
Mama berlari ke arah kamar kedua bayi Kinara, memegang kenop dan memanggil Kriting, Reno bergantian. terdengar suara anak kunci berputar, saat akan masuk justru kepala Kriting yang nongol di balik pintu.
"Kenapa tan?" tanya Kriting santai
"Kemana cucu Tante?" berondong mama Hanna kesal.
"Lagi bobok" jawab Kriting santai matanya asyik memindai seluruh ruangan serta satu wanita paruh baya yang ada kemiripan dengan Kinara berdiri memegang sebuah gelas tak jauh dari mereka.
"Itu keluarga datang mau lihat bayi Ting" ucap mama Hanna kesal.
"Maaf Tante, sebelum mereka semua mandi dan di yakini bersih dari bakteri jalanan yang jahat, di larang keras menyentuh bayi apapun alasannya" ucap Kriting dengan nada sengaja di pertegas. mama Hanna melotot pada Kriting, tapi ucapan Kriting memang ada benarnya, mereka semua baru datang dari perjalanan jauh.
"Ya udah jagain mereka, stok ASI ada di kotak warna coklat itu, kalau mereka buang kotoran popoknya ada di samping lemari pakaian, tisu basah dan semua peralatannya ada di situ oke" ucap mama Hanna pelan
"Sip" Kriting mengangguk mantap lalu segera menutup dan mengunci pintu lagi. rupanya Reno juga ikut andil menahan daun pintu agar mama Hanna tidak bisa masuk ke dalam.
"Ting, Lo pernah ngurus pup nya bayi?" tanya Reno sedikit frustasi saat mendengar ucapan mama Hanna tadi.
"Udah biasa, adek gue masih kecil-kecil yang bantu ngerawat dulu gue sama bang Hendi, karena bapak gue sakit-sakitan dan emak gue kerja banting tulang" jawab Kriting santai tapi wajahnya berubah sendu saat mengingat masa suram kehidupannya dulu.
"Maaf Ting, nggak bermaksud nyinggung perasaan Lo" ucap Reno merasa bersalah
"Udah nggak papa, itulah kenapa gue suka anak kecil Ren, karena gue inget adek-adek gue dulu, sekarang mereka udah pada besar dan bisa gantian bantuin bapak sama emak gue kerja cari uang"
"Gue salut, di balik sikap jahil Lo ternyata banyak luka yang Lo pendam" seru Reno
"Emang situ nggak?" sindir Kriting gantian. sontak wajah Reno memucat sejenak lalu berubah seperti semula.
Tok tok tok
"Bukain cepat pintunya Ting, nanti kebangunan anak-anak" titah Reno
"Siapa lagi sih, kalau tamu gue bogem beneran deh" gerutu Kriting.
Krek
"Eh Lo Ka, udah seger, ayo cepetan masuk" Kriting menarik paksa lengan Azka masuk ke dalam kamar. lalu mengunci kembali pintu kamarnya.
"Ngapain di kunci sih?"
"Lo makin gagah udah punya anak Ka, kikikikik" Seloroh Reno terkikik
"Iya dong, Lo juga nggak lama bakalan punya anak" timpal Azka dan Reno hanya tersenyum hambar
"Eh tadi gue nanya kenapa pintu di kunci, tuh keluarga gue mau lihat"
"mereka semua pada bawa bakteri jalanan jadi belom boleh pegang bayi kalau belum mandi, tadi aja kita di suruh wudlu dulu, tuh liat Reno, rambutnya masih basah, keramas dadakan pake sampo pak satpam di kamar mandi belakang kikikikik" cerita Kriting dengan tawa khas nya.
"Astaga, mama nyuruh kalian begitu?"
"Yups" jawab mereka berdua bersamaan
"Pantesan aja gue sama Kinara di suruh perawatan harus kinclong bersih wangi, apaan, tapi emang ada benernya juga sih"
"Oeek oeek"
"Sini anak papa" Azka meraih bayi laki-laki yang menangis dan memangkunya.
"Oekkk oeeek"
Bayi perempuan juga akhirnya ikut menangis Reno dengan sigap meraihnya dan memangkunya, bayi itu langsung diam sedangkan bayi di pangkuan Azka masih terus menangis.
Kriting masih sibuk mencari sesuatu yang sudah di katakan mama Hanna tadi,, yang terlintas di otaknya mereka sedang pup atau buang air kecil atau apalah.
setelah mendapatkan apa yang ia cari, Kriting mendekati Azka dan meminta bayi itu setelah menaruh peralatan bayi di atas karpet.
"Mau Lo apain Ting?" bisik Azka
"Biarin Kriting yang lihat, siapa tahu anak Lo lagi pup makanya nangis" sahut Reno
"Emang Lo bisa ngurus bayi?" tanya Azka tak percaya
"udah jangan banyak omong, mau Lo di marahin mama, pada akhirnya kamar ini penuh sesak?" celetuk Reno membaut Azka diam lalu menyerahkan bayinya pada Kriting.
Dengan telaten Kriting membuka bedong bayi dan bajunya, matanya berbinar saat popoknya ia buka.
"Tuh kan apa tadi papa Ting Ting bilang, kalau anak ganteng papa pasti pup" Kriting mulai berbicara pada bayi itu.
"Cup cup cup, anak papa ganteng, berani, setroong, nggak boleh nangis, papa bersihin dulu pup nya sayang"
Azka di buat melongo dengan tingkah Kriting yang langsung akrab dengan bayi nya, dan bayi itu langsung terdiam saat mendengar suara Kriting berceloteh. Reno masih tertawa pelan melihat tingkah penasaran Azka yang sudah tingkat dewa.
"Lo bisa ngurus bayi Ting?" ucap Azka kemudian
"Iyalah, udah terbiasa, didikan emak gue" sahut Kriting dengan terkekeh.
"Lah ntar ajarin gue yah"
"Sip lah,yan penting bayarannya kikikikik"
"Dengkul mu ...." sahut Reno menimpali.
"Ka, siapin botol ASI-nya dulu, bisa kan?" titah Kriting
"Nggak" jawab Azka
"Astaghfirullah, pinter bikin anak tapi ngerawat aja kagak bisa hadeeuuh" gerutu Kriting. "Ntar gue ganti dulu popoknya, biar gue yang kerja"
Azka memperhatikan dengan baik bagaimana Kriting merawat anaknya mulai dari melepas popoknya, hingga memasangkan kembali baju dan bedongnya, dan bayi itu langsung tenang dengan mata yang mengerjap-ngerjap. Kriting menyerahkan bayi itu pada azka lalu beralih menyiapkan botol ASI-nya.
"Lumayan banyak juga stok nya," gumam Kriting seraya memilih botol ASI.
"Ren ini mulutnya kicap-kicap mau ngapain?" tanah Azka bingung melihat bayinya yang memang sedang haus
"Nih, di minum anak papa, bismillahirrahmanirrahim baca doa dulu, anak baik, biar nggak di ganggu setan" ucap Kriting menaruh ****** dot pada mulut bayi.
Mereka bertiga akhirnya tertawa melihat bayi itu dengan gemasnya meminum ASI.