KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
74 Perjumpaan



"Mbak Rena, ayo pulang" ajak Keisya


Rena terperanjat mendengar ucapan nona mudanya. baru saja mereka tiba di mall dan memesan makanan di cafe yang ada di lantai dua sekarang malah ngajak pulang, gimana sih gimana? Rena sedikit kesal tapi ia tetap profesional dengan tugasnya sebagai asisten pribadi Keisya.


"Delivery aja ya nona makanannya?" Rena menawarkan


"Hem, ayo pulang" Keisya berdiri lalu berjalan ke arah pintu keluar cafe.


Rena segera memanggil pelayan dan meminta pihak cafe mengantar makanan mereka ke rumah tak lupa Rena memberi mereka tips yang lumayan banyak.


"Argh kumat lagi tuh sakitnya, udah capek dandan baru sampe di ajak pulang, apes apes" batin Rena menggerutu menyusul langkah Keisya yang sudah menjauh.


Begitu sampai di parkiran pak Jono di buat kaget karna bosnya sudah masuk kembali ke dalam mobil. niat hati untuk menghabiskan rokoknya yang baru 2 kali hisapan akhirnya batal lagi. pak Jono menoleh pada Rena dan mengkode namun hanya dibalas Rena dengan gelengan.


Batang rokok yang masih tersisa banyak terpaks ia buang setelah sebelumnya ia matikan sisa asap yang masih mengepul.


"Nona ingin sesuatu?" tanya Rena hati-hati


"Aku mau pulang, kakak udah nungguin di rumah" ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jendela mobil.


Rena melongo mendengar ucapan Keisya, kemudian mencolek lengan pak Jono yang sibuk di kemudi.


"Udah pulang aja" ucap pak Jono berbisik


Rena kembali diam, merasa dilema dengan semua masalah yang ia hadapi setelah semua kebenaran yang mereka sembunyikan akhirnya terbongkar. sejak kejadian datangnya Kinara di rumah kondisi Keisya lebih buruk dan terkadang tidak terkendali. kadang menangis seharian bahkan tak jarang Keisya mengigau dalam tidurnya.


Setiap malam Rena dan semua pekerja di rumah selalu ronda, mereka mengatur jadwal sif tidur saat malam kecuali satpam dan para bodyguard yang menjaga keamanan rumah.


Dua malam setelah pertemuan Keisya dan Kinara di rumah itu, Rena dan para asisten lainnya di buat panik pada tengah malam pukul 01.00 dini hari. Keisya mengigau dan meracau tak jelas serta teriakan minta tolong keluar dari mulutnya meski kondisi tengah tertidur.


Pak Jono yang saat itu tengah ronda berkeliling rumah bersama seorang bodyguard terkejut mendengar teriakan minta tolong dari arah kamar Keisya.


Tak lama Rena keluar rumah dan memanggil semua pekerja untuk membantu menenangkan Keisya namun nihil dalam kondisi tertidur Keisya tak berhenti meraung dan memanggil nama Fani terus menerus.


Barulah saat tuan Denias datang kerumah bersama dokter Rahma kondisi Keisya mulai tenang. sejak saat itu semua pekerja memutuskan untuk melakukan ronda malam di dalam rumah jika kondisi Keisya kembali tidak stabil mereka bisa sigap.


Tak lama mobil sudah sampai di pelataran rumah. melihat ada mobil yang terparkir apik di samping taman, kening Rena berkerut "apa jangan-jangan nona Kinara datang?" batinnya bertanya-tanya. Rena segera menepuk lengan pak Jono yang juga melihat mobil tersebut.


"Kamu duluan Ren, aku masih harus masukin mobil di garasi kan." ucap pak Jono


Dengan dada berdebar dan tubuh yang gemetar hebat Rena memaksakan tangannya membuka pintu mobil dan keluar. sebelum membuka pintu untuk Keisya Rena memasukkan udara sebanyak-banyaknya ke dalam rongga hidungnya. Aneh kamu Rena kata mbak othor.


"Nona silakan" ucap Rena mempersilakan Keisya keluar dari mobil.


