
Malam ini sesuai janji nya dengan Kinara beberapa hari yang lalu di rumah sakit, akhirnya tuan Denias memutuskan untuk berkunjung kerumah Tante Ranti sepupu jauh dari pihak ibu nya bersama dengan pak Darwis pengacara Kinara.
Dengan hati siap menerima apapun yang terjadi nanti, tuan Denias menyadari kesalahannya selama ini yang menjaga jarak dari keluarganya baik dari pihak bapak ataupun ibu.
Setelah bertemu Kinara di rumah sakit, Tuan Denias menceritakan segalanya pada sang istri di rumah. namun apa yang ia dapat dari sang istri juga tak kalah mengejutkan.
Istrinya yang notabene mantan pengacara dan memilih melepas pekerjaannya demi mengurus rumah tangga nya itu nampak marah mendengar cerita tuan Denias. bukan tanpa alasan sebenarnya sang istri juga tahu tapi lagi-lagi adik iparnya almarhumah Amina yang melarangnya.
Puncaknya hari ini tuan Denias pergi setelah mendapatkan ultimatum dari sang istri. hatinya sedikit ragu namun ia telah memantapkan hati apapun yang akan terjadi nanti mau tidak mau harus siap menghadapi kenyataan.
Kinara dan Azka pun sudah kembali pulang kerumah kemarin sore setelah kondisinya di nyatakan membaik oleh dokter.
Kepulangan mereka di sambut bahagia oleh keluarga kedua belah pihak. bahkan dalam kondisi ketegangan batin yang tengah terjadi diantara mereka, baik tuan Wibowo dan tuan Anderson masih bisa melupakan sejenak dan tidak ingin membahas apapun mengingat perasaan anak-anak mereka lebih penting.
Kondisi Keisya tidak jauh beda meski sempat drop beberapa hari setelah bertemu dengan Anthony, tapi berkat ketelatenan Rena yang merawatnya kondisi psikologis Keisya mulai pulih.
Dan hari ini mereka semua berkumpul di kediaman tuan Anderson untuk merayakan kepulangan Azka dan Kinara. hanya syukuran kecil-kecilan saja tapi bermakna indah untuk keluarga mereka.
Kinara yang masih dalam kondisi mengidam pun tak terlalu menikmati apapun yang terhidang di atas meja, dan lebih memilih kembali ke kamar untuk beristirahat, mbak Reni dan bik Siti dengan sigap memenuhi apapun keinginan nona muda mereka meskipun dalam kondisi lelah dan butuh istirahat, jika itu menyangkut keinginan Kinara mereka akan siap setiap waktu.
"Sayang kenapa nggak makan?" tanya Azka setelah menghabiskan makan malamnya. yang lain masih berkumpul di ruang tamu untuk mengobrol.
"Nggak tahan aroma makanan, beliin pisang ijo di warung Bugis ya, masih buka nggak ya?" ucap Kinara
"Hah?" Azka melongo mendengar ucapan Kinara. pisang ijo itu apalagi?? makanan khas daerah mana? pikir Azka bingung.
"Apaan sih itu?"
"Mas nggak tahu pisang ijo?"
"Nggak" Azka geleng-geleng kepala karena tidak pernah menemukan apalagi melihat bentuknya pisang ijo.
"Astaghfirullah...suami ku kolot banget aiishh" kesal Kinara.
"Emang nggak pernah makan apalagi lihat sayang"
"Iiiih.... buka google sekarang. dan pergi cariin pisang ijo nggak pake lama" Kinara ngegas lalu berbalik dan menutup tubuh nya dengan selimut hingga tertutup sempurna.
Azka geleng-geleng kepala menghadapi sikap Kinara yang baginya semakin aneh saja. gegas ia mengambil gawai dan mencari apa yang di inginkan istrinya.
"Ooh makanan ini," gumam nya manggut-manggut tanda mengerti.
"Okelah sayang aku pergi, baik-baik ya dirumah emmmuaach" pamitnya setelah mendapatkan ide cemerlang.
Azka menuruni anak tangga dan menemui mbak Reni di kamarnya.
"Ada apa den?"Tanya mbak Reni begitu keluar dari dalam kamar
"Bantu nyari pisang ijo di restoran Sulawesi ya, aku bingung soalnya nggak pernah denger apalagi liat bentuknya pisang ijo" ucap Azka
"Itu bik Siti menantunya orang Bugis, dia punya warung makan yang nyediain makanan dan minuman khas tanah Sulawesi Selatan, kalau mau aku panggilin bik Siti dulu ya"
"Beneran??" tanya Azka dengan wajah berbinar
"Iya tunggu aku panggil bik Siti di rumah belakang den" ucap mbak Reni.
