
"Tunggu....apa kau mengenal salah satu korban?" Tanya Yusuf
Deg
Riko diam seketika
"Apa kau mengenal salah satu dari mereka?" tanya Alex
"I...iya pak"
"Siapa?" tanya 3 sekawan itu berbarengan
"Gadis itu... gadis itu saya mengenalnya"
Ketiga nya saling memandang satu sama lain, pak Denias memberi kode pada Alex setelah itu berlalu meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan Yusuf, Alex dan Riko.
"Katakan sejujur nya apa kau memang benar mengenal gadis ini atau tidak!" Ucap Alex tegas.
"Atau aku mengatakan pada pak Bagas semua kedokmu saat ini juga!" tambah Yusuf
"Maaf pak, saya mengatakan yang sebenarnya" ucap Riko dengan keringat dingin.
"Tadi kau mengatakan tidak mengenal gadis ini lalu sekarang??" Bentak Alex seraya menunjukkan foto Keisya.
"Maaf pak apa boleh saya bertanya?"tanya Riko. sejak tadi ia merasakan hal aneh saat melihat foto Keisya. ada rasa penasaran apalagi ini menyangkut Anthony.
"Katakan" Ucap Yusuf seraya membuang puntung rokok di asbak
"Ada hubungan apa Kinara dan Anthony? apa maksud bapak dengan keponakan pak Denias?" tanya Riko
haah...
Alex menghela nafas lalu menyenderkan punggungnya di sofa seraya melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai sandaran. dan kali ini Yusuf mengerti kemana arah pembicaraan Riko.
"Kau mengenal Kinara?"tanya Yusuf setelah mendapat kode dari Alex.
"Iya pak"
"Sejak kapan?" tanya Alex dengan mata tertutup dan pada posisi yang masih sama.
"Sejak 6 tahun lalu saat itu saya masih kelas XII"
"Apa kau sering bertemu dengannya?"
"Hanya beberapa kali tanpa sengaja beberapa bulan sebelum saya ke luar negeri."
"Baiklah saya rasa cukup. bersiaplah untuk besok" Ucap Alex lalu meninggalkan ruangan di ikuti oleh Yusuf dan Riko setelahnya.
"Jangan katakan pada siapapun kalau kau mencintai gadis itu dan jangan pernah usik hidupnya jika kau masih sayang nyawamu." bisik Yusuf saat Riko hendak memasuki kamar yang ia tempati. setelah mengatakan itu Yusuf segera berlalu dengan senyum mengembang. Riko masih tertegun di tempatnya ucapan telak Yusuf membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak tak karuan. ada apa ini? bagaimana bisa pak Yusuf tahu segalanya? apa hubungan Anthony dengan Kinara?batin Riko gelisah.
🍂🍂
Sedan mewah memasuki halaman rumah setelah satpam membuka gerbang tepat pukul 03.00 dini hari.
"Loh papa baru pulang? mama siapin air anget ya?" tawar sang istri saat melihat suaminya memasuki kamar.
"Gak usah ma, papa mau langsung tidur aja, besok minta Sean dan Azka menemui papa di ruang kerja sebelum ke kantor."
"Oke. sini peluk mama"
"Iishh mama deh papa mau istirahat dulu"
"Hahahaaa " mama Hanna tertawa melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil.
kriiing kriiing kriiing
Kinara terjaga begitu mendengar suara alarm berbunyi.
"Udah jam 3 rupanya" gumamnya seraya melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Loh mas kamu......" Kinara terkejut saat keluar dari kamar mandi melihat Azka sudah siap dengan setelan koko dan sarung serta peci.
"aku tadi di kamar mandi bawah" jawab Azka sambil merentangkan dua sajadah. ada rasa hangat yang menjalar di hati Kinara melihat sikap Azka tanpa di sadari senyum terbit di bibir mungilnya.
"Maafin aku" ucap Azka terbata setelah selesai sholat ia berbalik menghadap Kinara.
"Buat?"tanya Kinara
"Aku udah nyakitin kamu terlalu jauh" kali ini Azka terisak dengan kepala menunduk
"Kamu nangis mas?"tanya Kinara memegang pundak Azka lalu memeluknya.
"Mas gak sepenuhnya salah, justru disini harusnya aku yang minta maaf karna gak pernah jujur sama kamu dari awal, aku hanya masih butuh waktu untuk menerima semua yang terjadi pada kita mas, meskipun masa lalu ku hadir diantara kita bukan berarti aku akan mengulang itu kembali, kenapa? karna ada hati yang harus aku jaga, meskipun ikatan ini kita awali dengan keterpaksaan aku tetap harus ikhlas menerima dan menjalaninya. ikatan ini tak akan ada yang bisa melepasnya sampai kita kembali ke pangkuan Ilahi. Maafin aku yang belum sempurna ini mas, kita sama-sama belajar memahami satu sama lain"
Kinara mengurai pelukannya di tatapnya sang pemilik mata biru itu, entah siapa yang lebih dulu memulai, kini mereka saling berbagi meski hanya sebatas wajar.
