KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 26



Hari ini ayah dan keluarga dari desa datang kerumah mama Hanna. rencana awal dari bulan lalu kami yang akan berkunjung ke desa tidak pernah terwujud karena beberapa kendala yang tidak bisa di hindari.


Bahkan Arini juga ikut datang karena sudah merindukan ku katanya. ia rela meminta izin seminggu dari pondok hanya karena ingin ikut bertemu dengan ku terutama Kinara yang memang sejak kecil hanya ia dengar namanya tapi tidak pernah bertemu langsung.


Yang membuat ku terheran-heran Bulik Sri membawakan titipan dari tetangga depan rumahnya yang tidak lain adalah orang tua mas Hanan. Bulik Sri bilang mungkin sebagai permintaan maaf pernah marah-marah beberapa bulan lalu dan sekaligus ucapan kasih telah memberikan pekerjaan layak untuk Hanan.


Aku hanya tersenyum saja menanggapinya karena bagiku memang tidak ada yang perlu di maafkan, dan untuk ucapan terimakasih seharusnya sama mas Reno, karena setahu ku orang yang berjasa memberikan pekerjaan di perusahaan adalah mas Reno bukan aku atau keluarga ku. mas Reno lah yang banyak membantu mas Hanan selama ini. tapi biarlah suatu saat akan terjawab sendiri kok tanpa aku menjawabnya.


Kami semua berkumpul di halaman belakang, berhubung karena hari ini weekend, kak Revan dan istrinya juga hadir. hanya mas Azka saja yang tidak bergabung karena sibuk dengan rencana pembangunan cafenya serta rumah baru yang akan mereka tempati. meskipun katanya para pekerja sedang di liburkan selama dua pekan tetap saja mas Azka lebih suka sibuk di luar rumah dari pagi sampai sore ketimbang berkumpul bersama keluarga. tipe pekerja keras dan beruntung nya mbak Kinar jadi istri yang nggak banyak menuntut meskipun ia juga super sibuk.


Hari ini kami sedang membuat menu makanan dari kota asal istri om Denias, kapurung makanan khas asli dari tana Luwu karena istri om Denias berdarah campuran Jawa dan Sulawesi.


Kami makan siang beramai-ramai, saling melempar candaan dan sesekali ada yang bertukar makanan jika ada yang tidak di sukai. baru kali ini dalam hidupku berada di tengah-tengah orang-orang yang sangat menyayangi ku. dan jika aku mengingat hal fatal beberapa bulan lalu rasanya aku begitu bodoh jika menyia-nyiakan kasih sayang mereka semua padaku.


Berkat dokter Fritz kini aku perlahan menjelma menjadi aku yang berbeda. dan ya aku merasakan sendiri sensasi yang aku rasakan di saat aku melakukan hal-hal positif yang belum pernah sama sekali ku lakukan selama dua puluh tahun hidupku.


Tidak pernah ku sangka sudah dua tahun aku kembali bersama dengan keluarga kandungku yang_sudah tidak utuh_karena ibu sudah pergi meninggalkan kami lebih dulu.


Mengingat ibu, aku hanya bisa mengingat foto yang selalu tersimpan rapi di dalam dompet kecilku, entah sejak kapan foto itu ada disana, setahuku satu-satunya orang yang tahu apapun tentang ku hanya nanny yang merawat ku sejak kecil, bik Asih. entah dimana beliau sekarang. mungkin saja beliau yang sudah menyimpan foto itu dalam dompet kecilku yang sejak remaja memang sudah aku miliki, pemberian dari bik asih saat ulangtahun ku ke lima belas tahun.


Beberapa kali mbak Kinar mengajak ku berziarah ke makam ibu setiap hari Jum'at untuk mengirimkan doa. saat itu aku hanya bisa menahan rinduku dalam diam dan_rasa bersalah_ telah menjadi penyebab ibu meninggal setelah bertahun-tahun ibu bertahan dengan kerinduan nya padaku.


Aku masih merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi pada keluarga ku, terutama mbak Kinar yang sudah bertahun-tahun bertahan dalam ketidaktahuan, bertahun-tahun bertahan pada satu kebohongan yang dilakukan keluarga hanya demi melindungi dirinya dan demi membawa ku kembali ke dalam pelukan mereka. sudah seharusnya aku yang lebih banyak bersyukur dan berterima kasih pada nya yang sudah mampu bertahan dengan jutaan rasa sakit yang ia terima bertahun-tahun. kerinduan nya pada sosok sang adik yang ia anggap telah pergi hingga akhirnya ibu kami juga menyusul pergi lebih dahulu.


