
Setelah dokter Fritz datang Kinara masuk ke dalam ruang perawatan Anthony. sedangkan Azka pergi mencari warung yang mulai buka untuk menjual makanan.
Netra Kinara tak mampu menahan bukit bening yang akan jatuh, melihat tubuh kurus dan terbujur lemah dengan banyaknya alat bantu yang tertancap di tubuh kurusnya.
Kinara meraih tangan Anthony dan mengusap punggung tangannya seraya membacakan doa dalam hati.
"Percayalah ibu sudah memaafkan mu Om, Tante Amira wanita yang om cintai juga masih hidup, Allah swt masih menyayangi nya hingga Tante Amira bisa pulang ke pada kami setelah puluhan tahun menghilang"
"Bangun lah om, aku Kinara saudara kembar Keisya yang selama ini sudah om rawat dengan baik dan penuh kasih sayang, percayalah Keisya juga merindukanmu om, dia juga menyayangimu sebagai orang tuanya"
"Kami semua sudah memaafkan kesalahan om, aku tahu om orang yang baik terimakasih sudah hadir dalam kehidupan kami, lupakan semua yang sudah berlalu mari kita rajut masa depan bersama keluarga, sadarlah om, kami semua menanti mu"
Kinara berceloteh sembari mengusap lembut punggung tangan Anthony yang tidak terkena jarum infus.
"Dokter, sampai kapan dia akan sadar?" tanya Kinara pada dokter Fritz yang duduk di sofa.
"Berdoalah, jika Allah swt mengizinkan insha Allah dia akan kembali sadar"
"Apa kemungkinan untuk sembuh itu kecil?"
"Ya, karena komplikasi yang dia derita sebenarnya sudah cukup parah, di tambah mungkin riwayat trauma psikologis yang pernah dia alami"
"Trauma psikologis?"tanya Kinara terkejut
"Iya"
"Bisa dokter jelaskan?"
"Bertanyalah dengan ayahmu atau tuan Denias beliau yang akan menjawab pertanyaan mu, karena aku tidak punya hak untuk menjawabnya"
"Baiklah, kalau kak Revan apa dia sudah datang untuk menjenguk?"
"Semalam sebelum kalian datang, sebelum pasien akhirnya koma, jangan tanyakan apapun lagi Ra, kasihan pasien, sebaiknya biarkan dia beristirahat dalam tenangnya" ujar dokter Fritz menasehati, Kinara mengangguk lalu beranjak untuk pergi namun ujung jilbabnya yang panjang tertahan oleh sebuah tarikan.
Kinara menoleh ke arah jilbabnya, rupanya jemari tangan Anthony menahannya, mata Anthony mulai terbuka perlahan-lahan, dokter Fritz langsung menekan tombol yang ada di nakas samping brangkar.
"Om dokter ini....." ucapan Kinara tertahan saat melihat air mata menetes dari kedua mata Anthony, serta bibir Anthony yang seolah sedang mengajaknya berbicara.
Dokter Djafri masuk ke dalam ruangan dengan mata yang masih menahan kantuknya. namun karena tugas dia harus profesional untuk melayani pasien. Kinara dan dokter Fritz mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada Dokter Djafri untuk memeriksa.
Dokter Djafri memeriksa denyut nadi dan saluran pernafasan yang terbantu dengan selang. sesekali ia mengusap lembut kepala Anthony dengan penuh kasih.
Kinara yang menyaksikan itu begitu terharu melihat sikap dokter Djafri memperlakukan pasiennya.
"Kamu Keisya?" tanya dokter Djafri
"Saya Kinara" ucap Kinara dengan gelengan.
Dokter Djafri menghela nafas ringan lalu tersenyum kemudian memegang kedua pundak Kinara dengan tegas.
"Bantu dia kembali, tuntunlah" ucap dokter Djafri yang seolah tahu keinginan pasiennya.
Kinara menggeleng tanda tidak mengerti dengan semua ucapan dokter Djafri. Dokter Djafri yang mengerti ketidakpahaman Kinara langsung menoleh pada nakas yang disana ada Al-Qur'an tersimpan seperti sudah di baca terlihat dari sampulnya yang tidak tertutup sempurna.
