KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
70 Kamu Memang Menawan



"Den, den Azka bangun udah sore, kalian nggak pulang?"


aaaaarrgggghhhh


Mang Jaja terkejut mendengar Beno meraung dalam tidurnya, ia mundur beberapa langkah kebelakang, memasang ancang-ancang jika ada hal mendesak terjadi karna sekolah ini sejatinya di kenal angker oleh orang terdahulu karna tanah bekas perkebunan peninggalan belanda. bahkan warga sekitar sekolah juga banyak yang sering melihat penampakan tak kasat mata saat melintasi sekolah ini pada malam hari.


Baru akan bersiap memasang kuda-kuda, rupanya Azka terbangun karna mendengar teriakan Beno yang melengking.


"Woooooii...." Azka memukul dahi Beno menggunakan peci beberapa kali hingga Beno terbangun.


"Ck apa sih Ren ganggu gue aja lo" ucap Beno masih setengah sadar.


"Woiiii anjir gue Azka bego... bangun lo dasar kebo" bermacam umpatan ia lontarkan sembari menggoyang tubuh gempal itu.


"Eh...mang Jaja, dari tadi?" tanya Azka yang menoleh ke arah mang Jaja.


"Haduuh den, nih temennya bikin jantung mamang hampir lompat, teriak kenceng banget kayak si kunti" ucap mang Jaja mengelus dada.


"Mamang dari tadi?" tanya Azka sekali lagi


"Iya atuh den, mamang bangunin dari tadi, ini udah sore gerbang mau di tutup, mamang juga mau pulang"


"What? jam berapa sih sekarang mang?" tanya Azka terkejut


"Jam tiga lewat seperempat sore den"


"Apa??" Azka berteriak histeris membuat Beno bangun langsung pasang badan.


"Ehh mana...mana orangnya sini gue hajar" ocehan tak bermakna keluar dari mulut Beno membuat mang Jaja dan Azka terpingkal-pingkal.


"Lo mau perang sama mbak kunkun?" ledek Azka.


Beno duduk bersila mengatur nafasnya, sesekali menoleh ke kiri kanan memastikan sesuatu.


"Tumben kok udah sepi sekolah, baru juga masuk jam terakhir" Beno mendumel


"Ya iyalah ini udah hampir jam lima ogeb, lo tidur kayak kebo, untung aja ada mang Jaja yang datang bangunin, kalo nggak mau sampe besok pagi lo tidur di emperan mushola sama mba kunkun hahahaa" ledek Azka.


"ahh boong lo pedes amat mas, emang jam brp sih mang?" tanya Beno menatap mang Jaja


"Setengah empat sore den"


"Busyeet, gue mangkir lagi, om Rudi bakalan marah dong," gerutu Beno sembari membenarkan seragamx yang sedikit berantakan.


"Ya udah buruan pulang, ambil tas di kelas" ucap Azka


"Kelas belum di kunci kan mang?" tanya Beno


"Sudah atuh, sini bareng aja sekalian mamang juga mau cek lab komputer dulu" jawab mang Jaja.


"Gimana ceritanya sih lo ninggalin Azka di sekolah Do?" cecar Sean lewat sambungan telepon.


"Gue kira udah pulang duluan, soalnya selesai ujian praktek gue udah nggak liat Azka di sekolah kak"


"Haduh ya udah lo susulin aja ke sekolah mumpung masih sore" titah Sean


"Oke Bosss"


"Mana nggak ada mang ojek lewat jam segini" oceh Beno saat mereka sudah di gerbang sekolah. mang Jaja dan Asep sengaja di minta Azka untuk menemani mereka hingga dapat tumpangan.


"Hayuk mamang anter aja den, lagian kita kan searah" usul mang Jaja


"Iya Den, motor juga ada dua biar kami antar bareng-bareng sekalian" ucap Mang Asep menyetujui usul temannya.


"Nggak usah mang ngerepotin bentar lagi jemputanku dateng kok"


"Ya udah mamang temenin sampe dateng jemputannya".


