
"Mbak, kamu kenapa kok seharian murung terus?" tanya Arini yang sedang memeriksa catatan kitab Ta'lim yang sudah ia terjemahkan tadi.
"Nggak papa Rin" jawab Keisya pelan seraya menarik selimutnya menutupi semua tubuhnya.
Arini bukan tidak tahu apa yang tengah di alami sepupunya itu, pagi tadi saat menelpon ibunya, ia mendengar dari ibunya jika pernikahan Keisya dan Reno di batalkan sepihak oleh Reno.
Arini mendesah pelan, kasihan melihat Keisya yang baru saja mulai banyak berubah harus di tempa masalah begitu berat yang mengganggu kesehatan mentalnya.
Pasca kecelakaan yang menyebabkan mereka berdua di rawat di rumah sakit memang sempat membuat Arini juga trauma, tapi perlahan rasa trauma itu hilang berkat pendampingan dari dokter dan keluarga nya.
Arini menyimpan kembali buku-buku nya ke dalam lemari kecil. ia menoleh ke arah Keisya yang tubuhnya bergetar hebat karena tangisan.
"Mbak, mau sesuatu nggak? aku mau ke dapur" tawar Arini
"Nggak" jawab Keisya pelan
"Ya sudah saya pergi ke dapur dulu mau ambil air minum sama makanan untuk sahur nanti"
"Iya"
Arini keluar kamar dan berjalan melewati kamar-kamar santri lain yang masih terang benderang, sebagian juga masih duduk lesehan di teras kamar sembari membaca buku atau kitab.
"Mbak Rin, mau ke dapur?" tanya salah satu santri
"Iya Um, mau ikut?"
"Iya mbak, mau ambil minum"
"Ayok"
Arini berjalan bersama santri yang mengikutinya di belakang. mereka masuk ke dapur lalu mengambil kebutuhan mereka setelah meminta izin pada Bu Mairoh yang bertugas memasak untuk santri.
Jarak dari kamar dan dapur memang cukup jauh dan melewati ndalem pak kyai lalu belok ke belakang. Arini dan temannya berjalan menyusuri lorong-lorong kamar santri dengan berbincang-bincang ringan dan sesekali mereka tertawa ringan.
Namun saat sampai di lorong kamar mereka, banyak santri yang berteriak histeris di depan pintu kamar mereka masing-masing dengan melihat ke satu arah yang sama di kamar pojok.
"Mbak berhenti, jangan nekat" teriak salah satu santri yang bersuara keras.
"Mbak Rin itu suara mbak Indah, ada apa ini ayok cepet jalannya" ucap Ummul khawatir karena ia sangat tahu jika sang ketua Rayon Putri berteriak berarti ada sesuatu yang gawat tengah terjadi. Ummul menarik lengan Arini dan berlari melewati kerumunan santri yang berdiri di depan kamar mereka masing-masing.
"Astaghfirullah mbaaaak" teriak Arini saat sudah tiba di depan pintu kamarnya.
Keisya nekat naik di atas pagar pembatas kamar dan ingin menjatuhkan diri. karena kamar mereka berada di lantai tiga membuat suara gaduh mbak indah menjadi perhatian seluruh penghuni rayon putri dari lantai bawah hingga ke atas.
Ada tiga bangunan bertingkat untuk santri putri dan semua santri keluar dari kamarnya setelah mendengar teriakan mbak indah yang melengking mengalahkan suara hewan malam.
"Mbak turun, Jangan nekat" tangis Arini pecah. sedang santri putri yang lain sudah pergi memanggil pengurus dan pembina pondok serta keluarga ndalem termasuk pak kyai Rohmat dan Bu nyai Afifah.
"Lebih baik aku mati Rin, kamu pergi jangan ganggu aku" teriak Keisya tergugu
"Nggak gini juga mbak, turun ya"
"Nggak, nggak mau turun"
"Mbak, plis nanti kita pergi ke rumah Mbak Kinar ya, katanya sampean mau lihat si kembar?"
"Pergi Rin, kamu pergi" teriak Keisya histeris dan.....
"Mbaaaaaaaaaaakkk" Arini histeris lalu pingsan setelah melihat Keisya jatuh dari lantai tiga.
BUM
"Astaghfirullah, Alhamdulillah" sahut sebagian santri putri yang sudah bersiap di bawah menolong Keisya yang hendak menjatuhkan diri.
"Bu Niki pingsan tiang e, pripon?" tanya seorang santri yang berhasil menangkap tubuh Keisya saat ia menjatuhkan diri tadi.
