KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
135 Tentang Hanan



Kinara dan Azka sampai di rumah menjelang malam karena harus berkeliling ke mall untuk menghabiskan waktu dan membeli keperluan untuk bayi mereka nanti.


Kehamilan Kinara sudah usia lima bulan. tidak seperti orang hamil pada umumnya, kehamilannya ini tidak terlalu nampak meski usia sudah lima bulan. selain itu karena Kinara memang selalu memakai baju longgar hingga perutnya yang sedikit membuncit itu tidak terlalu terlihat.


"Bawa apa lagi itu Ra?" tanya mama Hanna saat mereka telah sampai di rumah


"Biasa belanja bulanan ma, sama beberapa baju bayi, nggak niat beli sih awalnya pas sampai di mall liatnya lucu-lucu jadi di beli aja " jawab Kinara sumringah.


Azka langsung berlalu ke dalam kamar untuk membersihkan diri karena sudah terlalu penat seharian ini.


"Ma , nanti Reno bakal dateng kesini mau ngerjain tugas kuliahnya"


"Dia yang ngerjain apa kamu?"


"Hehe dia minta bantuan"


"Ya udah nanti mama masak yang lebih aja siapa tahu Reno mau nginap disini juga"


"Okelah apapun yang mama mau aja, kak Rania nggak ada datang kesini ya ma?"


"Tadi pagi kalian ke kampus orangnya datang, selesai sholat ashar tadi pulang karena kakak mu Sean sudah di bandara. papa besok rencana terbang ke Jerman, mama mau ikut Sekalian jenguk paman disana"


"Mendadak amat sih ma?"


"Urusan perusahaan disana lagi ribet Ra, jadi papa nggak bisa lepas tangan doakan saja semuanya berjalan lancar"


"Amiiin ya udah aku ke atas dulu ma"


Kinara berjalan menaiki tangga ke lantai dua.


Sementara itu malam ini Keisya masih tetap bergumul dengan selimut yang sudah berlapis lima, sejak pulang dari puskesmas pagi tadi kondisinya masih belum banyak berubah.


Keisya masih menggigil dan suhu tubuhnya panas, setelah makan dan minum obat ia langsung tidur. bik asih yang bolak-balik ke kamar masih terlihat khawatir karena demam Keisya belum turun juga.


"Bik Keisya masih panas tinggi?" tanya Bu sri yang masuk membawa secangkir jahe merah hangat untuk bik Asih.


"Iya ini udah mendingan nggak kayak tadi pagi yu Sri, semoga besok lekas sembuh, makasih jahe nya"


"Oh ya bik, besok pagi saya mau ke rumah hajatan di depan mau mantu anaknya yang perempuan, besok kalau anak saya Bagus datang bilangin aja saya di rumah depan ya biar dia bisa nyusul" ucap Bu Sri


"Iya yu, oh ya Gus Rohid apa punya anak laki-laki to?"


"Ada dua, yang pertama sudah nikah sekarang di Jogja, kalau yang mau nikah ini anak kedua yang baru lulus kuliah di mesir calon suaminya anaknya kyai Mufid keponakan kyai Rohmat, kalau anaknya yang bungsu itu masih semester tiga sekarang kuliah di kota xx, kalau nggak salah jurusan bahasa Inggris karena dia lulusan dari Gontor" jelas Bu Sri


"Oh gitu,"


"ada apa to yu?"


"Nggak ada apa-apa cuma pas baru datang saya sempat papasan sama anaknya yang laki-laki itu di depan,"


"Oh paling Gus Hanan, karena memang baru sebulan pulang mondok di Tuban, sekarang pindah kampus ke kota xx katanya Umi Tin, anaknya sampean sekarang dimana?"tanya balik Bu Sri


"Yang laki-laki ikut tuan muda di perusahaan, kalau yang perempuan masih kuliah semester akhir sementara nyusun skripsi yu"


Pukul 10 malam Bu Sri meninggalkan kamar Keisya dan kembali ke kamarnya, namun sebelumnya ia harus mengecek dahulu kondisi pintu dan jendela sudah tertutup rapat atau belum. di balik gorden yang ia singkap, Bu Sri melihat sebuah mobil parkir di depan rumah hajatan yang akan di langsungkan tiga hari lagi.


