
"Ck bener-bener tuh Pak Giman ngasih soal gak pake toleransi, mana cuma 5 soal cicitnya bejibun...gua doain punya anak sekompleks," omel Nana di sela-sela makannya.
"Hahahahaha....lo kira-kira dong kalo nyumpahin orang, hahahaaa bisa jadi lo yang bakal jadi bininye mampus kagak lo...." sahut Riska
"Isssh ogah gue sama berondong tua..." ucap Nana cemberut
"Belagu lo...kemakan omongan lo sendiri baru tau rasa.. biar lo kata tua, tampang lee min ho gais, udah tajir pisan, kalo senyum aahhh bikin hati meleleeh, gue gak bakal nolak kalo jodoh gue pak Giman.. hahahah"timpal Cici seraya menyeruput jus jeruknya.
"Hoooeekk Amit amiiiit jangan sampai deh" Nana membalas ucapan Cici seraya memukul pelan kepalanya.
"Udah deh ngomel nya, lanjut besok lagi, aku duluan mau ke perpus, nih pake bayar Ci" ucap Kinara seraya menyerahkan 2 lembar uang merah pada Cici.
"Kelebihan umiiiii....gak ada uang pas apa? gue paling malas ketemu si robot eskafator!" omel Cici, Kinara hanya memutar bola mata malas mendengar omelan sahabat sekompleks nya ini.
"Aku gak bawa uang pas. udah deh jangan banyak ngomel ntar jadi jodoh loh masih mau??" balas Kinara seraya melangkah meninggalkan kantin
"Ciiih ogah mending Pak Giman dari pada robot eskafator"sanggah Cici tak mau kalah.
"Ucapan adalah doa, jadi mari kita berdoa sesuai keyakinan masing-masing, doa dimulai" Sahut Ririn menengadahkan tangannya seolah berdoa
puk (Cici memukul dahi Ririn)
"Emang lo kira ini departemen agama? lo mau jadi ustadzah dadakan di kantin?" sungut Cici sebal melihat tingkah absurd sahabatnya.
"Makanya jangan sok jaim kelleeess, ingat!!benci dan cinta itu bedanya tipiiiiiiiis setipis kartu atm" Ririn menceramahi ketiga sahabatnya.
"Eits jangan salah kita bertiga jomblo fi sabilillah till Jannah.."sahut Riska
"Amiiin berarti temen gue gak mau ngerasain nikmat dunia hahahaaa mau jadi jomblo sampe surga hahahahaha" ucap Ririn tertawa lalu segera melangkah pergi meninggalkan ketiga sahabat nya, ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tetap di sini.
"Iishhh Ririiiiiiinnn" sahut Nana, Riska dan Cici bersamaan yang di sahutin malah keburu kabur
Bruk
"Eh maaf gak sengaja" ucap Kinara meminta maaf lalu berjongkok hendak mengambil buku yang ia jatuhkan.
"Nih maaf ya sekali lagi saya gak sengaja tadi soalnya buru-buru." ucap nya sekali lagi.
"Iya gak papa, Ki...Kinara??kamu Kinara??" tanya orang tersebut
Kinara menautkan kedua alisnya "Siapa ya kayak pernah liat"batinnya seraya memperhatikan pria bertubuh atletis itu.
"Siapa ya?" tanya Kinara
"I am Edwin..." jawab pria itu
"Edwin..Edwin...Edwin.... kok aku enggak inget sih?"ucap Kinara mengingat sosok di hadapannya.
"Edwin mantan Ketos SMP Bunga Bangsa, masa udah lupa ckck?" ujar Edwin berkacak pinggang plus geleng-geleng kepala ke kanan ke kiri
"Ohh iya Edwin Nugroho Cahyo Tirtokusumo Adinegoro..betul??" tanya Kinara antusias saat mengingat nama panjang mantan rivalnya di SMP.