"Itu kakak yang datang mbak Ren" ucap Keisya saat keluar. matanya awas melihat dua pemuda beda jenis sedang bercengkrama mesra.


"padahal mah mereka lagi berantem🤭" kata mbak othor.


Rena mendadak lemas, ia masih takut kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali. dengan cekatan tangannya meraih sling bag dan mengambil ponsel di dalamnya lalu menelepon Revan. tak ia hiraukan Keisya yang sudah menjauh dari nya. setelah panggilan berakhir ia segera menyusul langkah Keisya.


Langkah mereka terhenti saat mendengar suara tangisan Kinara.


"Udah sayang, semua akan baik-baik saja" ucap Azka menenangkan


"Gue, nggak sanggup Ka, gue nggak sanggup ketemu Keisya, gue juga nggak sanggup ketemu tante Amira. gue belum siap menerima kenyataan Ka, gue belum siap!"


"Nggak akan ada yang bisa mengubah takdir, jika memang ini sudah garisnya kita harus ikhlas"


"Gue nggak pernah merasa sebodoh ini Ka, gue..gue selama ini percaya dengan semua kebohongan mereka, gue anggap itu semua benar nyatanya enggak, gue kecewa Ka,"


"Sabar, kalo lo gini terus kasihan juga mereka yang selama ini berusaha mati-matian buat jagain lo meskipun dengan banyaknya kebenaran yang mereka tutupi, mereka cuma nggak mau lo terluka sayang"


"Ka...kakak........"


Niat hati Rena ingin membawa Keisya menjauh jadi batal saat Keisya memanggil Kinara dengan sebutan kakak. suasana tiba-tiba berubah hening. tangis Kinara terhenti karna mendengar seseorang memanggilnya kakak.


Kinara mendongak begitupun dengan Azka. Kinara langsung menghambur ke dalam pelukan Azka yang sudah tegap berdiri. Azka terkejut bukan kepalang melihat wajah mereka yang sama tak ada beda hanya tahi lalat saja di wajah Keisya yang membuat mereka terlihat berbeda.


Azka semakin mengeratkan pelukannya pada Kinara yang masih sesenggukan dengan tangisnya.


"Ka..kak aku Keisya" ucap Keisya, tangannya melayang di udara hendak menyalami Kinara. namun Kinara hanya diam memandangnya lalu beralih memandang Azka.


"Salamin balik dong" ucap Azka tersenyum.


Dengan ragu Kinara membalas uluran tangan Keisya lalu meraih jemari sang adik dan menggenggamnya erat. saling menatap satu sama lain membuat desiran rindu dan ikatan batin antara mereka begitu kuat. Kinara langsung menghambur memeluk Keisya. tangisnya pecah kembali.


Banyak rasa yang tidak dapat mereka ungkapkan setelah lima belas tahun mereka terpisah tanpa saling mengenal. ikatan batin yang kuat karna mereka pernah hidup dan berbagi di dalam satu rahim yang sama 19 tahun lalu.


Keisya meraung tak ingin melepaskan pelukan Kinara saat sang kakak hendak melepas pelukannya.


"Aku mau kenalin kamu sama suami ku" ucap Kinara berusaha melepas pelukannya. dengan enggan Keisya akhirnya melepaskan pelukan mereka.


"Ini Azka, suamiku" ucap Kinara mengenalkan Azka pada Keisya.


Keisya terpaku beberapa saat memandang wajah suami dari sang kakak. entah kenapa mata teduh itu seakan memberi sesuatu yang menyentil di sudut hati nya.


Azka tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya pada Keisya yang masih mematung.


"Nona," Rena menegur


"I..iya ap..apa mbak Rena?" Keisya terkesiap salah tingkah


"Itu di salamin sama kakak iparnya"


"Oo...ohh ii....iya..aku Keisya" ucap Keisya gugup menyambut uluran tangan Azka.


