KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
112 Kenyataan



Tuan Denias dan Kinara larut dalam percakapan mereka. tidak seperti ekspektasinya sebelum mendatangi ruang inap Kinara, kini tuan Denias bernafas lega karena Kinara mau menerimanya.


"Maafkan om Ra, maaf selama ini om selalu bertindak sesuka hati tanpa pernah memikirkan perasaan kalian"


"Nggak apa-apa om, sudahlah"


"Kenapa kamu nggak cerita dari awal saat pemakaman ibumu?"


"Aku nggak berani om, aku takut kalau ayah tambah sedih"


"Dan kamu pendam ini sendirian sampai sekarang, selain kamu apa ada orang lain yang tahu?"


"Aldo, aku sama Aldo pernah nemuin bukti di galeri ibu, di ruang kerjanya nggak sengaja"


"Apa??" tuan Denias tambah terkejut dengan ucapan Kinara


"Sejak kapan nak?"


"Sudah lama aku tidak ingat kapan waktunya"


"Dan kalian simpan dimana bukti itu?"


"Ada sama aku juga Aldo, kami punya brankas sendiri untuk menyimpan bukti"


"Kenapa kau diam saja tidak menyerahkan bukti itu pada paman atau papa mertua mu?" ucap tuan Denias sedikit kesal


"Lalu apa bedanya dengan kalian yang menyembunyikan identitas Keisya selama bertahun-tahun?" kilah Kinara sengit. jiwa almarhum ibunya mengalir pada tubuh Kinara ini yang tidak di sadari tuan Denias. wanita bertangan dingin.


Tuan Denias diam, ia sadar telah melakukan kesalahan fatal dengan membohongi Kinara tentang Keisya.


"Dan aku punya bukti penculikan Keisya lima belas tahun lalu" ucap Kinara lagi, tuan Denias menganga tak percaya.


"K...kau..darimana kau dapatkan nak, kami saja sudah mencarinya selama lima belas tahun tapi tidak bisa menemukan nya" ucap tuan Denias tak percaya.


"Apa om punya saudara sepupu lain?"


"Maksudmu?"


"Semua bukti yang kalian cari telah di amankan oleh sepupu om sendiri, dan kalian tidak menyadarinya kan?"


"Apa?" tuan Denias semakin terkejut.


"Maksud kamu siapa nak?"


"Tante Ranti, dia yang mengamankan semua bukti yang kalian cari atas permintaan ibu, bukankah om tahu kalau Tante Ranti sempat depresi sejak ibu meninggal?"


"Semua bukti itu ibu yang meminta tante Ranti untuk menyimpan nya, demi keselamatan Keisya dan aku"


"Maksud kamu apa nak?"


"Anthony tahu kalau kami kembar"


Deg


"Jangan katakan kalau selama ini Tante Ranti tahu segalanya iya kan?"


"Ya, dugaan om benar, dan sayangnya kalian tidak begitu peduli dengan Tante Ranti hanya karena beliau sepupu jauh dari nenek, satu-satunya yang peduli hanya ayah dan kak Revan"


"Jangan salahkan Tante Ranti karena ia hanya menjaga amanah ibu saja. sejak lama Tante Ranti ingin menunjukkan bukti itu pada kalian, tapi ibu selalu melarangnya, kalian tahu kan ibu dan Tante Ranti itu dekat meski mereka sepupu jauh?!"


"Kapan kau bertemu Tante Ranti?" tanya tuan Denias sendu


"Sejak ku temukan bukti itu, aku dan Aldo langsung menemui Tante Ranti dan menanyakan langsung, Tante Ranti hanya memintaku untuk diam saja tanpa melakukan apapun karena menghormati om Denias"


Tuan Denias terpekur dengan kenyataan yang ia dengar, susah payah ia mencari tahu semua bukti itu dan menjebloskan Anthony ke penjara, tapi rupanya almarhum Amina punya rencana lain. di satu sisi ada rasa bersalah di hatinya karena selama ini kurang menjalin silaturahmi dengan saudara nya yang lain.


