
...Akhir Bahagia...
Beberapa purnama telah berganti, kehidupan pun perlahan berubah seiring waktu dengan banyak hal yang telah terjadi dan berhasil telah melewatinya.
Azka dan Kinara kini tengah dalam masa bahagia merawat kedua buah hati pertama mereka yang sedang melalui masa emasnya dalam sejarah awal kehidupan mereka.
Beberapa bulan sejak kelahiran sang anak kembarnya, Kinara dan Azka memutuskan membeli sebuah rumah yang tak jauh dari rumah kedua orang tua mereka dengan alasan klasik jika sang mama mertua tak mau berjauhan dari cucu-cucu nya. karena Sean memboyong anak istri nya untuk menetap sementara di Jerman setelah perusahaan mereka disana kembali stabil.
Setiap pagi hingga sore hari mama Hanna pergi kerumah Azka untuk menjaga kedua cucunya, karena Azka dan Kinara masih harus menyelesaikan pendidikan yang masih ada satu proses panjang yang harus mereka lalui.
Di sela kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir, Azka masih tetap terus membantu Kinara di perusahaan setelah sang istri resmi menjabat sebagai CEO baru. Revan sudah mengundurkan diri dan menyerahkan tampuk kepemimpinan pada sang pemilik sah yang memang sudah sejak awal di cantumkan namanya bahkan sebelum Kinara lahir.
Setelah kelahiran anak pertamanya, Revan sudah mulai fokus pada perusahaan miliknya yang ia dirikan sendiri sejak masih SMA di bidang IT tentunya dengan dukungan penuh dari sang ayah angkat tuan Wibowo yang sudah rela merawatnya penuh kasih sayang. dan karena hal itulah ia memutuskan untuk menyerahkan kepemimpinan pada Kinara sebagi pemilik sah perusahaan KSW group.
Azka masih enggan menerima jabatan baru di perusahaan ayahnya karena memang ia tidak mau bekerja dengan dalih nama orang tua. dan Azka sudah membuka cafe miliknya sejak setahun setelah kelahiran sang buah hati, meski masih di bantu oleh sahabatnya Gugun, dan juga Kriting untuk mengelolanya.
Setiap akhir pekan Azka dan Kinara selalu membawa kedua buah hati mereka di cafe berkumpul dengan sahabat mereka menyambung kembali silaturahmi yang sudah berjarak setelah lulus SMA. bahkan dari relasi itu sahabat baru semasa kuliah juga mendapatkan teman baru saling mengisi dan saling mendukung satu sama lain.
Dan setiap tahun mereka semua akan mengunjungi makam almarhumah Nana untuk mengirim doa. tak ada yang dapat memisahkan persahabatan mereka meskipun kematian sudah memisahkan. doa tetaplah sebagai jalan pengobat rindu yang menganga.
Seperti hari ini, Azka dan Kinara sedang bercengkerama dengan kedua buah hati mereka Keana Sofia Saraswati dan Eins Keenan Hadi Wibowo di balkon cafe yang di desain ramah anak.
"Nggak kerasa ya mas akhirnya mereka udah paud, kayak baru kemarin aja kita kenal" ucap Kinara bergelayut manja di lengan sang suami. mereka tengah menatap kedua buah hati mereka yang asik bermain ular tangga.
"Perasaan kamu, aku ngerasa kok" sahut Azka
"Iish nggak peka banget jadi laki" Kinara memberengut kesal karena Azka selalu saja kurang menanggapi ucapannya.
"Hahaha....makin cantik kalau marah, kita program adik buat mereka ya, kalau mereka udah sekolah kita kesepian tauk" seloroh Azka. Kinara mencebik namun hatinya mengiyakan ucapan suaminya.
Memang benar saat kedua anaknya nanti sudah mulai masuk sekolah formal otomatis waktu kebersamaan mereka juga berkurang. anak-anak sudah sibuk dengan sekolah, dia dan Azka juga sudah sibuk dengan banyaknya tanggung jawab yang di pikul untuk menjamin kehidupan banyaknya karyawan.
"Setelah wisuda bulan depan lah kita program, lagian aku udah lebah kontrasepsi sebulan lalu" respon Kinara menanggapi permintaan suaminya.
"Nggak kelamaan?" seru Azka
"Maunya?"tanya balik Kinara
"Ya di cepetin lah"sahut Azka
"Emang bikin anak kayak bikin adonan martabak manis heh?" Kinara mulai mengumpat dalam hati.
"Hehehe, iya iya..."
"Maaf tuan, nyonya ada tamu yang sedang menunggu" ucap salah satu pegawai cafe di depan pintu
"Siapa mbak?" tanya Kinara
"Nggak mau nyebutin namanya, katanya sudah booking meja khusus dari Tuan"
"Hah, saya?" Azka terkejut bukan main pasalnya ia tidak pernah menerima pesanan meja untuk orang tertentu.