"Ya udah aku tunggu di mobil mbak, nanti keluarnya ngumpet lagi ya kayak biasanya, biar istri saya nggak tahu"
Azka berlalu keluar melalui pintu belakang yang tersambung ke garasi mobil meski lewat harus memutar arah dulu. Azka melajukan mobilnya keluar dari rumah dan menunggu mbak Reni serta bik Siti datang. setelah yang di tunggu tiba mereka segera berlalu ke tempat tujuan demi memenuhi kemauan orang ngidam.
Sementara itu di rumah sakit tempat Anthony mendapatkan perawatan, semua tim dokter sedang bekerja keras melakukan tugasnya di ruang ICU.
Kondisi Anthony yang pasang surut membuat tim dokter yang sudah di tunjuk melakukan pengawasan ketat terhadap kondisinya.
Roby dan Sobri pun tak pernah absen memberikan kabar pada tuan Denias. Malam ini kondisi Anthony menurun drastis hingga para tim dokter akhirnya memasang alat bantu untuk saluran makanannya. karena sudah sejak pagi tidak satupun makanan bisa masuk ke dalam mulutnya.
"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Sobri dengan wajah panik saat dokter Djafri keluar dari ruang ICU.
"Pasien koma, berdoa saja semoga tuhan memberikan keajaiban" ucap dokter Djafri menepuk pundak Sobri lalu pergi meninggalkan pria itu yang masih bergeming di tempat.
"Sob, kenapa? tanya Roby yang baru saja datang untuk membeli nasi Padang untuk mereka makan malam. melihat gelagat aneh temannya yang tidak bergerak ia mempercepat langkahnya.
"Bos Koma Rob," ucap Sobri menunduk tak terasa air matanya pun menetes. biar bagaimanapun kejamnya Anthony, tak bisa Sobri pungkiri jika ia merasa iba melihat kondisi Anthony yang sekarat, setelah lima purnama ia di asingkan, Sobri baru tahu dua bulan lalu jika Anthony memendam luka lama yang tidak satupun orang yang tahu kecuali pak Jusman sang tukang kebun yang bertugas membersihkan rumah dan ikut merawat Anthony di pengasingan.
Saat itu Sobri tidak sengaja mendengar percakapan mereka malam hari di balai-balai yang ada di teras samping rumah. meski rumah yang mereka tempati sudah banyak bagian yang rusak namun setidaknya ada tempat untuk Anthony dan Sobri berteduh.
Pak Jusman tinggal bersama anak dan istrinya, kondisi keluarga mereka juga tak jauh berbeda meski hidup dalam keadaan pas-pasan tapi mereka tetap bisa harmonis.
Saat itu Sobri baru saja kembali dari kota untuk menemui keluarganya, dan kedatangannya tidak memberi kabar sama sekali karena kondisi jaringan di desa mereka yang susah.
"Sudahlah, kita banyakin berdoa aja semoga dia lekas sembuh, biar bagaimanapun ini tugas kita dari tuan besar, kita di bayar untuk itu, dari situ juga kita bisa ngasih makan anak istri" ujar Roby menenangkan.
"Gue kasihan rob, di usia tuanya nggak ada satupun anak-anak nya yang ngerawat, meskipun tuan besar saudara tirinya tapi tetep aja siapa yang bakalan ngirimin dia doa kalau udah meninggal nanti?" ucap Sobri sedih.
"Dia masih punya anak yang masih hidup tanpa pernah dia tahu" ucap Roby pelan, Sobri menolah kearah sahabatnya
"Maksudnya?"
"Gue nggak punya hak buat cerita, tapi gue cuma ngasih tahu Lo aja kalau Anthony masih punya anak yang masih hidup" ucap Roby tegas.
"Siapa?"
"Tuan muda Revan" jawab Roby santai
"Ap..APA?"
"Kenapa? Lo baru tahu?"
"Bagiamana cerita nya?"
"gue udah bilang, gue nggak ada hak apapun buat cerita, suatu saat Lo bakalan tahu sendiri"
"Gue nggak percaya, Lo nggak bohong kan?"
"Ngapain gue bohong, gue ngomong sesuai fakta yang gue tahu"
"Hah, pantesan waktu pada ngumpul disini tuan muda Revan kayak ogah-ogahan, bahkan seolah nggak mau tahu, cuek"
"Ya suatu saat Lo bakalan tahu semua kok"
"Semoga saja, bos Anthony cepat sadar, ya Allah SWT berikan dia kesempatan sekali lagi buat bertaubat amiin" dia Sobri yang diamini langsung oleh Roby.