"Bawa ke poskes mbak, nanti saya sama Abah nyusol, saya mau lihat Arini dulu" jawab Bu nyai Afifah
"Nggeh Bu"
"Gimana bah?" tanya Bu nyai Afifah pada kyai Rohmat yang melihat Keisya dan Arini tengah di bopong ke poskestren.
"Saya sudah minta Gus Syam nelpon wali nya, untuk sementara tungguin Arini sampai orang tuanya datang Bu" jawab Kyai Rohmat dengan raut wajah kasihan melihat kedua sepupu itu yang tertimpa banyak masalah akhir-akhir ini.
"Ya sudah, saya kesana dulu bah"
"Iya, mbak-mbak santri silakan Kembali ke kamar masing-masing ya, waktunya istirahat" titah pak kyai Rohmat pada santriwati yang masih berada di luar.
"Nggeh" jawab mereka semua serempak sembari menundukkan kepala memberi hormat pada kyai Rohmat yang berjalan meninggalkan asrama santriwati.
*****
Azka tengah berbicara dengan ayah mertuanya saat ponselnya berdering. ia melihat satu nomor tak di kenal sedang menghubungi ke ponsel istrinya karena memang yang ia bawa ponsel milik Kinara.
"Assalamualaikum dengan kediaman nyonya Kinara, ada yang bisa kami bantu?" ucap Azka sopan
"Waalaikumsalam, maaf Bu, kami dari pihak pesantren memberi kabar jika salah satu santri bernama Keisya sedang di rawat di poskestren, dan seorang santri bernama Arini"
"Keisya, Arini?"
"Baik, saya akan kesana sekarang pak terimakasih infonya assalamualaikum "
"Waalaikumsalam sama-sama pak"
"Siapa nak?" tanya tuan Wibowo resah mendengar nama anaknya dan keponakannya disebut.
"Arini dan Keisya di rawat ayah, saya harus kesana, nggak mungkin kalau ayah yang pergi kan, kak Revan juga nggak mungkin, malam ini biar saya yang kesana sama pak Supri" ujar Azka pelan.
"Tapi , bagaimana sama Kinara kalau kamu kesana?"
"Ada mama dan banyak asisten yang jagain mereka yah, nanti saya minta Hanan menemani ke pondok"
"Baiklah, lakukan saja, seharusnya ini tanggung jawabku" ucap pak Wibowo sendu
"Ini juga tanggung jawab saya juga yah, meskipun saya bukan walinya, ayah nggak usah banyak pikiran yang tenang ya"
"Terimakasih nak, andai saja Reno seperti kamu"
"Plis ayah nggak usah bahas Reno lagi, mereka memang bukan jodoh"
"Ayah yang salah nak, sudah memaksakan kehendak" tangis tuan Wibowo pecah sudah
"Sudah ya, Ayah nggak boleh sedih, masih mau nimang cucu kan?"
"Terimakasih nak, almarhumah nggak salah memilih kamu sebagi menantunya"
"Iya sama-sama" Azka memeluk erat tubuh renta tuan Wibowo
Tepat setelah menjenguk ayah mertuanya, Azka langsung menghubungi mama Hanna dan meminta izin untuk ke pondok dan meminta bodyguard untuk menjaga ayah mertuanya di rumah sakit. tidak lupa Azka juga menghubungi Revan dan Lutfiah untuk menggantikan nya menjaga ayah mertua malam ini.
"Bukannya ini jadwal tuan menjaga tuan besar?" tanya salah satu asisten Azka yang selalu setia menemaninya kemanapun.
"Sebenarnya iya bang, tapi Keisya dalam kondisi darurat, nggak mungkin kak Revan dan istrinya kesana mereka orang sibuk semua belum lagi harus bergantian menjaga ayah di rumah sakit, istri ku juga nggak mungkin, lebih baik saya yang pergi, nanti saya minta Hanan menemani ke pondok" terang Azka
"Mau saya carikan penginapan yang dekat disana tuan?"
"Bisa lah, siapa tahu saya disana sampai semingguan hehehe"
"Emang kuat semingguan nggak dekat istri?" Seloroh asistennya.
"Hahahaha Abang tahu aja, pesan hotel yang dekat-dekat untuk tiga hari saja"
"Baik tuan"
***
"Jaga ibu Dim, mas pergi" ucap Reno memeluk adiknya.
"Anak buah kapal udah nelpon mas, cepetan sedikit, nggak usah banyak lebai, kita harus cepat sebelum anak buah Azka tahu posisi kamu"
"Oke, yuk, jam berapa sekarang?"