**


"Ma, jadi nggak kita belanja?" tanya Kinara


"Hem weekend sayang, mama baru dapet kabar kalo nenek Handoko sama Kakek mau dateng nginep disini, jadi sekalian aja kita belanja hari sabtu karna minggu siang mereka tiba" jawab mama Hanna yang sibuk mengoles selai pada kue buatannya.


Mama Hanna memandang sejenak sang menantu yang tengah mencicipi kue hasil buatannya.


"emm ini enak banget ma, mau dong di ajarin caranya buat" ucap Kinara dengan mulut penuh


"Apa sih yang nggak buat kamu" goda mama Hanna, "oh ya Ra mama boleh ngomong nggak?" lanjutnya hati-hati.


Kinara mengeryit heran menatap mama Hanna penub selidik "ngomong aja sih ma, ngapain pake pamit" ucapnya kemudian


"Mama ngapain minta maaf?"


"Ya karna mama punya andil juga di dalamnya" ucap mama Hanna lirih


"Maksud mama apa sih aku nggak ngerti"Kinara mengeryit heran dengan ucapan mama Hanna


"Azka punya trauma masa kecil Ra,"ucap mama Hanna menunduk menahan air mata yang hendak jatuh teringat masa kelam itu.


"Maksud mama gimana, ya udah kita ke kamar aja deh ma biar lega, kuenya biar di lanjutin sama mbak Reni" ucap Kinara menahan gugup detak jantungnya. perasaannya mendadak tidak enak, apa ini ada keterkaitan dengan aksi Azka mencoba bunuh diri waktu itu.


Setelah memanggil mba Reni dan memintanya melanjutkan kue buatan mama, Kinara mengajak mama Hanna ke kamar utama.


"Mama bisa cerita apapun sama Kinara tentang Azka, karna aku istrinya, aku bakal dengerin semuanya ma" ucap Kinara saat mereka sudah ada di dalam kamar.


"Makasih ya nak, kamu sama dengan almarhumah ibu kamu, pengertian banget"


"Mama deh... ya kali aku mirip kak Rania, kan bukan satu produk hehehe"


"Kamu ini ada aja"


Mama Hanna mulai bercerita dari awal mereka kehilangan Keisya dan awal perjanjian antara kedua orang tua tentang perjodohan Kinara dan Azka seperti wasiat mendiang nyonya Amina hingga trauma mendalam yang dialami Azka saat kecil yang menyebabkan adiknya Rafka meninggal. serta depresi akut yang di alami mama Hanna hingga bertahun-tahun setelah kejadian mengenaskan yang terjadi pada keluarga mereka karna ulah Anthony kala itu.


Mama Hanna bercerita hingga runtut tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Kinara yang mengetahui kenyataan itu hanya bisa terdiam. hatinya menangis namun air mata tak satupun menetes. mungkinkah hatinya telah lelah?? entahlah.


"Ra, mama minta satu hal sama kamu, tetap di sisi Azka apapun yang terjadi jangan tinggalin dia, maafin mama yang udah nyembunyiin masalah ini dari kamu selama ini, mama hanya belum siap dan mama takut kehilangan kamu, mama takut kehilangan Azka"


"Udahlah ma, nggak perlu minta maaf juga ini bukan salah siapapun, mungkin ini sudah jalan takdir yang Allah swt gariskan sebagai pembelajaran hidup kita, sekarang aku ngerti kenapa sikap Azka sering berubah-ubah, coba sejak awal mama cerita mungkin kami bisa lebih mengakrabkan diri sejak dulu. aku nggak bisa menjanjikan apapun sama mama, tapi atas izin yang maha Khalik aku akan berusahan semampuku memenuhi keinginan mama"


"Dari kecil ibu selalu bilang jadi perempuan itu harus sabar dan nrimo, meski mungkin sulit untuk di jalani tapi di situlah cara Allah swt mendidik kita untuk belajar ikhlas, mungkin ini takdir yang sudah tertulis, kita saling di jauhkan dengan beragam masalah lalu di pertemukan dengan masalah baru, aku yakin semua akan ada hikmahnya, mama yang sabar ya"


" Makasih sayang, kami nggak salah menjodohkan kalian semoga saja kalian berjodoh dunia akhirat amiiin"


"Amiiin".


