
POV Reno
Enam bulan berlalu
Tidak pernah ku sangka jalan hidup yang ku alami harus seperti ini. kini aku hidup di tempat asing yang sangat jauh dari keluarga terutama ibu dan kedua adikku.
Seiring bergulirnya waktu, tak terasa sudah enam bulan berlalu aku meninggalkan kampung halaman ku dan memilih hidup jauh dari orang-orang yang ku sayangi.
Langit malam ini mengingatkan ku kisah kelam enam bulan lalu, saat aku memutuskan sesuatu hal dalam hidupku. menyesal? tentu tidak. hanya rasa bersalah ini yang bergelayut setiap saat tanpa henti.
Selama enam bulan ini lah aku hanya sekali mendengar kabar tentang nya dari mbak Vivi, istri kak Revan. setelah itu aku dan mbak Vivi tak lagi berkomunikasi.
Hanya ibu dan Dimas yang sesekali memberi kabar karena kini mereka tinggal di desa nenek yang jauh dari kota dan masih pelosok. dua toko kue ibu juga kini diserahkan pada istri bang Somat dan bang Rendi. tak ada yang tahu jika mereka berdua adalah saudara angkat ibu dari desa yang di asuh oleh nenek sejak kecil.
Meski kini aku pun tinggal dia sebuah kota kecil bersama orang tua angkat ku, tak menampik kadang aku juga merindukan ibu dan kedua adikku. semenjak memutuskan untuk pindah ke kota ini enam bulan lalu, aku memang sudah bertekad untuk tidak lagi mengetahui apapun tentang keluarga mantan calon tunangan terlebih sahabat-sahabat ku yang lain. aku benar-benar menutup akses dan semua akun sosial media ku.
Ada satu akun baru yang ku buat hanya untuk berkomunikasi dengan kawan baru di kota ini, terutama kampus baru tempat ku menimba ilmu dan meraih cita-cita ku selama ini.
Setiap ada kesempatan aku ikut om Danu ke proyek atau ke kantor dinas tempat om Danu bertugas, di luar jam kuliah. sesekali aku juga di saat weekend aku ikut tetangga samping rumah om Danu ke kebun sawit dan menjadi buruh petik meski gaji yang ku terima tidak seberapa.
Mencoba mencari kesibukan membuat ku perlahan-lahan terkadang lupa pada nya, pada rasa bersalah ini. bukan berarti aku hilang ingatan, aku hanya tak ingin terus menerus di hantui rasa bersalah yang tiada akhir dan inilah yang kini membuatku menjadi orang yang gila kerja.
Saat weekend terkadang aku pulang hingga tengah malam saat menjadi buruh petik. tapi itu tak membuat ku merasa lega begitu saja. masih ada hal baru esok hari yang harus ku lakukan untuk bertempur dengan diktat dan dosen.
Sering om Danu dan Tante Meri menegur ku untuk tidak maniak kerja, tapi aku tetap saja tak bisa jika hanya diam di rumah tanpa melakukan apapun. itulah sebabnya terkadang aku membantu Tante Meri di dapur jika ada pesanan kue, jajanan pasar atau Snack untuk hajatan meski Tante Meri melarang ku.
"Bang, ada temen kamu datang tuh, cewek" kata Arzan di depan pintu kamar.
Aku bergeming, pasalnya aku tidak membuat janji dengan siapapun di kampus siang tadi. aku bergegas keluar setelah memakai kaos oblong yang biasa ku pakai.
"Siapa Zan?"
"Nggak tahu, nggak kenalan kok" ucap Arzan dengan sikap tengil nya.
"Ck, game Mulu, kapan belajar nya Lo udah mau ujian" ucapku meninggalkan nya di sofa ruang tamu.
Aku keluar ke arah teras rupanya Andin yang datang, gadis dari kota yang sama dengan ku yang bekerja di salah satu bar ternama di kota ini sebagai DJ.
"Oh kamu ndin, apa kita ada janji?" tanyaku basa-basi
"Eh, bang maaf mengganggu, nggak buat janji kok, aku cuma mau ngembaliin ini, kemarin waktu di minimarket ini jatuh pas Abang nabrak ibu-ibu" ucap Andin menyerahkan sebuah buku kecil lengkap dengan pulpennya.
"Oh, ya Allah ternyata jatuh, pantas dari kemarin ku cari nggak ketemu, makasih ya ndin" ucapku riang karena berhasil menemukan buku diary kecilku.
"I...iya sama-sama, maaf bang kalau kiranya aku lancang, permisi ya mau pergi kerja soalnya" ucapnya malu-malu
"Kenapa bang?" tanya nya
"Kamu tahu dari mana aku tinggal di sini?" tanyaku penasaran menatap lekat penampilan nya yang sedikit terbuka.
"Aku...maaf bang kemarin aku ngikutin Abang pulang mau kembalikan buku itu. maaf" ucapnya jujur dengan wajah menunduk
"Oh ya udah nggak papa, sekali lagi terimakasih, maaf sudah merepotkan kamu" ucapku
"I...iya bang, permisi, assalamualaikum "
"Waalaikumsalam"
Andin berlalu menuruni undakan teras dan berjalan melewati pagar rumah. masih ku ingat dia gadis yang pernah memarahiku beberapa bulan lalu saat di rumah sakit, di tempat pedagang martabak, dan di sebuah toko baju bayi saat menjemput Kinara dan Azka saat itu.
Aku juga tidak menyangka bisa bertemu kembali dengannya di kota ini kemarin saat aku belanja kebutuhan pribadi ku di minimarket tak jauh dari kampus. Aku memandang nya hingga hilang di balik pagar..
"Huuu gebetan baru ya? seksi bener, ganti arah sekarang hihihi" bisik Arzan lalu berlari masuk kembali kedalam rumah karena tahu aku akan memberinya hadiah istimewa.
"Anj*** Lo" sungut ku kesal dan menyusul nya masuk ke dalam rumah.
Baru selangkah aku melewati pintu suara mesin motor om Danu sudah berhenti di halaman depan. aku berbalik lagi dan keluar untuk membuka bagasi.
"Dapat tamu darimana Ren?" todong Tante Meri tanpa basa-basi saat aku selesai membuka pintu bagasi.
"Hah? Tante tahu ada tamu barusan?" tanyaku balik
"Iya lah, wong ketemu di perempatan, toh kelihatan sampai di ujung jalan kalau baru keluar dari rumah ini" ucap Tante Meri.
"Oh, itu dia temen dari Jakarta juga, kebetulan ketemu kemarin dan dia ngembaliin buku catatan ku yang jatuh di minimarket kemarin" ucapku memperjelas
"Cantik loh, tapi sayang dandanannya Tante nggak suka, kayak pelayan cafe, emang dia kerja di mana?" tanya Tante Meri.
Kalau sudah begini jiwa kepo nya Tante pasti kambuh lagi. oh Tuhan.....
"Dia emang kerja di bar yang itu tuh... Tante pasti tahu, dia DJ" jawabku
"Ooh... kalau mau jadi calon menantu angkat ku, harus berhenti, kayaknya dia suka kamu deh Ren" cerocos Tante Meri
"Tante mah bisa aja, ya nggak lah"
"Siapa tahu di jodoh kamu nanti hahahaha"
"Hehehe, nggak ngarep deh tan"