
"Mau di antar sekarang nona?" tanya mas Hanan saat aku sudah berada di teras.
hari ini rencananya aku mau bertemu langsung dengan klien yang memesan baju pengantin sekaligus baju seragam keluarga dan Bridesmaids menggantikan mbak Kinar yang sedang sibuk dengan dua buah hatinya yang sedang demam.
"Sebentar mas tunggu mama Hanna dulu" ucapku pada mas Hanan.
"Iya nona"
Aku melihat ada yang beda dari mas Hanan, apalagi semenjak ayah dan keluarga dari desa datang kemarin. tapi aku tetap bersikap biasa saja meskipun sikapnya sedikit berubah tidak seperti biasanya.
Semalam ayah memutuskan untuk tinggal di rumah kak Revan bersama paklik Kardi serta anak istrinya. karena merasa nggak enak jika harus merepotkan besannya.
Aku membuka kembali jurnal khusus ku hari ini untuk ku serahkan pada dokter Fritz besok. semenjak hari itu kami memang semakin dekat sudah seperti layaknya kakak beradik. dokter Fritz yang awalnya ku anggap horor karena wajahnya yang terlihat sangat serius ternyata humoris dan mampu menyesuaikan diri dengan semua pasiennya.
Aku menulis beberapa hal yang ingin aku lakukan hari ini dan berharap Allah swt melancarkan urusan ku.
"Kei, belom berangkat?" tanya mama Hanna di depan pintu. aku menoleh dan melihat mama Hanna hanya memakai daster lengan panjang dengan jilbab senada.
"Loh, kan nunggin mama, katanya mau bareng ke butik, nggak jadi ikut?" tanyaku
"Maaf Kei, mama lupa hari ini udah ada jadwal mau nemenin papa ke undangan teman bisnisnya nanti siang, maaf ya, mama dari tadi nyariin kamu mau ngomong itu" ucap mama merasa bersalah.
"Oh ya udah nggak papa., aku berangkat kalau gitu ma, assalamualaikum" oamitku sembari mengecup punggung tangan mama Hanna.
"Hati-hati ya sayang" ucap mama saat aku masuk ke dalam mobil
"Iya ma, dah assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Mobil melaju keluar melewati pagar rumah. deretan perumahan mewah tetangga komplek juga sudah nampak lengang pukul sembilan pagi, hanya ada bebe pegawai atau art yang sedang bekerja membersihkan rumah-rumah tuannya.
Mobil keluar melewati gapura kompleks berbelok kiri ke arah butik yang memakan waktu tiga puluh menit. aku membuka buku jurnal dan mencatat rencana baru yang akan ku lakukan besok.
"Nona, apa ingin membeli sesuatu?" tanya mas Hanan padaku saat kami melewati toko roti Al-Fitrah milik ibu Reno_dulu_. aku mendongak sejenak mata kami saling bertatapan pada cermin mobil.
Aku memalingkan wajah, menunduk melirik ke arah tas selempang lalu mengambil lima lembar uang dari dompet kecil.
"Mas aja yang beli ya, buat karyawan di butik, juga buat mas sendiri, mereka sudah tahu roti kesukaanku, bilang aja mbak Keisya yang pesan. kalau untuk karyawan mas aja yang milih ya" ucapku sembari memberikan lima lembar uang merah.
Mas Hanan sedikit condong ke belakang saat menerima uluran tanganku lalu meraih uang yang ku berikan. mas Hanan hanya diam saja tanpa berucap apapun selain "baik nona". ah entahlah semenjak kejadian dia marah padaku karena menanyakan Reno beberapa waktu lalu, sejak saat itu memang dia seolah menjaga jarak dan hanya berbicara seperlunya saja. bahkan setelah dia meminta maaf karena pernah berkata sedikit kasar padaku saat aku bertanya tentang Reno sikapnya tetap tidak berubah. dingin. padahal di awal di seolah yang memberiku semangat untuk bisa sembuh. aneh.
sepuluh menit menunggu akhirnya ku lihat mas Hanan keluar dari pintu membawa tiga kresek besar roti dan kue kering.
Mas Hanan mengetuk kaca mobil belakang, aku membukanya dan ia mengangkat sekantong kue kering di hadapan ku.
"Maaf nona ini kue khusus untuk nona dari pemilik tokonya yang baru" ucapnya dengan wajah yang sedikit tak enak di pandang. dingin banget. sedingin es di kutub Utara.
"Oh iya, makasih ya, trus buat mas dan karyawan lainnya ada kan?" tanya ku
"Ini ada nona" ucapnya menyerahkan pengembalian uang dan struk belanja.
"Kok cuma 250? harusnya kan ini habis untuk semua kue yang mas beli?" tanya ku heran melihat nominal uang masih tersisa banyak.
"Ada promo nona, itu lihat" ucapnya menunjuk sebuah tulisan di dinding kaca toko.
