KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
129 Hidup Baru Keisya



Setelah melaksanakan sholat Maghrib di mushola yang ada di taman kota, sesuai janji bapak tadi yang belum di ketahui namanya oleh Kinara dan Azka, beliau sengaja mengajak kedua pasangan muda itu mampir makan di warung tenda yang ada di samping taman.


"Jadi Eneng dan Aden ini siapa?" tanya bapak itu setelah memesan menu makanan untuk mereka bertiga.


Kinara dan Azka saling pandang sebelum menjawab pertanyaan dari bapak tersebut.


"Em maaf sebelumnya, perkenalkan saya Kinara dan ini suami saya pak, kami donatur tetap di yayasan Ar Rahman" ucap Kinara memperkenalkan dirinya dan suami.


"Oh iya maaf saya juga sampai lupa, kenalkan saya pak Usman, saya yang bertugas menjaga tanah dan bangunan yayasan Ar Rahman" ucap beliau memperkenalkan diri.


Ada kelegaan di hati Kinara dan Azka meskipun masih banyak tanya di benak mereka.


"Kalau boleh tahu, ada hal apa yang membuat kalian datang kesini?" tanya pak Usman


"Kami mau berkunjung saja karena sudah lebih dari setengah tahun kami tidak berkunjung setelah terakhir kali kami datang waktu itu pak" jawab Azka


Terlihat pak Usman menghela nafas berat, seperti ada beban di pundak nya yang tengah ia pikul saat ini.


" kalau boleh tahu kalian dari mana?" tanya pak Usman lagi


"Kami di kota ini, rumah sekitar 45 menit dari sini" jawab Kinara cepat " kalau boleh tahu sebenarnya ada apa ya pak? jangan bertele-tele" ucap Kinara lagi merasa tidak tahan dengan rasa penasaran yang sedari tadi bergelayut di benaknya. Azka memegang tangan Kinara mencoba menegur dengan cara halus.


"Maafkan saya kalau membuat kalian seperti nya tidak enak hati, bisa kita makan dulu baru saya akan ceritakan segalanya?" ucap pak Usman dengan raut wajah bersalah.


"Maaf pak, istri saya sedang hamil jadi lebih sensitif, baiklah kita makan dulu setelah itu baru bapak boleh cerita" ujar Azka mencoba menenangkan pak Usman yang terlihat gelisah. pada akhirnya Kinara menginjak kakinya karena jengkel dengan respon Azka.


Dengan hati dongkol akhirnya Kinara mengalah dan menghabiskan makan malamnya dengan rakus tanoa peduli cibiran pengunjung lain.


Setelah selesai makan, pak Usman mengajak keduanya kembali ke taman dan duduk di sebuah gazebo.


"Maaf pak, kami tidak bisa pulang terlalu malam, mama saya sudah mengirim pesan untuk segera pulang" ucap Kinara sedikit melunak seraya memegang ponsel dan membalas chat dari mama Hanna.


"Maaf sudah meminta waktunya, saya akan ceritakan apa yang sedang terjadi pada yayasan Ar Rahman"


"Silakan pak" ucap Azka


"Pemilik yayasan ini meninggal secara tiba-tiba lima bulan lalu, saat itu tengah malam pukul 02.00 dini hari. Bu Santi memang sudah punya sakit yang parah sejak dua tahun terakhir dengan berbagai bermacam pengobatan yang di lakukan oleh anak kandungnya akhirnya beliau di nyatakan sembuh.


"Awal mulanya, seorang anak asuh Bu Santi bangun tengah malam untuk sholat tahajud, saat hendak ke kamar mandi dan melewati kamar Bu santi, sekilas ia melihat bayangan lewat dari arah jendela, tapi ia acuh saja dan tetap kembali ke kamar untuk sholat, di pertengahan sholat ia mendengar samar-samar seperti suara jeritan minta tolong dari arah kamar Bu Santi, karena merasa terganggu dan takut ia tidak melanjutkan sholat tapi membangun kan teman sekamarnya yang sedang tidur.