"Betul betul betul.." jawab Edwin menirukan gaya upin ipin
"Hahahahhahaahhahahhaa " keduanya pun tertawa akhirnya mereka bercengkerama sampai bel masuk berbunyi dan mereka berpisah di depan teras perpustakaan.
"Siapa laki-laki itu?" batin seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi Kinara dan Edwin.
"Perhatian buat kelompok gue, pulang sekolah kita latihan terakhir pemantapan sebelum pentas besok, jangan lupa! dan untuk semua kelompok tanpa terkecuali, Bu Farah tadi nyampein kalau semua latihan di gedung teater sekaligus gladi bersih, tempat latihan udah di persiapkan disana so jangan sampai ada yang rebutan tempat OK?!" Ucap Ririn lantang saat baru tiba di kelas.
"OKeeeeee" jawaban para penghuni kelas.
"Assalamualaikum anak-anak" Suara khas pria masuk ke dalam kelas, semua beralih menatap sang pemilik wajah tampan yang baru saja mengucapkan salam.
"Kok gak ada yang jawab salam saya?" bagaimana mau jawab pak, semua terhipnotis dengan wajah tampan yang bapak bawa sih. postur tinggi tegap, hidung semancung gunung himalaya, Mata sipit, bibir setipis irisan bawang emak di rumah, gigi gingsul, senyum diwarnai lesung pipit yang bikin kaum hawa meleleh dengan sendirinya...
"Waalaikumsalam" Jawab Azka, Rangga dan Kinara hampir bersamaan, mereka menyadari semua tatapan mata teman - temannya mengarah kepada orang yang baru memasuki kelas mereka.
Ciiiit
Azka sengaja menggeser meja untuk mengalihkan perhatian teman-temannya yang sedari tadi bengong terutama kaum hawa penghuni kelas.
"Edwin??" teriak Aldo yang menyadari siapa pria yang baru saja masuk kelas mereka. alhasil semua beralih menatap nya. Si Edwin justru hanya tersenyum santai lalu melangkah ke meja guru dan menaruh map coklat berisi soal uts.
"Woii Ben, Ren,Kar itu beneran si Edwin."ucap Aldo antusias menepuk pundak sahabatnya, yang bersangkutan hanya memutar bola mata jengah.
"Selamat siang anak-anak hari ini saya menggantikan bu Triana untuk materi bahasa Inggris berhubung beliau sedang dalam perawatan akibat kecelakaan 2 hari lalu"
"Perkenalkan saya Edwin Adinugroho panggil saja pak Edwin,Saya disini selain menggantikan bu Triana juga melaksanakan tugas PPL saya untuk menyelesaikan pendidikan S1. semoga kita bisa bekerjasama sebagai guru dan murid sampai tugas PPL saya disini selesai."Ujar Edwin
"Hem ada yang mau di tanyakan? kalau tidak saya akan segera mulai membagi soal ujian semester nya" tambah nya kemudian karna tidak mendapat respon.
"Pak Edwin boleh dong kenalan"ujar salah satu siswi
"Bwahahahaha..." sontak semua tertawa mendengar celotehan salah satu siswi
"Daritadi lo kemana aja sembeeeb?? " sahut Aldo
"Bwaahhahahaaaaaa"
"Modelan kayak lo kagak masuk semifinal hahaa" sahut Riska
"Yang penting usaha gaiss..." jawab Siswi tersebut
"Ehh...ribut mulu, Belum tentu lo berdua masuk kriteria hahaha"Sahut Beno
"Sudah-sudah mari kita mulai ujian semester nya, waktu cuma 45 menit. Kinara kamu bagikan lembar jawaban ini, dan kamu (menunjuk Rangga) bagikan soalnya. sebelum itu mari kita berdoa terlebih dahulu."
