
Kinara pov
2 hari yang lalu aku menunggu Azka pulang menjemputku sepulang sekolah di tempat biasa. Sudah lebih sejam aku menunggunya tapi tak juga datang, sekolah perlahan sepi hanya ada beberapa anggota Osis dan anak-anak Ekskul saja.
Tak lama Rangga datang menghampiriku dan menawarkan untuk mengantarku pulang. Awalnya aku menolak tapi saat ku lihat hari sudah mulai sore dan sekolah sudah sepi aku putuskan untuk menerima tawarannya.
Aku putuskan pulang kerumah ayah agar Rangga tidak mengetahui statusku saat ini. Namun saat aku tiba di depan rumah dan Rangga sudah pergi, aku memanggil semua orang untuk membuka gerbang. Nihil tak ada satupun jawaban.
Aku mulai khawatir karna hari sudah mulai petang, perlahan ku perhatikan secara seksama rumah ayah tampak tak terawat dan semua bunga kesayangan ibuku mati. Aku segera meraih ponsel dan menghubungi semua asisten rumah, lagi-lagi kontak mereka tidak ada yang aktif.
Aku semakin takut, suamiku tidak merespon panggilanku. Entah sudah berapa puluh kali aku menghubunginya tetap tak ada jawaban. Akhirnya ku putuskan untuk menyusuri kompleks berharap aku bisa bertemu tetangga yang bisa memberiku tumpangan untuk sholat Ashar yang hampir habis waktunya.
Aku bertemu Ust.Rohmat yang saat itu hendak ke masjid. Beliau mengajakku kerumahnya dan aku di sambut baik oleh istri serta anak-anak beliau. Malam itu setelah makan malam aku masih menunggu Azka menjemputku tapi ponselnya tidak aktif.Aku bingung karna aku tidak menyimpan kontak Papa dan Mama mertuaku, saat itu juga Istri Ust.Rohmat menawarkan untuk menginap awalnya aku menolak tapi pada akhirnya aku mengiyakan karna mereka terus mendesakku untuk mengatakan siapa yang akan menjemputku dan aku mengatakan tentang statusku saat itu juga.
Esok hari aku berangkat ke sekolah di antar oleh Mas Yusuf anak pertama Ust.Rohmat, rupanya Mas Yusuf adalah sekertaris baru Papa Mertuaku dan baru sebulan bekerja pada Papa. Rupanya Mas Yusuf memberitahu papa tentang keberadaan ku semalam. Ya, Mas Yusuf sendiri yang mengatakannya padaku saat mengantarku ke sekolah.
Tiba di sekolah aku terkejut saat seorang adik kelas menarik paksa lengan bajuku. Cindy membawaku berlari menghampiri kerumunan siswa yang awalnya aku tak mengerti namun saat tiba di tempat aku di buat terkejut melihat Azka dan Rangga berkelahi.
Aku tergugu di tempat tanpa tahu apa yang harus aku lakukan. Aku berteriak sekencang mungkin agar mereka berdua berhenti dan itu berhasil bersamaan dengan Pak Herman yang datang melerai.
Azka menoleh dan langsung memelukku sembari terisak. Ku lihat ada rasa ketakutan, khawatir, dan rasa bersalah dari kedua manik matanya saat ia memeluk dan menciumku di depan kerumunan orang. Aku hanya bisa diam membisu tanpa mengalihkan pandanganku dari punggungnya saat pak Herman membawa mereka keruang BK.
Sesaat kemudian sebuah tangan mungil memeluk pundakku. Aku menoleh tersenyum getir padanya. Cindy menatap ku tersenyum "Kak jangan nangis disini malu ihh udah gede" ucapnya terkekeh namun mampu membuatku sedikit tertawa pelan. Tak lama ke empat sahabatku datang menghampiri ku dan mengajakku ke kelas.
Sedih, marah, kecewa, dan semua rasa menyatu. Begitu banyak pertanyaan yang membuatku semakin sulit untuk menerima keadaan. Aku hanya ingin penjelasan. Hanya itu. Namun mengapa semua seakan tak mau memberikannya padaku termasuk ayah dan kakakku.
Tuhan ujian apa yang sedang Engkau berikan padaku kali ini? Mengapa hidupku serumit ini?.
