
...Akhir Bahagia 2...
"Assalamualaikum anak-anak Tante mana suaranya?" ucap Keisya saat memasuki rumah sang kakak menenteng sebuah koper dan tas serta paper bag oleh-oleh untuk dua keponakannya.
"Waalaikumsalam Kei? kok udah datang katanya besok" tanya Kinara seraya mengambil tas dari tangan Keisya.
"Iya harusnya besok, tapi kemarin aku ajuin proposal udah di ACC sama dosen pembimbing jadi pulangnya di cepetin" jawab Keisya
"Alhamdulillah,jadi penelitian disini?"
"Batal, katanya mas Hanan biar di desa aja yang lebih dekat kalau mau bolak balik ke Malang, mas Hanan juga sementara nyelesaiin tesisnya, emang beneran minta cuti di kantor mbak?" tanya Keisya sembari duduk dan meminum segelas air dari dispenser.
"Iya kemarin minta cuti dua hari katanya mau ambil angket di tempat penelitian nya, aku tawarin pakai mobil kantor nggak mau katanya lebih cepat kalau naik motor" balas Kinara
"Emang gitu sih orangnya, oh ya ada salam dari umi Tin mbak, kapan datang lagi ke desa"
"Nanti aja kalau mbak ada libur, lagi banyak tender jadi bingung mau nyelesaiin yang mana dulu"
"Mas Azka mana?"
"Di cafe, ada yang order paket katering untuk hajatan katanya jadi sibuk"
"Tumben mama Hanna nggak kesini?"
"Barusan aja pulang, Bulik Sri sehat kan?"
"Sehat semua, Arini lagi di deketin anaknya pak kyai, tapi sok gengsi kikikik"
"Masak? trus sama pak dokter itu gimana ceritanya?"
"Nggak tahu, terakhir kali aku denger dari Arini kalau dokter itu di jodohkan sama orang tuanya"
"Oh, kirain paklik sudah ngasih lampu hijau"
"Emang sudah, tapi karena masalah keluarga pak dokter nya minta waktu nyelesaiin dulu, anak-anak kemana kok sepi?"
"Ngaji di mushola sama mbaknya"
"Mbak, Aku ketemu Bu Fitri seminggu yang lalu"
Deg
Kinara yang sedang menuang sayur di wadah langsung terhenti mendengar ucapan Keisya.
"Bu Fitri? dimana?"
"Di statiun kereta, cuma ngelihat dari jarak jauh, mau nyamperin akunya udah masuk kereta"
"Orangnya sama siapa?"
"Sama si kembar"
"Semoga mereka baik-baik saja"
"Mbak kok masih baik gitu sama mereka?"
"Karena mereka juga baik sama almarhumah ibu dan juga udah bantu ngerawat mbak waktu masih kecil" ucap Kinara mengenang. Keisya mengangguk-angguk.
"Kamu nggak ada dapat kabar apa-apa dari Reno?"
"Ya nggak lah mbak, ngapain juga mikirin dia, orang udah ilang di telan bumi, mbak kenapa sih?"
"nggak papa, kemarin sahabat mbak dari luar negeri datang dan nanyain Reno, kita nggak tahu mau jawab apa, ya akhirnya jujur kita bilang kalau dia hilang entah kemana"
"Lagian kenapa harus pake ngilangin jejak segala, kalau aja dari awal dia bilang nggak mau terima permintaan ayah, ya udah ngomong aja, jadi aku nggak terlanjur nyaman sama ibunya, eh malah ujug-ujug di batalin tanpa diskusi dulu"
"Mungkin karena takut ancaman kak Revan Kei"
"Emang kak Revan ada ngasih ancaman?"
"Iya, waktu ayah masuk rumah sakit, Reno minta maaf sama kak Revan, kalau saat itu nggak ada kak Vivi,mungkin Reno sudah babak belur"
"Hah, ya udahlah males banget aku ngebahas itu mbak, butik masih ramai kan?"