"Mereka hanya berdua akhirnya mengendap keluar dari kamar dengan membawa handuk dan gayung serta kebutuhan mandi hanya sebagai pengusir rasa takut, salah satu dari mereka melihat bayangan hitam melewati halaman dan keluar dari pagar samping, karena kamar mereka berada di atas jadi mereka bisa melihat bayangan dari balkon lantai atas.


"Mereka mengetuk pintu kamar Bu Santi namun tak ada jawaban, akhirnya mereka membuka dan ternyata tidak terkunci, mereka sempat heran karena Bu Santi selalu mengunci kamar siang dan malam saat beliau sedang ada di rumah.


"Mereka shok saat melihat Bu Santi sudah terkapar di lantai dengan bibir berbusa dan wajah membiru. keduanya berteriak minta tolong dan membangunkan penghuni panti, tidak ada yang berani menyentuh Bu Santi sampai akhirnya polisi datang dan mengevakuasi jenazah Bu Santi.


"Dua Minggu kemudian kasus itu terungkap, Bu Santi meninggal karena sengaja di bunuh oleh menantunya yang mengincar harta almarhum, bahkan anak kandung almarhum sekarang masih koma setelah mendapatkan kekerasan fisik dari suaminya sehari setelah adegan pembunuhan itu terjadi.


Pak Usman mengakhiri cerita nya dengan helaan nafas berat.


"Kalau begitu dimana semua anak-anak panti sekarang?" tanya Azka setelah berulang kali mengucap istighfar.


"Anak-anak panti sudah aman. saat ini mereka masih dalam perlindungan dinas sosial dan sedang di bangunkan tempat baru untuk mereka, saya menyesal saat itu lupa untuk mengunci pagar samping karena terburu-buru anak saya kecelakaan dan saya lupa pamit dengan Bu Santi sore itu, saya masih merasa bersalah Den sampai sekarang" ujar pak Usman sedih mengusap sudut matanya yang berair.


"Jadi begitu ceritanya, trus cucu Bu Santi selamat nggak? karena saya pernah bertemu dengannya terakhir kali." tanya Kinara.


"Alhamdulillah cucu Bu Santi, Naura dan Ali saat itu sedang di pondok pesantren di Jawa timur. mereka memang hanya pulang sekali setahun saat lebaran saja, dan saat ini mereka pulang sebulan sekali untuk menengok ibunya, karena istri dan anak saya yang menjaga Bu Fatma di rumah sakit" papar pak Usman


"Terimakasih pak atas informasinya, saya turut berdukacita atas musibah yang menimpa Almarhum Bu Santi dan keluarga, kalau boleh izinkan kami untuk menjenguk Bu Fatma di rumah sakit pak"


"Boleh sekali silahkan saja, beliau di rawat di rumah sakit Citra Husada ruang VIP"


"Apa?" ucap Kinara terkejut.


"Loh Eneng kok kaget gitu?"tanya pak Usman


"Itu salah satu rumah sakit miliknya pak hehehe" jawab Azka


"Mi...milik Eneng?" pak Usman terbata karena saking terkejutnya


"I..aduh sakit...iya pak" ucap Azka mengaduh karena Kinara menginjak kakinya lantaran kesal ia membocorkan rahasianya.


"Masya Allah...pantas saja saya pernah liat Eneng, ternyata Eneng direktur di rumah sakit itu ya, saya ingat sekarang saya pernah lihat wajah Eneng di salah satu ruangan rumah sakit"


"Ha??" Kinara melongo dengan mata membulat


"Hahaha akhirnya pak Usman dan Azka tertawa bersama melihat tingkah Kinara yang menggemaskan.


Setelah sholat isya tadi ia memang sengaja keluar dan duduk di teras karena merasa sungkan untuk bergabung dengan para orang tua yang sedang bercengkerama di dalam sana.


Menikmati sisa-sisa air hujan yang jatuh melalui atap merupakan hal baru yang sangat ia nikmati malam ini. belum pernah sekalipun ia merasakan secara langsung udara dingin yang masuk dan menusuk hingga ke tulang seperti malam ini.


Di tengah asyiknya ia menikmati nyanyian rindu sang pengisi suara-suara malam, tanpa ia sadari ada tatapan seseorang yang sejak tadi tidak lepas menatapnya.


Hingga sebuah suara yang ia kenali kembali mengusik ketenangan raganya.