------ππ
"eugghh..., aku dimana?" Kinara mengerjapkan mata melihat sekeliling ruangan kemudian beralih menatap sebuah jarum infus di lengan kanannya. Mengambil nafas dan kemudian membuangnya perlahan, ia ingat terakhir kali ia ada dirumah dan sekarang harus berakhir di rumah sakit.
Menangis selamaΒ 2 hari dan mengurung diri di kamarΒ membuatnya melupakan hal terpenting yaitu kesehatan. Berkali-kali Azka merayunya untuk makan bahkan berulang kali meminta maaf padanya malah ia mengabaikannya, papa,mama dan yang lainnya pun selalu memperhatikannya alih-alih ia tetap bergeming.
"udahlah ma biarin dulu Kinar sendiri, dia masih butuh waktu untuk nerima semuanya. Kita gak bisa memaksa kehendaknya, biarkan dia tenang dulu, nanti jika keadaan sudah membaik biar papa yang bicara pelan-pelan."
"Tapi pa ini udah dari kemaren dia belum makan sama sekali, mama gak mau mantu kesayangan mama kenapa-napa, dia punya riwayat lambung pa".
"Iya papa ngerti, tadi Azka udah papa suruh bawain makanan buat Kinar, mama tenang dulu ya ada Azka yang jagain, mereka perlu waktu berdua untuk menyelesaikan masalah mereka, plis ma dengerin papa."
"Ya udah kali ini mama ngalah tapi awas kalo sampe mantu mama kenapa-napa, Papa siap-siap tidur di ruang tamu.."
"Siap Komandan.. Ehh tapi jangan gitu juga donk ma.."
"Biarinn..."
Sekelebat percakapan mertua nya di depan pintu kamarnya terlintas, menumbuhkan rasa bersalah di relung hatinya. "Kenapa aku gini sih? Aku salaaah, gak seharusnya aku bersikap sampe segininya, mereka berantem gara-gara aku juga dan sekarang aku masuk rumah sakit mereka juga yang repot, egois banget sih aakhhh".. Kinara memukul kepala nya yang sedikit terasa sakit menyalahkan keegoisannya selama dua hari ini.
Klek
Sosok pria yang selama 2 hari ini ia diami muncul dari balik pintu ruang tempatnya di rawat. Wajahnya, sorot matanya, bahkan penampilannya berubah hanya dalam waktu dua hari. Pria itu tersenyum merekah kearah Kinara seolah senyumnya menutupi sorot matanya yang terlihat sendu. Bahkan Azka yang biasa terlihat rapi dan stylish kini terlihat sedikit.... Acak-acakan.
"Maafin aku mas yang udah egois" batin Kinara berusaha menahan butiran air yang sudah mengembung di pelupuk matanya tanpa melepas tatapannya pada Azka.
Azka menaruh sebuah kantung kresek hitam di atas nakas lalu beralih menarik sebuah kursi tepat di samping brankar sang istri sembari tersenyum tulus.
"Udah bangun rupanya, aku kelamaan ya keluarnya, tadi aku beliin bubur kesukaan mu, aku pesen go-send kata drivernya tadi lumayan ngantri jadi aku nunggu di parkiran depan. Kamu mau makan sekarang?" tawar Azka seraya membelai pucuk kepala Kinara yang tertutup hijab instan.
"Mas...a..ak..." bulir beningpun jatuh tanpa di minta. "maaf...ma..af..in aku"
Ucap Kinara terbata-bata.
"Cup udah aku gak papa, menangislah keluarin dulu semua biar kamu tenang hemm" ucap Azka menciumi wajah sang istri setelahnya Ia telungkupkan wajahnya tepat disisi kepala Kinara. Bohong jika ia tidak menangis hanya saja egonya terlalu tinggi. Ia tidak ingin menampakkan kesedihannya meski sorot mata tak bisa membohongi hatinya yang juga tengah terluka.
"Mas...mas..maafin aku udah bikin kamu, mama, papa, nenek dan semuanya susah, maafin aku udah bikin kalian repot ngurusin aku selama ini. Maafin aku mas aku udah egois sama kamu." Ucap Kinara seraya menyurai rambut hitam Azka. Menangis juga ternyata melelahkan sekaligus melegakan satu hal yang sekarang Kinara sadari.
Kinara mendengar dengkuran halus saat tangannya masih setia menyisir rambut Azka. Rupanya Azka tertidur saat tengah menangis. Ia tersenyum miris melihat Azka lelap dalam tidurnya. "segitu lelahnya kamu mas maafin aku ya" batinnya.
