KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 88



POV Reno


Hari ini aku memutuskan untuk pulang kampung yang sempat tertunda karena harus menjaga Andin yang mengalami kecelakaan lalu lintas.


Satu Minggu aku menemaninya di rumah sakit, meski diantara kami tak ada yang berbicara sama sekali. Andin hanya berbicara seperlunya jika membutuhkan sesuatu selebihnya ia hanya tidur dan duduk.


Setiap kali aku mencoba mencairkan suasana, Andin hanya menjawab seperlunya saja tanpa pernah mau menatapku. akhirnya aku lebih memilih diam dan tak mengganggu nya. hanya jika dia memerlukan bantuan baru aku beranjak.


Om Danu dan Tante Meri mengantar ku ke bandara sesuai janji mereka, sekaligus mengajak nak bungsu mereka liburan katanya. berhubung Gito sibuk untuk meraih gelar barunya di dunia kesehatan dan Arzan masih menikmati liburan panjang di ibu kota, Tante Meri memutuskan untuk berkeliling dan menginap beberapa hari di Banjarmasin.


beruntung aku sudah menelpon Dimas sejak beberapa hari lalu, semoga kali ini dia tidak terlambat lagi menjemput ku di terminal pasar kecamatan seperti beberapa tahun lalu saat aku pertama kali pulang ke kampung nenek.


"Hati-hati ya ren, telpon Tante kalau udah sampai dirumah, tante mau bicara dengan ibu kamu" ucap Tante Meri memeluk ku


"Kan bisa Tante nelpon sendiri, kenapa harus pake perantara aku?" ucap ku sewot


"Kamu itu kayak nggak tahu tante mu aja Ren, hemat kuota... apa-apa mahal" sahut om Danu mencibir istrinya.


"Ishh papa"


Akhirnya kami berpisah setelah acara cipika-cipiki, Angel menangis begitu aku masuk dalam bandara. kami memang berpisah di luar pintu masuk bandara karena alasan inilah Tante Meri dan om Danu tak mau mengantar ku masuk karena Angel pasti merengek untuk ikut pergi.


Selama hampir empat tahun anak yang baru mau masuk SD ini memang lebih dekat dengan ku daripada kedua kakaknya. selain karena kesibukan Gito dan Arzan, setiap kali mereka berkumpul selalu saja ada perang dunia terjadi di dalam rumah yang membuat Tante Meri selalu naik darah.


Angel yang terkesan manja dan selalu mau di turuti keinginannya membuat kedua kakaknya selalu kesal dan memilih memarahi adiknya jika kelewat jengkel dengan tingkah manja Angel.


Aku masuk ke dalam bandara dan menunggu di ruang tunggu keberangkatan sembari menscrol sosial media milikku yang sudah lama tak ku gunakan semenjak kedatangan ku ke pulau ini.


Sangat menyakitkan untuk diingat, aku pernah ada di posisi terpuruk dan bisa bangkit seiring waktu.


Mengingat pesan Beno beberapa hari lalu membuat ku bersemangat untuk pulang kampung, mungkinkah apa yang selama ini aku pertahankan bisa aku raih setelah perjalanan panjang menyakitkan yang kami lalui.


Semoga saja perjalanan ini ada makna terindah yang bisa ku gapai dengannya.


Keisya...


Aku datang untuk kedua kalinya seperti harapan mu selama ini. maafkan aku atas segala luka yang pernah ku beri. aku berjanji akan mengobati luka itu untuk selamanya.


Perjalanan panjang ku tempuh setelah berjam-jam dalam perjalanan yang melelahkan akhirnya terbayar dengan sambutan ibu dan kedua adikku yang sengaja datang menjemput di terminal.


Kalau dulu Dimas meminjam mobil milik temannya, kini Dimas membawa mobil pribadi yang belum lama di belinya karena kebutuhan mendesak jika ibu butuh berobat ke rumah sakit.


Aku bersyukur dalam perjalanan pulang ibu tidak membahas soal pernikahan yang sempat ia dengar dari Tante Meri beberapa waktu lalu.


Dimas benar-benar menepati janjinya untuk tidak membahas apapun di depan ibu.


***


"Nan, ada kabar baik dari tuan Wibowo" ucap Gus Rohid pada anak bungsunya yang tengah membersihkan rumput di halaman samping


"Kabar nopo bah?" tanya Hanan. arit yang ia gunakan untuk menyiangi rumput ia simpan di atas pot bunga.