🍂🍂
"Ehh Kinar sejak kapan lo kenal pak Edwin?" tanya salah satu siswi saat mereka sudah keluar dari kelas
"Dari smp, ada apa Ver?"tanya balik Kinara
"Ohh pantesan akrab banget sama lo"
"Ya kita kan emang temen masa mau musuhan, ada-ada aja"ucap Kinara
"Maksud gue deket banget gitu, kayak lo sama Aldo kemana-mana berdua, ke mall berdua, pantai berdua"
"What? Aldo? kok ngelantur sih kamu Ver" ucap Kinara
"Loh bukannya kalian emang pacaran? seantero sekolah udah tau lo kamu sama Aldo pacaran. emang bener kan?"
"Hahahahhaaa aduuh siang-siang gini udah bikin perut ku ngilu.. emang mereka gosipin aku kayak gimana sih?" ucap Kinara tertawa
"Ya gitu kamu emang bener kan pacaran sama Aldo??"
"Gak! itu gak bener!" jawab Kinara setelah tawanya berhenti
"Aldo itu kerja sama papa aku jadi sopir pribadi yang nganter jemput kemana pun aku pergi. bahkan aku selalu bareng Azka, kadang juga Ririn. Justru yang pacaran sama Aldo itu Ririn bukan aku. mereka pacaran udah hampir 4 tahun loh asal kamu tau!" lanjut Kinara.
"What?? yang bener lo?"
"Emang keliatan kalo aku bohong?"
"Jadi selama ini mereka salah paham dong"
"Iya lah... "
"Itu artinya mereka pacaran dari SMP?"
"Hu'um"
"Waaah waah aku malah baru tau"
"Makanya jangan selalu menyimpulkan sesuatu sebelum tahu kebenaran nya, konfirmasi dulu sama yang bersangkutan Mbak yu...." tutur Kinara
"Hai Kinar pulang bareng? tanya Edwin yang tiba-tiba sudah ada di depan langkah nya.
"Ehh maaf kak udah ada jemputan tuh, Lagian aku mau latihan drama karna besok mau pentas. maaf ya mungkin lain kali" tolak Kinara halus, Vera yang berdiri di samping Kinara hanya diam melihat interaksi mereka.
"Seperti nya ada hati di dalam dada, ada debar di dalam jantung ada rindu di dalam sorot matanya, gimana gak banyak yang naksir,? orangnya kalem, lemah lembut kayak gini si Kinar" batin Vera
"Oh ya udah kalau gitu, janji ya!" ucap Edwin
"emm ntar di liat ya, aku duluan kak assalamualaikum" ucap Kinara disusul Vera di belakangnya.
"Kamu masih tetap sama Kinar, sejak saat kamu nolong aku sejak saat itu hatiku jatuh sejatuh jatuhnya padamu padahal dulu aku sering menghina bahkan merendahkan kemampuan mu," batin Edwin.
"Maaf ya Al, nunggu lama oh ya boleh gak Vera ikut bareng?"tanya Kinara pada Aldo
"Kok nanya gue? tanya nih di samping gue boleh enggak? mobil bukan punya gue." ucap Aldo santai interaksi mereka pun tak luput dari perhatian Vera.
"Azka boleh ya?"tanya Kinara
"Hem," jawab Azka singkat
"Kenapa lagi sih ni orang?" batin Kinara melihat sikap Azka yang acuh.
"udah cepetan masuk anak-anak udah pergi duluan tuh" titah Aldo.
Kinara dan Vera akhirnya masuk ke mobil, sepanjang perjalanan ke gedung teater Azka lebih banyak diam, ia menyenderkan tubuhnya seraya mendengarkan musik dari earphone nya.
"Nih anak cemburu lagi ato gimana sih? daritadi diem mulu kayak orang bisu" Batin Aldo melirik Azka dari ekor matanya.
"Wah ni bule sombhong amat, idiih sok kecakepan jangan sampai deh Kinara dapat cowok kayak gitu" batin Vera
Braak
"Astagfirullah..."