KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
33 Riko



"Loh pak kita kok berhenti disini? ini bukan rumah saya pak" tanya Riko terkejut. pasalnya mereka berhenti di salah satu restoran jepang milik keluarga Riko. Keringat dingin mulai keluar namun Riko berusaha tetap tenang.


"Saya lapar seharian belum makan, kita makan dulu baru saya antar kamu ke kosan!" jawab Yusuf.


Kini mereka berada di ruangan VIP yang memang sudah di pesan khusus oleh Yusuf sejak tadi.


Setelah semua sajian terhidang di atas meja, Yusuf mempersilakan Riko untuk makan. Yusuf sangat tahu sejak tadi Riko gelisah. Ia sengaja melakukan ini semua untuk mengungkap jati diri Riko yang sebenarnya. Bukan perkara sulit bagi Yusuf untuk mengungkap siapa Riko sebenarnya.


Riko masih di landa gelisah, entah sudah berapa kali ia mengusap keringat di dahinya. padahal ruangan ini ber-ac namun tetap terasa panas bagi Riko yang memang gelisah tak keruan.


"Kamu kenapa Rik? apa makanannya tidak enak?"


"Ah..ti..tidak pak.. makanannya sangat enak tapi ini terlalu mewah untuk saya" jawab Riko berusaha ditebang mungkin


"Owhh ya sudah teruskan.." ucap Yusuf seraya menundukkan makanan ke dalam mulut.


Setelah selesai makan, Yusuf sengaja memesan hidangan penutup, ia sengaja berlama-lama agar Riko tidak curiga. Ia juga sudah berjaga-jaga sebelumnya jika terjadi sesuatu tidak mengenakkan nantinya. Maka dari itu pak Anderson sudah meminta Bambang dan anak buahnya untuk membuntuti Yusuf dan Riko tanpa di ketahui oleh Riko.


Setelah selesai dengan hidangan penutup, Yusuf memanggil salah satu pelayan dan memberikan bill.


"Aduh Rik saya lupa ada dokumen yang harus saya tanda tangani dan tertinggal di dalam mobil, bisa tolong kamu ambilin kan?"


"Bi...bisa pak" Riko segera menuju keluar restoran untuk mengambil dokumen yang di perintahkan Yusuf setelah itu ia kembali lagi ke dalam restoran dan menyerahkan dokumen tersebut kepada Yusuf.


"Kamu buka dan kamu baca dulu Rik, saya mau ke toilet sebentar" ujar Yusuf seraya beranjak meninggalkan Riko sendirian.


Riko yang sudah gelisah sejak tadi merasa takut untuk membuka dokumen. namun karna merasa ini sebuah perintah mau tak mau ia harus membukanya dan betapa terkejutnya saat membuka dokumen itu.


"Ini....ini...ti....tidak... ini tidak mungkin!" ucapnya gelisah "bagaimana pak Yusuf tahu segala nya? bisa gawat ini kalau bos Anthony tahu, aku bisa hancur dan kalau papa tahu pasti tidak akan pernah memaafkanku. aku harus bagaimana ini?"


Setengah jam kemudian Yusuf masuk ke dalam ruangan dan mendapati Riko melamun tidak menyadari kehadirannya.


"Rik" sapanya menepuk pundak Riko


"Astaga bapak ma....maaf pak saya tidak tahu bapak datang." ucap Riko terkejut


"Kamu kenapa Rik?"


"Tidak pak saya baik!"


Yusuf menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti maksud ucapan Riko. "Duduklah" titahnya. Yusuf menyesap sisa rokok dan mematikannya.


"Mau sampai kapan Rik?"tanya Yusuf seraya melonggarkan dasinya.


"Apa...apanya pak?"


"Kamu sudah baca dokumen yang saya minta tadi?"


"Su....sudah pak!"


"Lalu?"


Riko diam tak berkutik, ia bingung harus menjawab apa dan bagaimana karna risiko yang ia hadapi tidak mudah.


"Hanya ada dua pilihan bertahan atau lari!"


"Jika kau memilih bertahan, silakan saja jika kau ingin mati di hadapan Anthony dan Tuan Bagas Rahardian namun jika kau memilih lari, aku akan membebaskanmu dari jeratan Anthony dan menyerahkan mu pada Tuan Bagas Rahardian sebagai orang tua angkatmu dan aku akan dengan senang hati meminta maaf padanya atas kesalahan yang kau lakukan pada perusahaan kami. asal kau tahu Tuan Bagas Rahardian punya kerjasama bisnis dengan kami."