"Masih, orderan Alhamdulillah selalu ada, mbak rencana mau lepas ke kamu secepatnya, biar agak ringan"
"Ntar dulu lah, aku masih mau nyantai, desain baru udah ku kirim ke email kak Mala buat louncing bulan depan"
"Iya, kak Mala udah ngomong, pesenan baju kamu buat lamaran nanti udah jadi"
"Ya Alhamdulillah, besok siang aku lihat ke butik"
Obrolan mereka berhenti saat pintu utama di ketuk beberapa kali. Keisya kembali ke kamar tamu untuk istirahat sejenak. hari ini memang dia berencana ingin menenangkan tubuh dan pikirannya yang sudah terkuras banyak karena pengajuan proposal yang berkali-kali gagal dan di tolak dosen pembimbing. dan setelah perjuangan panjang dan di acc Keisya langsung mengemasi barang-barang nya untuk pulang ke rumah sang kakak.
"Kei, ini ada tamu kita bikin pesta barbeque di halaman belakang nanti malam" teriak Kinara dari luar pintu kamar.
"Iya, aku mau tidur dulu"
Kinara kembali ke dapur bersama Riska dan Cici membawa setumpuk belanjaan mereka untuk nanti malam.
"Keisya datang?" tanya Riska
"Iya baru juga tadi, masih capek biar istirahat dulu"
"Owh, anak-anak pada kemana?" tanya Cici
"Ngaji sama mbaknya di mushola, sorean baru pulang, nanti maghrib pergi lagi sudah sholat isya baru balik"
"Masih kecil-kecil banget Ra, udah kamu biasain pulang malem" celetuk Cici
"Mereka di mushola ngaji bukan main domino, bukan juga nyuri, kenapa harus khawatir, justru dari kecil harusnya di biasakan lah, lagian mereka kalau Maghrib bareng papanya" ucap Kinara
"Iya bener juga sih hehe" ucap Cici malu mendengar sahutan Kinara atas ucapannya.
"Assalamualaikum...." suara salam terdengar dari ruang tamu. rupanya Beno juga sudah datang menyusul bersama Ririn, Aldo, dan Fikar.
"Waalaikumsalam... ibu polwaaaan" balas Cici berlari memeluk Ririn. Aldo melirik Cici lalu mencebik, "Kebiasaan manja" cibir Aldo yang berdiri di samping Ririn.
Kinara dan Riska datang menghampiri mereka di ruan tamu membawa setoples cemilan.
"Cuma setoples Bu CEO?" ledek Beno
"Sewot, segini juga buat kalian cukup" balas Kinara mengejek lalu tertawa.
"Tenang Ben, stok masih banyak di lemari" sahut Fikar.
"Toplesnya doang hahahahaa" Aldo menimpali.
"Ngisi sendiri Ben, mumpung stok toples gue lagi kosong semua tuh di lemari" sahut Kinara
"Anjay.... kalian...rumah siapa yang nyambut tamu siapa" ucap Beno kesal
"Gagal diet Lo pulang kampung Ben" celetuk Riska
"Hahahhaaa" mereka semua tertawa mendengar celetukan Riska
"Wah doa Lo jelek, justru gue pulang kampung karena mau program gemuk, disana kagak ada bakso, apalagi sambel"
"Hahahaha" semua tertawa mendengar ucapan Beno.
"Makanya Lo mending di luar negeri Dar pada di sini hahaha..." cibir Cici.
"Eh bentar gais gue angkat telpon dulu bentar" Beno pamit buru-buru keluar menjawab telepon.
"Sesibuk itu Beno sekarang ya" ucap Ririn.
"Maklum udah kontrak kerja di perusahaan ternama dari Perancis" sahut Aldo
"Wow kok Lo tau do?" tanya Cici
"Dianya ngomong sama gue tadi pagi"jawab Aldo
"Azka mana Ra?" tanya Fikar
"Masih di cafe mungkin sorean baru pulang, lagi banyak pesenan soalnya"
"Emang masih ngelayanin catering juga?"