"Hmm hadiah? apa?" tanya Kinara
"Hak ku.. aku meminta hak ku sepenuhnya" jawab Azka di sambut anggukan oleh Kinara.
"Yees!!" Azka berucap girang. Kinara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Azka yang seperti anak kecil mendapat mainan baru.
"Hari ini aku mau latihan terakhir sebelum pentas besok, mas mau temenin aku latihan nanti?" tanya Kinara seraya merapikan semua alat sholat.
"Hmm di liat nanti lah, si Nana kemarin juga ngomong mau latihan juga hari ini sekalian gladi sebelum tampil besok"
"Ya udah deh, gimana kerjaan kamu di kafe? sebentar lagi kita ujian"
"Kafe baik-baik aja, Bengkel juga lancar, bos di tempat kerjaku orang nya fair banget, aku belum minta cuti tapi mereka udah ngasih aku lampu hijau duluan."
"Emang siapa yang punya?"
"Pak Sindu yang punya bengkel, terus istrinya yang kelola kafe, kasihan mereka enggak punya anak" cerita Azka mengingat kedua bosnya yang super baik.
"Mudah-mudahan doa mereka di ijabah Allah cepat punya momongan amiiin"
"Amiiinn" ucap Azka seraya memandang perut sang istri yang tertutup piyama " sebentar lagi akan ada Azka kecil di perut itu, sabar dulu tinggal beberapa bulan lagi" batin Azka mengelus dada.
"Mas kenapa? ada yang aneh?" tanya Kinara
"E..eh enggak apa-apa kok..." Jawab Azka sekenanya padahal malu sedang ngehalu.
🍂🍂
"Azka papa mau tanya dan papa minta kamu jujur" ucap Pak Anderson. disinilah mereka sekarang di ruang kerja papa. sesaat sebelum sarapan mama sudah meminta Sean dan Azka untuk menemui papanya setelah sarapan.
"Sip!" jawabnya
"Apa benar Alexa pernah menemui Kinara saat di rumah sakit?"
"Darimana papa tahu?" Azka bertanya balik
"Justru papa yang harusnya bertanya kenapa kamu gak ngomong sama papa soal ini?" ucap papa tegas
Azka menghela nafas berat, ia menoleh sebentar menatap sang kakak yang duduk di samping nya lalu kembali menatap papa.
"Dia nyamar pa, awalnya aku gak curiga tapi saat melihat sorot matanya aku curiga dan menghubungi dokter Arif melalui pesan Whatsapp untuk mengecek cctv. dan ternyata benar Alexa menemui Kinara dan mengancamnya. Waktu itu Aldo juga sempet curiga kenapa ada perawat lain masuk lagi ke ruangan Kinara padahal baru beberapa menit seorang perawat keluar dari sana. sebenarnya Aldo yang lebih dulu melihat pa karna mau ambil peci di ruangan Kinara dan Aldo juga sempet nguping."
"Apa nenek tahu?"
"Tidak, hanya kak Varo saja yang tahu karna kak Varo juga gak sengaja melihat Alexa di depan rumah sakit"
"Jadi maksud lo Varo sengaja buntutin Alexa?" tanya Sean
"Iya bener" jawab Azka dan papa manggut-manggut saja tanda mengerti.
"Aldo kenal dengan Alexa?" tanya Sean
"Hmm gimana ya ngomong nya??" Azka berucap seraya menggaruk tengkuknya.
"Papa nanya langsung sama Aldo deh, takut salah ucap ntar malah jadi fitnah" lanjut Azka.
"Mana rekaman cctv yang kamu ambil dari rumah sakit?"tanya papa
"Nih di tas, papa ambil aja tapi flashdisk aku balikin hehehe" Jawab Azka seraya mengambil flashdisk dalam tas lalu menyerahkan ke papa.
"Duit bokap lo banyak" Gurau Sean
"Itukan punya papa lo bukan punya gue kali," balas Azka
"Ya sama aja fernandez itu juga kan buat lo" timpal Sean memukul dahi adiknya
"Iiuuuh lebih berharga duit jerih payah gue dari pada minta sama bokap lo eiigeee"
"Papa lo kerja kan juga buat lo ogeb, masa depan lo"sanggah Sean
"Waah makasih papa...makin sayaaang deh" balas Azka sengaja di buat mendayu-dayu
"Bisa gak sih kalian sehariiiiiiii aja gak ngoceh kayak beo??"tegur papa melihat kedua anaknya yang tidak pernah akur
"Hehehehe...kalo gak gitu katanya enggak mesra pa xixixi" Ujar Sean seraya merangkul pundak adiknya.
"idiiih kalau mau belok ke kiri jangan ngajakin gue dong... punya gue masih ori" sungut Azka
Pak Anderson hanya geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya. "Apa cara gue bikin mereka dulu salah ya? kayak bukan keturunan IQ gue!" batin pak Anderson
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 cara bikin apa yang salah Mr.Anderson??