KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 131



Iringan jenazah melewati jalanan terjal masuk ke sebuah desa asal almarhumah lahir. Mobil jenazah sampai di depan rumah kayu yang sudah nampak reot dan termakan usia.


Nampak para pelayat yang memang orang di desa tersebut sedang menunggu kedatangan jenazah.


Seorang wanita tua berpakaian lusuh menyambut di depan pintu dengan tangisan yang menyayat, di sampingnya berdiri seorang wanita dengan seorang anak dalam gendongannya.


Beberapa orang pria membantu menurunkan jenazah dan membawa masuk ke dalam rumah.


Reno, Dimas dan Arkan masuk ke dalam rumah dan menyalami wanita tua yang tak lain adalah Bulik (Tante) dari Andin. Andin dan almarhumah kakaknya adalah yatim-piatu sejak mereka masih kecil, dan Bulik dari pihak ibu nya lah yang merawat Andin dan kakaknya sejak orang tua mereka meninggal.


Rumah yang mereka tempati inilah rumah satu-satunya peninggalan orang tua Andin. Karena Bulik nya juga seorang janda maka rumah ini di berikan pada Bulik nya setelah ibu Andin menyusul sang ayah meninggal dunia.


Isak tangis keluarga mereka mengisi ruangan kecil yang hanya berukuran 3x4 meter itu. Reno duduk di samping jenazah sang istri dengan mata sembab. sedangkan Dimas dan Arkan membantu para pria menyiapkan perlengkapan jenazah di bimbing oleh seorang alim di desa itu.


Kedatangan Azka dan ketiga sahabatnya menghebohkan warga yang melayat. Iringan mobil terparkir di sisi jalan desa yang berbatu.


Azka masuk ke dalam rumah dan memberikan pelukan hangat pada Reno.


"Gue jadi nyesal pernah ngomong ke Lo bakalan balikan sama Keisya di hari tua" ucap Azka pelan di telinga Reno.


"Doa Lo jelek, kenapa gue selalu menyesal di akhir cerita?" ucap Reno terisak.


"Sudah garis Tuhan, Tuhan pengen Lo belajar ikhlas menerima takdir" kata Azka mengusap bahu sahabatnya.


Menjelang tengah hari jenazah baru di kuburkan. Beberapa pelayat yang ikut mengantar sudah pulang ke rumah masing-masing.


Bulik Atun dan Puput serta suaminya sudah pulang terlebih dahulu setelah sebelumnya meminta Reno untuk ikut pulang.


Reno kekeuh tak mau pulang karena berat meninggalkan pemakaman. Beribu-ribu penyesalan ia rasakan kini.


Tiga bulan lalu saat Andin masuk ruang operasi ia meminta satu hal padanya, hanya untuk mengatakan bahwa ia mencintai Andin dan anak mereka. Bahkan Andin berwasiat agar sang anak di beri nama yang sudah ia siapkan untuk sang anak.


"Kenapa harus Keisya?" ucap Reno tergugu. penyesalan nya akan masa lalu dan kehilangan Andin adalah hal terberat yang ia lalui.


Azka, Aldo, Beno, Fikar, Dimas dan Arkan menemani Reno hingga pria berusia tiga puluhan itu mau berhenti menangisi nasibnya.


Tepat setelah bunyi Iqamah, Reno beranjak dan berjalan lebih dulu melewati kedua adik dan sahabatnya.


"Kalau bukan kita siapa lagi yang bakalan ngasih wejangan? Kita mau disini sampai tujuh harian?" tanya Aldo menyenggol pundak Azka


"Iya, gue udah pamit nyonya besar mau liburan panjang sama kalian di Gunungkidul lima belas hari. kita pulang selesai tujuh harian" kata Azka


"Tahu, tapi siapa yang bakalan ngurusin anak-anak juga perusahaan kalau dia ikut kesini? udah tahu anak-anak gue super rempong, makanya emaknya malas kalau gue ajak pergi berduaan" Seloroh Azka.


"Siapa suruh punya anak kembar enam, nggak sekalian nambah sepuluh lusin" cibir Fikar.