"Loh Gus hanan wangsol maleh" gumam nya seraya menutup kembali gorden dan mematikan lampu ruang tamu.


Sementara itu di dalam rumah Gus Rohid, nampak Hanan bercengkerama degan ibunya umi Tin, baru tiba dari kota xx meski lelah tapi ia tetap tidak mau menolak permintaan ibunya meski hanya untuk minum teh hangat saja.


"Bu, nggak tidur?"


"Belum ngantuk, Abah mu masih di rumah pakde Kartono ngurusin surat menyurat untuk nikahnya mbak mu karena besok mau di bawa ke kantor KUA."


"Kok mepet men to Bu?"


"Lha wong mbak mu baru datang dua hari lalu masih capek perjalanan jauh makanya abah mu ngalahi ae seng nguros surat-surat e."


"Oh ya Bu apa ada warga baru toh di desa?"


"Warga baru? maksudmu rumah pak Kardi di depan itu to?"


"Iya, soalnya aku lihat ada orang asing bukan warga asli sini udah semingguan ini"


"Ooh iya itu keluarganya pak Kardi dari kota, pengusaha terkenal yang punya banyak yayasan sosial dan rumah sakit, dulunya orang asli sini juga tapi pas muda merantau ke kota nggak pernah pulang sampai sekarang baru pulang"


"Ooh gitu toh pantes, tapi kok kayak bukan orang kota ya penampilan nya Bu?"


"Oh kalau itu memang orang sudah tahu kelurga pak Kardi itu orang sederhana dan nggak neko-neko rendah hati pisan, makanya pas datang warga pada kaget karena di kira mereka udah mati karena nggak pernah pulang ke kampung kelahiran"


"Ooh, apa sekeluarga datang Bu, pindah kesini atau gimana?"


"Cuma sama anak bungsunya saja, sama asisten yang merawat anaknya, ibu dengar tanahnya pak Carek yang di depan jalan trans itu di beli sama pak Wibowo, mau menetap disini katanya"


"Namanya pak Wibowo toh, Bu uang kontrakan sudah tak bayar setahun tadi, trus urus administrasi pindah kampus sudah tak lunasin juga tadi, habis acaranya mbak Khusnul aku rencana mau masukin lamaran kerja di perusahaan katanya butuh tenaga keuangan dan staf operasional sistem, aku nyoba melamar di bagian operasional sistem karena itu kan bagian pekerjaan ku dulu di pondok"


"Heh, Nang pondok Karo perusahaan bedo lah ngger, perusahaan opo?"


"KSW group kalau nggak salah nama perusahaan nya, aku di kabarin kenalanku tadi di kampus"


"Jangan sembarangan Nerima pekerjaan loh le,"


"insha Allah nggak Bu, wong yang nawarin aku masih sahabat anaknya pemilik perusahaan,"


"Hah, sopo asma ne le?"


"Reno Bu kenalan di kampus tadi siang dia yang udah bantu aku ngurus keperluan administrasi juga nyari kontrakan petak"


"Oh gitu, besok ikut ibu jenguk keponakan pak Kardi katanya tadi sakit pulang dari puskesmas pagi tadi" ucap umi Tin. Hanan merasa sedikit ganjil dengan ucapan umi nya tentang keponakan pak Kardi


"Bukannya tadi pagi aku lihat di kampus sama suaminya, kok sekarang di bilang sakit?" batin Hanan bingung.


Hayo coba tebak siapa keponakan pak Kardi yang di maksud umi Tin?


Jawab satu persatu yang jawabannya bener, minta no wa nya saya kirimin pulsa 50 rbu. suwer dehh...