"Kabar bahagia, Keisya menerima lamaran kamu, jadi kapan kita mau kesana melamar secara resmi?" tanya Gus Rohid membuat Hanan seketika langsung berucap syukur.


"Nggak bohongan kan ini bah?" tanya Hanan merasa tak percaya


"Nggak" jawab Gus Rohid tersenyum


"Ya jangan gembira dulu, ibu mu belum tahu soal ini, nanti Abah bicara dulu bagaimana baiknya, lagian mas mu Hanif dan mbak Khusnul juga harus datang" kata Gus Rohid


"Ya udah gimana keputusan Abah sama ibu saja, kalau nanti Romo Kakung sama Nyai mau ikut, sepertinya lebih baik bah" usul Hanan


"Rencananya memang begitu, nggak mungkin Abah mau melamar kalau Romo sama Nyai Putri nggak ikut" kata Gus Rohid


sementara itu di kediaman Kinara, Beno dan kawan-kawan lainnya tengah berkumpul di teras belakang rumah sembari menikmati cemilan seadanya karena sang tuan rumah sedang pergi.


Berhubung Keisya yang ada di rumah, jadilah Keisya yang sibuk membuatkan camilan untuk tamu-tamu kakaknya.


Beno yang sejak tadi gelisah karena telepon nya berkali-kali di tolak akhirnya bersuara.


"Brengsek Reno, nomor gue di blokir lagi, kemana sih ni anak?" umpat Beno membuat Keisya yang tengah menggoreng telur dadar di dapur mendengar umpatannya.


"Udahlah, nggak usah Lo cari, Terserah dia mau kemana, ke ujung dunia sekalipun terserah dia, gue udah capek nyariin dia tapi nggak pernah dapat titik terang, Lo aja di blokir apalagi gue Ben" sungut Aldo seraya mengunyah ciki.


"Lo nelponke nomor yang mana? kalau nomor lamanya udah emang nggak bisa, tapi ini nomor baru" sahut Beno


"Lo punya nomor barunya Reno?" tanya Fikar cepat di angguki oleh Aldo.


"Iya baru gue dapat waktu gue mau pulang ke tanah air, itupun dia duluan yang hubungi gue karena dia dapet beasiswa S2 ke London tahun ini" ucap Beno.


"Beneran Lo?" sahut Aldo merasa senang seperti mendapat sebuah lotere.


"Iya sumpah nih nomornya gue kirim ke situ" ucap Beno


"Lo nggak nanya dia dimana?" tanya Fikar.


"Ya nggak lah, karena gue pikir dia di Jakarta, jadi ngapain juga gue nanya dia dimana?" jawab Beno.


"astaga...yang bener aja Ben, argh kehilangan titik terang lagi deh" ucap Aldo kesal


"eh Lo kan, anggota cybercrime masa nyari gitu aja nggak bisa" ejek Beno


"Gue coba nanti, gue udah coba selama empat tahun tapi nggk pernah berhasil, Reno itu kayak ada yang backing up di belakangnya" kata Aldo.


"Masak sih? kok gue ..... ngerasa aneh, gimana gitu" ucap Beno.


Fikar yan sejak tadi menyimak percakapan kedua sahabatnya nampak termenung.


"Gue kemarin sore sempat belanja di toko kue punya ibunya dulu, dan sempat dengar capcipcup karyawati disana soal bos muda mereka yang pulang kampung" kata Fikar.


"Emang Lo yakin, kalau bos muda itu Reno? bisa jadi kan itu orang lain, soalnya toko roti itu kan udah di jual" tambah Aldo.


"Iya juga sih, tapi masak iya kalau di jual, plang namanya tetap nggak berubah Do? nggak aneh tuh?" sahut Fikar.


"Iya juga ya? kok gue nggak kepikiran kesana?" ucap Aldo membenarkan ucapan Fikar.


"Daripada bacot Lo pada, mending coba Lo telpon nomor baru yang gue kirim ke ponsel anda masing-masing gaiiiiss" ucap Beno.


"Di tolak gais... noh lihat, daritadi juga gue langsung telpon" ucap Fikar menunjukkan layar ponselnya di depan Beno.


"Arrh gue juga..." tambah Aldo.


Mereka bertiga akhirnya menepuk jidat saking kesalnya dengan Reno yang tak pernah ada kabar. lalu bagaimana dengan Keisya yang mendengar percakapan mereka bertiga??