"Assalamualaikum mamaaaa maaaa" suara Azka terdengar dari arah ruang tamu.


"Tuh anak kebiasaan banget" mama menggerutu sembari menghapus sisa air mata di pipinya kemudian melangkah keluar.


"Apa sih Ka?"


"Kinara udah pulang?" tanya Azka tanpa babibu


"Gue di sini, ngapain?"


"Ooh begini kelakuan lo, kenapa nggak pulang kerumah bokapnya Aldo aja, ngapain lo pulang kesini?"


"Azka" mama membentak tanpa sadar karna tersulut emosi mendengar ucapan sang anak yang memojokkan Kinara.


"Ma, udah" ucap Kinara pelan memegang lengan mama Hanna.


"Azka denger mama, kalau kamu masih mau di hargain di rumah ini, tolong hargai mama, hargai juga Kinara dia itu istri kamu, jangan seenaknya kamu bicara seperti itu di hadapan mama dan Kinara" ucap mama marah lalu pergi meninggalkan Azka yang masih mematung.


"Aku nggak tahu ya harus ngomong gimana sama kamu mas, tiap hari kamu selalu ngajak aku ribut hal sepele, dan sekarang kamu malah nuduh aku yang nggak aku lakuin sema sekali sama kamu selama ini, kalau kamu masih menghargai pernikahan kita, jaga sikap kamu di hadapan mama, atau aku yang akan pergi dari hidup kamu dan keluargamu selamanya"


"Ra, bukan gitu maksud aku" ada nyeri di sudut hati Azka mendengar ucapan sarkas Kinara, tak di pungkiri ia juga membenarkan ucapan Kinara jika selama ini tak pernah melakukan apa yang ia tuduhkan. lagi-lagi ia tersulut emosi sesaat.


"Kalau bukan trus apa? aku muak dengan tingkah kamu Azka, egois!"


"Ra, please bukan itu maksud aku, aku khilaf"


.


Kinara tersenyum kecut mendengar penuturan Azka. "Khilaf kamu bilang? semudah itu kah? minta maaf sama mama, karna aku nggak butuh maaf dari kamu" ucap Kinara tegas lalu pergi ke kamar dengan langkah seribu, ada air mata yang menggenang ia tak mau Azka melihat hal itu dari nya.


Azka menghela nafas kasar dan menarik rambutnya, ada penyesalan atas ucapannya sendiri. memang benar semenjak pulang dari rumah sakit karna aksi nekatnya bunuh diri, membuat kondisi psikisnya kurang stabil. sudah sering trauma lama itu muncul kembali di sertai mimpi buruk akan kejadian tiga belas tahun lalu kala peristiwa mengerikan itu terjadi.


Azka melangkah lesu menuju ke kamar tamu, ia tak mungkin akan masuk ke kamar jika Kinara saja marah padanya. biarlah nanti untuk kebutuhannya dia meminta tolong mbak Reni untuk mengambilnya di kamar.


Azka merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan ukuran sedang itu. menatap langit kamar sembari mengingat kesalahannya tadi. Memorinya berputar pada beberapa waktu lalu saat hendak membeli minuman dingin di kantin. tanpa sengaja ia mendengar obrolan ke empat sahabatnya tentang Kinara. ada nyeri saat mendengar kenyataan jika selama ini ke empat sahabatnya sudah menyimpan rasa pada Kinara bahkan sejak mereka masih smp. tentunya ucapan Aldo yang akan merebut Kinara membuatnya marah dan langsung meninggalkan halaman kantin.


"Halo om, bisa kerumah?" tanya nya pada orang di seberang telepon.


" Jam delapan malem ya, sekalian aku nginap di situ"


"Oke, gue tunggu"


Azka mematikan sambungan telepon lalu membuka galeri foto.


"Kamu memang menawan Ra, calon istri idaman semua pria" gumamnya memandang lekat foto pernikahan mereka.