KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 35



"Kamu serius mau ke Banjarmasin Vi?" tanya Revan sore itu saat mereka sedang duduk ngopi di teras.


"Iya mas, mau gimana lagi, dari kampus satu-satunya yang di tunjuk cuma aku, Vira nyusul setelah selesai seminar, satu minggu disana ngisi seminar pendidikan bareng pak menteri" jawab Vivi


"Masa cuma kamu doang nggak lazim banget" ucap Revan sedikit ketus


"Maksud kamu apa mas?" tanya Vivi yang merasa tersinggung dengan ucapan suaminya.


"Apa nggak ada dosen lain selain kamu yang bisa di tunjuk Vi? kenapa harus kamu?" ucap Revan sedikit keras.


"Astaghfirullah kamu marah? nggak terima aku kesana? dari tadi malam kan aku udah bilang mas, ini seminar bukan cuma seminar aja tapi juga pelatihan bagi guru dalam profesi, aku dan pak menteri ngisi seminar dua hari setelahnya aku sama si Vira ikut ngisi pelatihan profesi guru. kamu pikir aku kesana mau cari brondong? kamu ingat nggak sih mas dari awal perjanjian pra nikah?" ucap Vivi kesal lalu meninggalkan Revan terdiam di kursinya.


Blam


Suara pintu kamar di tutup keras lebih tepatnya di banting dengan tenaga seribu kali lipat tenaga seorang kuli angkut.


Revan mengelus dadanya perlahan, ia tahu telah menyakiti hati istri nya karena rasa cemburunya yang tidak beralasan. padahal sejak awal mereka menjalin hubungan ia sudah tahu sepak terjang Vivi di dunia pendidikan selama hampir 12 tahun mereka saling mengenal.


Kalau sudah begini alamat Revan akan tidur semingguan di sofa depan televisi. kalau Vivi sudah merajuk sangat susah untuk di rayu. baru saja mendengar suara pintu tertutup keras kini Revan harus menerima telepon dari salah satu anak buahnya.


"Kenapa lagi kalau nggak ada berita mending nggak usah telpon" ucapnya sarkas


"Saya cuma ngasih kabar kalau kemarin saya bertemu Bu Fitri tanpa sengaja di toko kue tuan" ucap salah satu anak buahnya di seberang telpon.


"Toko roti mana maksud kamu?"


"Toko roti miliknya"


"Itu kan sudah di jual"


"Saya kirim bukti fotonya saja tuan, beliau yang melayani saya kemarin, rencana hari ini saya akan kesana lagi."


"Ya sudah".


Revan langsung menutup sambungan telepon dengan kesal. mendengar berita tadi membuatnya semakin bertambah kesal dua kali lipat.


Sudah enam bulan lebih ia berjuang mencari Reno tanpa sepengetahuan Vivi dan keluarga lainnya tapi tetap saja gagal. Revan yakin jika Reno ada yang membacking nya sehingga sulit untuk menemukan informasi tentangnya.


Beberapa detik kemudian ponselnya berdering dan sebuah pesan masuk. Revan membukanya cepat dan benar saja itu foto bu Fitri yang di katakan anak buahnya. Revan tersenyum dan sebuah titik terang ia temukan semoga saja ia bisa tahu di mana keberadaan Reno.


Tetap saja sedalam apapun Revan menyembunyikan niatnya, Vivi tetaplah tahu apa yang sedang di lakukan suaminya. di balik sekat dinding pemisah antar ruang tamu dan ruang keluarga, Vivi masih dapat mendengar jelas pembicaraan suaminya dengan sang anak buah.


"Sampai kapanpun kamu nggak akan pernah bisa nemuin Reno, aku tahu kamu mau balas dendam sama Reno karena ibunya mendapatkan separuh harta peninggalan almarhum ibu Amina. kamu nggak tahu aja mas kalau harta itu sejatinya milik almarhum bapak sambung Reno sendiri yang sudah bekerja puluhan tahun di belakang layar membantu membangun perusahaan ayah Wibowo dan almarhum ibu angkat mu" batin Vivi tersenyum smirk lalu menuju ke taman belakang. biarlah selama sebulan ini ia akan mendiamkan Revan sampai laki-laki yang sudah mengucap ijab qobul atas dirinya itu sadar akan kesalahannya sendiri.


****


"Maaf Kei, mbak baru bisa datang malam" ucap mbak Vivi saat bertandang kerumah malam ini. mama dan papa Hanna sedang keluar menghadiri undangan tetangga kompleks sebelah.


"Nggak papa mbak, lagian tadi seharian aku juga lagi nggak mood mau ngapa-ngapain faktor haid hehehe" ucapku


"Ooh biasa mah itu, om Tante mana?"


"Lagi pergi undangan di kompleks sebelah"


"Kamu udah gemukan sekarang ya" ucap mbak Vivi memandangku dari atas kebawah


"Ah biasa aja mbak, lagi good mood aja kelihatan gemuk hahaha" ucapku


"Gitu ya?"


"Iya dong"


"Jadi mbak mau pesen gaun seperti apa?" tanyaku langsung pada persoalan.


"Gaun muslimah sederhana aja tapi mewah ada nggak?"


"Banyak, tapi aku nggak bawa contoh desainnya mbak".


"Urusan desain kamu aja, kamu yang lebih tahu mana yang bagus buat aku."


"Ya nggak bisa gitu dong mbak, harus sesuai pesanan pelanggan, mbak cari-cari aja contoh desain di om guling pasti banyak"


"Ya udah ntar ya"


Aku dan mbak Vivi berbincang-bincang soal desain baju yang akan aku buat hingga pukul sepuluh malam. aku sedikit terkejut saat Neha,sopir mbak Vivi yang datang menjemput bukannya kak Revan. tapi aku tidak berani bertanya macam-macam karena takut Kana menyinggung perasaan mbak Vivi. semoga saja kak Revan nggak nyakitin istri sebaik itu, keibuan, humble, penyayang. batinku.