"Bacalah jangan ragu, itu stimulus yang baik untuk perkembangan kondisinya"
"Baiklah dok"
Dokter Djafri menoleh pada dokter Fritz yang berdiri tak jauh darinya. "Aku akan keluar, pasien membutuhkan mu nak, dokter tampan ayo kita keluar" ucap dokter Djafri seraya menarik lengan dokter Fritz yang masih bergeming di tempat.
Setelah kedua dokter beda usia itu keluar dari ruang perawatan, Kinara kembali duduk di kursi samoing brangkar, kelopak mata Anthony bergerak melihat apa yang ia lakukan dengan air mata yang terus menetes melewati kedua pelipisnya.
Kinara meraih Al-Qur'an dan membacanya sesuai dengan penunjuk batas yang tertera di lembaran Alquran. baru mengucap bismillah Kinara terkejut mendengar suara Anthony yang seolah berteriak dan terdengar menyayat.
Kinara menoleh lalu menggenggam jemari Anthony yang bebas lalu membacakan syahadat berulang kali. terlihat Anthony mengikuti apa yang Kinara ucapkan meski dengan suara yang tidak terdengar. air matanya terus menetes dan menatap Kinara tanpa berkedip.
Di ucapan uang ke lima belas kali nya Kinara melafazkan dua kalimat syahadat, tertera di layar monitor garis lurus dengan bunyi yang nyaring, Kinara langsung menekan tombol dengan menahannya sedikit lama.
Air mata Kinara luruh semakin deras seiring dengan garis lurus yang terus berjalan di layar monitor.
Dokter Djafri dan dokter Fritz masuk bersamaan begitu mendengar sirine dari dalam.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap kedua dokter berbeda usia itu.
Kinara tergugu di tempat, tangisnya pecah begitu saja, dengan sabar dokter Fritz menuntunnya keluar dari ruangan agar dokter Djafri dan asiateni yang baru masuk bisa melepas semua peralatan yang sudah lama tertancap di tubuh pasien.
Sobri, Roby, dan kedua temannya yang tengah berjaga tadi kini sibuk menghubungi tuan Denias dan yang lainnya.
Setelah mendapatkan perintah mereka Roby dan Sobri pergi meninggalkan tempat dan menyiapkan untuk pemakaman almarhum Anthony.
Azka yang baru saja tiba menenteng keresek berisi sarapan sangat terkejut melihat istrinya menangis histeris dan dokter Fritz duduk di sampingnya mengusap punggung Kinara.
"Kenapa om bule?"tanya Azka.
"Anthony sudah meninggal baru saja" jawab dokter Fritz seraya mundur beberapa langkah agar Azka bisa duduk di samping istrinya.
Tak lama datang papa dan mama serta tuan Denias dari arah yang berbeda. wajah mereka menegang semuanya terlebih lagi saat melihat Kinara menangis tersedu di kursi tunggu.
"Beneran Fritz?" tanya mama Hanna tak percaya
"Dokter sedang bekerja di dalam, Kinara yang tadi menuntun nya di akhir nafas" ucap dokter Fritz lugas.
Mama Hanna akhirnya terduduk di samping Kinara dengan raut wajah tak bisa terbaca.
Tuan Denias dan Tuan Anderson menunggu dengan cemas untuk masuk, namun saat melihat pintu terbuka langkah mereka terhenti karena seorang asisten dokter Djafri tengah mendorong brangkar dengan jenazah Anthony yang tertutup dengan kain putih.
"Jenazah akan kami bawa kerumah duka sesuai perintah tuan" ucap asisten dokter Djafri tuan Denias mengangguk dan mempersilakan asisten dokter itu untuk jalan lebih dulu mengikuti kedua anak buahnya yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
"Selamat jalan om, semoga langkah mu ringan kami sudah memaafkanmu, tenanglah disana, kami akan selalu mendoakan keselamatan mu dunia akhirat" ucapbbatin Kinara seraya menutup wajahnya.
Tuan Denias dan tuan Anderson mengikuti langkah asisten dokter di depan mereka. begitu juga mama Hanna, Azka, Kinara dan dokter Fritz mengikuti langkah kaki di depan mereka.
"Selamat jalan om....." batin Kinara.