
Tak lama setelah mereka masuk ke dalam rumah ada sebuah mobil mewah memasuki halaman rumah ibu Ratih.
"Kau....." ucap Revan terkejut
"Iya saya, tuan kaget?" ucap seorang gadis dengan wajah cemberut. di belakangnya berdiri seorang pria dengan wajah bersalah sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa sih?" tanya Revan bingung menatap pria yang berdiri di belakang sang gadis
"Maksud tuan apa, nyulik saya dan bawa saya kerumah Dokter gila ini hah?" bentaknya pada Revan
"Ha?" Revan di buat melongo tidak percaya
"Ingat ya tuan, saya sudah capek dan lelah hayati menghadapi sikap nona Keisya, dan saya sudah putuskan untuk berhenti menjadi asistennya titik!" gertaknya sekali lagi
"Ha?" Lagi-lagi Revan hanya melongo saja, sungguh pemandangan yang aneh bin ajaib, Revan yang tidak tahu apa-apa harus mendapatkan pelampiasan amarah yang tidak tepat sasaran.
"Kenapa? tuan nggak terima?" sungut gadis itu lagi
"Ha? maksud kamu apa sih?" tanya Revan bertambah bingung 😕
"Masih nggak nyadar?" kali ini sang gadis membentak keras Revan dengan mata yang melotot tajam.
Revan yang semula merasa aneh tiba-tiba marah begitu saja saat ia di bentak tanpa tahu letak kesalahannya.
"Saya tidak salah, tapi dia" Gertak Revan seraya menunjuk pria yang masih tetap setia berdiri di belakang gadis itu.
"Kok gue? Eh Semut item, salahin adik ipar Lo, jangan gue, ini semua karena ulah dia" Giliran pria itu yang tak lain adalah dokter Wawan protes tidak terima dirinya di jadikan kambing hitam.
"Lo juga salah ogeb, harusnya Lo datang ke sono bukan kesini, Lo yang salah alamat" sahut Revan tak mau kalah.
"Eh sekarang gue tanya, Keisya siapa Lo hah?" tanya dokter Wawan
"Adik gue lah" Revan menjawab dengan enteng
"Tuh tau, trus yang di tugasin selama ini jagain dia rawat dia siapa?" tanya dokter Wawan lagi
"Ya ini, Anak kemarin sore" tunjuknya pada Rena yang melongo mendengar Revan menyebutnya anak kemarin sore.
"Nah terus yang bayarin anak kemarin sore siapa?" tanya dokter Wawan sekali lagi
"Ya gue lah, duit gue kok" sahut Revan jengah
"Tuh kan!! Lo nyadar nggak dimana letak kesalahannya?" dokter Wawan menimpali membuat Revan akhirnya jengah dan melempar sandal jepit di kakinya tepat di wajah Dokter Wawan.
Plak (sandal jepit bersandar tepat di wajah Dokter Wawan)
"Anjay, Lo jelekin nama gue" sungut Revan menggebu-gebu
"Stop" teriak gadis yang tidak lain adalah Rena.
"Harus nya aku yang marah karena kalian gagalin rencanaku ziarah ke makam bapak hikss hikkss hikks" akhirnya Rena terduduk lesu di tanah dengan air mata mengalir deras.
Revan dan Dokter Wawan di buat bingung pada akhirnya, tak lama Mala dan ibu Ratih ikut keluar karena mendengar suara tangisan
"Van ini siapa nak?" tanya ibu Ratih lembut
"Calon istri nya dokter songong" jawab Revan dengan tangan bersedekap. sontak mata bulat dan hitam milik Dokter Wawan melotot ke arahnya
"Ini bukannya asisten Keisya kak?" tanya Mala yang berusaha membantu Rena berdiri.
"Udah di bilang calon istri dokter sarap, masih nanya" ucap Revan kesal dengan sikap Mala
Revan dan Dokter Wawan segera masuk setelah ketiga wanita itu masuk ke dalam rumah.
"Ngapain sih ngajak ribut disini bukannya kesono aja" ucap Revan sarkas.
