KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 127



Rintik hujan masih mengguyur bumi sore ini, lalu lalang pengendara hilir mudik meskipun badai tengah menyapa.


Reno duduk di teras cafe bersama Azka yang beberapa waktu ini sering bertemu dengannya. kedua pria dewasa itu sering meluangkan waktu hanya sekedar temu di cafe membahas permasalahan seputar pekerjaan ataupun rumah tangga mereka.


"Mending Lo nurut aja sama dokter Rahma, ke Singapore aja. kalau mau, nanti tinggal di vila om Hermawan sampai istri Lo sembuh atau sampe program hamil nya berhasil" ujar Azka


"Mau gue gitu Ka, tapi Andin kekeuh nggak mau karena takut operasi" balas Reno seraya menyesap kopi


"Kan ada jalan lain selain operasi, atau Lo tegasin aja lah, lagian istri Lo kalau gue liat-liat orangnya keras ya?" seru Azka


"Emang keras, hidupnya sudah banyak luka sejak orang tuanya meninggal, dia hanya hidup berdua dengan kakaknya, mereka saling membahu mencari nafkah untuk menyambung hidup, kehidupan yang keras membuat ia merasa harus kuat meskipun batinnya tersiksa" kata Reno menceritakan kisah hidup istrinya


"Lo sayang banget sama dia ya" kata Azka


"Namanya juga istri harus sayang lah, siapa lagi yang bisa Nerima kekurangan gue kalau bukan dia" balas Reno.


"Bener Lo" tambah azka


"Oh ya Ka, gue pernah dapat undangan aqiqah satu tahun yang lalu dari Keisya tapi baru gue lihat beberapa hari lalu sih, gimana ya nggak enak sih di undang tapi nggak datang" cerita Reno


"Hah? Undangan? Aqiqah anak nya Keisya satu tahun lalu?" tanya Azka terkejut


"Iya, gue baru Nemu undangan nya beberapa hari lalu nggak sengaja jatuh pas gue ambil berkas" jawab Reno


"Lo nggak tahu apa emang nggak tahu?" mata Azka menyipit menatap Reno


"Gue bener nggak tahu makanya gue nanya ke Lo, kalau misal gue datang kesana gimana?" tanya Reno


"Lo nggak nanya ke istri Lo?"


"Nggak berani, nggak tega aja nyakitin perasaan nya"


"Huft ya udah, kalau gitu gue yang cerita, waktu lahiran Keisya sempat koma tiga hari nah aqiqah nya itu pas almarhumah umur 40 hari......"ucapan Azka di potong oleh Reno


"Eits tunggu almarhumah maksud Lo apa ya?" tanya Reno memotong penjelasan Azka


"Anak nya cewek,tapi usia tiga bulan meninggal karena panas dan demam tinggi" jawab Azka


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, terus yang nganterin undangan ke rumah gue siapa?"


"Keisya sendiri, kemungkinan saat itu yang Nerima istri Lo makanya Lo nggak tahu, itu sih praduga gue, karena waktu itu gue sempat dengar obrolan sopir di rumah Keisya kalau mereka ketemu sama teman lama mereka yang kerja di rumah Lo gitu" jelas Azka


"Andin nggak pernah loh curangi aku Ka, kalaupun ada apa-apa selalu ngomong ke aku, bisa aja dia lupa atau gimana, gue mau nanya juga mikir kondisi mentalnya lagi down karena masalah kanker yang di deritanya" Reno berucap seraya menatap langit-langit cafe yang berhias lampu LED warna-warni.