"Waktumu hanya 5 menit untuk menentukan pilihan!" tambah Yusuf.


"Tapi pak..!"


"Aku tahu kau berhutang budi pada Anthony karna dia telah menolongmu dari kejaran preman saat di Los Angeles 2 tahun lalu saat kau baru menyelesaikan tugas akhirmu di kampus"


Riko mendongak ia begitu terkejut rupanya pak Yusuf bahkan mengetahui tentang masa lalu nya.


"Dan aku tahu kau pernah bergabung dengan kelompok mafia sindikat penjualan organ tubuh manusia disana dan para preman yang mengejarmu ingin balas dendam karna teman mereka yang meninggal kecelakaan pernah menjadi korban pencurian organ tubuh dan kau yang melakukannya."


"Sa...saya..."


"Waktumu sisa satu menit pilihan ada padamu bertahan atau lari, aku akan menjamin semua jika kau memilih lari. aku tahu Tuan Bagas tidak mengetahui kejahatan mu disana karna Anthony yang menutupinya dan aku tahu apa tujuan Anthony melakukan itu."


"Sa...saya.....saya..... ampun pak...ampuni saya pak saya mengaku salah"


"Waktu habis! apa pilihanmu?"


Riko diam ia bingung sekaligus takut, pikirannya melayang entah kemana.


"Jawab atau peluru ini yang masuk di kepalamu!" gertak Yusuf menodongkan pistol tanpa peluru pada kening Riko


"Lari!" jawab Riko cepat


"Sekali lagi! " titah Yusuf


"Saya memilih Lari pak!" ucap Riko lantang. Yusuf segera melepas pistol yang ia genggam dan menyimpannya di saku jas.


"Kamu yakin dengan pilihanmu?"


"Yakin pak!" ucap Riko menunduk


"Baik kamu tanda tangani ini sekarang dan ikut saya kerumah Tuan Bagas. tapi sebelumnya kamu harus ikut saya 2x48 jam dari sekarang."


"Ba...baik pak!"


Yusuf memberikan selembar kertas kosong pada Riko untuk di tanda tangani. setelah itu Yusuf meminta semua alat komunikasi yang Riko bawa karna ia tahu Anthony tidak semudah itu melepaskan anak buahnya tanpa pengawasan.


"Minumlah terlebih dahulu sebelum kita pergi" titahnya pada Riko dan beberapa detik kemudian


bruuuuk


Rupanya Riko langsung jatuh pingsan setelah menenggak segelas air putih yang sudah di campur obat oleh Yusuf. Bambang dan anak buahnya datang dan membawa Riko pergi.


"Tolong sampaikan ucapan terima kasihku pada Tuan Bagas" ucapnya pada seorang pelayan sebelum pergi meninggalkan restoran. Rupanya Yusuf sudah bekerja sama dengan Tuan Bagas Rahardian untuk membekuk Riko.


Sementara itu di rumah sakit Beno dan kawan-kawan langsung pamit pulang setelah menjenguk Aldo dan Kinara.


"Kami pulang ya tan...maaf kalau ngerepotin." ucap Beno seraya mencium tangan mama Hanna


"Bilang aja masih mau sisa martabaknya...nih bawa aja sekalian pake isi perutmu di jalan" 😏


"hehehe ketahuan deh" 🙈🙈


"Kami pamit ya Ra... cepet sembuh Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Azka kamu disini biar mama pulang, kasian Kak Rania kalau harus jaga si kembar sendirian."


"Emang anak kesayangan mama kemana?"


"Hari ini mama dengar katanya lembur di kantor karna sebagian data perusahaan sudah di retas jadi papa ngadain rapat dadakan semua dewan direksi dan pemegang saham."


"Owh gitu. ya sudah deh mama mau pulang sama siapa?"


"Pak Puji udah nunggu di bawah.. ok mama pulang jaga diri baik-baik ya sayang assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Azka mengantar mama Hanna sampai ke pelataran rumah sakit dan segera kembali ke ruang rawat Kinara. sepanjang melewati koridor rumah sakit ia termenung memikirkan ucapan mama tentang data perusahaan yang di retas.


"Berarti ayah dan kak Revan pulang, begitu juga Om Wawan. sudah pasti ada kaitannya dengan orang yang ngikutin Aldo di pantai sore tadi. ini gak bisa di biarin., aku harus mengecek mobil yang Aldo pakai."