Sudah dua hari dua malam sejak kejadian hilangnya Kinara ia tidak tidur. Terlebih dengan sikap acuh Kinara terhadapnya membuatnya semakin frustasi. Berkali-kali ia membujuk Kinara untuk makan dan meminta maaf padanya toh Kinara tetap bergeming. Saat ia sudah benar-benar lelah ia putuskan memberi Kinara waktu untuk sendiri dan menghabiskan waktunya di bengkel demi melepaskan sedikit kepenatan hati dan pikirannya meski sebenarnya tidak semudah itu ferdinan... ππ
ππ
"Pak ini dokumen beserta rekaman cctv yang anda minta kemarin semua sudah saya rekap." ucap Yusuf sembari meletakkan sebuah map coklat di meja bosnya.
"Terimakasih Suf, apa sudah ada kabar dari Bos Besar?" tanya sang bos
"Untuk saat ini kondisi masih kondusif pak, belum ada pergerakan dari pihak Z mungkin mereka masih menyusun rencana. Dan Bos Besar meminta kita untuk tetap waspada dan soal......" Yusuf tidak melanjutkan ucapannya.
"Soal apa Suf? Kinara? Keisya?"
"Emm.. Maaf pak 2hari lalu saya mendapatkan email dari Revan kalau Nyonya Widya sudah siuman, maaf pak karna baru semalam saya membukanya." ujar Yusuf pelan penuh penyesalan.
"Kamu serius??"tanya sang Bos
"Iya pak ini bukti emailnya silahkan bapak baca" jelas Yusuf menyerahkan ponselnya dan langsung di terima oleh Sang Bos.
"Alhamdulillah akhirnya Allah bukakan jalan setelah sekian lama kita ikhtiar. Sampaikan pada Revan untuk tetap waspada disana dan jangan sampai ada yang mengetahui hal ini. Apa Bos Besar sudah mengetahuinya juga?"
"Kemungkinan sudah Pak karna pada saat beliau siuman orang pertama yang beliau cari adalah Bos Besar."
"Baiklah untuk hari ini cukup Suf, dan kamu harus tetap kontrol penjagaan disana."
"Baik pak saya permisi".
"Oh iya Suf, apa kamu sudah punya calon pendamping?"tanya Sang Bos
"A...a..app..apa pak?" tanya Yusuf terkejut
"Saya lihat kamu sudah waktunya untuk menikah, kapan? Sudah ada calon atau mau saya carikan calon?"
"A..an..it...anu itu... Saya... Saya belum berpikir kesitu untuk saat ini pak hehe" Yusuf menggaruk kepala yang tidak gatal "ngimpi apa semalem kok di kasi pertanyaan aneh sih?" batinnya.
"Ya sudah nanti kalo kamu sudah siap silahkan melapor dan saya siap untuk mencarikan calon. Kalau kamu berminat hehe" tawar sang bos
"B..baiklah pak saya permisi" pamit Yusuf seraya mengambil langkah seribu keluar dari ruang kerja sang bos dengan wajah memerah. " Duh Gusti pak bos ada-ada saja emang nyari bini sama kayak beli saham?!" gumamnya seraya melanjutkan langkah dengan jantung yang masih berdentum keras.
ππ
"Mas... Bangun udah waktunya duhur" Kinara memukul pelan pipi Azka
"Ntar masih ngantuk..."ucap Azka dengan mata masih tertutup rapat
"Buburnya udah dingin, kamu gak lapar mas?"
"ya udah di makan aja kalo gak mau nanti aku pesenin mas go-send lagi."
Lagi-lagi Azka menjawab tanpa berminat membuka matanya.
"Iiishhh.. Kamu tuh ya udah waktunya sholat duhur mas.. Bangun gih Lagian juga mubazir kalo mau di buang itu buburnya."
"Hoaaamm aku masih ngantuk sayang 5 meniiiit aja lagi ya.. Emmuach" rayu Azka mencium punggung tangan Kinara
"Gak ada tawar menawar, cepat bangun mas"
Dengan sedikit malas Azka bangkit dan beranjak menuju ke kamar mandi yang ada di ruang rawat Kinara.
"Gak ada handuk, baju ganti juga gak bawa gimana dong? masa aku mau telanjang bulat? Emang kamu udah siap liat body aku yang seksi?" ucap Azka saat hendak membuka knop pintu kamar mandi.