"Masih aja, lagian cafe sama tempat catering satu lokasi cuma sebelahan sama dinding doang"
"Pak dokter mau pesen catering buat lamaran ya?" goda Cici
"Buat ngasih makan anak kucing kelaparan di ruko sebelah" sahut Fikar kesal. teman-teman yang lain saling melirik melihat sikap judes Fikar pada Cici.
"Kalian masih kayak anjing sama kucing ya rupanya, kirain udah nambah tua bisa akur, tetep aja ketemu bertengkar Mulu" sahut Aldo. Cici langsung mencebik kesal.
"Jangan salahin gue, dianya aja sensitif amat" sahut Cici bertambah kesal. tapi Fikar tidak menanggapi ucapannya.
"Benci dan cinta beda tipis Kar, ati-ati Lo" sahut Ririn melirik Cici dan Fikar bergantian
"Emang siapa juga yang mau sama Lo cewek manja" Cibir Fikar
"Emang gue bilang mau sama Lo? pede amat ciiih"balas Cici kesal
"Udah, dari jaman orok bertengkar mulu kalian, pamali udah pada tua masih musuhan, jangan sampai jodoh" celetuk Kinara membuat keduanya menatap Kinara horor.
Obrolan mereka masih berlanjut hingga menjelang magrib Azka pulang kerumah. setelah magrib Azka mengajak kedua anaknya mengaji di mushola hingga selesai sholat isya. ketiga pria Beno, Aldo dan Fikar juga ikut ke mushola untuk sholat berjamaah dan mengobrol dengan ustadz Tarom sembari menunggu sholat isya dan anak-anak selesai mengaji.
Setelah sholat isya Keisya baru bergabung dengan yang para wanita yang sedang menyiapkan acara bakar ikan di halaman belakang. karena lelah seharian membuatnya malas beranjak dari tempat tidur.
"Katanya mau bikin barbeque, lah ini malah pada bersihin ikan gurame, ayam, trus ini ada ikan gabus juga mau di ungkep atau gimana?" tanya Keisya saat sudah berada di teras dapur belakang yang berhadapan langsung dengan halaman belakang.
"Rencananya, tapi Azka lupa bawa dagingnya kebetulan tadi mbak Santi belanja sekalian singgah kerumah Bu Wati langganan ikan, sekalian aja beli ikan disana sama bumbunya" terang Kinara.
"Owh, anak-anak belum pulang mbak?"
"Tuh suaranya kedengaran, samperin gih, tadi sore pulang ngaji nggak tahu kalau kamu datang"
"Okeh, kesana dulu" Keisya berlari meninggalkan Kinara di dapur kotor dan berjalan ke depan melihat kedua keponakan kesayangannya.
"Assalamualaikum anak-anak Tante" ucap Keisya
"Mamiiiiiiii" teriak Keenan dan Keana bersamaan berlari memeluk Keisya yang menyamakan tinggi tubuhnya dengan mereka.
"Oleh-oleh mami"
"Nggak bawa, mami capek perjalanan jauh nggak sempet singgah beli oleh-oleh" ucap Keisya dengan wajah sedih.
"Yah, mamiiii" ucap keduanya kesal.
"Besok kita jalan-jalan seharian, karena tanggal merah kalian libur kan nggak sekolah?" tawar Keisya merayu keduanya
"Beneran?"
"Ya dong"
Azka duduk di sofa memperhatikan interaksi Keisya dengan kedua anaknya dengan senyum bahagia. berharap suatu saat hubungan mereka tetap seperti itu.
Keisya sudah banyak berubah, bahkan Keisya sekarang bukan lagi yang dulu selalu apatis dan membatasi diri.
sejak permasalahan dengan Reno tiga setengah tahun lalu, berkat permintaan konyolnya pada Hanan juga akhirnya Keisya sudah Kembali menjadi pribadi yang sebenarnya. andai Reno tahu, akankah dia menyesal akan kesalahannya di masa lalu?? batin Azka sedih. ingatannya melayang pada tiga setengah tahun lalu saat kesal karena sikap plin plan yang Reno tunjukan pada keluarganya. meski begitu Azka tahu jika dia di posisi Reno pasti akan melakukan hal yang sama.
"Hai, melamun aja bro" Beno dan dua pria lainnya baru datang.
