
Rintik hujan masih mengguyur bumi sore ini. Andin menatap ke arah jendela kamar dengan tatapan kosong.
Dua hari sudah ia menginap di rumah Bu Fitri. Sedangkan Reno lebih memilih tinggal di rumah kos nya.
Selama dua hari itu ia tak lagi berbicara apalagi bertemu Reno setelah malam itu mereka sempat berdebat kecil karena Reno baru kembali ke rumah sakit saat menjelang tengah malam itupun karena Dimas yang menghubungi kakaknya berkali-kali karena ibu sedang mencarinya.
"Mbak, ayo sarapan, mas Arkan sudah nunggu di bawah" panggil Cintya istri Arkan.
"Iya, nanti aku nyusul, mau mandi dulu" jawab Andin tanpa menoleh.
Cintya menghela nafas panjang, ia memang sempat mendengar pertengkaran kakak iparnya dengan calon istrinya malam itu di parkiran.
"Kamu darimana mas, ibu itu nyari kamu dari siang tapi tengah malam begini baru pulang, itupun karena Dimas yang nelpon kamu berkali-kali, kamu kerumah mantan mu?" cecar Andin dengan kesal.
"Diam kamu ndin, apa hak mu ikut campur urusan ku hah?" bentak Reno dengan marah menatap Andin.
Andin yang mendapat bentakan seperti itu langsung terdiam, dan menyadari bahwa ia salah berucap. Andin terdiam sedangkan Reno langsung masuk ke mobil dan langsung pergi meninggalkan rumah sakit tanpa menemui ibunya terlebih dahulu.
Cintya yang saat itu berada tak jauh dari mereka hanya bisa terdiam tak percaya pada sikap Reno yang tiba-tiba berubah. Cintya langsung menghampiri Andin dan menuntun gadis itu masuk ke dalam mobilnya.
"Mbak, sampean melamun pagi-pagi nggak baik, ayo sarapan" ucap Cintya memegang pundak Andin.
"Oh, eh... Kamu ngapain disini Sin?" tanya Andin yang terkejut seseorang memegang pundaknya.
"Tuh kan mbak melamun, ayo sarapan, mas Arkan udah nungguin di bawah" ucap Cintya
"Oh iya ayo" Andin langsung bergegas melangkah mendahului Cintya.
Cintya hanya tersenyum lucu melihat tingkah calon ipar suaminya.
Reno masih berbaring dengan buku tetap berada di atas dadanya. Bang Rendi masuk membawa makanan pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebiasaan tuan mudanya itu.
Semenjak kejadian beberapa tahun lalu saat ia pulang dalam kondisi mabuk, setahun kemudian Reno pergi ke Mesir dan menimba ilmu di sana, kebiasaannya pun sudah banyak berubah tidak seperti dulu.
Sejak dua hari lalu Reno hanya berdiam dirumah dan sesekali ke rumah sakit melihat ibunya.
Sejak perdebatan kecilnya dengan Andin malam itu suasana hati Reno memang masih tak menentu.
Bukan salah Andin, hal wajar jika Andin bertanya tentang hal itu, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan jika mengingat masa lalu.
Dua bulan lagi mereka menikah, selama ini Fitri masih ingin di Jakarta ia dan Andin masih belum kembali lagi ke Kalimantan.
Dering ponsel akhirnya membangunkan tidurnya, Reno meraih ponsel di atas nakas dan melihat sekilas pada nampan yang tergeletak rapi di sebelah ia menyimpan ponsel.
"Assalamualaikum kenapa dim?" tanya Reno tanpa melihat siapa nama penelepon.
"Dok...dokter Fritz?" tanya Reno terkejut sembari melihat di layar ponselnya sederet nomor tak di kenal
"Maaf dok, ada apa ya? Masih ingat aku ternyata" ucap Reno kikuk.
"Saya di Jakarta karen ibu sakit" ucap Reno
"Ketemu hari ini? Ada apa ya dok?bisa kasih clue?"
"Soal Keisya? Loh emang ada masalah apa? Saya nggak terlibat apapun loh ya"
"Dokter jangan ngada-ngada lah, sama halnya saya merusak rumah tangga orang, saya nggak mau" tolak Reno halus
"Semua sudah berlalu dok, saya juga harus ada yang saya jaga hati dan perasaan nya, dua bulan lagi kami menikah, jadi tolong jangan ungkit masa lalu saya apalagi buat ketemu Keisya, maaf kalau itu saya nggak mau, apapun alasannya" tolak Reno tegas.
"Saya sudah meminta maaf sama tuan besar beberapa tahun sebelum Keisya menikah, bahkan saya menemui beliau di kampung di rumahnya saat itu, Keisya memang tidak tahu karena saya yang memintanya" ucap Reno
"Pliss anda ini dokter atau psikopat sih pak? Enak Aja maksa saya buat nemuin mantan. dimana kewarasan bapak sebagai dokternya, jaga perasaan suaminya lah pak dokter" kata Reno semakin kesal karena paksaan dari dokter Fritz untuk menemuinya dan Keisya
"Apapun alasannya saya tetap tidak mau, meskipun Keisya yang meminta, kalau perlu saya temui suaminya dan minta agar istrinya tak lagi mencari saya, OKE" ucap Reno lalu menutup sambungan telepon.