
Pov Kinara
Sejak aku tahu jika adik kembarku yang meninggal ternyata masih hidup, sejak saat itu aku merasa marah pada mereka semua termasuk kakak ku Revan dan ayah juga paman Denias. kenapa mereka tega membuat kebohongan sebesar ini selama bertahun-tahun.
Belum pulih aku menyembuhkan luka saat melihat bagaimana ibu meninggal dalam keadaan yang tragis, di bunuh dengan sengaja oleh seseorang yang masih aku ingat ciri-ciri nya hingga kini. Kini aku harus mengetahui kenyataan tentang Keisya membuatku merasa seperti orang bodoh.
Papa dan mama mertuaku rupanya mengetahui kebenaran itu, bahkan semua sahabatku termasuk Azka suamiku juga mengetahuinya. kenapa mereka tega menyembunyikan kebenaran ini padaku?
Setiap tahun aku pergi berziarah mengirim doa pada Keisya, bercerita banyak di pusaranya seolah kami tengah mengobrol berdua membicarakan banyak hal. sudah lima belas tahun aku melakukannya. saat aku merasa sedih aku akan selali datang berkunjung menghabiskan waktuku di pusaranya hingga petang menjelang.
Namun, sejak hari itu aku tahu kebenarannya, semakin membuat aku membenci mereka semua. Aku menjadi satu-satunya orang bodoh yang tak tahu apapun yang terjadi dalam keluargaku. seolah tak pernah menganggap ku ada untuk mereka.
Sejak saat itu aku memilih menyendiri dan tak mau terlibat komunikasi apapun dengan kak Revan, Ayah dan om Denias. aku memblokir semua kontak mereka, kecewa? ya aku masih sangat kecewa dengan semua keputusan mereka selama ini menyembunyikan kebenaran dariku. Tentang kedua mertuaku, aku tak berani melakukannya karna kini aku sudah menjadi menantu di rumah mereka dan aku menjadi tanggung jawab Azka. aku tak ingin membuat mereka kecewa dan berfikir aku tak tahu di untung.
Hubunganku dengan Azka pun tak pernah membaik bahkan semakin buruk. setiap hari kami selalu bertengkar bahkan hanya untuk hal sepele pun selalu menjadi besar. yang sedang ku pikirkan kenapa Azka tiba-tiba berubah bahkan semenjak ia nekat bunuh diri dan berakhir di rumah sakit sikapnya benar-benar berubah total bukan Azka yang aku kenal humble dan santai tapi kini berubah seperti monster.
Meski hubungan kami sejak awal memang sering di warnai cekcok tapi tak pernah aku melihat sikap Azka yang kasar dan sekeras itu padaku sebelumnya. apakah ini sifat aslinya atau bukan?
Biar bagaimanapun aku tetap menuruti keinginan papa mertua, pergi dan pulang sekolah harus tetap bersama bodyguard bagitupun Azka. aku tak tahu menahu alasan papa mertua ku begitu posessive padaku dan Azka. bahkan papa memasang kamera pengintai di ponsel kami, di mobil yang kami gunakan pun papa juga memasangnya. pernah suatu ketika aku bertanya pada Aldo tentang hal itu, hanya jawaban tak tahu menahu yang ku terima dari Aldo. entahlah aki semakin tak mengerti saja dengan semua sikap orang dewasa di sekitarku.
Hari ini selepas ujian praktek terakhir aku sengaja pulang lebih cepat karna sebelumnya sudaa membuat janji dengan mama mertuaku untuk pergi berbelanja. saat perjalanan pulang aku masih harus singgah makan siang di kafe bersama Aldo dan menemaninya mencari bahan tugas untuk di kumpulkan pada bu Riri.
Sampai dirumah ternyata mama membatalkan rencananya, dan mama mengajak ku berbicara panjang lebar tentang suatu hal.
Aku tak pernah menyangka kenyataan yang selama ini mereka tutupi dari ku, aku tahu semuanya bahkan tentang hilangnya Keisya hingga perjodohanku dan Azka. aku tahu alasan mereka di balik kenyataan yang mereka tutupi. aku hanya diam dengan dada bergemuruh hebat, aku menangis dalam diamku tak karna aku tak sanggup untuk berbicara.
Dan yang membuatku sakit adalah tekanan mental dan trauma yang di alami Azka sejak kecil. trauma yang belum pulih seutuhnya. di sudut hatiku merasa bersalah karena pertengkaran kami setiap hari namun disisi lain ada rasa kecewa pada sikapnya yang selalu dingin dan tertutup. kenapa harus menutupi rasa sakitnya bahkan padaku sendiri. apa ini karna sikapku juga yang selalu tertutup pada siapapun bahkan pada orang tuaku.
Saat akhir perbincanganku dan mama mertua Azka datang dan lagi-lagi melontarkan ucapan yang sangat menusuk hatiku. aku marah dan mama Hanna pun kecewa dengan sikap Azka.
Aku masuk ke kamar setelah berbicara sarkas padanya, aku tahu ada raut penyesalan di sudut matanya namun aku tak perduli aku memilih pergi ke kamar dan menumpahkan segala gundahku di sana. aku tak keuar bahkan untuk makan malam saja mbak Reni yang mengantarnya untuk ku.
saat tengah malam aku merasa haus dan berniat mengambil air di dapur namun langkahku terhenti saat mendengar percakapan dua orang di dapur. itu mama dan seorang dokter yang ku temui di rumah sakit saat Azka di rawat. dokter Fritz sepupu jauh dari Azka.
