
"Maafkan tante sayang" ucap Nyonya Amira membelai kepala Kinara yang tertutup jilbab.
"Maaf tante, aku masih ingin sendiri" ucap Kinara seraya melepas pelukan nyonya Amira.
"Lain kali tante akan berkunjung"
"Ya" Kinara hanya membalas singkat.
Nyonya Amira melangkah keluar kamar dengan perasaan sedih, ada bahagia juga kecewa dari manik mata keponakannya. Nyonya Amira menyadari betul kesalahannya di masa lalu. ingin hati jujur tentang hal itu namun ia urungkan melihat sikap acuh Kinara saat melihatnya. Ia sadar sepenuhnya jika semua butuh waktu dan ia tak akan memaksa jika keponakannya masih belum bisa menerima kehadirannya. waktu puluhan tahun tidak akan terganti dengan waktu sehari.
"Gimana tante?" tanya Azka saat nyonya Amira sudah berada di ruang tamu
"Semua butuh waktu nak, tante tidak akan memaksa, biar pamanmu saja yang menjelaskan nanti. tante tidak kuasa untuk bicara" ucap nyonya Amira sendu.
"Yang sabar ya tante, Kinara masih terlalu muda untuk memahami masalah orang dewasa, itulah kenapa selama ini kami selalu menyembunyikan hal ini darinya, tentang ibunya, Keisya bahkan tentang masalah ku sendiri, bukan kami tidak peduli hanya saja kami tidak ingin menambah beban padanya"
"Aku tahu itu, Kinara paling dekat dengan ibunya, tidak mudah baginya menjalani hari setelah sosok yang menyayanginya pergi untuk selamanya. tapi tante merasa ada sesuatu yang Kinara sembunyikan."
"Maksud tante?"
"Entahlah, semoga saja perasaanku salah"
"Apa benar semua yang papa ceritakan padaku jika tante selama ini menetap di Belanda?"
"Benar, apa papa mu tahu?"
"Sepertinya papa pernah beberapa kali melihat tante saat ada kunjungan bisnis disana. hanya saja waktu itu papa masih berprasangka jika tante sudah meninggal"
"Hmm begitu rupanya"
Azka dan Nyonya Amira masih asyik berceruta banyak hal hingga larut malam, Steffy sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar tamu untuk tidur.
Keisya dan Kinara pun tak ada yang keluar dari kamar mereka. Keisya terlelap setelah meminum obat sedangkan Kinara masih di landa gelisah tidak menentu sejak kedatangan tante Amira kerumah ini.
Saat tengah malam Aldo baru kembali setelah mengantar pak Anton alias calon mertuanya pulang.
"Belum tidur lo?" tanya Aldo pada Azka yang masih selonjoran di depan televisi
"Ronda malam"
"Ronda itu sama bini lo ngapain ronda disini?"
"Kalau gue ikutan ke kamar trus siapa yang bakal bukain lo pintu? kuntilanak?"
"Iih yang bener aja lo, jangan nakutin gitu, btw ini rumah nyeremin tauk dari luar"
"Masa?"
"Iya gue bener, ngapain sih boong?"
"Trus kenapa lo berani masuk kalau nyeremin?"
"Terpaksa ogeb"
"Hahahaha"
"Ngapain lo ketawa?"
"Aneh lo"
"Eh Ka, ngomong-ngomong itu rumah di bagian belakang rumah siapa sih, gelapnya minta ampun.?
"Paviliun maksud lo?"
"Hah, paviliun?"
"Iya itu rumah khusus pekerja disini, mereka akan tinggal disana kalau pas dapat giliran jaga,"
"Termasuk bodyguard di depan onoh?"
"Iyalah,"
"eh anterin gue ke dapur, haus"
"Pergi sendiri lah"
"Gelap anjir, lampu udah pada mati, mana ini rumah segede ini".
"Nyalain lah lampunya"
"Ahh nggak asik lo, ayo anterin Azka, sumpah gue horor banget"
"Ck, lo jangan bikin gue ikutan horor Do"
"Ahh yang mulai duluan tadi siapa coba?"
"Iihh lo mah sewot. ayok ahh pegangan gue"
"Cari saklar nya Ka"
"Iya tapi lo jangan gitu juga lah. sengak gue nggak bisa napas"
"Abis serem tauk"
"Ssst diem"
"Ini saklar nya"
"aaaaaaaaaaaaaa"
"aaaaaaaaaaaaaa"
Brak
kret prang
Azka dan Aldo lari terbirit-birit setelah melihat penampakan wanita berambut sebahu serta daster putih yang tak lain adalah Rena. mereka bertiga sama terkejutnya karna Rena sengaja tidak menekan saklar lampu saat memasuki dapur.
