
Ku tatap wajah pucat yang terlelap dalam tidurnya, ku pindai setiap inci tubuh pria yang terbaring lemah itu, ada gelenyar aneh menusuk relung hatiku saat ku tatap kedua mata nya yang terkatup rapat. ah perasaan apa ini?
Dia pria yang sudah mengikatku dengan sakral di hadapan Tuhan 5 bulan lalu, netra biru yang selalu menatapku dengan ribuan makna tak tersirat, bibir indah yang mengucap kata akad dengan lugas, telapak tangan yang pernah ku genggam setelah kata sah terucap dari para saksi dan penghulu, kini harus terbaring lemah dengan segala hal yang bahkan tak pernah aku tahu sebelumnya.
Oh ibu melihatnya seperti ini kenapa rasanya seperti saat aku kehilangan mu?
Ada apa dengan hatiku?
Sudahkah hadir yang seharusnya hadir?
Bukankah seharusnya aku senang?
Ku genggam erat tangannya,ku ucapkan salam lalu ku kecup punggung tangannya, pada akhirnya air mata ini jatuh.
"Maafkan aku mas, maafkan semua salah ku, jangan pergi sebelum kamu dengar penjelasanku mas, aku nggak tahu apa yang terjadi padamu selama ini, jika ada aku yang menjadi bebanmu, maafkan aku dan tolong katakan apa yang harus aku lakukan untukmu?"
Kurasakan usapan lembut menyapa di pucuk kepalaku, aku mendongak, ku tatap manik kebiruan itu, sejenak netra kami bertemu.
"Maaf" ucapnya lirih dengan senyum mengembang
"Maaf" aku pun mengucapkan kata yang sama. Sepersekian detik kami terdiam hanyut dalam fikiran masing-masing. entah mengapa rasa canggung ini tiba-tiba mendera ku. ku tundukkan wajahku menatap jemariku yang masih menggenggam erat tangannya.
Perlahan aku mencoba untuk melepaskan tapi tertahan, Azka semakin mempererat genggamannya membuat ku tersipu malu. ada apa denganku hari ini?"
"Ra,"
"Ya?"
"Haus"
"Oh seb...sebentar" aku gugup, ada apa dengan ritme jantungku yang berdetak tak beraturan begini?
DUUKK
"Auuuhh saa...kiit" ucapku tertahan menahan lututku yang tersandung ujung meja saat hendak mengambil air mineral.
"Ra kamu nggak papa?" tanya nya panik
"Engg...ah..enggak papa!" ah ada apa denganku?
Ku serahkan air mineral padanya setelah ku buka segel penutupnya. aku menoleh ke arah nakas seketika mataku membulat, rupanya ada air mineral di atas nakas kenapa harus repot jalan ke sofa ambil air sih?! rutuk ku dalam hati Gara-gara grogi jadi gini,aku menunduk berusaha menyembunyikan rasa malu ku.
"Ra"
Aku mendongak, ku raih botol air mineral dengan wajah setengah menunduk, ku simpan botol itu di atas nakas tepat di samping botol yang entah sejak kapan berdiri tegap di situ.
"Mau kemana?" tanya nya lagi saat kaki ku hendak melangkah menuju sofa.
"Ke...ke sofa" jawabku dengan ekspresi kikuk yang jelas tak bisa ku sembunyikan. padahal beberapa kali ia menemani ku di rumah sakit tak pernah sekalipun aku merasa kikuk seperti ini.
"Sini" ia menepuk sisi brankar
"Ma....ma.....mau ngapain?" tanya ku gugup
"Duduk" titahnya tegas meskipun ucapan nya terdengar lemah. malu-malu aku melangkah naik di sisi tempat tidurnya.
"Ehmm...masih pagi men" ucapan kak Sean sontak mengagetkan ku. hah aku beruntung akhirnya aku bisa menyelamatkan detak jantungku.
"Ck, kalo mau mati nggak usah kebanyakan drama" ucap kak Sean menepuk salah satu kaki adiknya.
Pemandangan seperti ini jarang sekali terlihat selama kami menikah, hanya beberapa kali saja aku melihat kakak beradik itu bercengkrama.
Tak lama setelah si kembar lahir kak Sean memboyong istri dan anak-anaknya ke rumah mereka yang sudah kak Sean siapkan sendiri sebagai kado ulang tahun istrinya.
Setelah kejadian beberapa bulan lalu memang papa maupun mama mertua melarang keras aku tinggal di apartemen lagi. berawal dari situlah hubungan ku dengan Azka semakin renggang karna Azka yang jarang pulang kerumah dan lebih memilih tinggal di apartemen atau di kafe tempatnya bekerja.