"Jam sebelas malam, dah cepetan dikit, untung pelabuhan dekat, lewat arah sini biar nggak kelihatan cctv" instruksi Dimas menggandeng lengan sang kakak.
Memang benar semenjak mendengar kabar Reno membatalkan pertunangannya dengan Keisya hingga membuat ayah mertuanya masuk rumah sakit, besoknya Azka langsung mengerahkan anak buahnya untuk mencari Reno.
Sempat Azka tahu jika pagi itu Reno ada di rumah sang kakak ipar karena Revan menghubungi nya. Azka juga berniat menghubungi Reno dan menemuinya langsung di rumah sakit saat Reno menjenguk ibunya, tapi rencananya gagal karena kedua anak kembarnya sedang demam tinggi. dan baru malam ini ia meminta kembali anak buahnya untuk mencari Reno, karena tadi sebelum ke ruang rawat ayah mertuanya, Azka masih sempat mengunjungi ibu Fitri yang ternyata juga sudah pulang sejak sore.
Dan malam ini tepat pukul sepuluh malam ia mendengar kabar jika Keisya di rawat di poskestren, membuatnya harus mengalah karena keadaan, beruntung Kinara mau mengerti dan mendukung keputusan nya.
"Hati-hati mas, bawa ini sebagai bekal disana, ada nomor Arzan di situ, nanti mas hubungi dia kalau sudah sampai, dan ini, peninggalan bapak yang di amanahkan padaku sebelum meninggal, bawa ini kemanapun kamu pergi, banyakin berdoa dan bersholawat, jaga sholat mu, Insha Allah semua baik-baik saja, soal ibu mas tenang aja, ibu udah pergi tanpa satu orang pun tetangga yang tahu" terang dimas memeluk kakaknya dan menyerahkan sebuah dompet kecil yang terbungkus kantongan hitam pada Reno.
"terimakasih Dim"
"Sama-sama, tetap berikan Kabar bagaimanapun kondisi mu disana mas"
"Iya terimakasih ponsel barunya, Lo adik terbaik gue"
"haha ya udah sana masuk pintu mau di tutup"
"Oke bye assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Dimas melepas kepergian Kakaknya dengan hati perih, ia tahu betul bagaimana perangai Azka jika sudah marah, dan ini memang sudah ia persiapkan sejak lama, karena memang ia merasa tidak ada yang beres dengan pertunangan kakaknya.
Berulang kali kakak nya mengeluh jika ia benar-benar merasa terbebani dengan pertunangannya, dan yang sebenarnya Dimas tahu kalau Reno memang belum siap secara mental untuk menikah.
Beberapa kali juga Dimas menasehati sang ibu agar tidak memaksakan kehendak pada Reno, apalagi menuruti keinginan tuan Wibowo untuk merawat Keisya saat kecelakaan beberapa bulan lalu.
Dimas sudah mengerti tak tik yang di gunakan tuan Wibowo agar Keisya dan Reno bertunangan, dengan melibatkan ibunya untuk lebih dekat dengan sang anak, agar Reno bisa berubah pikiran. dan memang itu benar terjadi, tapi pada akhirnya Reno tertekan dan membuatnya hampir putus asa karena terlalu takut untuk mengambil sikap.
Dan karena desakan Dimas yang tidak tega melihat sang kakak terus tertekan terlebih lagi Keisya selalu mencecar kakaknya dengan banyak hal membuat Dimas akhirnya turun tangan. dan malam itu sebelum Reno memutuskan untuk menemui Keisya Dimas meminta kakak nya bertindak tegas.
"Mas, sampai kapan kamu begini? kalau memang mas nggak mau perjodohan ini mending selesaikan saat ini juga, kamu pikir dengan mabuk-mabukan begini Keisya dan keluarganya akan mengerti jika kamu nggak ngomong langsung? kamu pikir ibu juga akan tahu perasaan kamu kalau kamu nggak ngomong sejujurnya kalau kamu terpaksa? besok temui Keisya dan katakan pernikahan kalian batal, dan pergi tinggalkan kota ini. kalau mas nggak mau biar aku yang pergi menemui keluarga mereka, aku nggak tega melihat mas seperti ini, aku nggak tega" ucap Dimas tegas. Reno yang sudah dalam pengaruh alkohol hanya menunduk dan mengangguk saja.
Dimas meraih sebuah botol air mineral dari bang Somat dan menyirami kepala Reno dengan perasaan kesal. kesal karena tak bisa berbuat apa-apa, kesal karena melihat kakaknya begitu tertekan tapi tidak satupun orang mau mengerti.