Keisya sudah bersama anak-anak bermain dan belajar bersama mereka di kamar mbak Santi yang memang bersatu dengan kamar anak-anak hanya terpisah partisi saja. seperti itulah kebiasaan Keisya jika berkunjung kesini.
"Nggak papa, kalian ke belakang aja dulu, gue mau ke atas sebentar" ucap Azka seraya beranjak meninggalkan ketiga sahabatnya.
"Azka kenapa sih?" tanya Beno bingung karena sejak memasuki rumah sikap Azka tiba-tiba dingin.
"Lo cerita Do" ucap Fikar membuat Beno semakin penasaran.
"apaan sih, main rahasia-rahasia an" sahut Beno.
"Semenjak Reno hilang nggak ada kabar, setiap Keisya datang kesini, sikap Azka pasti begitu, sedih lah seandainya Lo ada di posisi mereka. Azka kecewa karena sikap reno, tapi dia juga nggak bisa marah. dan setiap Minggu Azka selalu meminta laporan anak buahnya yang mencari Reno tetap aja nihil, biar bagaimanapun Reno dan ibunya sudah seperti keluarga bagi Kinara" terang Aldo.
"Lah Lo kan Intel gais, kenapa bukan Lo yang cari" imbuh Beno.
"Kalau gue bisa dari dulu udah gue bekuk Reno, Lo tahu sendiri kan dia paling jago kalau pas main petak umpet dari SD." sahut Aldo.
"Iya juga sih" ucap Beno dengan raut wajah tak bisa di tebak. ada satu hal yang membuatnya diam dan semakin penasaran akan sosok Reno yang menghilang di telan bumi.
Beno memandang kedua sahabatnya dengan tatapan kasihan. terlebih Kinara-Keisya dan Azka.
"Ya udah yuk ke belakang, kasian mereka pasti udah pada nungguin." ajak Beno menarik lengan Fikar. Aldo mengikuti di belakangnya.
"Lah katanya barbeque, ini kok ikan gurame gais?" teriak Beno saat sudah di halaman belakang menghampiri Riska yang sedang membakar ikan gurame.
"Hahahaha" Cici tertawa. "Apa gue bilang, pasti orang London protes" sahutnya lagi.
"Bosnya lupa bawa daging soalnya buru-buru banget tadi, maaf ya Ben" ucap Kinara yang datang membawa piring. Beno langsung terdiam seketika, dadanya sesak mengingat wajah sendu Azka sesaat lalu.
"Iya nggak papa, lagian bosen juga kalau barbeque Mulu, udah bosen gue" timpal Beno.
"Huuuuuuuu" seru yang lain.
"Hahahahaa eh disana kagak ada ikan gurame gais adanya hotdog"
"Lo makan enak disana tapi kurus bukan nya gemuk" sahut Fikar.
"Olahraga tiap hari" balas Beno.
"Tapi bagusan badan Lo sekarang Ben daripada dulu" timpal Aldo
"Beneran?"
"Iya, gue serius Lo lebih cocok gini daripada dulu gemuk gemulai hahahha"
"Anjir Lo"
"Do, minta tolong panggil Azka di atas ya" Kinara datang menghampiri Aldo.
"Sekarang?"
"Tiga tahun lagi, dah Sono cepetan"
"Lo bininya gue yang di suruh"
"Bacot amat sih, cepetan gue masih repot"
"Untung bos" Aldo mendumel seraya berjalan meninggalkan halaman belakang.
Setengah jam kemudian Aldo kembali bersama Azka. semua makanan sudah tersaji di atas meja hanya tinggal menunggu kedatangan dua orang yang sedang berjalan menghampiri meja.
"Sorry gais gue telat,ada yang harus gue kerja dulu" ucap Azka meminta maaf
"Santai aja, gini amat ya bos super sibuk" celetuk Ririn.
"Kayak Lo enggak sibuk aja komandan, jam lima subuh udah stay di lampu merah" sahut Azka.
"Hahaha yang mentang-mentang pernah ke pergok nggak pakai helm nggak bawa surat-surat" tambah Aldo tertawa.
