
Kau..." ucap Kinara terkejut melihat wanita yang berjalan dengan anggun datang menghampirinya dengan senyuman khas persis milik ibunya.
****
"Ti...tidak mungkin" ucap Kinara dengan wajah terkejut
"Apa kabar nak?" tanya nyonya Amira lembut. sorot matanya sendu ada banyak kesedihan disana. namun sebisa mungkin ia menyembunyikan kegugupannya.
"Ini tidak mungkin, bagaimana bisa...tidak ini tidak mungkin" Kinara menggeleng dan mulai meracau. ingin menyangkal kenyataan taoi hatinya seakan masih belum menerima.
"Maafkan tante nak" Air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya luruh juga. nyonya Amira terisak ada perasaan membuncah yang tak dapat ia sembunyikan. Steffy dengan sigap memeluk tubuh sang ibu yang bergetar hebat.
Bruk
Kinara pingsan seketika. Nyonya Amira dan Steffy berteriak memanggil kedua nama Kinara dan Keisya, karna mereka tak tahu siapa yang tengah berbicara pada mereka saat ini.
Azka yang mendengar suara jatuh langsung sigap berlari ke arah pintu utama. dan terkejut melihat Kinara sudah terbaring di lantai.l dengan dua orang wanita beda usia.
"Siapa kalian?" tanya Azka seraya meraih tubuh Kinara dari dekapan nyonya Amira.
"Sorry, It's my fault, she is my mother Mrs. Amira and I am Steffy" ucap Steffy menunduk takut.
"Kau.....?"Azka melotot mendengar ucapan Steffy kemudian beralih menatap Nyonya Amira yang juga tengah menatapnya.
"Maaf, saya Amira saudara kembar mendiang Amina ibu dari Kinara dan Keisya" ucapnya lembut
"Jadi...itu benar?".
"Ya, itu benar, apa kau keponakan menantuku?"
"A..aku Azka suami Kinara"
"Jadi benar kau putra Anderson?"
"Ya aku anak kedua"
"Maaf telah membuat kegaduhan, bawa Kinara ke dalam aku akan pulang"
"Baiklah, tidak, jangan pulang masuk dulu tante" ucap Azka mempersilakan nyonya Amira dan Steffy masuk ke dalam rumah.
"Apa tidak apa-apa?"
"Masuklah tante, maaf jika aku kurang sopan tadi, aku akan membawa Kinara masuk ke kamar"
"Baiklah" Nyonya Amira dan Steffy melangkah masuk mengikuti arah Azka. mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu sementara Azka naik ke lantai dua masuk ke dalam kamar yang ia mereka tempati.
Tak lama Keisya dan Rena datang menyusul ke ruang tamu. tak ada raut wajah terkejut dari keduanya, karna mereka merasa tidak mengenali wajah kedua tamunya. namun tidak bagi nyonya Amira yang tahu siapa yang menemuinya sekarang.
"Keisya?"
"Ya?"
"Kamu Keisya?"
"Iya aku Keisya, maaf ibu siapa ya?"
Nyonya Amira semakin terisak melihat kenyataan di depan matanya. dua keponakannya yang selama ini ia rindukan.
"Ini tante nak, saudara kembar ibumu"
"Ibu?" Keisya di buat bingung
"Nyonya Maaf, nona sedang dalam keadaan kurang baik, jadi tolong jangan berikan ia hal-hal yang akan mengganggu psikisnya" Rena datang menengahi, ia tahu apa yang harus ia lakukan. mengingat kondisi psikologi Keisya yang masih belum stabil.
"Maaf, apa boleh saya di sini lebih lama?"
"Hmm silakan nyonya tapi saya harus memberitahu tuan dulu, kami tidak bisa sembarang menerima tamu"
"Aku tahu, tapi aku sudah berbicara pada tuanmu sebelum memutuskan untuk datang kesini"
"Oh apa anda tamu yang tuan maksud?
"Apa kakak ku mengatakan aku akan datang?"
