
Revan yang sedang meeting di luar kantor dengan seorang klien akhirnya meminta izin pulang dan Mala yang menggantikannya.
Mendengar ada keributan antara kedua adiknya Revan langsung bergegas pamit setelah Rena memutus sambungan teleponnya.
"Ayah bagiamana Azka?" tanya nya pada Azka di seberang telepon. baru saja hendak menyalakan mesin mobil Azka memberikan kabar jika sang ayah tidak sadarkan diri dan di bawa ke rumah sakit.
"Oke. aku akan kerumah menjemput Keisya, tetap disana jaga ayah sementara aku belum sampai".
Revan mengendarai mobil dengan laju sedang karena biar bagaimanapun keselamatan tetap nomor satu meskipun hatinya di landa was-was
Mama Hanna akhirnya membantu Keisya berdiri dan memberinya segelas air putih. Keisya meminumnya hingga tandas. tak ada yang dapat ia lakukan selain kecewa atas penolakan sang kakak bahkan dengan tega melakukan kekerasan padanya.
Bagi Keisya apa yang salah darinya, bukan kah mereka kembar dan apapun yang mereka pakai harus sama?. sungguh pemikiran yang kekanakan. karena didikan Anthony yang salah selama ini hingga membuat Keisya tumbuh jadi pribadi yang sulit untuk memahami sesuatu secara logika.
Sejak usia tiga tahun Anthony menculiknya hingga berusia delapan belas tahun, sekali aja dalam hidupnya Keisya tidak pernah melihat dunia luar. semua kegiatannya dari pagi hingga pagi hanya berkutat di rumah dengan penjagaan yang ketat.
Meski dia merengek pada asisten, pengasuh maupun guru private yang selalu bersama nya di rumah. tidak satupun dari mereka yang mau menuruti keinginan Keisya untuk keluar rumah karena Anthony selalu mengancam akan mengakhiri hidup mereka bila nekat melakukan apa yang Keisya inginkan.
Keisya hidup dalam dalam kegelapan tanpa pernah tahu apapun yang terjadi di luar sana. Keisya hidup ibarat sebuah boneka yang hanya bisa melakukan apapun sesuai dengan keinginan sang pemilik.
Keisya hidup dalam stigma yang salah yang telah di ajarkan Anthony padanya. "Orang luar itu jahat semua tidak ada yang baik, jadi jangan coba-coba kau pergi jika ingin selamat" itulah doktrin Anthony yang selama ini tertanam di otak Keisya hingga suatu hari ia nekat pergi dan kabur setelah kembali ke Indonesia itupun karena bantuan adik bik Asih yang bekerja dengan Anthony.
Mama Hanna sengaja memberi waktu pada Keisya agar lebih tenang sembari menunggu Revan menjemput adik bungsunya itu.
Mama Hanna berjalan ke kamar Azka demi melihat keadaan menantu kesayangan nya.
"Nak, ini mama" ucap mama Hanna melihat Kinara tengah tidur tertelungkup dengan tubuh bergetar.
Mama Hanna mengusap punggung sang menantu dengan penuh kasih.
"Sabar ya nak, pahami kondisi adikmu" ucap mama Hanna lembut
Kinara beringsut dan memeluk mama mertuanya, tangisnya tumpah di bahu milik mama Hanna.
Revan baru saja tiba di rumah untuk menjemput Keisya, mbak Reni dan bik Siti memang di amanahkan untuk melihat Keisya dan menunggu Revan datang.
"Tante dimana bik?" tanya Revan begitu ia di persilahkan masuk oleh bik Siti.
"Ada di atas di kamar nona muda"
"Bagaimana kondisi Kinara?"
"Nona shock, nyonya sedang menemani nya"
"Oh ya sudah"
Revan menghampiri Keisya yang terduduk lesu di sofa dengan kedua kaki di lipat sejajar, kepalanya ia sembunyikan di antara kedua kakinya.
"Dek, ayo kita pulang" ucap Revan lembut seraya membelai rambut hitam Keisya.
"Ayo ikut kakak pulang kerumah, ada bunda Ratih sama kak Mala di sana"
Keisya menggeleng lemah, sesaat kemudian ia mendongak menatap lekat mata sang kakak.
"Kak apa aku salah kalau aku juga meminta apa yang bisa aku miliki juga, bukan kah kami kembar jadi apapun yang kami pakai harus sama."