..."Promo jum'at berkah hanya hari ini"...
Seperti itu tulisan yang tertempel di dinding kaca toko.
"Oh gitu, tapi kok itu banyak bener rotinya mas? nggak salah ngitung kan pegawai tokonya?"
"Tidak nona, saya dengar ada aturan baru semenjak berpindah kepemilikan, setiap hari Jum'at mereka akan membagikan roti gratis pada pelanggan pertama dan kita adalah pelanggan pertama mereka" ujar mas Hanan seraya memasukkan bungkusan besar berisi roti dan kue kering ke dalam mobil.
"Oh ya udah, kita lanjut, saya ada janji jam sepuluh sama klien" sahutku seraya membuka tutup toples kue kering kesukaan ku. mas Hanan mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan aku hanya sibuk mengunyah roti kering sembari mencoret beberapa gambar desain baju yang sedang aku rancang untuk stok di butik.
Kemarin mbak Uya bilang kalau ada beberapa pelanggan yang sedang mencari baju adat tempo dulu dengan nuansa modern yang sedang hits. ah ada-ada saja orang jaman sekarang. beruntung mbak Uya sempat membantu ku mempelajari budaya jaman dahulu yang tidak pernah aku tahu selama ini. terutama budaya Jawa yang masih tetap utuh hingga sekarang.
"Kita sampai nona" ucap mas Hanan menghentikan aktivitas ku mencoret-coret kertas.
"Iya, mas tolong bawain kuenya ke dalam ruangan ku ya. yang lain bagikan langsung sama karyawan, Jangan lupa bagian mas juga di ambil jangan sampai nggak kebagian" ucapku seraya memasukkan kertas-kertas tadi ke dalam Tote bag khusus yang selalu aku bawa saat ke butik.
Brak
"Astaghfirullah mas kenapa?" tanya ku kaget mendengar suara benda jatuh dan suara tangisan anak kecil.
"Maaf Pak maaf,nggak sengaja" ucap salah seorang pengemis yang tidak sengaja tertabrak pintu mobil saat mas Hanan akan keluar.
"Ya Allah pak, maaf saya benar-benar nggak lihat kalau ada bapak lewat, ya Allah ini anaknya menangis m, maafkan om ya nak, om nggak sengaja" ucap mas Hanan merengkuh anak kecil dalam pegangan seorang bapak-bapak pengemis.
"Maafkan kami, pak, mobilnya jadi kotor karena sampah yang saya bawa" ucap seorang bapak tua itu dengan wajah memelas dan kulihat matanya melirik pada bungkusan yang aku bawa yang memang tadi akan ku berikan pada mas Hanan untuk di bawa ke dalam kantor.
"Pak, maafkan teman saya ya, bapak tinggal dimana? sudah sarapan?" tanyaku seraya membuka kantong keresek dan mengambil beberapa roti dan kue kering.
"Saya tinggal di bawah jembatan itu Bu, maaf mobilnya kotor karena kami Bu" ucapnya menunduk. aku tahu jembatan mana yang dia maksud. anaknya juga sudah tampak tenang saat melihat ku mendekati bapaknya.
"Ini buat bapak ya, aku melambai pada salah satu karyawan yang sedang keluar membuang sampah. mas Sigit mendekat.
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya
"Ambil semua roti di mobil bagikan sama karyawan di dalam ya, sisihkan buat sopir saya juga, dan tolong ambilkan saya satu kresek untuk dibawa bapak ini.
aku menyisihkan roti dan kue kering yang sudah ku makan di mobil, lalu menyimpan kembali ke dalam mobil. separuh nya kuberikan pada bapak pengemis.
"Ini buat bapak ya dan anak istri di rumah ya, tolong di terima" ucapku menyerahkan kantong berisi roti dan kue kering yang masih utuh. masih ada tiga buah toples dan enam bungkus roti beraneka rasa dan ukuran.
Bapak tadi mendongak menatap ku lekat saat tanganku mengulurkan kresek berisi roti. bapak itu menatapku Lamat seolah berusaha mengenaliku.
"Kenapa pak?" tanya ku heran dan sedikit risih. bapak tadi tampak bingung seolah mengingat sesuatu.
"Tolong di terima pak" ucap mas Hanan lembut menepuk pundak bapak itu seraya menggendong anak kecil yang berpakaian lusuh. bapak tadi seolah tersadar dari lamunannya saat tangan mas Hanan menyentuh pundaknya.
"Ma... maaf Bu, pak, saya hanya teringat seseorang saja di masa lalu, maafkan saya" ucapnya lirih.
"Tolong di terima ya pak" mas Hanan meraih kantong di tanganku lalu menyerahkan pada bapak tadi. ku lihat tangan sang bapak bergetar saat menerima kresek dari mas Hanan.
"Te.... terimakasih pak, Bu maafkan kami" ucapnya lirih. sang anak tampak bingung dengan omongan kami tapi dia tetap diam dan menatap kami satu persatu.
