KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
42 Penyelesaian



Revan sampai di gedung teater, mempercepat langkahnya masuk ke dalam gedung. Kinara sedang duduk di panggung di temani Bu Farah, Ririn dan Edwin, teman-teman yang lainnya tetap melanjutkan sesi latihan mereka sesuai instruksi bu Farah.


Aldo, Azka dan Rangga sedang di interogasi oleh ketiga sahabatnya. saat ini mereka berada di pos satpam bersama pak Heri yang bertugas menjadi satpam bersama seorang temannya.


"Dia duluan tuh nyolot..." ucap Azka menunjuk Aldo yang meringis memegang bibirnya.


"Ehh...malah nuduh gue sih? gue nanya lo baik-baik ya.,bisa gak sih lo sehariiiiiii aja gak ribut mulu sama Kinar? gue yang capek dengerin perang pasutri tiap hari!"


Glek


Azka menelan salivanya kali ini omongan Aldo memang ada benarnya juga. selama ini hampir setiap hari selalu saja ada yang di pendebatkan setiap pulang sekolah siapa yang lebih dulu di antar.


Azka yang kejar waktu untuk masuk kerja sepulang sekolah, dan Kinara yang selalu meminta di antar ke toko buku, perpustakaan, mall,mini market lah. terkadang membuat jiwa posesif Azka semakin menjadi dan terjadilah perdebatan yang berujung tidak saling sapa.


Semenjak kehadiran Rangga dan saat ia tahu Rangga adalah masa lalu Kinara, membuat jiwa posesifnya semakin menjadi, dan puncaknya saat Kinara ternyata satu kelompok drama dengan Rangga.


Cemburu? tentu saja. Azka sudah jatuh pada pesona Kinara yang lembut, dewasa dan keibuan. Rupanya benih cinta itu sudah tumbuh sejak pertama mereka bertabrakan di halaman sekolah. namun Azka masih dapat menyangkal nya saat itu.


"Kenapa lo diem huh?" gertak Aldo melihat Azka diam dan tak merespon ucapannya.


"Udah udah, Tahan dulu emosi lo Aldo,!" tegur Reno.


"Azka, jawab gue dengan jujur!" ujar Fikar dan di sambut anggukan oleh Azka.


"Lo cemburu?"


Deg


Azka mendongak melihat sorot mata sahabatnya yang menatapnya penuh tanda tanya dan ingin kepastian. lalu kemudian menunduk kembali.


"Diam gue anggap iya!" ucap Fikar kemudian.


"Rangga lo enggak papa kan? ada yang mau lo omongin?"tanya Reno yang melihat Rangga hanya termenung mengaduk-aduk jus di hadapan nya.


Rangga menarik nafas nya dalam-dalam, menyimpan energi baik dalam otak nya dan mengeluarkan energi buruk yang akan mengganggu kinerja otaknya.


"Gue baik, maaf kalau tiba-tiba gue ikut campur, gue enggak ada maksud apa-apa, tadi gue cuma gak sengaja ngeliat Azka tiba-tiba aja nonjok Aldo ya gue berusaha melerai." ucap Rangga


"Maafin gue ngga...gue gak sengaja" ujar Azka lirih


"Sans aja lah gue udah biasa, emm Aldo gue juga minta maaf kalau salah."


"Gue maapin tapi jangan di ulangi, pegang-pegang cewek gue" ucap Aldo ketus membuat semua menoleh menatapnya horor.


Rangga heng sejenak memikirkan arah pembicaraan Aldo. "Emang kapan gue megang cewek? aneh deh" batin Rangga yang masih tidak ngeh dengan ucapan Aldo.


"Lo lupa apa pura-pura ingat huh ?" sungut Aldo justru membuat Rangga makin ilfill. ini kok malah bengek gini sih? batin ketiga sahabatnya.


"ett tunggu ini apaan lagi?? lo juga cemburu Aldo???" tanya Reno. "Sama Rangga?" lanjutnya


Aldo melengos tanpa menjawab ucapan Reno.


"Diam berarti iya!" sahut Fikar.


"Udah, jujur aja ngapa Do, Lagian kita udah kenal Rangga sejak smp, lo tau kan satu-satu nya cewek yang berhasil bikin Rangga jungkir balik dan gak bisa move on ampe sekarang itu siapa" ucap Beno yang sudah selesai melahap 2 mangkuk bakso ukuran jumbo.


Duaaar


Bukannya jawaban yang ia dapat justru pelototan mata dari Azka, Rangga dan Aldo. sedang Fikar dan Reno memutar bola mata jengah. apa yang ada di fikiran mereka sekarang adalah Kinara dan Ririn.


Azka cemburu berat Kinara satu kelompok dengan Rangga, Kinara dan Rangga sama-sama masih canggung, Rangga merasa senang bisa satu kelompok dengan Kinara namun di sisi lain dia juga tengah patah hati karna sang pujaan hati sudah jatuh ke pelukan Azka.


Azka yang sudah tahu kenyataan Rangga adalah mantan Kinara, membuat jiwa posesif dan pencemburu nya menguasai emosi dan fikirannya. padahal ia sendiri belum tahu bagaimana perasaan Kinar padanya meski mereka sudah sah sebagai pasangan.


