
Nyonya Amira langsung melesat ke rumah sakit tempat Anthony mendapatkan perawatan. ada rasa kesal dan bersalah dalam lubuk hatinya. sebenci apapun ia pada perbuatan Anthony selama ini, toh ia juga punya andil besar di dalamnya.
hanya satu kata yang dapat mewakili semua yang Anthony lakukan, trauma psikologis dan rasa cintanya pada sosok Amira yang membuat nya buta akan kebenaran.
Sampai di rumah sakit ia langsung bergegas ke ruang ICU, di depan ruang sudah ada kakak iparnya Tuan Wibowo, besannya Tuan Anderson, dan sang kakak Denias serta semua anak buah mereka. hanya Steffy dan suaminya yang tidak ada di sana.
"Kalian disini semua tapi suami sama anak ku mana?" tanya nyonya Amira tanpa ba-bi-bu
"Suamimu ke kantor polisi katanya ngurus kasus kecelakaan anggota baru mu, kalau Steffy baru saja pulang capek katanya" ucap tuan Denias.
"Huh merepotkan" ucapnya pelan namun masih dapat di dengar oleh sang kakak.
"Karena ulahmu semua jadi repot" sahut tuan Denias ketus. nyonya Amira langsung bungkam mendengar ucapan sang kakak yang sangatlah menohok.
"Hubungi Revan sekarang di rumah ibu kandungnya, Ratih, minta dia jadi pendonor untuk bapaknya, waktumu hanya sejam dari sekarang, anggap saja ini balas budimu karena ulahmu puluhan tahun lalu"titah tuan Denias ada nyonya Amira.
"Haruskah?" batin nyonya Amira sedih mengingat kesalahannya puluhan tahun silam. semua yang ada di depan ruang ICU terdiam tak ada yang berani membantah jika tuan Denias sudah bicara.
Nyonya Amira segera berlalu dari tempatnya, berbekal alamat yang di berikan oleh anak buah kakak iparnya tuan Wibowo, ia bergegas menuju alamat yang di tuju.
"Haruskah aku yang melakukannya?" batin nyonya Amira bergejolak. Tangannya sedari tadi saling bertaut wajahnya nampak pias dengan guratan halus yang semakin kentara.
"Nyonya ada air minum di holder samping jika anda haus" ucap sopir sang kakak yang. memang di tugaskan untuk membawanya menemui Revan.
"Terimakasih pak" ucap nyonya Amira.
Sepanjang jalan matanya terus menelisik ke sisi jalan yang nampak dari kaca jendela mobil. gelisah semakin tidak menentu. ada khawatir yang membuncah, ketakutan itu semakin kentara saat mobil yang ditumpanginya masuk melewati pagar sebuah rumah minimalis dan berhenti tepat di sisi kanan rumah yang masih agak luas untuk di tempati parkir.
Nyonya Amira memandang sekeliling, matanya awas melihat ke sudut rumah letter L. Pintu yang tidak tertutup rapat, semakin gelisah saat seorang wanita seumuran Darren keluar dari pintu itu dengan memakai gamis rumahan dan jilbab yang senada tengah membawa seember pakaian yang akan di jemur di halaman samping. Mata wanita itu menelisik mobil yang terparkir di depan namun urung untuk melangkahkan kakinya.
"Nyonya anda tidak turun? waktu kita sisa 30 menit lagi, tuan Denias akan memarahi ku jika tidak membawa tuan Revan ke rumah sakit tepat waktu." ujar sang sopir dengan wajah cemas.
Nyonya Amira memandang sopir dengan wajah ketakutan itu. kemudian menghela nafas berat sebelum akhirnya keluar dengan sisa tenaga yang masih ada. rupanya kecemasannya kali ini membuat pertahanan nya hampir runtuh.
"Assalamualaikum" ucap nyonya Amira menahan debar di dadanya. wanita muda yang sejak beberapa menit itu mengawasinya semakin terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Wa... waalaikumsalam nyo.. Nyonya silakan masuk" wanita muda yang tak lain adalah Mala itu datang menghampiri nyonya Amira dan mengajaknya masuk ke dalam rumah melalui pintu depan.
"Se..sebentar nyonya saya panggil kan tuan Revan" ucap Mala bergetar karena menahan takut. baru sekali ia melihat nyonya Amira datang ke perusahaan saat rapat direksi beberapa waktu lalu saat dirinya masih menjadi karyawan magang masa percobaan.
