
Reno berjalan melihat kesibukan karyawan di dapur yang sedang membuat adonan kue pesanan dalam jumlah banyak.
"Hari ini udah berapa orderan untuk pengantaran?" tanya Reno pada salah satu karyawan.
"Hari ini cuma langganan ibuk saja pak, pelanggan tetapnya, 500 biji kue kotak dan 200 nasi kotak" jawab karyawan pria yang sedang memasukkan adonan roti ke oven.
"Oh gitu, dari jam berapa kerja ini?"
"Jam setengah empat subuh pak hehe, untung aja mbak Indah udah prepare bahan sejak kemarin jadi kita bangun langsung cuss"
"Bagus, tingkat kan kerjasama tim nya ya" ucap Reno menepuk pundak pria muda di depannya itu. "Mbak, bungkusin saya castangel dua ya, kalau bisa di hias biar cantik, buat temen saya ulang tahun nanti malam" lanjutnya memanggil salah satu karyawati yang masuk ke dapur membawa nampan kosong.
Karyawati itu mengangguk dan berbincang sejenak dengan karyawan lain dan keluar membawa nampan baru berisi roti.
Reno menemui mbak Indah yang nampak sedang berbincang dengan salah satu karyawan di depan etalase.
"Kenapa mbak?" tanya Reno
"Pengantaran di percepat sore nanti Ren, belum kelar semua, kita butuh tenaga tambahan" kata mbak Indah.
"Emang baru berapa banyak kue kotak nya?"
"Baru 300 biji yang udah siap di packing, kalau buat nasi kotaknya kayaknya sudah siap di kemas, ini baru aku nelpon ke bude" katabak indah nampak bingung.
"Ya udah biar aku yang bantu ngadonin di dapur, mbak bisa panggil anak kosan yang perempuan terutama ibu-ibu buat bantu ngemas, biar bang Rendi yang nganter mereka kesini nanti sekalian juga bang Rendi ikut nganter kuenya"
"Mana cukup waktu Ren? ini udah jam satu siang, kuenya harus di Anter jam tiga" ucap mbak indah.
"Oke, kalau gitu hari ini kita tutup nggak melayani pembeli, semua kue yang ada di etalase kita pake nyukupin sisanya yang kurang" putus Reno akhirnya.
"hufft okelah, untung kamu datang di waktu yang tepat Ren, terimakasih" ucap mbak indah haru lalu menepuk pundak keponakan angkatnya itu.
"Takdir mbak, dah ayok, mbak Tisna, tutup tokonya" titah Reno pada pegawai yang sedang menata kue.
"siap bos" kata mbak Tisna
Reno langsung ke dapur membantu karyawan lain membuat adonan, sedangkan mbak indah di bantu empat karyawan lain sudah mulai mengemasi kue.
"Mbak pesanan untuk pengajian sudah selesai kan?" tanya mbak Tisna
"Sudah tis, itu di pojokan, orangnya udah datang ngambil?" tanya balik mbak indah
"sudah di depan mbak, di kira toko libur hampir aja orangnya ngebatalin" kata Tisna
"oh mbak tolong angkut itu ke depan, lima kresek gede itu loh" titah mbak indah pada dua pegawainya.
sementara itu di sisi lain, Keisya tengah bersiap dan di rias oleh MUA langganan mama Hanna.
Hari ini akan menjadi jejak awal sejarah hidup barunya di masa depan. Hanan resmi melamarnya sore ini membawa keluarga besarnya dari pesantren, sudah sejak kemarin keluarga Hanan tiba di Jakarta dan menginap di hotel yang sudah di booking oleh tuan Wibowo sang ayah.
Rombongan keluarga Hanan akan tiba disini setelah sholat ashar untuk prosesi lamaran.
Tak ada yang tahu takdir apa yang tengah menghampiri mereka hari ini, baik Keisya, Reno, maupun Hanan tak akan pernah menyangka apa yang akan terjadi.
Sudah sejak beberapa bulan Keisya memang terlihat lebih banyak diam, terutama beberapa hari menjelang lamaran, suasana hatinya memang tak menentu tapi ia tetap meyakinkan dirinya jika inilah pilihan hidupnya meski bayangan masa lalu masih tak berhenti menghantuinya hingga hari ini.
Di salah satu rumah sahabat Kinara tampak tiga pria sejak beber hari lalu uring-uringan karena tak pernah berhasil menghubungi Reno sahabat mereka yang hilang entah kemana
"Tetap nggak bisa Do?" tanya Beno pada Aldo Yang sedang mengutak-atik titik sinyal keberadaan Reno
"Terakhir di bandara Syamsudin Noor tujuan ke Surabaya, tapi gue udah nyari jejaknya disana nggak ada" jawab Aldo.
"Busyet nih anak, kemana aja sih, pake acara ngilang segala, emang dia hantu jadi-jadian, kekanakan banget Anjaaaaai" oceh Beno
"Udahlah Ben minum dulu kopi Lo, gue mau keluar cari makanan siapa tahu Nemu petunjuk, gue mau ke toko roti fitrah, perasaan gue nggak enak sumpah, dari kemaren pengen banget gue kesana" ungkap Fikar seraya mencopot jas kebesarannya dan berganti baju.