Kadang aku juga tidak mengerti ada apa dengan nya yang lebih banyak menutupi semua masalah nya sendiri. bahkan sampai detik ini pun aku tak berani meski hanya sekedar bertanya penyebab ia nekat ingin mengakhiri hidupnya.
Aku memutuskan untuk keluar sejenak berkeliling melihat bangsal anak-anak. sudah lama rasanya aku tak pernah mengunjungi mereka. apa kabar anak-anak kesayanganku?
"Nona muda?" panggil seseorang di belakangku
"Ya?" aku menoleh untuk melihat, rupanya wanita paruh baya yang pernah ku temui di kafe beberapa waktu lalu, awal mula pertengkaran ku dengan Azka yang tak kunjung usai hingga kini.
"Eh, ibu Hanum selamat pagi" sapaku sembari menyalami dan mencium punggung tangan beliau. beliau sedikit tersentak dengan perilaku ku.
"Eh nona muda kok gitu sih, saya jadi nggak enak" Ucapnya
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan saja bu" ucapku merendah
"Lagi ngapain disini nona?"
"Kebetulan su....eh sepupu saya sakit jadi saya ikut jagain semalem" bohongku
"O..oh nona mau kemana?"
"Mau ke bangsal anak bu"
"Oh kebetulan sekali saya juga mau kesana, kalau gitu kita bisa barengan, mari nona"
"Ah..i..iya bu mari, silakan ibu Hanum duluan" ucapku mempersilakan beliau berjalan lebih dahulu.
Terbersit dalam benakku, kenapa beliau memanggilku nona muda? apa beliau tahu aku anak dari pemilik rumah sakit ini? sejak pertama kali bertemu aku bahkan tak pernah mengenali wajah beliau sama sekali jika ia seorang dokter apalagi bekerja di rumah sakit ayah. ah ya sudahlah!
"Nona sudah sarapan?" tanya nya di sela langkah kami
"Mau sarapan bareng nona?"
"Hah?" aku melongo mendengar tawarannya.
"Bo....boleh" baru saja aku menjawab beliau sudah memutar langkah ke arah kantin yang terletak di belakang rumah sakit.
"Nona, saya minta maaf" ucapnya saat kami tengah menunggu pesanan datang.
"Ya? soal apa bu?" aku mengerutkan kening mendengar ucapan beliau.
"Maaf karna sudah membuat keributan dengan nona dan tuan muda Azka karna ulah anak saya saat itu"
Deg
"Ini apa? batinku bingung, beliau tahu siapa aku dan Azka? oh my god apa yang sudah aku lewatkan selama ini?"
"Ma...maksud nya apa ya bu?" tanya ku hati-hati
"Begini nona..." beliau menjeda ucapannya "Sewaktu pertama saya melihat nona di kafe waktu itu, saya sempat teringat seseorang di masa lalu saya, sahabat sekaligus teman seperjuangan saya sejak kami sekolah dasar. saya mengingat seperti pernah melihat nona tapi saya lupa dimana tepatnya".
"Dan sewaktu tuan muda melayani pelanggan saya juga sempat terkejut karna saya mengenal wajahnya, saat itu saya langsung meminta salah satu asisten saya untuk mencari tahu tentang nona dan tuan muda."
"Dan maaf saya sempat mendengar pertengkaran kalian di parkiran waktu itu" beliau menundukkan wajah membuat ku seketika merasa malu.
"Ah kenapa jadi ilfill gini, masih muda gue di panggil nona muda sama yang lebih tua" batinku mencelos.
"Maaf bu, apa ibu Hanum tahu siapa saya dan Azka?" tanya ku penasaran
"Iya saya tahu, bahkan lebih dari itupun saya tahu"
"Hah?" sungguh aku di buat terkejut dengan ucapannya. "bisa ibu cerita sedikit?" tanya ku lagi
"Dulu Almarhumah ibu Amina, sahabat karib saya sejak kami di sekolah dasar, setelah lulus saya pindah ke kota ikut dengan orang tua saya yang pindah tugas, sampai akhirnya kami bertemu kembali saat sma di sekolah yang sama saat itu Almarhumah siswi pindahan, kami berada di kelas yang sama, setelah lulus sma saya memutuskan pindah ke Sydney melanjutkan study kedokteran dan menetap disana sampai selesai. saya memutuskan kembali ke Indonesia saat akan menikah dengan seorang keturunan ningrat di sini.