"Non nggak masuk, udara disini dingin sekali kalau malam" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah bik Asih dan gadis itu tidak lain adalah Keisya.


Keisya tersenyum sembari menepuk tempat kosong di sampingnya meminta bik asih untuk duduk di dekatnya.


Bik Asih yang tahu permintaan nona mudanya langsung saja mengiyakan. di belainya rambut hitam dan lurus milik Keisya dengan penuh sayang.


"Non nggak ngantuk?" tanya nya dan hanya di jawab gelengan oleh Keisya.


"Mau bibik temenin disini?" sekali lagi Keisya hanya mengangguk saja.


Keisya merubah posisi duduknya menjadi barung dan miring menghadap ke luar jalanan dengan paha bik Asih sebagai bantalan.


Bik Asih tahu nona mudanya tengah memendam masalah, meski ia tahu betul apa yang terjadi sebelum akhir mereka pergi ke sini. tapi bik Asih tak mau serta merta mencampuri urusan keluarga bos tempat ia bekerja. hingga hari ini bik Asih memilih untuk diam jika tidak di minta untuk bicara.


Di belainya lembut kepala Keisya agar merasa nyaman dan tenang. tak lama tubuh kurus itu bergetar hebat dan gamis bik Asih terasa basah oleh air mata Keisya. bik Asih tetap membiarkan Keisya larut dengan tangisan nya.


"Apa aku salah?" lirih Keisya di sela Isak tangisnya.


"Non salah apa?" tanya bik asih lembut.


"Apa aku salah meminta hak ku juga karena kami kembar, bukankah jika kami kembar semua yang kami miliki harus sama bik?" lagi Keisya meracau dalam tangisnya.


"Hak apa yang nona minta?" tanya bik asih dengan sengaja


"Aku hanya minta kak Azka jadi milikku juga apa itu salah?"


Bik Asih mengelus dada dengan tangan nya yang kosong.


"kenapa non minta den Azka?"


"Karena aku mau dia bik, bukan kah kami kembar jadi semua harus sama bukan?"


"Jadi itu yang non pikirin sekarang?"


"Iya itu yang aku mau tapi kak Kinar marah dan nampar aku bahkan Rena juga berani menghinaku bik"


"Bibik nggak bisa ngasih solusi sekarang karena ngantuk, besok bibik ajak kerumah saudara bibik ya kita jalan-jalan kesana setelah sarapan"


"Aku nggak mau"


"Mau lihat sawah yang kayak tadi kita lewatin?"


"Sawah?"


"Iya mau nggak?"


"Mau banget,"


"Kalau gitu sedihnya udahan dulu ya non, besok kita ke sawah senang-senangnya sambil nyari ikan di empang."


"Wah aku mau-mau"


Bik Asih begitu lega saat Keisya sudah merubah posisinya menjadi duduk kembali. ada rasa sedih dalam hati bik asih melihat kondisi kejiwaan Keisya yang belum stabil. terkadang seperti anak kecil, terkadang menakutkan seperti almarhum Anthony terkadang terlihat dewasa tanpa beban.


"Kalau gitu sekarang cepat tidur ya, besok biar fit, katanya tuan seminggu lagi kita ke pesantren" ucap bik Asih.


"Iya ayok kita masuk" ucap Kinara melenggang pergi masuk ke dalam rumah.


Seperti itulah kondisi kejiwaan Kinara seperti anak bayi merengek meminta sesuatu hanya dengan satu rayuan ampuh rasa sedihnya hilang begitu saja.


Bik Asih mengikuti langkah Keisya masuk ke dalam rumah namun tertahan saat matanya bersibobrok dengan seroang anak muda seusia Keisya sedang menatap ke dalam rumah.


Anak muda itu seketika salah tingkah dan mengangguk pertanda maaf pada bik Asih. pemuda itu duduk di teras rumahnya yang menghadap langsung dengan rumah yang di tempati bik Asih dan hanya terhalang oleh jalan desa.


Bik Asih langsung masuk ke dalam setelah menunduk tanda memberikan hormat pada anak muda tadi. siapakah anak muda tersebut?? dan kenapa bik Asih seperti sangat menghormatinya??


Saksikan lanjutannya besok malam..