Dan sekarang Aldo..... cemburu sama Rangga, dengan atas dasar apa coba...????? Reno dan Fikar geleng-geleng kepala hampir bersamaan.


"Mau disko di club beb, bukan di pos satpam." ucap Beno yang jengah melihat tingkah kedua sahabatnya.


"Emm maaf nih Aldo.emang gue ngapain cewek lo?" tanya Rangga yang masih belum juga ngeeeh dari tadi.


"Bodo EGP ,masih pura-pura juga lo!" sungut Aldo


"Hadeeuuh....bang pesenin bakso lagi yang kayak tadi deh, pusing gue ngurusin orang jatuh cinta, sampe sekarang aja gue awet aja ngejomblo...." pinta Beno pada pak Heri yang sedari tadi cuma diem ketawa ketiwi gak jelas di depan tipi persegi dan yang disuruh langsung pergi tanpa permisi.


"Rangga, lo gak tau apa emang beneran gak tau?" tanya Reno.


"Apaan?"tanya Rangga bingung.


"Ririn"


"Si Ririn? emang kenapa dia?"tanya Rangga tambah bengek kayak kucing gagal nyolong ikan tetangga.


"Aldo J E L A S I N!" ucap Reno tegas


"Cewek Gue!" Sahut Aldo.


Nah nah nah kan ya baru ngeh babang Rangga dan ia langsung teringat adegan tanpa sengaja tadi sesaat sebelum masuk ke gedung teater.


"Ooh.... maap! gue refleks aja tadi gak ada niat apapun. gue justru baru tahu kalau lo pacaran sama Ririn gue kira gosip waktu smp itu boongan hehehehe" Rangga garuk-garuk kepala tanda malu hihihi.


"Emm Azka maaf jangan salah faham sama gue ya. emang bener gue masa lalu buat Kinara, tapi gue sadar sekarang dan selamanya Kinar udah gak mungkin balik sama gue, meski pun awalnya gue berharap, tapi itu jauh sebelum gue tahu kebenaran nya."


"Kinara itu lemah lembut,dewasa dan peka. jaga dia baik-baik jangan sampai lo sakitin lagi hatinya, karna gue siap nunggu kapan pun juga. bye gue duluan kasian kelompok gue tertunda latihan." setelah berucap demikian Rangga langsung pergi meninggalkan kelima sahabat setia ampe masa tua.


"Ehh... lo denger nggak??" tanya Fikar pada Reno yang masih berusaha mencerna setiap ucapan Rangga tadi.


"Berarti dia udah tau status lo Azka"sahut Reno


"Syukurlah dia sadar diri siapa yang lebih berhak sekarang!" ucap Azka ketus lalu melangkah keluar pos di ikuti Reno, Aldo, dan Fikar. Sementara Beno masih menghabiskan bakso yang baru saja ia pesan lagi.


"Ahh kenyang akhirnya..." Ucap Beno setelah menghabiskan bakso nya.


Brukk


"Eh maaf bang nggak sengaja" Ucap Beno meminta maaf pada orang yang tidak sengaja di tabrak nya. Pria itu hanya berlalu begitu saja bersama temannya. Beno melihat wajah pria itu sebentar lalu berjalan kembali ke penjual bakso untuk mengembalikan mangkuk.


"Kita pulang dek, istirahat dulu ya, Lagian masih bisa kok ikut latihan besok sebelum tampil. kita ke apartemen kakak aja ya, nanti kak Fifi bakal datang" rayu Revan.


"Hmm ayok!" ucap Kinara tanpa mengalihkan perhatiannya. beranjak pergi meninggalkan tempat.


"Bu Farah terimakasih ya, dan mas Edwin makasih juga udah nolongin adik saya."


"Sama-sama"


🍂🍂


"Ada apa ini Azka, Aldo??" Tanya Papa Anderson. saat ini mereka tengah berada di ruang kerja papa. anak buah yang papa tugaskan secara rahasia untuk memantau mereka melaporkan kejadian beberapa saat lalu di gedung teater.


Baik Azka maupun Aldo tidak ada yang berani menjawab.


"JAWAB!!" gertak papa membuat nyali kedua terpidana langsung ciut seketika. jangan sampai jadi narapidana xixixi.


"Hanya salah faham pa.." ucap Azka lirih.


"Aldo!" gertak papa sekali lagi.


"Bener bos hanya salah faham"ucap Aldo gemetar. wah jagoan bela diri baru kali ini gemetar bukan sama lawan tapi sama bos sendiri hahaha.


"Dan saya harus percaya begitu saja? kalian pikir papa tidak tau apa yang kalian lakukan selama ini? dan kalian kira papa gak tau asal masalah kalian hari ini huh?!" ucap Papa tegas.


"Azka, besok Dr.Fritz sudah tiba disini"


"What? wozu ist er hier? (untuk apa dia kemari)" tanya Azka, ada rasa tidak terima dalam dirinya jika harus bertemu dengan dokter apalagi jika harus melakukan terapi yang menurutnya gak perlu-perlu amat. tapi apalah daya jika papa sudah memutuskan itu sudah mutlak!!