"Emang iya mas?" tanya Kinara
"Mana mas tahu, bingung ah, samperin yuk daripada bikin spaneng nanti"
"Hahahaha spaneng, bahasamu itu loh, sampean aja kesana nanti aku nyusul sama anak-anak" ucap Kinara
"Ya udah, mbak disini aja ya temenin istri sama anak-anak saya"
"baik Tuan"
"Mbak emang orang nya laki-laki apa perempuan?" tanya Kinara menyelidik pada pegawai cafe setelah Azka pergi.
"Laki-laki nyonya, tinggi besar, putih, pake kacamata hitam, nggak gemuk sih tapi berisi" jawab pegawai bernama Anita.
Kinara menerawang semua sahabatnya dengan ciri-ciri tersebut tapi tetap tidak masuk kategori. karena di kanda penasaran akhirnya Kinara mengajak kedua buah hati masuk ke dalam cafe.
"Emang dimana orangnya mbak?"
"Itu disana nyonya yang pake kaos abu-abu, celana panjang"
"Lah papa mana?" tanya Kinara menoleh kesemua sudut cafe tapi tidak menemukan suaminya.
"Bukannya itu tuan nyah?" tunjuk Anita pada Azka yang berdiri di samping cafe sedang mengangkat barang belanjaan bersama Kriting.
"Ya udah mbak saya kesana dulu, ini anak-anak bawa ke ruangan saya ya, waktunya tidur siang"
"Baik Nyonya"
Setelah memastikan anak-anaknya pergi dengan Anita, kinara menghampiri pria yang berkaos abu-abu.
"Permisi mas mau pesan apa?" tanya Kinara saat sudha berada di dekat pria itu
"Ada bakso?" tanya pria itu tanpa melepas kacamata dan tetap fokus pada layar ponselnya.
"Ada, silakan di baca daftar menu kami" jawab Kinara ramah
"Saya pesan bakso yang ukuran jumbo kuahnya banyakin, kasi dua porsi, dengan full sambal ulek" ucap pria itu lagi. Kinara tertegun sejenak mengingat suara datar yang mirip salah satu sahabatnya yang sudah lama menghilang tanpa kabar setelah kematian Nana.
"Baik tuan saya catat, masih ada lagi?"
"Sudah itu saja" ucap pria itu menahan senyumnya.
Kinara balik ke dapur untuk memberikan pesanan pelanggan baru tadi. dan otaknya masih terus berpikir dan mengingat siapa pemilik suara itu.
"Kenapa malah ngelamun disini sih, anak-anak mana?" tanya Azka yang datang membawa sekantong cabai.
"Di atas sama Anita, mas udah nemuin orang yang tadi?"
"Belum sempat, kriting udah manggil-manggil buat bantuin bawa barang, kenapa emang?"
"Mas temuin gih, kok kayak ya aneh, suaranya itu loh kayak aku kenal tapi lupa"
"Barusan, dia pesen bakso ukuran jumbo, kuahnya di banyakin trus sambelnya full harus lombok ulek, dua porsi mas" ucap Kinara. Azka tertegun sejenak mendengar pesanan tamu anehnya hari ini. ia ingat sesuatu lalu berlari ke arah meja pelanggan dan menemui orang yang sedang menunggunya.
"Kok malah lari sih?" gerutu Kinara kesal
"Mas" Azka menepuk pundak pria berkaos abu-abu itu. saat pria itu menoleh Azka langsung melepas paksa kacamata yang di pakai pria itu.
"Beno? Lo Beno kan?" tanya Azka antusias. pria yang di sebut namanya sudah tak mampu menahan senyumnya karena sejak tadi memang ia menahan tawa.
"Akhirnya Lo ingat gueeeeee....." Beno memeluk Azka dengan erat. mereka menangis bahagia tanpa aba-aba.
"Gue kangen Lo bego, Lo nggak ada kabar udah tiga tahun lebih" ucap Azka di sela tangisnya.
"Gue masih hidup, gue mau nepatin janji gue ke Lo makanya gue sengaja ilang jejak"
"Bego" Azka melepas pelukan mereka dan menoyor pundak Beno. keduanya tertawa lepas menarik perhatian pelanggan yang lain.
Kinara yang berdiri di tempat kasir tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, ia juga menangis haru, sahabat baik yang selama ini putus kontak akhirnya kembali pulang dengan wajah baru dan penampilan baru. Kinara berjalan menghampiri keduanya lalu memukul keras lengan Beno.
"Masih mau Lo gue pukul?" tantang Kinara
"Ampun nyonya, jangan, maaf" ucap Beno yang tersenyum bahagia melihat gadis yang selama ini sudah bersemayam di hatinya sejak dulu, kini sudah berbahagia dengan kehidupannya.
