KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
44 Tampil



"Kak kita mau kemana ini baru jam 3 subuh loh?" tanya Kinara yang membuka matanya perlahan.


"Udah kamu ikut aja, Ayah yang minta kita kerumah Om Denis sekarang."jawab Revan


"Tapi kak Fifi ikut kan? aku gak mau kalau sendiri, takut" ucap Kinara manja


"Iya bawel, dah sono siap-siap, kasian kak Fifi nungguin daritadi, besok biar kak Fifi dan Kakak yang nganter kamu ke gedung teater"ujar Revan seraya memasukkan beberapa perlengkapan ke dalam tasnya.


"Janji ya!"


"Iya Oneng, dah cepetan nanti ayah marah kalau kita kelamaan."


Setelah semua siap, Yusuf membawa mereka ke rumah pak Denias sesuai perintah Pak Anderson. Kinara yang masih mengantuk akhirnya melanjutkan sesi tidurnya di mobil.


"Em mas aku gak bawa baju ganti loh,gimana besok mau pergi nganter adik kamu?"ujar Fifi


"Udah siap, noh di belakang!" jawab Revan santai tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet yang ia pegang.


"Sejak kapan?"Fifi mengerutkan kening


"Sejak tadi malam kamu nggak jadi pulang. aku langsung telepon bapak"


"Hah..?" Fifi melongo, " sejak kapan Mas Revan punya nomor ponsel bapak?sampai hari ini aja aku belum ngomong sama bapak soal hubungan kami" batin Fifi


"Kenapa ay?" tanya Revan yang menyadari gelagat aneh pacarnya.


"Ehm nggak...nggak papa!"


"Kita sampai mas Revan" Ucap Yusuf saat mereka tiba di rumah pak Denias


"Biar barangnya saya aja yang bawa ke dalam mas, itu Nona muda sampeyan saja yang angkat ke dalam kasian kalau di bangunin tidurnya."


"Ok Makasih Mas Yusuf"


"Sama-sama"


🍂🍂


"Om itu Mbak Rena mau bawa makanan kemana?" tanya Kinara saat melihat Rena membawa nampan berisi makanan menuju ke lantai atas.


"Ke kamarnya. emang kenapa?"tanya Pak Denias was-was. ia memang sudah mempersiapkan hal ini sejak semalam jangan sampai Kinara tahu soal Keisya.


"Tapi itu bibik makan di dapur kenapa enggak bareng aja di dapur, kenapa harus makan sendiri-sendiri?"


"Terserah mereka lah Ra, Om enggak pernah membatasi apapun selama mereka disini. yang penting pekerjaan mereka selesai"


"Hem gitu ya, keren Om!" Kinara manggut-manggut lalu mengacungkan jempolnya pada pak Denias.


"Udah cepetan ayok berangkat, ntar kesiangan kalian masih mau latihan lagi kan sebelum tampil?" tegur Revan yang sudah siap bersama Fifi


"Iya kak hayuk lah!"


"Ehh Om Wawan ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Kinara yang melihat Dokter Wawan tersenyum sendiri di gazebo taman.


"Ahh kalau semua lo sewotin kapan kita berangkat Kinaraaaaa??" Revan mengoceh sebal melihat tingkah adiknya kalau kambuh jiwa kekepoannya.


"Ihh bawel kayak emak-emak kompleks!" Kinara mengerucutkan bibirnya. lalu berjalan mengikuti Revan dan Fifi memasuki mobil.


"Loh Om Alex, Mas Yusuf kalian mau ikut juga?" tanya Kinara yang sudah masuk kedalaman mobil.


"Iya Non kita mau nganter"


"Emang kalian enggak kerja? kalau Om Alex kan emang suruhan Om Denias kalau Mas Yusuf siapa yang nyuruh?"


Revan bertambah sebal melihat tingkah kekanakan Kinara kalau lagi kumat.


"Bisa gak sih lo diem Ra?" tegur Revan.


"Kakak apaan sih, orang aku nanya Om Alex sama mas Yusuf kok kakak yang sewot?"


"Mas, udah kamu juga diem." tegur Fifi.


"Nara, Abis nganter kita ke gedung teater Mas Yusuf langsung ke kantor, ntar kalo udah selesai acara baru mas Yusuf jemput kamu pulang kerumah papa, ngerti kan?!" ujar Fifi mencoba menenangkan Kinara


"Hem iya kak!" ucap Kinara mengerti.


"gitu kek diem kan bagus!" batin Revan "Gak salah gue pilih calon istri xixixi " batinnya lagi.


Gedung Teater


Para siswa yang akan tampil sudah bersiap dengan kelompok masing-masing. bu Farah sengaja mengundang para guru dan murid-murid kelas X-XI tanpa terkecuali untuk meramaikan pentas seni drama kali ini. mengingat ini adalah momen terakhir mereka sebelum menghadapi ujian nasional, tentu saja selain untuk mengenang mereka juga untuk lebih mengapresiasi perjuangan mereka selama sekolah dan mengajarkan mereka untuk lebih menghargai budaya dan adat istiadat yang kita miliki.