"Kami yang harus minta maaf pak, karena saya tidak melihat bapak ada di sini" ucap mas Hanan.
"I..iya pak, kami permisi, nak turun ayo pulang" ucapnya meminta sang anak turun dari gendongan mas Hanan. anak itu menurut dan berlari meriah tangan sang bapak.
"Kami permisi pak, Bu, sekali lagi maaf atas kecerobohan kami, dan terimakasih banyak pemberian nya, kami akan selalu mengingat kebaikan kalian" ucapnya menatapku.
"Iya pak sama-sama, besok-besok bapak nggak usah kerja mulung sampah lagi ya, bapak kerja di butik saya mau? jadi cleaning servis bantu-bantu mas Sigit" ucapku menatap mas Sigit yang datang dengan wajah bengong mendengar namanya di sebut tapi dia tetap memilih diam.
Entah dorongan darimana tiba-tiba saja aku berucap demikian pada bapak tadi.
"Apa? tidak salah dengar Bu?" tanyanya terkejut.
"Tidak, saya meminta bapak jadi petugas kebersihan dan keamanan membantu mas Sigit disini setiap hari, bisa kan?"
"Hah?" justru mas Sigit yang berucap demikian karena terkejut mendengar ucapan ku. Aku tersenyum menatap mas Sigit lalu berkata "Pengganti Umang yang mengundurkan diri" ucapku dan mas Sigit tampak tersenyum senang.
"Nah gitu dong, dari dulu nona, saya sudah dua Minggu capek sendirian naik atas bawah keluar masuk ruangan, belum lagi kalau bawain pesenan makanan karyawan" ucapnya tanpa filter.
Mas Hanan tersenyum geli mned keluhan mas Sigit, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan berdecih.
"Capek ya mas, makanya saya minta bapak ini kerja gantiin si Umang, biar mas Sigit nggak capek sendirian" ucapku membenarkan
"Mulai kerja hari ini juga nggak papa nona, kebetulan kan ada banyak job di dalem, teman-teman karyawan bagian audit mau lembur buat laporan bulanan hehe" tambah mas Sigit mesam mesem. aku memutar bola mata jengah.
"Bapaknya mau nggak kalau langsung kerja hari ini?" tanya ku
"Se...sekarang Bu? sa...saya nggak punya baju bagus Bu, mending nggak usah, saya menolaknya karena saya nggak ad ayang buat beli baju Bu" ucap bapak tadi berusaha menolak permintaan ku.
"Bapak nggak usah khawatir baju butik saya yang memberikan, bapak hanya tinggal pakai saja kok" ucapku
"Ta..tapi Bu .." ucap nya terpotong
"Terima saja pak, bos saya tidak suka menerima penolakan, ini sudah jalan rejeki bapak dan keluarga, kalau mas Sigit saja meminta hari ini mulai bekerja, kenapa tidak? itu artinya kami benar-benar butuh bapak, bukan begitu Bu?, mas Sigit?" sahut mas Hanan menatapku dan mas Sigit bergantian.
Aku dan mas Sigit langsung mengangguk, benar juga ucapan mas Hanan menghilangkan kekhawatiran bapak itu.
Bapak itu menatap kami bertiga satu persatu dengan wajah tak terbaca, tapi sedetik kemudian dia mengangguk pertanda setuju dengan permintaan ku.
"Terimakasih pak, mulai hari ini bapak bisa bekerja, nanti mas Sigit yang akan membantu bapak mengerjakan apa saja yang menjadi tugas bapak disini" ucapku.
"Bapak yang yang tinggal di kolong jembatan putih itu kan?" tanya mas Sigit penasaran.
"I..iya mas" jawab bapak tadi.
"Lah bukannya istri bapak sedang sakit? saya lihat bapak Gendong kemarin sore ke Pustu sana"ucap mas Sigit membuat ku mas dan mas Hanan terperangah tak percaya.
"Benar itu pak?" tanyaku
"I....iya Bu" ucapnya.
Akhirnya kami bertiga berbincang banyak pada bapak tadi dan setelah perbincangan panjang di depan halaman butik, aku memutuskan untuk meminta maaf Sigit mengantar bapak tadi dan cucunya ke Pustu untuk melihat istrinya yang sedang sakit baru setelah itu kembali ke butik lagi.
Hari ini aku banyak tersenyum kata karyawan termasuk mbak Uya, entah kenapa sejak kejadian pagi tadi di halaman parkir depan butik, aku mendapat banyak pelajaran penting tentang kemanusiaan yang belum pernah ku dapatkan saat hidup di luar negeri selama lima belas tahun.
Tentang keluarga Bapak Yudi pengemis yang kini menjadi karyawan tetap ku sejak pagi tadi benar-benar memberikan warna terbaru dalam hidupku. dan besok dokter Fritz harus tahu tentang hari ini.