"Ya beliau sudah mengatakan padaku nyonya, kalau begitu saya akan mengajak nona muda kembali e kamarnya terlebih dahulu"
"Iya baiklah, aku akan menunggu"
"Nona ayuk masuk ke kamar, sudah waktunya minum obat dan beristirahat"
"Tapi ini...." Keisya menunjuk pada nyonya Amira
"Nanti ada tuan besar yang datang menemani, sebentar lagi juga sampai"
"Oh begitu, ya sudah"
"Maaf nyonya saya permisi dulu"
"Iya Baiklah"
Rena pergi mengantar Keisya kembali ke kamarnya. Nyonya Amira menatap sedih pada kedua keponakannya. kembali rasa bersalah itu hadir di relung hatinya. tak dapat di pungkiri rasa rindu yang tak bertepi setelah sekian puluh tahun tak pernah bertemu, membuat tekanan pada hatinya begitu menyiksa.
"Mom, are you okey?"
"Hmm, I know"
Tak lama Azja kembali turun ke bawah menemui Nyonya Amira dan Steffy.
"Maaf tante, Kinara masih belum siuman, sepertinya dia benar-benar shock."
"Maaf kan aku nak, jika kedatanganku membuat kalian tidak nyaman, jika boleh aku akan pulang"
"Tidak perlu tante, menginaplah disini, ada banyak hal yang inginaku bicarakan pada tante. jika tidak keberatan"
"Kau......" nyoya Amira menatap ragu pada suami keponakannya itu.
"Jika tante berkenan, aku ingin kalian menginap disini malam ini, karna Om Denias sedang berkabung di rumah koleganya, begitu juga dengan bodyguard yang di tugaskan untuk menjaga kami, mungkin selepas takziyah mereka baru akan kembali"
Nyonya Amira menoleh oada Steffy keminta persetujuan. Steffy hanya mengangguk mengiyakan.
"Baiklah aku setuju"
"Terimakasi tante, oh ya tunggu sebentar ya tante" Azka beranjak meninggalkan sofa dan gegas menuju ke dapur untuk mengambil beberapa soft drink dan camilan.
"Eh den Azka mau ngapain?" tanya Rena yang abru saja tiba di dapur.
"Ini ambilon minuman buat tamu"
"Wah itu kan tugas saya den, kenapa aden yang kerja?"
"Nggak papa mbak, mbak Rena siapin aja makan malam buat mereka ya!"
"Hmm ya udah deh, maaf ya den saya merepotkan"
"Ahh biasa aja" Azka berlalu meninggalkan dapur membawa nampan berisi minuman dingindan setoples makanan cake.
"Silakan dinikmati tante, adek"
"My name is Steffy not adek" sahut Steffy terdengar kurang suka
"Sst, maksudnya itu panggilan untuk orang yang usia lebih muda, sebutannya adek, sama seperti Darren manggil kamu, little sis understand?"
"But it's strange mom, aneh!"
"Inilah Indonesia negara penuh keragaman budaya dan bahasa serta tutur dan keramahan yang kami miliki di sini"
"So?"
"Kamu harus belajar beradaptasi, pelan-pelan kamu akan mengenal budaya mama disini, bersabarlah jangan tunjukkan egomu di depan mereka karna bagi kami, pada siapapun kami harus ramah, bukan begitu Azka?"
"Betul sekali tante, Indonesia itu punya beragam budaya, ras, dan bahasa. harus saling menghormati dan menyayangi pada sesama meskipun kita berbeda"
"Betul itu"
"Hm ya ya, aku minta maaf, so aku harus panggil dengan sebutan apa?"
"Kakak, karna Azka adalah menantu dari tante Amina kakak kembar mommy"
"Oh so I call you Kakak?"
"Bener, iih anak mommy pinter"
"Siapa dulu dong"
"Maaf tante, ngomong-ngomong dari mana tanu kalau kami ada disini?"
"Mas Denias yang memberitahuku"
"Ooh?"
"Ada apa?"
"Ahh tidak ada hanya saja aku sedikit terkejut saja"
"Maaf kalau kedatangan tante meresahkan"
"Tidak sama sekali tante, justru saya senang karena ada orang dewasa diantara kami disini!"
"emm by the way, apa sebelumnya kamu sudah tahu tentang saya?"
"Maaf tante, sudah. papa sudah mengatakan semua nya pada saya,"
"Oh begitu rupanya, maaf jika sekiranya ini mendadak"
"Ini sudah jalan takdir tante, tidak perlu risau"
"Apa Kinara masih belum bangun, siapa yang menjaganya?"
"Ada asisten yang menjaga nya tante, tak perlu khawatir."
"Baiklah, boleh aku menemuinya setelah ini?
"Silakan, tidak ada yang melarang tante"
"Terimakasih"