Mereka bilang mbak Kinar adalah duplikat ibu tidak ada satupun duplikat ayah yang menempel padanya. sedangkan aku adalah duplikat ayah juga separuh ibu dan sedikit Tante Amira yang keras kepala. aku tidak tahu harus menggambarkan sosok almarhum ibu seperti apa karena sejak kecil yang aku ingat hanya bik Asih yang ku panggil mommy dan papa Anthony. hanya itu. aku benar-benar tidak mengingat apapun tentang ibu kandung ku.


"Wawan mau lamaran Minggu depan" kata paklik Kardi setelah menghabiskan semangkuk kapurung ayam.


"Siapa yang di amanahi? kamu Di?" tanya om Denias pada ayah.


"Terserah dia, anaknya baru ngomong semalam kalau Minggu depan mau melamar, karena Rena sudah tinggal sama bik Asih sejak dua hari lalu" jawab ayah tanpa menoleh.


"Kei, dua hari lagi nanny kamu sama anaknya bakalan datang kesini" kata om Denias padaku tanpa merespon ucapan ayah. benar-benar mereka saudara ipar kekanakan.


"Mommy mau kesini om? beneran?" ucapku antusias mendengar nya


"Kok nggak ngomong sih mas, dari dulu selalunya begitu apa-apa mendadak" protes ayah mendengar ucapan kakak ipar nya.


"Yang bos kan kamu bukan aku, ya nggak And?" sahut om Denias menatap papa Anderson.


"Ya aja, gitu aja kok repot" sahut papa Anderson. kami semua tertawa bersama mendengar celotehan papa Anderson.


***


"Kenapa Ren, tanya aja" ucap Tante Meri tanpa menoleh.


"Tante nelpon ibuk di kampung ya waktu aku sakit?" tanya Reno hati-hati.


"Oh itu, iya Dimas yang nelpon duluan ke hape kamu Ren, emang kenapa?" kata Tante Meri.


"Oh ya nggak apa-apa, ibuku nggak ngomong macem-macem kan ya?" tanya Reno penasaran


"Cuma bilang kangen aja Ren, kenapa kamu justru nggak pernah ngasih kabar ke ibuk dan adik kamu sih, mereka khawatir Ren, sebagai anak seharusnya kamu ngasih kabar meskipun cuma say hello" nasihat Tante Meri.


"Aku cuma nggak mau ibuk kepikiran trus sakit tan" kata Reno


"Haduh Ren, justru kalau kamu nggak pernah ngasih kabar itu yang bikin ibuk kamu kepikiran terus malah sakit, gimana sih" sanggah tante Meri


"Iya sih, tapi aku harus gimana Tan, kalau ibu tetap ingat masalah kemarin, aku nggak mau ibuk tambah sakit, apalagi keluarga Keisya sedang mencariku" ucap Reno mengeluarkan uneg-uneg nya.


"siapa yang bilang mereka mencarimu? tanya aja Dimas, mereka sudah nggak mempermasalahkan yang sudah terjadi, bahkan mantan calon mertua kamu merasa bersalah karena sudah memaksakan kehendak sampai-sampai nggak ingat kalau anaknya butuh dukungan mental. mantan calon mertua kamu benar-benar menyesal Ren, Dimas yang cerita sama Tante kemarin malam." terang Tante Meri


"Be... benarkah?" tanya Reno merasa senang sekaligus sedih bersamaan.


"Tanya aja Dimas, Tante mendengar semua dari Dimas, bukannya dosen yang bantu kamu pindah kesini itu masih saudara nya mantan tunangan kamu ya?" tanya Tante Meri


"Kakak iparnya tan," ucap Reno singkat


"Lah ya coba kamu nanya ke dia kalau nggak percaya"


"Kami jarang komunikasi Tan, karena dia bantu aku pindah tanpa sepengetahuan siapapun termasuk suaminya. dan kalau pun ada kabar pasti nyari waktu buat ngasih kabar ke aku, itupun kalau aku yang lebih dulu sms,karena dia udah janji nggak bakal ngusik aku lagi kalau sudah pindah kesini". terang Reno.


"Ya, gimana ya ren, Tante nggak tahu mau ngomong apa, oh ya apa kamu nggak pernah sekali aja stalking sosmed nya mantan kamu?" tanya Tante Meri


"Nggak sih, sama temen-temen juga udah jarang kok Tan"


"Ren, mulai sekarang kamu harus sering-sering ngasih kabar ke ibu kamu, kasihan loh waktu di telpon nangis saking rindunya sama kamu"


"Iya Tan, lagian di tempat nenek kalau mau telpon SMS dulu, soalnya susah jaringan"


"Iya sih, kemarin malam aja kalau bukan Dimas yang nelpon duluan, Tante nggak bisa nelpon kesana"


"Maklumlah pelosok."