Kinara merah padam seakan siap menerkam mangsanya dan dengan sigap mengambil sebuah sendok diatas nakas untuk di lemparkan ke wajah sang suami yang sungguh sangat menyebalkan hari ini.
"Cepet mandi ato mau sendok ini yang mandiin kamu mas?"π π kalo gak bawa baju ganti trus itu ransel siapa di sofa hah??"π π
"Ehheeheee..... Maap nyonya lupa! efek mata panda jadi barang gede aja gak keliatan" ujar Azka yang langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengambil ranselnya terlebih dahulu.
"Udah terlanjur basah nih gimana mau keluar baju udah lepas semua."
"Maaaaaassss kamu tuh ya bisa gak sih gak ngeselin. Cepetan keluar aku tutup tirainya.."
"Gak di tutup juga gak papa kan udah halalan toyyiban.. Hahaaa" Azka keluar dari kamar mandi dengan gerak secepat kilat hanya menggunakan underwear yang sudah basah dan hampir mlorot.
kleeek
"Azkaaaaaaaaaaaaaaa......"
"Aaaaaaaaaaa gua khilaaaaff"
"Dan gua sengajaaaaaaaaa"Teriak Azka seraya berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi.
Kinara cekikikan sendiri sembari memegang perutnya di balik tirai tempatnya berbaring. "Lucu juga kamu mas. . Rasain tuh kalo di bilangin bandel sih xixixixi" gumam Kinara dengan tangan masih menutup rapat bibirnya yang ingin tertawa keras.
"Busyet.. Itu apaan tadi yaak??" ucap Reno lantang dengan mimik sengaja dibuat heran
"Pisang ijo, tapi dalemnya albino.. Hahahah πππ" sahut Aldo seraya mendudukkan bokongnya diatas sofa di ikuti ke 2 temannya yang lain.
"Pisang ijo mah manis lah ini mak seerr seeeer tareeeeek maaaasss haaaaahhha π€£π€£ππ " Sahut Fikar dan semua tertawa kerass.
Braaakk (suara pintu) tertutup agak keras
"Briiisiiik tau gak!" omel Azka pada ketiga temannya berjalan membuka tirai dan mencium pucuk kepala Kinara yang sedari tadi menahan tawa.
"Udah wangi kan sayang, gimana?" ujar Azka mengedipkan matanya
"Haaaahhaaahhaaa..." akhirnya tawa Kinara yang tertahan sejak tadi keluar juga.
"Kamu ngetawain aku?? Au aaahh kalian sama aja." Azka memberengut kesal melihat Kinara menertawakannya. Ia membuka tirai dan...
"Ketawa terus lu pada...gua mandi salah enggak mandi juga salah.." gerutunya sembari berjalan menuju sofa.
"π€£π€£π€£π€£ Lu ngimpi apa semalem Ren?? Barusan gua liat penampakan pisang ijo rasa albino sekarang gua liat orang pake kaos kebalik struk harganya masih nyantol apik tuhh ππππ " oceh Aldo yang memegang perutnya
"Woii nyadar lu umur masih abg udah kena Alzheimer lu yaakkk πππ " sambung Reno
"Yang sakit itu bini lu tapi kenapa lu yang oleng sih??hahaahaa πππ" tambah Fikar
Azka segera melihat ke arah cermin dan benar saja apa yang temannya tertawakan. "Busyet awas lu Kinar sampe rumah gua sabet 2 hari 2 malam full gua minta jatah beneran. gara-gara ngantuk jadi gini deh." batinnya seraya berbalik langkah menuju kamar mandi.
"Puuuuaaasss lo pada" sahut Azka saat keluar dari kamar mandi menatap tajam ketiga temannya.
"Sans dong broo..sini sini anak mami duduk manis udah dong ya ngambeknya" goda Aldo menepuk sofa di sampingnya.
Pletak (Azka memukul dahi Aldo)
"Njir sakit ogeb..tangan mulus tapi tenaga kek bulus.."omel Aldo
"Mulutnya mass bisa di setir gak sih?" oceh Azka seraya mencubit kasar bibir tebal Aldo
"Bibir gua masih perawan ya Ririn aja masih belum mau nyentuh bibir manis gua lu seenaknya aja pegang-pegang." sahut Aldo tak mau kalah.