Bukan tanpa sebab, karena memang ia tak mau melibatkan keluarga nya yang lain. ia tak ingin keluarganya yang tidak ada sangkut pautnya ikut terseret. selain itu ia menjaga amanah dari almarhum bapaknya tuan Henry Wiraatmadja agar bisa melunakkan Anthony tanpa melibatkan keluarga yang lain.


Ternyata sikapnya selama ini salah, justru keluarganya yang jauh yang lebih tahu tentang permasalahan mereka.


"Kenapa om?" tanya Kinara yang melihat tuan Denias tengah melamun.


"Maafkan om nak, om sudah salah"


"Temui Tante Ranti om, sudah sejak lama Tante Ranti dan om Rudi ingin sekali menemui om, tapi mereka merasa segan dan sungkan"


"Rudi?"


"Iya om,"


"Apa dia juga tahu?"


"Ya, om Rudi juga tahu, tapi ibu yang melarang mereka berdua untuk bicara hingga tiba saatnya"


Runtuh sudah air mata yang ia tahan sejak tadi, mendengar kenyataan dari keponakannya membuatnya semakin merasa bersalah, memang benar semua ini berawal dari Amira yang menghilang selama puluhan tahun sejak remaja. di balik rencana yang ia susun selama ini rupanya Amina sudah mengantongi bukti itu sejak awal.


Dan sekarang, di hadapkan dengan kondisi Anthony yang memburuk membuatnya tidak tega untuk menjebloskan pria psikopat itu ke penjara. mungkin ini yang Amina inginkan, Anthony bertaubat.


"Lalu dimana kau simpan bukti itu sekarang nak?"


"Ada sama Aldo om, atau mungkin sudah di serahkan pada calon mertuanya, secara calon mertuanya kan Kapolres di kabupaten sebelah, dan bukti pembunuhan nyonya Vera kan disana"


"Kau tahu tentang istri tuan Bagas?"


"Ya aku tahu semuanya om, Aldo yang mengatakan padaku karena dia pergi ziarah saat itu"


"Om tidak tahu harus berkata apalagi, mungkin ini yang ibumu inginkan, Anthony bertaubat di sisa hidupnya, dan karena itu ibumu menyembunyikan semua bukti itu selama puluhan tahun".


"Ibu memang seperti itu, wanita bertangan dingin yang punya insting kuat"


"Aku akan menemui Rudi dan Ranti"


"Temui saja om, sekalian pindahkan sebagian harta yang ibu wariskan padaku untuk Keisya"


"Apa?"


"Maksudmu apa nak?"


"Temui Tante Ranti dan om akan tahu jawabannya disana, dan jangan lupa om ajak pak Darwis pengacaraku dan Keisya yang sudah di tunjuk oleh ibu sebelum meninggal"


Bertambah lah keterkejutan tuan Denias mendengar penuturan keponakannya.


"Om ibu sudah menyelesaikan masalah ini sebelum meninggal karena ibu hanya ingin memberikan kesempatan pada Anthony bertaubat di sisa hidupnya. meski aku masih belum menerima kesalahan Anthony, aku juga menginginkan hal yang sama. biarkan dia bertaubat jangan jebloskan dia ke penjara, dia sudah tidak punya siapapun di dunia ini"


"Baik lah nak, aku akan menemui nya segera"


"Dan untuk kak Revan, jangan paksa dia menemui Anthony om, jika hatinya belum siap menerima kenyataan, sudah bisa menemukan ibu kandungnya saja sudah kebahagiaan terbesar dalam hidup nya. beri kak Revan waktu untuk menerima semuanya, dan untuk keluarga mertuaku, mereka juga punya luka yang sama besarnya dengan kita om, kondisi psikologis dan trauma mereka lebih penting om"


"Maafkan om nak, om selama ini salah selalu berbuat semaunya tanpa memikirkan perasaan kalian"


"Sudahlah, dan jangan limpahkan kesalahan pada Tante Amira, dia juga korban dari keadaan om, mungkin di awal aku memang tidak bisa menerima kenyataan tapi aku tahu tidak ada satupun manusia yang bisa menolak takdir yang sudah di garis kan Tuhan."


"Terimakasih nak, kau sama dengan ibumu, maafkan om"


"Sama-sama om maafin aku juga ya"


Mereka akhirnya menangis bersama saling menguatkan.