"Saya tidak pernah bertemu beliau sejak saat itu. sampai suatu hari tanpa sengaja saya mendengar salah satu kolega suami saya mengadakan ulang tahun anak kembarnya yang ke tiga tahun, tepatnya lima belas tahun lalu. saat itulah saya bertemu kembali dengan almarhumah dan kami menjalin komunikasi. namun 5 tahun kemudian saya harus ikut ke Belanda mengikuti suami saya yang di pindah tugaskan menjadi seorang konsulat disana dan komunikasi kami terputus saat itu.
"2 tahun lalu saya baru kembali lagi kesini dan memutuskan untuk menetap selamanya di tanah air. saat itu saya tanpa sengaja bertemu tuan Wibowo dan dari sana lah saya tahu jika Almarhumah telah berpulang, saya sempat meminta foto masa kecil nona pada tuan."
"Saya bekerja disini baru 3 bulan setelah tuan datang menemui saya beberapa waktu lalu di Singapura saat saya sedang berkunjung kerumah salah satu kerabat disana. beliau meminta saya bekerja karna disini membutuhkan dokter obgyn yang sudah mumpuni kata beliau saat itu dan suami saya menyetujuinya."
Aku mengangguk mendengar cerita beliau, pantas saja memanggilku nona muda segala rupanya beliau tahu segalanya tentang ku. ah malah jadi ilfill.
"Maaf bu tanpa mengurangi rasa hormat, bisa nggak jangan panggil saya nona muda, saya ini baru delapan belas tahun, saya lebih muda dari kak Edwin, anggap aja saya adiknya Kak Edwin bu" pintaku merendah seketika membuat beliau tertawa.
"Ya allah baru kali ini aku lihat anak seorang CEO bahkan orang paling di hormati di seluruh negri nggak mau di panggil nona muda" ucapnya di sela tawa renyahnya.
"Hehehe " aku menimpalinya dengan terkekeh pelan.
Menu pesanan kami baru datang rupanya karna kantin masih baru buka. Kami melanjutkan ngobrol setelah semua makanan habis.
"Akhh akhirnya satu masalah selesai, alhamdulillah" ucapku bersyukur. aku meneruskan langkah ku menuju ke bangsal anak yang sempat tertunda tadi. namun baru beberapa langkah dering gawai membuatku membatalkannya.
"Assalamualaikum halo ayah.."
" Iya aku masih di rumah sakit, ayah mau kesini?"
"Iya aku tunggu, tapi Nara mohon ayah jangan bahas apapun ya di depan Azka"
"Ok love you, Assalamualaikum"
"Ya Allah semoga saja semua masalah cepat selesai, amiiin" batinku berdoa
"Woi sembeb, nih gue bawain sarapan" suara Aldo tiba-tiba mengagetkan ku.
"Ck, telat lo! gue udah sarapan baru aja dari kantin" ucapku
"Yaah gue telat lagi nih.. ya udah temenin gue makan dong kalau gitu.... di...sana..." ucapnya seraya menunjuk ke arah taman rumah sakit.
"Hmm, nanti Azka nyariin Do..." aku berkilah
"Ck, bentar aja ihh, nanggung nih gue kelaperan mana semalam nggak tidur, jagain laki lo, trus subuh-subuh bos papa minta gue dateng kerumah jemput lo, gimana nggak bengkak nih mata, tanggung jawab dikit dong sama pengorbanan gue" protesnya tanpa jeda
"OKE" sengaja ku tinggikan sedikit suara ku seraya melangkah menuju ke arah taman dengan bibir mengerucut. Entah kenapa dengan sahabat ku yang satu ini aku bisa ceplas ceplos tidak sama seperti yang lain.
Kami duduk saling berseberangan, aku hanya menatap datar saja pada dua bungkus nasi uduk yang sudah ia beli, ada rasa kasihan jika harus terbuang.
"Do, itu buat Azka aja boleh?" tanya ku
"Hem, ambil aja sebenarnya ini buat lo sih, tapi ya udah buat laki lo aja kan lo dah sarapan" ucapnya santai.
"Do apa ada yang gue lewatin ya?" tanya ku tiba-tiba entah kenapa rasa penasaran ini sejak tadi menggangguku.
"Apaan?" tanyanya
"Kalian ada nyimpen sesuatu dari gue yang nggak pernah gue tahu?" tanya ku menyelidik. sejenak kulihat mimik wajah Aldo berubah namun ia berhasil menetralkan suasana.
"Nggak ada, lo aja lagi baperan" ucapnya
"Ck, lo sama aja sama mereka, menyebalkan" ucapku seraya melangkah meninggalkannya setelah meraih satu bungkus nasi uduk yang tersisa.
"Wooi tanggung jawab lo belom selesai sembeb" teriaknya
"BODO AMAT" jawabku tak kalah keras.