"Sumpah gue gugup!" ujar Vera di sela memakai riasan di wajahnya.


"Santai aja, anggap aja penonton itu semut yang lagi nyari makan." sahut Ririn.


"Ra, sumpah lo cantik banget sembeb.." ucap Aldo yang tak sengaja melewati Kinara. jangan lupa tatapan nyalang si cinta yang berdiri di samping Kinara.


"Berani nya muji istri orang, pacar sendiri nggak di anggep!" batin Ririn yang melotot pada Aldo.


"Ehh hehehe bebeb gue cantik banget hari ini" ucap Aldo cengengesan yang di puji malah buang muka karna udah terlanjur eneg.


"Orang kalau marah tambah panjang umur loh beb," rayu Aldo


"Woooii kelompok 4 kelas XII Ipa 3 siap-siap! giliran kalian abis ini!" ujar Wandri yang berdiri di depan pintu.


"Kelompok gue kapan ndri??" tanya Ririn


"Emang lo ambil lot nomor berapa?"


"Nomor 1."


Wandri melihat notes yang di bawanya.


"Oouuh masih lama gais...lo kan kelompok B, ini baru kelompok D"


"Aiiihh pegel gue!"


"Sabar napa, makanya jadi orang jangan pinter-pinter biar enggak di belakangin."


"Yeee enak aja lo ngomong, gue nggak minta pinter sama lo, Tuhan yang ngasih gue!" sahut Ririn.


"au ah" Wandri melangkah pergi percuma adu mulut sama orang IQ diatas rata-rata menurutnya.


Sementara itu di kantor Eins Corp, pak Anderson dan Pak Bagas terlibat percakapan yang sangat serius.


"Vania itu punya sesak nafas dan phobia gelap, aku khawatir, sejak semalam anak buahku sudah mencari tapi nihil mereka belum menemukan jejaknya " ujar pak Bagas


"Anak buahku sedang menyusuri jejak cctv terakhir istri anda berada pak kita tunggu hasilnya."


"Ya jelas, sepertinya istri anda hanya di jadikan pion agar dia bisa melumpuhkan kita"


"Aku curiga selama ini Anthony sudah menyelidiki keluarga ku. padahal selama ini aku tidak pernah mengenalnya."ujar pak Bagas


"Bisa jadi ia memang mengincar Riko sejak awal." tambah pak Anderson.


"Tuan kami menemukan jejak terakhir nyonya Vania." ucap Yusuf yang masuk ke dalam ruangan


"Bagaimana istri saya??" tanya Pak Bagas antusias


"Tenang dulu pak" ucap Pak Anderson "Jadi bagaimana Suf?" lanjutnya


"Saya baru dapat laporan dari tim bayangan, jejak terakhir Nyonya Vania berada di sebuah gudang tak terpakai di blok C, lokasinya agak jauh dari sini." Ujar Yusuf


"Blok C, Gudang, apa maksud kamu gudang bekas pabrik gula?" tanya Pak Bagas menerka.


"Iya pak benar, gudang itu sudah 20 tahun tak terpakai dan desas desus warga sekitar tidak ada yang berani melewati gudang tersebut saat menjelang malam." papar Yusuf.


"Lalu apa mereka menemukan istriku?" tanya pak Bagas.


"Mereka kehilangan jejak tepat sebelum menuju ke sana pak"


"Maksudnya?" tanya pak Anderson penasaran


"Dua orang anggota kita yang menyusuri lokasi pagi tadi tanpa sengaja mendengar pembicaraan warga yang melihat 3 orang pria dan seorang wanita paruh baya keluar dari gudang setelah itu pergi ke arah selatan" papar Yusuf.


"Apa tidak ada jejak yang di tinggalkan?"tanya pak Anderson


"Mereka menemukan ini tuan!" ucap Yusuf memberikan sebuah gelang emas berukiran huruf V.


"Ini...ini milik Vania istriku, benar ini milik Vania aku yang memberikannya."Ujar pak Bagas sendu


"Maafkan kami pak belum bisa menemukan nyonya Vania" ucap Yusuf seraya membungkuk


Pak Anderson sejak tadi manggut-manggut mencoba menerka kemana arah pergi nya Anthony menyembunyikan nyonya Vania.


"Suf malam ini kita ronda" putus pak Anderson


"Siap pak!" ucap Yusuf mengerti kode yang di katakan bosnya.


"mereka pergi ke arah selatan, itu artinya......." ucap pak Bagas terhenti mencoba mengingat


"Ada apa pak?" tanya pak Anderson


"Ke arah selatan itu bukannya satu-satu nya jalan menuju ke daerah pegunungan?" ucap pak Bagas kemudian


"Benar!! itu kan arah menuju kesana, ku dengar disana ada desa setelah itu hanya jalan hutan saja, itu kan arah perbatasan provinsi?" lanjut pak Anderson


"Bisa jadi Anthony memang punya markas disana" lanjutnya kemudian.