"Istighfar Lo, anak urusan Tuhan, bukan mau gue, gue sumpahin anak Lo lahir kembar sepuluh, Cici lagi hamil kan?" balas Azka.


"Eh busyet, satu aja gue udah tepar ngurusin, apalagi mau sepuluh, ogah, amit-amit kayak gimana body istri gue lahiran anak sepuluh?" kata Fikar membuat semuanya tertawa.


Mereka semua berjalan beriringan, saling melempar candaan, dan sesekali Reno tersenyum mendengar celotehan adik dan sahabatnya.


Sampai di rumah, Reno terkejut karena ibunya juga sang perawat sudah ada di rumah. Dua hari perjalanan dari Singapura ia pikir ibunya akan memilih tinggal di Jakarta lebih dulu, justru malah menyusul Reno ke desa yang jauh dari hiruk-pikuk kota.


Desa yang masih terbilang asri meskipun tak jauh dari kabupaten kota. perjalanan dari Singapura- Jakarta sampai ke desa tempat asal Andin menempuh waktu satu hingga dua hari perjalanan darat.


"Jadi ibu naik helikopter kesini?" tanya Reno


"Iya, itu anak buah Dimas katanya naik pesawat ke Jakarta, ternyata sampai di bandara Soetta langsung naik jet kesini. Ibu baru sempat bernafas Ren, untung Dira nggak rewel" cerita Bu Fitri.


"Ya sudah ibu istirahat dulu di dalam kamar" ucap Reno


"Ren, kamu tidur dimana? Terus mereka semua juga gimana?" tanya Bu Fitri menunjuk kedua anak kembarnya juga keempat sahabat Reno.


"Maaf Bu Fitri, kalau rumah kami tidak layak, tapi jangan kuatir, anak saya Puput sudah menyewa rumah pak kyai yang tidak di tempati untuk tempat tinggal sementara nak Reno dan kawan-kawan nya." ucap Bulik Atun menjawab pertanyaan Bu Fitri.


Bu Fitri merasa bersalah telah mengatakan kekhawatirannya, padahal ia sendiri juga berasal dari desa yang jauh.


"Ya Allah Bu Atun, maaf sudah merepotkan, terimakasih kami di terima disini dengan baik" ucap Bu Fitri memegang tangan besannya.


"Sama-sama, saya dulu hanya berharap dua keponakan saya bisa hidup bahagia, tapi ternyata takdir berkata lain" ucap wanita tua itu dengan mata berkaca-kaca.


"Almarhum ibu Andin adalah adik kandung saya, dia juga meninggal dunia sama persis dengan apa yang Andin alami, kanker rahim. setelah kedua orangtuanya tidak ada sesuai wasiat saya pindah kerumah ini dan meninggalkan rumah saya untuk menjaga dan merawat anak-anak dari adik saya" cerita buli Atun mengalir begitu saja. meski baru dua kali bertemu Bulik Atun, tapi Bu Fitri tak pernah tahu apa yang pernah terjadi di keluarga menantu nya itu.


"Usia berapa menantu saya dan kakak nya kehilangan kedua orang tuanya Bu?"


"Saat itu Andin kelas enam SD dan Hanum kakaknya kelas dua SMP. Anak saya Puput saat itu kelas empat SD. Suami saya dan bapaknya Andin meninggal bersamaan di tempat yang sama karena kecelakaan kerja" cerita Bulik Atun


"Lalu ibunya Andin, meninggal setahun kemudian karena kanker rahim, kami dulu tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit, sebulan sejak adik ipar saya meninggal kondisi Rukmini semakin memburuk, kami hanya bisa membeli obat warung saja untuk menahan sakit nya. Saat itu ada seorang wanita yang hendak menolong Rukmini dan membawanya ke kota untuk berobat tapi dia menolak dengan alasan tak bisa membayar hutang, padahal itu semua biaya di tanggung gratis dari pihak perusahaan tempat almarhum adik ipar saya kerja." lanjut Bulik Atun.


Reno yang mendengar cerita Bulik Atun juga tak kuasa menahan tangisnya. setelah kepergian Andin barulah ia rasakan penyesalan yang sama seperti yang pernah ia rasakan bertahun-tahun lalu.