan teh panas yang baru saja ia minum.
"Basah baju gue ogeb" sahut Aldo tak mau kalah
"Lo kan yang salah" sungut Azka
"Baru segitu doang Lo baper" timpal Aldo
"makanya Lo nikah baru bisa ngerasain, percuma juga gue jawab pertanyaan Lo nggak bakal ngena"
"Sombongnya mentang-mentang udah enak-enak"
plak
"paan sih"
"Eh ngomong-ngomong tadi subuh gue liat cewek baju putih duduk di sumur itu" ucap Azka berbisik di telinga Aldo
"Ck jangan modus Lo" Aldo mendelik
"Ngapain juga gue boong" ucap Azka
"Gue merinding, jujur ini rumah besar, bagus cuma agak nyeremin auranya" balas Aldo berbisik
"Lo juga ngerasain?" tanya Azka penasaran
"Suwer" Aldo mengangkat dua jari
"Woooi di sini Lo pada, di cariin om Keenan mau di ajak hunting ke kebun teh" teriak Beno
"Tunggu jangan tinggalin gue" teriak Aldo dan Azka bersamaan, tanpa mereka sadari tangan mereka saling menggenggam karena merasa takut dengan apa yang baru saja mereka gosipkan.
Kinara dan Ririn keluar dari kamar paling terakhir dan ikut menyusul ke teras. saat melewati pilar tinggi di ruang tamu tanpa sengaja mata Kinara menangkap sekelebat bayangan hitam di balik sebuah kamar yang berada di pojok ruang yang tersambung dengan ruang tamu.
Kinara mengucap istighfar dalam hati tanpa berhenti, karena sejak kemarin sore tiba perasaan tidak enak dan merasa di awasi terus mengganggu nya, padahal semalam ia tidur bersama dengan keempat sahabatnya dalam satu kamar.
"Hem gue agak nggak enak dari semalam mas"
"Kenapa, kangen pengen di peluk?"
"Ish paan sih, bukan itu"
"Trus apa?"
"Gue kayak di awasi gitu di sini, semalam gue nggak bisa tidur"
"Beneran?"
"Bener ngapain sih boong?!"
"Kok sama ya?"
"Maksudnya?"
"Tadi subuh gue liat cewek baju putih duduk di sumur" ucap Azka berbisik, Kinara langsung melotot mendengar ucapan Azka.
"Ayo pulang, aku nggak mau di sini" rengek Kinara dengan air mata yang akhirnya tumpah juga.
"Cup cup nanti aku ngomong sama om Keenan, kita ikut dulu mereka, udah ketinggalan jauh tuh"
"jangan di lepas gue takut" rengek Kinara.
"Iya sayang, pelan-pelan kasian dedek bayinya kalau jalan buru-buru"
"Iiish, ngaco deh"
"Kalau beneran Alhamdulillah lah"
"Berdoa aja dulu"
***
Mereka semua tiba di kebun teh Milik Keenan dan mengambil swafoti bersama beberapa petani teh yang sedang bekerja.
"Om udah lama ya punya usaha ini?" tanya Azka pada Keenan
"Sudah cukup lama sejak Adik kembar Fritz lahir malahan, awalnya ini milik seorang pengusaha tapi karena beliau meninggal lahan ini di jual. pada saat itu hanya om yang mampu membelinya, akhirnya nenek Kris, memberi om pinjaman dan membeli lahan perkebunan ini, om utamakan warga disini untuk jadi petani teh dan menggarap beberapa sawah yang om punya hasilnya mereka yang akan menikmati, om hanya mengambil saja sedikit laba dari penghasilan itu"
"wahh persis kayak cerita mama, om orangnya dermawan banget"
"Ahh biasa aja, justru om punya hutang Budi pada mama mu, karena dulu mama mu yang sudah merawat om sewaktu om dalam keadaan susah bahkan Fritz juga dulu mama kamu yang pernah merawatnya."
"Oh ya?"
"Tanya aja Fritz kalau nggak percaya"
"om boleh nanya nggak?"
"apa?"
"Em gini, tapi agak serem sih"
"Apaan?"
"Tadi subuh aku liat cewek baju putih duduk di sumur yang ada di belakang rumah, trus tadi malam Kinara gelisah mau tidur karena merasa ada yang mengawasi, maaf om bukan maksudnya aku mau kurang ajar"
"Ahh nggak apa-apa nggak usah takut besok biar aku saja yang berjaga malam, kalian tidur lah"
"Kok gitu om? emang ada apa sih??"
"udah nggak usah di pikirkan, tenang aja itu urusan om"
"Tetep aja ada yang ganjil om"
"Udah nggak usah takut, kalau kita semakin takut mereka akan semakin senang."
"Iib kok serem banget sih rumahnya om"?
"Karena yang om tempati itu rumah tertua adat disini yang sudah meninggal"
"Beneran"
"hEm om nggak bohong, ya udah yuk kita lanjut"
to be continue