Aku menghentikan langkah saat ku sadari mereka sedang membicarakan hal serius. tentang Keisya yang punya tekanan mental. aku menutup mulutku tak percaya dengan apa yang aku dengar. mama tidak mengatakan padaku jika kondisi Keisya lebih buruk karna tekanan mental yang dialaminya selama lima belas tahun. tubuhku luruh ke lantai. lagi-lagi aku merasa menjadi orang bodoh yang tak tahu apapun. mereka menyembunyikan kenyataan ini dari ku karna tak ingin membuatku tertekan. apa ini juga alasan papa mertuaku begitu posessive pada kami?
Hingga sosok dokter tadi keluar dari dapur dan berlalu ke kamar tamu. beruntung aku bersembunyi di balik tembok yang gelap karna lampu ruangan sudah dimatikan. jadi setidaknya mereka tidak menyadari keberadaanku.
Ku putuskan kembali ke kamar membasuh wajah lalu keluar lagi ke dapur. sengaja aku melakukannya agar mama tak curiga jika aku mendengar percakapan mereka tadi.
Esok hari aku harus menemui Keisya, aku ingin tahu apa benar ia punya tekanan mental atau hanya pura-pura saja?? ah entahlah hati dan pikiranku masih kacau. ku putuskan tidur kembali setelah mengambil segelas air putih.
***
Pagi menyapa mama Hanna tengah sibuk di dapur bersama para asistennya sejak subuh untuk membuat sarapan karena semalam mereka kedatangan tamu spesial yang tak lain adalah dokter Fritz.
"Reni, kamu panggilin anak-anak untuk sarapan, panggil juga keponakan saya Fiz."
"Baik nyonya"
"Pagi ma," sapa Kinara yang sudah datang ke meja makan. tak lama menyusul Azka dan dokter Fritz bergabung untuk sarapan.
"Ma, papa nggak pulang lagi?" tanya Azka seraya memindahkan sayur ke piring.
"Nggak, kerjaan kantor numpuk, belum lagi kondisi perusahaan belum stabil betul"
"Hmm, papa gila kerja amat, udah tua harusnya istirahat lagian ada anak kesayangannya yang bisa gantiin" ucap Azka
"Emang kamu udah siap?"
"Gantiin papa lah"
"No, mending gue buka usaha sendiri daripada nerusin perusahaan papa"
"Kenapa?"
"Ya mau mandiri lah ma, emang nggak boleh?"
"Ya boleh aja, tapi papa udah siapin ini semua buat kamu sama anak istrimu nanti"
"Trus kapan Azka bisa mandiri kalau apa-apa di fasilitasin papa"
"Husst,makan dulu ngomelnya nanti" Tegur Kinara yang berada di sampingnya. diam-diam mama Hanna tersenyum mendengar teguran menantu kesayangannya. tidak salah pilih menantu, kalem tapi tegas.
"Tante, sore nanti aku mau ajak Azka lihat rumah baru yang aku beli dua minggu lalu" ucap dokter Fritz setelah menghabiskan sarapannya.
"Oh ya, dimana?"
"Di kawasan elit yang baru di buka itu loh tan,"
"Oh ya sudah pergi aja lagian ujian udah selesai tinggal nunggu pengumuman kelulusan aja"
"Mama nggak keberatan kan?"
"Woles aja..kamu udah nggak kerja lagi sama bu Faiz?"
"Masih, hari sabtu baru masuk lagi ma"
"Ya udah pergi aja sama Fiz, yang penting bawain mama oleh-oleh"
"Sip lah, Ra kamu mau ikutan?" tanya Azka
"Nggak, gue mau jenguk Keisya" Jawab Kinara lugas. mama, Azka dan dokter Fritz diam seketika mendengar ucapan Kinara
"Kenapa diam? aneh ya?" tanya Kinara santai
"Ah..eng..enggak, mama nggak nyangka kamu mau jenguk Keisya, maaf mama mengira kamu masih marah dengan kami," ucap mama menutupi kegugupannya.
"Sudahlah ma nggak usah di bahas, ya udah aku pamit duluan mau bantuin Aldo soalnya" pamit Kinara
Degh
Air muka Azka tiba-tiba berubah, suapan terakhir hanya melayang di udara lalu jatuh kembali ke piring. Dokter Fritz yang menyadari kondisi sepupunya segera menepuk pundaknya dua kali memberi kode agar dia tenang.
"Azka, mama ikutan deh sekalian mau jalan-jalan. nanti pulang kita singgah jenguk si kembar" usul mama Hanna yang menyadari keadaan.
"Hemm" ucap Azka seraya mengambil tas punggungnya lalu pergi.
"Maaf tan, aku nggak tahu situasinya bakal kayak gini" uca dokter Fritz merasa bersalah
"Udah, kamu nggak salah, tante juga nggak nyangka, semoga semua baik-baik saja"
"Amiin, ya udah tan aku pamit dulu"
"oke hati-hati dijalan"