"Gimana Ririn mau mrawanin bibir lo yang kayak cobek sambalado gitu ogeb. Yang ada lu aja yang maunya nyosor mulu..." tambah Fikar
"Sok tau lu" jawab Aldo nyengir.
"Udah pada sholat duhur belum tuh daritadi ribut mulu keburu habis waktunya. Aku lapar mas mau makan." Sahut Kinara dari balik tirai.
"Siap Berangkat ke mushola dulu nyonya." jawab Aldo sekenanya kemudian beranjak keluar ruangan menuju mushola rumah sakit diikuti kedua temannya.
"Aku siapin dulu buburnya abis ith aku pergi sholat." ujar Azka seraya membuka bungkusan yang sedari tadi belum tersentuh.
"Mas " Kinara memegang lengan Azka
"Hemm kenapa?"
"Emm, kamu beneran di skorsing seminggu?"
"Iya"
"Rangga juga?"
Azka terdiam sejenak dari aktifitasnya membuka bungkusan bubur. mencoba menetralkan emosinya yang tiba-tiba di ubun-ubun saat mendengar nama rivalnya di sebut.
"Iya kenapa?" Jawabnya kemudian dengan raut wajah berbeda.
"Maafin aku mas, hari itu aku......" Azka segera memotong ucapannya
"Udah stop gak usah di bahas. Cepat di makan udah dingin, aku ke mushola dulu. Assalamualaikum" ucap Azka dan segera berlalu keluar kamar.
"Waalaikumsalam" Kinara menghela nafas gusar ia sadar ucapannya menyinggung hati Azka. Tapi apakah mungkin Azka tahu kalau Rangga bagian masa lalunya?.
ππ
"Udah sholat lu?" Tanya Reno di sampingnya.
"Udah" Jawab Azka sekenanya tanpa mengalihkan netranya dari benda pipih yang di genggamnya.
Reno celingukan melihat ke arah mushola mencari kedua temannya yang tadi sholat berada satu shaf di belakangnya. Saat ini mereka berdua berada di taman mushola.
"Lu liat mereka gak? Tadi shaf di belakang gua pas selesai mereka pada gak ada.."Reno bertanya
"Entahlah.."
"Lu ngapa sih? Daritadi bawaannya ketus mulu" heran Reno
"Emang bener ya kalo Rangga mantannya Kinar?"
"Hah? Lu sakit? Ngapa lu nanyain Rangga? Cemburu lu?" tanya Reno balik
"Udah jawab aja ngapa sih?"
"Iyee emang mantan waktu smp tapi putus tanpa kejelasan karna Rangga tiba-tiba pergi gak ada kabar dan pada saat yang sama tante Amina meninggal." ujar Reno
"Dan sekarang dia balik dan berharap mau balikan lagi sama bini gue?"
"Mana gua tahu laah itu mah urusan hati dia, tanya aja bini lu masih ngarep kagak? Lu gak usah baper bini lu itu orang setia gua tau banget"
"Emang iya? Kalo setia ngapain juga mau di boncengin mantan?"
"Hedeh ribet banget ngomong sama orang kek besi baja. Just say if you are jealous broo gak usah basa basi di depan gua. Lu cemburu kan?"
"Ckk ribet ahh" Azka mencebik dan segera beranjak meninggalkan Reno.
"Kinar andai lu tau kalau cewek dalam hidup gua itu lu sejak kecil. pita biru itu selalu ingetin gua sama gadis kecil di masa lalu. Mungkin lu lupa tapi gua selalu inget dan gua bahagia waktu gua tau ternyata lu orangnya." batin Azka
"Siang Sus..."sapa Azka pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang rawat Kinara. perawat tadi sempat terkejut namun ia langsung menunduk untuk menghindari tatapan Azka dan segera berlalu menuju ke salah satu ruangan di rumah sakit itu.
Azka yang melihat gelagat aneh suster tadi sempat merasa janggal namun ia tepis.
Azka langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Sengaja ia tak manghampiri Kinara karna tak ingin menganggu tidur gadis itu. Terlebih lagi suasana hatinya masih tak karuan kala mengingat nama rivalnya di sebut dari bibir mungil sang istri. "arrgh seberapa berharganya sih Rangga buat lo Kinar??" desah batinnya.
TBC
Penasaran gimana kelanjutannya....??
Vote dulu dooonkk.. Gratis pula..ππ