"Hahaha ya Lo tahu gue buru-buru belanja ke pasar tiap subuh sampe lupa dompet sama helm"
"Ahahahahhaa"
"Lo itu Ka?" ejek Beno
"Bukan, tapi orang gila kerja" sahut Azka
"Hahahahaahah"
Jadilah malam itu rumah Azka dan Kinara ramai dengan acara reuni dadakan menyambut kedatangan Beno dari luar negeri yang baru saja lulus dengan predikat Summa Cumlaude.
Di sudut kota lain yang jauh dari hiruk pikuk keramaian, seorang pria muda duduk selonjoran dengan tatapan menerawang ke atas langit malam.
sesaat lalu ia melihat postingan salah satu sahabatnya sedang reuni di rumah sahabat lain. ada sesak yang menggelayuti hatinya. sesal yang telah lama menggunung tak mampu membuatnya bangkit untuk kembali hanya sekedar meminta maaf. terlalu naif memang. tapi itulah kenyataannya, rasa bersalah itu justru hadir setelah memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang bahkan hampir terjalin sakral. tapi lagi-lagi saat itu ia memang benar-benar tidak menginginkannya, dan membuat keputusan tanpa pernah memikirkan perasaan yang lainnya. terutama sang ibu yang sekarang sedang berjuang melawan sakitnya.
Demi menghilangkan rasa bersalah yang semakin bersarang lebat di hatinya, ia menjadi orang yang gila kerja dan tidak memikirkan apapun kecuali demi kesehatan ibunya yang jauh dari pandangan.
"Bang, mau sampai kapan kamu sembunyi disini, proyek yang kita kerja sudah selesai dan untuk proyek baru masih menunggu persetujuan direktur". ucap salah satu temannya
"Entahlah, lagian gue udah wisuda kan, sekarang gue masih mau fokus disini aja, ada sekolah yang butuh seorang guru di daerah lereng gunung, gue mau ngajar disana untuk sementara" ucapnya
"Yakin? mau kesana? udah cari lokasi buat tempat tinggal?"
"Yakin, tapi belum nyari rumah tinggal"
"Saya yang urus semuanya kalau gitu, Abang terima beres oke?"
"Oke terimakasih Jak, gue berhutang budi banyak sama Lo"
"No problem saya tidur dulu".
Setelah temannya masuk ke dalam rumah, ia menarik nafas panjang, seraya melihat foto sosial media Seorang wanita yang pernah di sakitinya di masa lalu.
"Kei, maafkan aku, kamu udah berubah, Hanan orang yang pantas untuk kamu. dia banyak berjasa buat kamu, aku menyesal Kei, menyesal sudah memberi luka untuk mu, seharusnya aku yang memberi kamu penawar, maafkan aku" batin nya sedih.
...The End...
Kinara season satu sudah end ya, happy ending buat Kinara dan Azka yang sudah dikaruniai dua orang anak kembar Keenan dan Keana. cerita keduanya nanti ada judul novel tersendiri ya. untuk Keisya ada di season 2 setelah bab ini. kenapa nggak aku buat terpisah ceritanya tetap di satu novel karena peran Azka dan Kinara disini juga masih lebih banyak mendominasi dalam kehidupan Keisya. tanggung banget kalau mau di tamatin sekarang.
Kisah hidup Keisya juga banyak liku-liku yang menerjang perjalanan hidupnya menemukan cinta sejati. bagaimana luka mental yang di deritanya selama bertahun-tahun akhirnya bisa sembuh berkat bantuan seseorang, dan bagaiman kisah pertemuannya dengan Reno di kemudian hari setelah puluhan tahun mereka tidak bertemu sejak Reno memutuskan pertunangan mereka dan memilih pergi. bagaimana kehidupan Keisya setelah menikah suatu hari nanti dan masih banyak lagi.
jadi yang penasaran jangan skip tiap bab nya ya. kisah Keisya justru semakin seru nanti nya.
Love u buat para pembaca setia ku. terimakasih banyak. aku sayang kalian.😍😍😍😍