Tak kalah dengan Mala nyonya Amira pun tidak dapat menyembunyikan kegugupan nya. tak lama suara langkah kaki mendekat.
"Eh Tante, kok tahu aku di sini?" tanya Revan basa basi setelah menyalami nyonya Amira.
"Di anterin sopirnya kak Denis, ibu kamu mana?"
"Ibu sedang tidur, dokter baru saja pulang setelah memeriksa kondisinya, kok Tante tahu?"
"Kak Denis yang bilang, makanya aku di suruh dateng kesini buat jenguk ibu kamu"
"Oh gitu, tapi ibu baru saja tidur Tante" ucap Revan tak enak hati
"Apa sudah ada perubahan?" tanya nyonya Amira
"Alhamdulillah sudah bisa di ajak ngomong meskipun hanya beberapa kata saja"
"Van, bisa ikut Tante ke rumah sakit sekarang?"tanya nyonya Amira hati-hati
Revan mengerutkan keningnya mendengar ucapan tantenya. nyonya Amira melihat jam di pergelangan tangannya. waktunya tinggal sedikit.
"Tante dengar kamu biasa donor darah kan?"
"I..iya Tante ada apa ya?"
"Gini, anggota baru Tante di rumah mengalami kecelakaan pagi tadi saat pulang belanja di pasar, dia korban tabrak lari dan sekarang kritis dia butuh donor darah AB. stok donor darah di rumah sakit dengan golongan itu habis, dia yatim piatu Van, tolong tante kali ini" ucap nyonya Amira beralasan. tidak mungkin ia mengatakan kebenaran nya, bukan malah membuat Revan senang malah semakin ikut membencinya.
"Oh gitu ya udah ayok, kau ambil kunci mobil dulu ya Tan"
"Kita berangkat bareng aja Van, nanti biar sopir om kamu yang nganter pulang, tadi tante terpaksa minta anter kesini karena pamanmu pergi ke kantor polisi dan Steffy pulang pergi rumah sakit-kampus."
"Oh ya udah aku ambil dompet sama hape dulu Tante"
"Ya udah Tante tunggu di mobil" Nyonya Amira mengelus dada saat Revan sudah berlalu ke dalam.
Nyonya Amira keluar rumah dan berjalan memasuki mobil, nyonya Amira memberi kode pada sopir dengan lima jari ia angkat.
"Kita tunggu sebentar pak, itu dia keluar, kita langsung saja kan?".
"Iya nyonya"
Tak lama Revan menyusul masuk ke dalam mobil. mereka akhirnya bertolak ke rumah sakit. sepanjang perjalanan nyonya Amira di landa gelisah karena merasa bersalah telah membohongi keponakannya.
Sesampainya di rumah sakit Revan langsung di tuntun oleh sang sopir untuk bertemu dokter untuk memastikan golongan darahnya.
"Nggak sia-sia aku nyuruh kamu Ra, Revan biar jadi urusan ku. pulanglah kau butuh istirahat. Steffy baru saja menelfon ku jika ia sekarang di rumah sakit bersama asisten mu menjaga. " ucap tuan Denias dengan senyum kemenangan
Nyonya Amira tampak kesal dengan ucapan sang kakak, seolah ia hanya di jadikan alat saja. terimakasih pun saja tidak. dasar kakak aneh.
dengan hati dongkol nyonya Amira pulang dengan segala kekesalannya.
Meski dongkol nyonya Amira tetap merasa bersalah karena semua ini bermula dari dirinya dan kesalahannya di masa lalu. Tidak sepenuhnya kesalahan itu ada pada Anthony juga. Amira tahu Anthony mengalami gangguan psikologis dan traumatik, mengalami kecemasan berlebih hingga membuatnya menjadi pribadi yang tertutup. ia tahu semua itu justru saat mereka masih menjalin asmara sebelum akhirnya Amira mengalami kecelakaan dan memutuskan untuk menjauh ikut dengan orang yang menolongnya.
Huff mengingat semua masa lalunya, sudut hatinya bersedih, semua yang terjadi pada keluarganya tidak lain karena ada andil dirinya juga. andai dulu ia tidak pergi, andai dulu ia tidak jadi pengecut. toh nasi sudah menjadi bubur. hanya ada penyesalan dan penyesalan saja.