"Udah nggak usah bahas itu dulu, kita pulang ya" bujuk Revan lembut
"Nggak, aku nggak mau pulang kalau kak Kinar nggak mau nurutin mau ku"
"Dek, ayo pulang" kali ini Revan berucap sedikit penekanan
"Nggak, sebelum kak Kinar mau nyerahin kak Azka buatku"
"Kamu gila!" bentak Revan yang sudah habis kesabaran
"Kenapa semua bilang aku salah kak, dimana letak kesalahanku, aku juga berhak kan untuk memiliki kak Azka karena kami kembar"
"Idiot, kau sakit Kei" umpat Revan dengan amarah yang menggebu-gebu. bik Siti dan mbak Reni takut mendengar teriakan Revan yang sedang marah.
"Ayo pulang atau ku seret" bentak Revan membuat Keisya semakin ketakutan. ia melihat sosok almarhum Anthony pada sorot mata Revan. sorot mata itu persis dengan Anthony saat sedang marah.
"Ayo pulang" bentak Revan sekali lagi membuat Keisya mau tak mau akhirnya mengikuti langkah panjang Revan.
Bik Siti dan mbak Reni hanya bisa saling memeluk saking takutnya melihat kemarahan Revan. sedangkan mama Hanna hanya menyaksikan dari atas apa tengah terjadi.
Rupanya kekejaman Anthony tidak sudah merajalela bahkan membuat seorang anak bisa sakit kejiwaan seperti yang di alami Keisya.
Mama Hanna turun ke bawah dan melihat kedua asisten nya yang masih saling memeluk saking ketakutan.
"Bik tutup gerbangnya jangan izinkan siapapun masuk kecuali anggota keluarga dan pekerja" ucap mama Hanna lembut menepuk pundak bik Siti.
"I...iya nyah"
"Nya, Sa..saya takut" ucap Reni.
"Udah nggak usah takut, ada saya sama bapak kok, mulai besok jangan sembarangan terima tamu ya, saya nggak mau Kinara drop lagi kasihan calon cucu saya"
"Iya nyah" ucap bik Siti.
Mama Hanna kembali ke dapur membuat kan teh lemon untuk Kinara.
Sementara itu di rumah sakit tuan Wibowo sudah siuman tetapi harus tetap mendapat perawatan.
"Dimana Kinara nak?" tanyanya pada Azka sang menantu
"Di rumah, ayah tenang ya, ada mama kok dirumah, papa masih nemuin dokter Wawan di ruang kerjanya"ucap Azka lembut.
"Maafkan Keisya sudah membuat masalah"
"Nggak papa, ayah istirahat aja ya"
"Terimakasih kamu sudah bisa memenuhi wasiat almarhum ibumu, setelah hari ini ayah janji akan membawa Keisya menjauh dari kalian"
"Ayah nggak usah berlebihan, biar bagaimanapun Keisya juga adik ku, aku memaklumi kondisi psikis Keisya memang masih terguncang, Keisya hanya butuh seseorang yang peduli dan perhatian dengannya ayah, hanya itu"
"Terimakasih masih menerima Keisya sebagai adikmu atas semua kesalahan yang sudah di lakukan nya"
"Iya ayah"
Revan sampai di rumah yang ditempati ibu kandungnya dan Mala. Dengan paksa Revan membopong tubuh kurus Keisya ke dalam rumah karena sempat menolak untuk turun.
Dengan penuh amarah di turunkan ya tubuh Keisya di atas kasur yang ada di ruang keluarga. Mala yang baru saja datang dari menemui klien tadi sangat terkejut melihat sikap kasar kakak angkat nya itu.
"Kak, dia adikmu, jangan terlalu kasar" ucap Mala lembut, beruntung ibu Ratih sedang berada di dalam kamarnya
"Adik yang gila" sahut Revan marah
"Kak" gertak Mala pelan tapi penuh penekanan
"Dia adikmu, meski kalian tidak sedarah, bukankah kakak tahu kondisi psikologis nya, kenapa harus dengan cara kasar jika masih bisa dengan cara yang lembut, apa kakak pikir itu tidak membuatnya semakin trauma, bukankah pria yang menyebabkan dia seperti ini adalah ayah biologis mu hah?" tegur Mala tegas membuat Revan seketika luruh di lantai.
Mala segera memeluk Keisya dan menuntun nya ke dalam kamar setelah berucap demikian pada Revan. Dengan sabar Mala memberi waktu pada Keisya hingga tangisan gadis itu mereda. Mala meninggal Keisya tetap berada di dalam kamarnya sedangkan ia harus melihat kondisi ibu sambungnya.
Revan masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di atas dipan,l seraya memandang langit-langit kamar. apa yang di ucapkan Mala tadi sungguh membuat hatinya merasa bersalah pada Keisya karena sudah berbuat kasar.
"Maafkan kakak kei, ibu maafkan aku yang belum bisa menjaga Keisya dengan baik, aku sudah menyakitinya Bu, maafkan aku" batin Revan sedih.