"Masih stadium awal, lebih cepat penanganan lebih baik, gue siap bantu Lo, tapi soal Keisya Lo jangan bahas apapun dah, udah berlalu juga, lagian Keisya juga sudah bahagia dengan kehidupannya, Hanan terlalu baik buat dia, Lo juga baik seandainya Lo dulu nggak kabur hahahaha" cibir Azka


"Anjai Lo...jangan di ingat lagi lah, udah berlalu, meskipun buat gue sampai hari ini masih berkesan, kalau bukan karena gue kabur nggak mungkin juga gue bisa ketemu sama Andin, dan Keisya bisa nikah sama orang yang pernah Lo cemburuin hahahahaa" balas Reno menertawakan Azka


"Anjai masih ingat aja Lo hahahah" seru Azka


"Jelas ingat, kuliah semester dua gais, ingat nggak waktu pertama lihat Hanan penampilan nya kayak gimana, orang begitu aja Lo cemburuin?"tawa Reno menggelegar


"Keisya pernah koma?" tanya Reno terkejut


"Muka Lo perbaiki, kenapa shock gitu?" Azka menyahuti


"Gue nanya beneran anjai" kilah Reno


"Ceritanya panjang nggak bakalan kelar" potong Azka


"Ck Lo mah kebiasaan, terus kenapa Lo cemburu sama Hanan?" tanya Reno


"Abis yang ngurusin Faras istri gue, Hanan pulang kantor sore baru di ambil, gimana gue nggak cemburu, Faras kalau manggil Hanan papa, manggil bini gue mama, pertama manggil gue om, siapa yang nggak cemburu anjai?" kenang Azka menyesap sisa kopinya.


"Hahahahahahah ini parah nih.... Cemburu Lo awet ternyata, padahal Lo tahu sendiri Hanan orang alim mana mungkin juga mau ambil kakak iparnya di jadiin bini kedua hahahah" ledek Reno


"Asem Lo, gue gorok sampai ambil bini gue, wanita termahal setelah emak gue" seru Azka


"Mahal investasi nya hahahah" ejek Reno


"Haha tau aja Lo, nggak nyangka aja ya ren, kita udah kepala tiga separuh, dulu kita masih sering berantem gara-gara rebutan buku, sampai gue berantem dan depresi gara cemburu sama Aldo, inget nggak Lo?" kenang Azka


"Ingat dengan jelas, gue yang misahin kalian, kirain Lo nyadar ternyata malah nyasar, jiwa Lo yang nyasar ke RSJ" ejek Reno


"Hahaha, dan gue juga nggak nyangka kalau secinta itu Keisya ke Lo sampai punya anak dua aja masih ngarepin lo" ucap Azka membuat Reno langsung terdiam. Sudut hatinya tersentil


"Gue juga nggak nyangka sampai Setega itu Keisya ke Hanan" kata Reno setelah terdiam beberapa saat


"Lo tau sendiri dia dulu gimana, seandainya dulu Lo nggak ninggalin dia nggak mungkin juga Lo bisa nyimpan penyesalan selama puluhan tahun sampai telat nikah hahhaahah" ejek Azka.


"Busyet dah Lo, ada aja akalnya nih anak, inget umur pak, kita udah sama-sama tua" cibir Reno


"jujur aja sih, gue bisa ikhlas pas ketemu Keisya di rumah sakit sebulan sebelum gue nikah" kenang Reno


"Lo ketemu? berdua?"


"Nggak, ibu yang pertama kali ketemu Keisya, waktu itu gue sama Andin nganter ibu kontrol ke dokter Agung, pas selesai gue ke toilet dan Andin langsung ke mobil, ibu katanya pamit ke toilet juga, tali ternyata ketemu Keisya di depan ruang tunggu" cerita Reno


"Trus kalian sempat ngobrol?" tanya Azka


"Cuma ibu yang ngobrol, gue cuma minta maaf, jujur aja sesakit itu rasanya berusaha ikhlas, tapi gue plong karena beban penyesalan gue berkurang"jawab Reno


"Dan sekarang? Masih ngarep mau punya bini dua?" tanya Azka menggoda


"Lo aja, gue nggak, kecuali gue mati duluan, bini gue biar cari duda baru" ucap Reno


"Kalau sebaliknya? Lo sama Keisya bisa menyatu di hari tua gimana?" tanya Azka


"Aneh-aneh aja Lo, ya nggak lah" tolak Reno


"Rejeki, jodoh, hidup dan mati siapa yang ngatur? Elo?" seru Azka membuat Reno kesal dan memukul pundak sahabat nya itu.