"Abis gue bingung, dari tadi malam datang kerjanya nangis Mulu, nggak mau makan nggak mau minum, gue jadi bingung sendiri lah, makanya gue ajak kesini" respon dokter Wawan pelan
"Lo sadar nggak sih salah alamat?" masih dengan nada dan raut wajah tak suka Revan kembali mencecar adik dari ayahnya itu.
"Ck, mana berani gue kesana, mau di suntik mati sama Kinara hah, lagian gue juga nggak ngomong sama Rena kalau mau kesini, gue cuma bilang ayo ikut, udah gitu aja" jelasnya.
"Emang aneh Lo, ya udah besok gue nikahin aja sekalian, resepsi nya kita barengin aja jadi pengantin kembar di pelaminan" sahut Revan mengutarakan ide konyol nya.
"Eh, gorila, emang Lo pikir Rena itu barang, seenaknya aja Lo mau asal nikahin anak orang" timpal dokter Wawan
"Daripada tinggal sama duda gablai, mending langsung gue nikahin biar langsung sah" ucap Revan lagi.
Plak
"Otak Lo di simpan di panci, enak aja Lo ngomong sah, anak orang itu bukan hewan" sungut dokter Wawan membalas ucapan Revan
"Tapi kan Lo suka, daripada di embat satpam di depan pilih mana coba?"
Bugh Bugh Bugh
Akhir terjadilah adu kekuatan antara om dan keponakan. membuat Mala kali ini hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah mereka seperti anak kecil.
Rena sedang istirahat di dalam kamar Mala, sedangkan ibu Ratih tengah melanjutkan membaca Kalamullah untuk mengisi waktu luangnya.
"Kak, pak dokter mau sampai kapan sih kalian berantem Mulu?" bentak Mala yang mulai jengah melihat aksi debat antara Revan dan dokter Wawan.
Kedua pria beda usia itu langsung diam dan berhenti beradu kekuatan otot. Mala menghembuskan nafas kasar sebelum bicara
"Kalau masih ngotot nggak ada yang mau ngalah terpaksa aku panggilin warga kompleks buat lihat aksi pertunjukan sumo gratis, lumayanlah sawerannya bisa buat gue beli tas keluaran terbaru hahaha" ucap Mala lalu meninggalkan kedua pria itu terbengong-bengong.
"Songong juga asisten pribadi Lo, kenapa nggak Lo embat aja sekalian" tukas Dokter Wawan
Plak
Kini giliran Revan lagi menepuk dahi dokter Wawan
"Eh sarap kejepit, gue laki setia ya, jangan ngasal kalau ngomong" sungut Revan.
"Nih di minum, pasti capek kan berantem dari tadi?" ucap Mala membawa minuman dingin dan menaruhnya di atas meja tamu.
"Buset, Lo suruh kita Ngokop?" ucap dokter Wawan karena tidak melihat gelas hanya teko berukuran besar berisi sirup dan es batu.
"Gelasnya itu di lemari ambil sendiri, kalau mau minum langsung dari teko ya silahkan saja," ucap Mala santai dan berlalu meninggalkan kedua pria itu yang masih geleng-geleng kepala karena ulahnya
"Anjay, adik Lo gitu amat nggak jauh beda dari kakaknya, sama-sama sarap" omel dokter Wawan yang berjalan ke arah lemari mengambil gelas dan tisu.
"Ambilin gue gelas juga anjir, ini rumah gue, Lo tamu disini" titah Revan
"Ingat tamu adalah raja, ambil sendiri lah"
"Hiis dasar dokter somplak, kok masih betah aja ya dokter Rahma nungguin Lo, apa istimewanya coba?" sindir Revan.
"Apa bedanya dokter Siska masih aja setia nungguin Lo, apa coba istimewanya?" sahut dokter Wawan tak mau kalah.
Mala yang duduk bersantai di ruang keluarga sembari menonton televisi, hanya bisa mendesah pelan mendengar ocehan unfaedah mereka. "Nggak adeknya nggak kakaknya sama aja" batin Mala