"Begini pak, tadi saya dan tim beserta anak buah pak Denias dan Alex sudah mengerahkan beberapa orang untuk menyusui daerah tersebut." Yusuf berujar


"Kalau boleh saya usul tuan kenapa kita tidak bertanya pada nona muda Keisya?" lanjutnya.


"Sebenarnya itu rencana kami, tapi mengingat kondisi mental Keisya yang belum stabil, jadi kami menunda nya."


"Aku ingat ada kenalan di desa itu, tapi aku harus tahu dulu dia masih hidup ato tidak karna sudah 15 tahun aku tidak pernah bertemu dengannya. Kalau tidak salah namanya Kamto orang sana biasa memanggilnya Mbah Jarak" ucap pak Bagas.


"Sudah sepuh?" tanya pak Anderson


"Usianya sudah hampir seratus pada saat aku bertemu dengannya dulu"Jelas pak Bagas "Aku akan kirim anak buahku untuk mencari nya dan aku minta satu dua orang personil pak Denias untuk menemani" lanjut nya kemudian.


"Baiklah kalau begitu, mulai hari ini kita bergerak. Suf persiapkan semuanya malam ini" titahnya pada Yusuf.


"Baik Tuan"


🍂🍂


"Gaaaiiisss kita siap-siap bentar lagi kita tampil" Ucap Ririn pada personil kelompoknya.


"Duuh gue dag dig dug!" Ujar Risa


"Ra kamu siap?kali ini kita harus tampil optimal" tanya Rangga, Ia menelisik wajah orang yang masih ia cintai hingga saat ini. ada penyesalan mendalam pernah menyakitinya.


"Siap, kamu juga ya!" jawab Kinara tersenyum. senyum yang selalu membuat Rangga merindukan nya. perih karna senyum itu bukan lagi miliknya tapi milik orang lain.


"Gais giliran kita, ayo siap semua nya??!"


"Siaaap!!!"


"Oke kita berdoa dulu sesuai kepercayaan masing-masing, Mulai!" ucap Ririn memimpin doa setelah itu mereka menyatukan tangan lalu mengucap yel yel yang mereka buat.


Satu persatu personil mulai memasuki panggung beriringan, sorak sorai penonton mulai berirama menyambut penampilan mereka. Karna tokoh utama adalah primadona sekolah bergelar siswi teladan dan jangan lupakan penampilan Rangga yang mampu membius mata kaum hawa, ditambah dengan wajah blasteran Indonesia-Australia yang melekat pada dirinya. terlebih gosip yang beredar mereka adalah sepasang kekasih yang clbk.


Bagaimana dengan Azka?? Tentu saja melihat penampilan Kinara dan Rangga mampu membuat adrenalin nya berpacu dalam melodi tak seirama di tambah salah satu dewan juri yang memperhatikan Kinara tanpa berkedip semakin bertambahlah kekesalannya.


"Tahan dulu cemburu mu sayang.. dia tidak akan berpaling, tenanglah..🥴🥴🥴😆😆😆🤭🤭." ucap Beno menenangkan sahabatnya. bukannya tenang justru Beno mendapatkan pelototan tajam dari Azka. kelompok mereka memang sudah tampil sehingga mereka bisa beristirahat dan melihat penampilan kelompok lain.


Kinara dan Rangga sangat apik saat melakukan peran, benar-benar seperti nyata. penampilan mereka pun mampu membius konsentrasi penonton dan dewan juri. tepuk tangan riuh memenuhi ruangan setelah adegan demi adegan selesai.


Rangga memegang erat tangan Kinara yang berdiri di sebelah kanannya, lalu mereka membungkuk memberi penghormatan diikuti teman-teman lainnya.


"Balikan aja woooiiii kalian serasi banget Kak" teriak salah satu penonton yang usil. siapa lagi kalau bukan Aji si tulang lembek tapi otak encer. adik kelas XI Ipa 2 yang terkenal tukang iseng dengan sebutan wartawan lokal.


Mendengar itu membuat emosi Azka semakin terpancing, hampir saja ia menghampiri Aji dan memberinya sebuah hadiah jika Beno dan Reno tidak menahannya.


"Gak usah bikin malu panjul, orang disini nggak ada yang tau status lo, PAHAM?!" tegur Fikar yang ikut menahan geraknya dari belakang.


"Ckk" Azka mencebik kesal.


"Wuuiih adik kakak totalitas banget padahal jarang latihan hahahaaha" ucap Revan saat sudah di parkiran


"Apaan sih, cepetan aku lapar" ujar Kinara sebal sembari membuka pintu mobil


"Kita pulang kerumah" ucap Azka yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya menahan geraknya


"Mau makan dulu mas aku lapar banget " ucap Kinara


"Kita makan dirumah" potong Azka lalu menarik lengan Kinara.


"Tap..tapi.."


"Gak ada penolakan" Azka menarik lengan Kinara memasuki mobil


"Mas itu....." Ucap Lutfiah tertahan.


"Ssst...biarkam mereka selesaikan masalahnya tanpa campur tangan kita." Revan berujar.