"Setze deine Therapie fort" (Lanjutkan terapi mu). jawab papa tegas. setelah itu Azka keluar tanpa babibu dan menutup pintu sedikit keras karna kesal dengan keputusan papa nya yang tiba-tiba. Pak Anderson hanya mengelus dada melihat tingkah anak bungsunya itu. ada rasa bersalah menjalar dalam hatinya dan ia sadar semua karna kesalahan masa lalu nya.


Aldo yang tidak mengerti bahasa kedua insan berbeda usia itu hanya bengong sampe bengek.


" Aldo (suara pak Anderson tertahan sebentar) jangan coba-coba resign. saya tahu kamu kadang di buat kesal oleh sikap anak saya, dan saya minta maaf soal itu, orang tua kamu begitu besar jasa nya pada saya, kalau bukan karna mereka saya tidak akan bisa mempertahankan bisnis saya disini sampai hari ini. saya sangat berhutang budi pada orang tuamu."


Aldo yang sudah bengek sekarang malah bingung sendiri. Perasaan dari dulu mami papi kerja jadi cleaning servis deh, baru saat ini aja pas bos disini keterima kerja di perusahaannya. apa gue ketinggalan gosip?? batin Aldo


"Aldo kamu dengar saya ngomong?" Tanya pak Anderson melihat wajah gagah Aldo yang berubah warna putih kebiruan Karna habis adu kekuatan sama anak sendiri.


"Ehh. .i. iya bos saya dengar, bos pimi saya itu dulu kerja cuma jadi cleaning servis loh kalau bos mau tahu"ucap Aldo sekenanya mengikuti kata hatinya justru hal itu membuat pak Anderson tertawa dan aura sangarnya langsung berubah seketika.


"bwahahaha... pimi maksud kamu papi mami kamu??"


"Ho'oh"


"tanya saja sama mereka, bwahahaa ya udah kamu keluar sana, saya mau lanjut ketawa dulu"


"Maaf bos saya juga enggak mau nemenin bos ketawa, capek gegara ulah orang bengek" ucap Aldo yang bingung liat sikap bosnya yang sebelas duabelas sama anaknya. Aldo segera memutar tumit nya dan melangkah keluar.


"Bwahahahahahah aduh ternyata kalian bener-bener pinter nyembunyiin identitas sampai anak sendiri gak tau kerjaan orang tuanya apa.. bawahahaha"


🍂🍂🍂


"Dek, kamu udah baikan?" Tanya Revan hati-hati.


"Hem" hanya itu jawaban Kinara.


"Ya udah kamu istirahat dulu ya. kakak ke depan dulu kalau butuh sesuatu kamu pencet aja tombol di nakas."Ucap Revan lalu pergi keluar menuju ruang tamu.


"Gimana kak?" Tanya Ririn khawatir saat Revan sudah duduk di sofa.


Revan menghela nafas berat diam sejenak untuk menetralisir perasaan nya.


"Jujur ini yang aku khawatirin sejak Kinara menikah, makanya dulu sebelum pergi aku amanahin ke kamu kalau terjadi apa-apa sama Kinar."


"Apa gak ada terapi khusus gitu kak untuk bisa ngendaliin emosi nya?" tanya Ririn


"Semenjak ibu meninggal Kinara berubah jadi sosok tertutup dan terkadang menjadi tak terkendali ketika ada hal yang membuatnya marah."Ririn manggut-manggut mendengar ucapan Revan


"Emm kak aku boleh ngomong gak? ini sedikit sensitif sih!"


"Apa?"


"Kak menurut aku mungkin Kinara punya trauma yang kita sendiri enggak pernah tahu. coba deh kakak dekati pelan-pelan dulu, aku sih yakin banget kalau Kinara pasti memendam satu hal yang enggak kita tahu sama sekali. soalnya aku pernah nggak sengaja denger Kinara nangis di kamar mandi sekolah dan nyebut pembunuh gitu sih."


"Kapan itu Rin?"Revan terkejut mendengar penuturan Ririn


"Waktu kelas X pas selesai orientasi siswa baru"


"Hemm bisa jadi yang kamu omongin bener Rin, nanti coba kakak cari tahu pelan-pelan, sebenarnya kematian ibu juga jadi tanda tanya besar untuk kakak pribadi Rin, cuma kakak nggak berani mengambil tindakan takut ayah kecewa nantinya."


"Hemm Ririn bakal bantu semampunya kak, oh ya tadi bu Farah nitip ini buat Kinara" ucap Ririn menyodorkan paper bag.


"Ini apa?"


"baju untuk pentas besok kak"


"Ya udah aku pamit ya, kalau ada apa-apa kabari aku kak" lanjut Ririn berpamitan.


"Ok makasih ya."


"sama-sama bye aku pulang assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Ceklek


"Assala................(ekspresi kaget) mualaikum"


Pertanyaan nya siapakah yang mengucapkan salam dan terkejut???


jangan lupa pemirsaaaaahh dukungan nya...