"Lemot Lo kenapa nggak dari kemarin, kenapa malah sekarang?" tanya Beno tak sabaran
"Lo tau kan jadwal gue padat di rumah sakit?" timpal Fikar lalu mengambil kunci mobil dan pergi.
"Gue nyerah Ben, sumpah nih anak sebenarnya kenapa sih?" kata Aldo meninggalkan meja dan pergi ke dapur.
"Nomor Dimas juga nggak aktif, Arkan juga sama, siapa lagi yang bisa gue hubungi? arrgh" oceh Beno sendiri mata dan tangannya tak luput dari semua nama yang ada di daftar telpon yang ada di buku hariannya.
"Om Denias..." gumam Beno lalu tersenyum senang dan langsung menekan beberapa angka di ponselnya.
Setelah beberapa saat tak terjawab akhirnya sambungan Telpon tersambung, suara seorang wanita mengawali sambutan.
"Saya istrinya, ini siapa?" tanya suara wanita di seberang
",saya Beno Tante, sahabat Kinara, oh ya Denias ada nggak?"
"Oh, om Denias lagi di belakang ngasih makan ayamnya, ada apa ya? nanti saya sampaikan kalau memang benar-benar darurat atau mau saya panggilin orangnya?"
"Boleh deh tan, biar saya aja yang ngomong"
"Oke tunggu bentar ya" sambungan telepon terputus Beno langsung jingkrak-jingkrak tak karuan di atas kasur membuat Aldo terheran-heran.
"Kenapa Lo?" tanya Aldo mencibir "menang lotere Lo?"
"sssttt" Beno mengacungkan jari telunjuknya di bibir Aldo.
Ponsel Beno berdering dan nama om Denias terpampang di layar utama.
"Assalamualaikum om, saya Beno"
"Waalaikumsalam kenapa Ben? udah berani pulang Lo?" tanya om Denias dengan gelak tawanya.
"Ck, nggak lagi pengen bercanda om, emang om nggak Kerumah Kinara? katanya Keisya mau lamaran"
"Ngapain saya kesana siang-siang bolong begini, baru juga jam satu eh salah mau jam dua siang deh, ada apa? tumben nelpon, baru ingat bakti ke orang tua Lo?" kata om Denias dengan tawa khas nya.
"Lagi ngga pengen bercanda ya om, ini soal hidup dan mati sebuah pertemanan yang sudah terikat sejak ribuan tahun lalu sebelum zaman dinosaurus ada" kata Beno terkikik sendiri
"Deh, situ juga bercanda, kenapa sih Ben? jangan bilang Lo capek nyari Reno?"
"Nah itu dia.... om pinter banget nebak nya, udah kayak mbak dukun pangkalan hihihi"
"Ndiaasmu wi... Reno ada di Jakarta kok, datang aja ke kosannya, atau ke toko roti ibunya" kata tuan Denias santai
"What's? Reno di Jakarta? toko roti?" mata Beno memandang Aldo yang juga ikut serius mendengarkan pembicaraan nya dengan om Denias. tanpa di minta Aldo langsung berlari dan mengambil kunci motornya dan helm. tak lupa tas kecil yang selalu ia bawa.
"Iya Reno ada di Jakarta udah dua harian kayaknya, emang kenapa?" tanya balik om Denias
"Om sering ketemu Reno?"tanya Beno terkejut
"udah empat tahun nggak ketemu" jawab om Denias santai
"Tapi darimana om tahu Reno di Jakarta?" tanya Reno penasaran
"Kamu nggak ingat siapa saya?" tanya balik tuan Denias
"Heheh udah lupa soalnya udah empat tahun nggak ingat bakti ke orang tua Om... kikikikik" balas Beno bercanda
"Dasar bocah ediaaan" umpat tuan Denias
"om sih daritadi ngajakin bercanda Mulu, serius ini om"
"Lagian ngapain sih mau nyari Reno kalau dianya aja nggak mau ketemu kalian, udah nggak usah di ganggu, kalau sampai kalian merusak tatanan mental yang sudah tertata, awas aja penjara imbasnya" ancam tuan Denias tak main-main.
"Kita cuma pengen reunian om, cuma dia satu-satunya yang nggak pernah ada kabarnya, emang salah?" kilah Beno
"Ya nggak salah, tapi tolong jaga perasaan keponakan om ya, apa kalian nggak ingat bagaimana dulu? kalau mau reunian silakan aja tapi jangan sampai ponakan om tahu, oke??" pinta tuan Denias
"Sip om tenang aja" ucap Beno menunjukkan jari jempolnya di depan dada
"Oke wassalam" kata tuan Denias mengakhiri sambungan telepon.
Beno langsung menghubungi kedua temannya setelah itu dan kabar yang ia dapat justru sebaliknya. toko roti ibunya tutup dan kabar dari Aldo juga belum ada respon.