"Gue, kangen kalian, tapi maaf gue nggak bisa meluk lo, ntar leher gue di libas mafia" ucap Beno dengan mimik di buat sesendu mungkin di hadapan Kinara. dan ketiganya tertawa bersama.
"Reno gimana kabarnya?" tanya Beno di sela percakapan mereka. Azka dan Kinara sontak diam bersama mendengar pertanyaan Beno.
Azka dan Kinara saling pandang menyiratkan sesuatu yang mungkin berat untuk mereka cerita kan.
"Kenapa? kok kayaknya ada yang aneh?" tanya Beno yang mendapati keduanya terdiam.
Kinara menarik nafas panjang sebelum akhirnya berucap yang membuat Beno sangat terkejut.
"Kita nggak tahu dimana Reno setelah membatalkan pertunangannya dengan Keisya adik gue tiga setengah tahun yang lalu" ucap Kinara dengan nafas tertahan dan menunduk dalam. Azka memeluk Kinara dari samping. air matanya juga tak mampu ia bendung lagi.
Beno terdiam cukup lama, terkejut tentu saja, tapi ini di luar ekspektasinya selama ini.
"Kalian nggak pernah tahu kabar Reno?" tanya Beno memastikan. keduanya menggeleng.
"Bahkan semua temen-temen kita udah nyari dia, tapi Reno seperti di telan bumi, jejaknya pun kami nggak tahu"
Deg
Beno semakin di buat terkejut. ada perasaan ingin menyangkal apa yang di katakan kedua sahabatnya, tapi ia memilih diam dan akan berusaha menyelidiki sendiri.
"Nggak mungkin Reno bisa berbuat begitu, selama ini dia selalu ngasih gue kabar beberapa bulan sekali, tapi ini?" batin Beno berontak.
"Keisya udah sehat kan, terakhir gue denger kabar dari Tante Ranti tiga tahun lalu , katanya Keisya di pondok ya?" tanya Beno mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Lo juga putus kontak dengan Tante Ranti?" selidik Kinara
"Iya, biaya roaming mahal gais, gue disana bukan cuma kuliah tapi kerja paruh waktu jadi mana ada waktu gue pegang hape" ucap Beno kesal.
"Astaga, uang jaminan dari om Rudi kan ada Ben?"
"Itu buat bayar uang kuliah gue sembeb, meskipun sebenarnya om Rudi menjamin semuanya tapi gue nggak mau kemaruk lah, untuk biaya hidup gue nyari sendiri"
"Trus om Rudi tahu?"
"Jelaslah, tapi nggak marah malah bangga karena gue akhirnya lulus predikat cumlaude sebagai art designer" ucap Beno berbangga.
"Waaah, dan Lo lulus lebih ceper dari gue?" sahut Azka
"Kalian aja yang lemot, skripsi bisa sebulan Lo pake enam sampai sembilan bulan, udah kayak orang mau ngelahirin, harusnya kalian udah wisuda gelombang pertama empat bulan lalu kan?" seru Beno.
"Kok Lo tahu Ben?" tanya Kinara penuh selidik
"Riska yang bilang, dia juga sama katanya baru mau wisuda bulan depan"
"Lo ketemu Riska dimana?" tanya Azka
"Di telpon sejam lalu sebelum kemari"
"Lah kenapa pake bikin acara nyamar segala Lo dateng kesini bego?" timpal Azka
"Seru-seruan aja kikikikik, eh gue nanya beneran, Reno bener nggak ada kabar, trus tadi gue nanya Keisya nggak di jawab"
"Iya kita nggak tahu kabarnya Reno, sejak memutuskan pertunangan, Reno juga udah pindah kuliah nggak tahu dimana, pihak kampus juga nggak mau ngasih bocoran, kalau Keisya, masih Nyambi kuliah juga di sana, dan dua Minggu lagi bakal nerima lamaran" terang Kinara
"La...lamaran?" Beno terkejut
"Iya, salah satu pegawai gue di kantor calon suaminya Keisya, tetangga depan rumah paklik gue di desa" jawab Kinara.
"Wow...jadi Keisya mondok di tempat asal ayah Lo, dan sekarang udah kuliah juga gitu?"
"Iya, ayah juga udah pensiun, dan menetap di desa, calon suaminya Keisya ahli bahasa lima negara, bahkan dia juga hafidz Al-Qur'an 30 juz, seorang ahli bidang IT juga." terang Kinara membuat Beno melongo
"It's amazing news...gue penasaran calon suaminya Keisya kok bisa multitalenan gitu ya?"
plak
"Multitalenta bego" Azka menepuk dahi Beno
"Ya maap-maap lama nggak bercanda gue di sana, hahahaha"
"Hahahaha"
Hari itu hari bersejarah bagi mereka setelah sekian tahun tak bersua.
Bagaiman kabar Reno? ikuti season dua ya...