Azka merangkul erat Kinara dan mengecup pucuk kepala Kinara kilat lalu mengikuti langkah Rena yang memasuki rumah. sedangkan Keisya masih terpaku di belakang mereka. pemandangan pertama kali baginya melihat kakak dan suaminya begitu lengket. inikah yang namanya pacaran seperti di novel remaja yang sering di bacanya. tapi kan mereka sudah menikah itu artinya mereka hidup bersama dalam satu rumah. begitulah isi pikiran Keisya.


"Sini tidur di pangkuan aku" ucap Azka yang melihat wajah lelah Kinara. mereka duduk di sofa ruang keluarga.


"Hem" Kinara melakukan apa yang Azka perintahkan. tubuhnya ia rebahkan diatas sofa sedang kepalanya berbantal paha Azka. jemari Azka mengelus kepala Kinara lembut hingga membuat si empunya tertidur.


Dering ponsel di saku bajunya berdering. rupanya panggilan dari Aldo. untuk beberapa saat ia lupa jika ada Aldo yang bersama mereka.


"Njir lo nggak ngajakin gue masuk?" suara sumbang Aldo terdengar seperti tengah marah.


"Sorry gue lupa kalau ada lo.. masuk aja gih. ada ps5 main yuk" ucap Azka


"Gue maunya makan bukan ps anjir"


"Masuk aja dulu, lo bakal kenyang"


"Okeh gue masuk"


"Silakan tuan muda, eh nona muda kenapa nggak di bawa tidur di dalem tuan?" tanya Rena yang menata snack dan minuman di atas meja.


"Dia lebih seneng tidur di pangkuan saya mbak, tiap hari juga gini" ucap Azka.


plak


Sebuah tepukan ringan mendarat di kepalanya. rupanya Aldo sudah masuk dan langsung memberinya tepukan maut.


"Apaan sih lo?" sungut Azka


"L-E-B-A-Y" ucap Aldo mengeja


"Sewot, bini gue bukan bini lo"


"Diiihh..."


"Makanya cepetan nikah"


"Situ aja udah nikah belum belah duren nyuruh-nyuruh gue"


"Yang penting sah aja dulu"


"Cariin gue dong"


"Ririn mau lo kemanain bego?"


"Ke orang tuanya lah"


"Lo putus ya, kok gue nggak pernah liat lo jalan bareng lagi"


"Nggak putus, cuma jaga jarak aja"


"Ngapain jaga jarak kayak covid aja"


"Bokapnya nyuruh gue buruan ngelamar kalau masih nekat jalan bareng mulu"


"Ya itu tandanya bokap nya percaya sama lo"


"Gue belom siap nikah, mau di kasih makan apa anak bini gue nanti"


"Lo kan udah punya penghasilan sendiri bego, belom lagi lo kerja part time sama papa, trus job manggung lo sama band lo itu juga nggak main-main" tambah Azka


"Au ahh gue masih belum siap komitmen, lagian kayaknya dia lagi deket sama Rangga"


"Sok tau lo"


"Bukan sok emang iya , gue pernah berapa kali liat Rangga dateng kerumah Ririn kok"


" Yang lo liat belum tentu bener Do"


"Ahh terserah lah, gue belom siap pokoknya"


"Serah lo deh"


"Eh, Kei udah sehat?" tanya Aldo basa basi saat melihat Keisya menghampiri mereka.


"Kok tau?" tanya Keisya heran


"Gue yang biasa sopirin Kinara jelas tahu lah siapa lo"


"Ooh begitu, kamu siapa?"


"Gue Aldo sahabat pasutri Azka-Kinara"


plak


"Ngomong yang bener Do"


"Lah emang iya bener kan gue bilang"


"Tapi dia nggak ngerti bahasa lo anjir"


"Oh gitu, pasutri itu artinya pasangan suami istri Kei, understand?" ucap Aldo menjelaskan. Keisya hanya manggut-manggut saja.


Mereka larut dalam obrolan ringan. Kinara masih terlelap di pangkuan Azka dan sesekali menggeliat membuat Azka merubah posisi tidur Kinara menjadi terlentang sembari tangannya tak henti mengusap lembut pipi Kinara. hal itu tak luput dari pandangan Keisya yang sedari tadi hanya menanggai candaan Azka dan Aldo sesekali sambil curi-curi pandang pada Azka.