"Hosh hosh hossshh itu tadi apa?" ucap Aldo ngos-ngosan
"Nggak tau, kenapa lo lari?"
"kan lo yang narik gue sembeb"
"Panik gue,"
"Sama"
***
Sementara itu di sebuah gubuk tua di tengah hutan, seorang pria paruh baya yang masih terlihat segar bugar merasa frustasi setelah mengetahui semua aset saham dan perusahaan serta bisnis ilegalnya kini beralih kepemilikan tanpa sepengetahuannya.
"Kurang ajar kalian" mata nya memerah kilatan amarah menguasainya. sudah seminggu berlalu semenjak asetnya hilang tanpa jejak kini pria itu semakin tidak terkendali. bahkan semua anak buahnya terpaksa ia pulangkan karena ia tak sanggup untuk menggaji mereka. hanya satu asisten yang masih setia menemaninya di dalam pekatnya hutan larangan itu.
"Roby, bawa aku pergi ke tempat tinggalmu di kampung halaman mu"
"Tidak salah tuan?"
"Tidak"
"Rumah saya jauh di luar pulau letaknya di daerah terpencil jauh dari pemukiman penduduk kota"
"Itu bagus aku harus bersembunyi kali ini. di sini sudah tidak aman, semua asetku hilang tanpa jejak, entah perbuatan siapa"
"Apa tuan yakin ingin ke kampung halaman ku?"
"Jangan bertanya lagi, bawa aku kesana sekarang juga"
"Baiklah tuan, jika itu yang tuan kehendaki, saya akan hilangkan jejak gubuk kita sekarang juga setelah itu kita pergi dari sini."
"Lebih cepat lebih baik"
"saya permisi tuan"
Roby sang asisten meninggalkan gubuk, keluar melalui celah pintu gubuk yang sedikit terbuka.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang sedikit menurun dan berhenti di salah satu semak belukar.
Berbekal senter ia membuka salah satu papan yang di tutupi oleh dedaunan kering. tubuhnya masuk ke dalam sebuah lubang panjang bawah tanah, berjalan lurus ke depan hingga beberapa meter lalu membuka sebuah papan kayu yang menutupi lubang. ia keluar lalu berjalan lurus hingga tiba di sebuah gubuk tua yang sudah reot.
"Kamu datang juga akhirnya, jadi bagaimana?" Seorang pria berperawakan tinggi tegap dengan wajah khas orang kebaratan, mata biru serta senyum tipis yang menakutkan.
"Maaf jika saya terlambat tuan,"
"Katakan apa yang dia inginkan sekarang?"
"Dia ingin aku mengajaknya pulang ke kampung halamanku untuk bersembunyi"
"Lalu apa yang kau katakan?"
"Aku mengatakan sesuai yang anda perintahkan tuan"
"Bagus, lakukan tugasmu malam ini, bawa dia ke tempat tujuan kita"
"Baik tuan"
"Roby, aku percaya padamu, sudah cukup pengabdianmu padaku selama ini, terimakasih karna kau sudah membantu keluarga istriku, aku berhutang budi padamu, setelah ini istirahatlah, temui calon istrimu dan menikahlah, aku tak tega jika harus memaksa mu untuk terus bekerja padaku. Aku tak menyangka kau pintar memilih wanita, semoga hidupmu berkah dan mulia."
"Terimakasih tuan, itu tidak seberapa dengan semua pengorbanan tuan padaku dan keluargaku, terima kasih sudah meyakinkan orang tua dari calon istriku, siapalah aku jika di bandingkan dengan nya yang seorang Ning putri seorang kyai, aku hanyalah butiran debu yang tak nampak, aku berhutang banyak pada mu tuan terimakasih tak terhingga"
"Tak perlu begitu, lakukan tymugas terakhirmu malam ini, ada beberapa orang yang akan membantumu setelah keluar dari hutan ini, mereka seperti warga biasa, tapi mereka memang anak buahku"
"Baik tuan, saya permisi"
"Iya pergilah"
Di dalam gubuk tua pria paruh baya tak lain adalah Anthony merasa gelisah, pasalnya sudah satu jam berlalu Roby sang anak buah tidak muncul juga"
"Aargh kemana kau Roby, ini lebih satu jam" gerutunya.
tak lama terdengar derit pintu du sertai langkah kaki yang memasuki gubuk.
"Tuan apa anda sudah siap?" tanya Roby
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf tuan saya harus memastikan keadaan aman"
"Ayo pergi kita harus sampai di perbatasan sebelum fajar"
"Baik tuan ayo"
Keduanya keluar dari gubuk berjalan menuruni jalan setapak membelah pekatnya malam yang semakin mencekam dengan nyanyian penghuni hutan yang membuat bulu kuduk merinding"