
"Loh ayah bawa apa itu?" tanya Keisya begitu ayahnya tiba membawa sekeranjang ikan hasil tangkapan dan ubi jalar.
"Ini ikan tangkapan Bintoro tadi malam, biar ayah yang bersihin, kamu bersihkan ubi jalarnya baru di rebus ya" jawab ayah
"Oke, banyak banget yah, bukannya ayah tadi ke pematang sawah bukan ke kebun kan?"
"Iya ke pematang sawah ngambil gogoh, tapi ketemu sama Gus Rohid bawa ubi, kami barter sebagian ubi sama ikannya"
"Oh gitu"
Keisya berbalik masuk ke dapur membawa keranjang ubi sedangkan ikan ia sisihkan di baskom untuk di bersihkan. tuan Wibowo mengasah pisau terlebih dahulu sebelum membersihkan ikan-ikan hasil tangkapan semalam.
"Yah ini ikannya di sini ya," kata Keisya menaruh ikan di atas tempat persegi yang terbuat dari semen
"Iya" jawab ayahnya lalu berbalik dan memanggil Keisya kembali
"Kenapa yah?" tanya Keisya
"Udah ada kabar dari Bintoro?" tanya tuan Wibowo
"Oh iya lupa, anaknya udah lahir yah perempuan, tadi nelpon waktu ayah ke sawah" jawab Keisya
"Alhamdulillah, ya udah nanti sore kita kesana silaturahmi sekalian nanti kamu belanja di warungnya Bu Sabar ya buat oleh-oleh"
"Iya yah"
Sementara itu di kediaman Gus Rohid, umi Tin tengah kesal karena sang suami selalu membawa apapun dari rumah tuan Wibowo setiap kali mereka bertemu.
"Bu ap salahnya toh kita memberi juga menerima, kita tetangga, bukannya berbuat baik pada tetangga itu kewajiban setiap orang, kenapa ibu harus marah cuma gara-gara begini?" ucap Gus Rohid membela diri
"Ibu sungkan pak, harus berapa kali ibu bilang, jangan terima apapun dari pak Wibowo, mereka itu orang kaya, kita ini siapa toh pak, bapak cuma imam desa, sedangkan dia jutawan" kilah umi Tin kesal
"Masalah seperti itu nggak usah di perbesar Bu, wong kita ini tenggang rasa sesama tetangga apa ya nggak boleh?"
"Terserah lah pak, ibu Bener-bener malu, merasa rendah berhadapan dengan keluarga mereka"
"Jangan pernah bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain Bu, ingat itu"
"Terserah sampean ae pak"
"Kalau suatu saat Hanan benar-benar serius dengan Keisya bapak cuma berharap ibu buang jauh-jauh rasa rendah diri itu, jangan pernah bandingkan kekayaan mereka dengan keluarga kita, mereka kaya tapi rendah hati, dan itu langka" Gus Rohid berlalu dengan perasaan kesal
Sedangkan umi Tin tetap diam sambil menatap ikan-ikan di ember yang masih hidup semuanya.
"Apa mending masukin ke kolam belakang aja ya, biar ada isinya, lagian airnya juga jernih, tapi kok ya nggak ada lauk butmat makan siang nanti sama malam, ya udah lah dua aja ku masukin ke kolam sisanya di masak" batin umi Tin meriah baskom bersih untuk memindahkan ikan-ikan yang akan di masukkan ke kolam. belakang rumah.
****
"Vi, mas minta maaf, mau sampai kapan kamu marah terus sama mas Vi?" rayu revan pagi ini sebelum pergi ke kantor
Deg
"Nggak, sampai mati pun aku nggak akan ceraikan kamu Vi, kita nggak akan pernah berpisah ada atau tidak ada anak, plis maafkan mas Vi, mas benar-benar salah sudah mengkhawatirkan kamu terlalu berlebihan" ucap Revan dengan tangisnya
Lutfiah berkali-kali menghirup udara dengan rakusnya, sudah sejak semalam ia juga ingin berdamai, tapi entah kenapa rasa kesal itu masih selalu ada, dan tidak biasanya dia seperti itu, semarah apapun ia pada Revan sejak masih pacaran dulu, Lutfi selalu menekan egonya dan selalu mementingkan perasaan nya juga perasaan Revan. tapi kali ini ia benar-benar ingin marah tanpa sebab pasti meskipun sang suami sudah meminta maaf berkali-kali.
"Sudahlah mas, untuk seminggu kedepan aku bakalan pulang ke solo karena bapak sakit dan ibu kelelahan kalau harus menjaga sendiri. mbok Arum yang bakal ngurusin keperluan mas selama seminggu, untuk sementara jangan ganggu, aku benar-benar ingin rehat sejenak mas, udah terlalu capek, mengertilah " ucap Lutfiah pada akhirnya dan berlalu meninggalkan Revan yang masih terdiam di tempatnya.
Revan menatap nanar kepergian sang istri hingga mobil yang di kendarai Lutfiah benar-benar menghilang.
"Untuk seminggu ya, ini udah 20 hari Vi kamu diamin mas" batin Revan sedih.
"Den, ini tasnya" ucapan mbok Arum menyadarkan Revan dari lamunannya dan menoleh pada sang asisten rumah tangganya yang selama ini sudah setia mengurus segala keperluannya dan istrinya.
"Makasih mbok, nanti malam nggak usah masak ya, aku mau nyusul Vivi ke Solo, apa mbok sudah tahu?"
"Sudah den, semalam nyonya sudah pamit mau ke Solo, apa kalian masih bertengkar den? maaf kalau mbok salah ucap"
"Nggak papa mbok, Lutfiah itu realistis jika merasa dirugikan ia akan marah sampai entah kapan, nanti mbok siapin aja keperluan saya untuk ke solo nanti malam"
"Yang namanya rumah tangga banyak ujiannya den, ini baru permulaan sampean yang kudu banyakin sabarnya, jangan sekali-kali buacra kasar pada istri"
"Iya mbok makasih nasihat nya, ya sudah saya pergi dulu"
"Iya Den, hati-hati"
***
"Vi, mau sampai kapan sih Lo marah gitu sama laki Lo kasihan tauk" omel Vira saat mereka tengah di kantin
"Biarin aja, jadi orang egois banget"
"Ya Lo harus ngerti juga dong, dia khawatir Lo pergi ke Kalimantan seminggu cuma berdua sama gue, gimana nggak khawatir" nasihat Vira.
"Ck, jangan bahas dia kenapa sih? males banget gue dengerin"
"Aneh banget sih Lo Vi, barusan deh gue lihat Lo kayak gini, dulu aja masih pacaran biar ngambek Lo nggak sampai selama ini, dari dulu juga dia tahu kerjaan Lo, bedanya sekarang Lo resmi istri sahnya, jadi wajah kalau dia khawatir, Lo malah kayak gini" cecar Vira yang juga ikut kesal dengan tingkah sahabatnya beberapa Minggu ini.
"Apa jangan-jangan Lo hamil? lanjut Vira membuat Vivi langsung mendelik tajam padanya.
"Jangan sembarangan Lo ngomong" tegur Vivi kesal
"Ya bisa jadi Vi, orang hamil itu mood nya gampang berubah-ubah, ya siapa tahu emang Lo hamil tapi nggak peka"
"Kalau gue bilang nggak ya enggak vir, jangan ngaco deh Lo"
"Terserah" ucap Vira kesal dan berlalu meninggalkan sahabatnya sendiri di kantin.