
Sejak pagi Kinara sudah sibuk dengan pekerjaan kantor uang menumpuk. banyak email yang masuk dari sekretarisnya dan masih ada lagi proyek kerjasama yang belum di baca ulang olehnya.
Kinara bangkit dari kursinya setelah membaca salah satu email dari Amd group tentang rencana kerjasama untuk membuka layanan jasa paket yang sudah mereka perbincangkan sebulan lalu.
Kinara berjalan ke arah balkon kamar, melihat teriknya matahari siang ini yang begitu cerah. Kinara tersenyum sembari mengusap lembut perutnya yang sudah membesar.
Minggu lalu dokter Siska sudah mendampinginya kontrol ke bidan Yunik untuk melihat kondisi janin.
"Ini kepalanya udah masuk panggul ya, di sarankan olahraga ringan aja, istirahat yang cukup, dan kalau udah ada tanda-tanda yang saya sebutkan tadi, bisa langsung datang ke klinik, kami siap 24jam" ujar bidan Yunik saat itu.
Dan ini adalah Minggu terakhir masa-masa penantiannya menuggu kelahiran si kembar. meski dua hari ini tanda-tanda yang di sebutkan bidan Yunik sudah mulai terlihat beberapa, tapi Kinara masih kekeuh untuk di rumah karena mama Hanna juga memintanya untuk tenang.
Mama Hanna dulu adalah seorang dokter tetapi harus melepas gelar dan jas kedokteran setelah menikah karena ingin fokus pada keluarga. meski di beberapa tahun setelah menikah dengan papa Anderson, mama Hanna masih menggeluti profesi nya sebagi dokter anak, tapi setelah kejadian naas yang menghilangkan nyawa anak bungsunya dan mengalami trauma bertahun-tahun, mama Hanna memutuskan untuk tidak lagi berkecimpung dalam dunia kedokteran.
"Ra, kamu dimana?" suara mama Hanna memanggilnya. Kinara beringsut dan masuk kembali ke dalam kamar.
"Ada apa ma?" tanya Kinara saat sudah masuk kamar.
"Udh selesai kerja?"
"Udah, baru aja"
"Ini minum sari kurma nya, udah ada tanda-tanda belum?"
"cuma bercak putih aja ma, trus mules tapi nggak terlalu sering cuma sesekali aja"
"Ya udah nanti kalau udah ngerasa nggak enak banget panggil mama ya, mama tidur di kamar sebelah mulai malam ini"
"Iya ma, kok malah mama yang heboh sih, padahal mama yang bilang aku nggak boleh panik harus tenang"
"Iish kamu tuh, ini itu cucu kedua mama, apalagi kamu baru hamil pertama, mama mau nemenin kamu sampai mereka lahir"
"Iya iya, makasih ya ma" Kinara memeluk sang mertua sangat erat.
"Ya udah mama ke bawah dulu nyiapin makan malam"
"Iya ma"
Kinara menatap layar ponselnya yang bergetar, panggilan dari Keisya berdering. Kinara tersenyum lalu menjawab sambungan telepon.
Sebulan berlalu setelah acara pertunangan Reno dan Keisya. seminggu setelah acara ayah memutuskan untuk kembali ke desa dan fokus pada pembangunan rumah yang akan beliau tempati untuk menghabiskan masa tua, Keisya juga sudah kembali ke pondok dan Reno masih sibuk dengan perkuliahan dan aktivitas di organisasi kampus yang ia geluti.
Baru sekali Reno bertandang ke desa saat mengantar ayah dan sekaligus menjenguk Arini serta mengantar Keisya ke pondok.
Keisya juga lebih sering menelpon Kinara di saat ia pondok sedang libur. biasanya memang para santri di berikan kebebasan untuk menghubungi orang tua dan sanak saudara di hari libur tiap Selasa setiap minggunya.
Keisya juga perlahan sudah bisa beradaptasi dengan keadaan di pondok meski tidak ada Arini di sisinya karena kondisi Arini pasca kecelakaan belum pulih, trauma psikologis yang di alami Arini belum menunjukkan tanda-tanda pulih. bahkan Arini masih sering mengigau dan berteriak memanggil Keisya.
Dan baru bulan berikutnya dokter tersebut baru bisa mengajukan surat resign dari rumah sakit jiwa tempat ia magang selama beberapa bulan ini.
"Ini udah waktunya hpl sih tapi belum ada tanda-tanda, mama juga nyaranin aku di rumah aja dulu, kamu sehat kei?"
"Reno masih sering ngabarin kamu kan ya"
"Kok gitu, maklumi dia lagi sibuk-sibuknya kuliah, kata ayah tiga bulan lagi kalian menikah, tapi di kantor agama dulu kata ayah, resepsinya belakangan"
"Yang sabar"
"Loh kamu kenal Hanan?"
"Masya Allah jadi Hanan tetangga depan rumah Bulik Sri? kok kamu nggak pernah cerita sih kei?"
"Hahaha, iya dia kerja di perusahaan jadi asisten divisi pemasaran sekarang"
"Wah bagus dong, kamu bisa belajar dari dia juga, kapan-kapan kirimin video kamu ngaji, kakak pengen lihat"
"Iya iya waalaikumsalam"
Saat telepon sudah terputus Kinara merasakan sakit di perutnya semakin menjadi-jadi, dengan cekatan Kinara menelepon mama Hanna yang sedang di dapur, karena hendak berteriak pun rasanya tidak mungkin karena menahan sakit yang teramat pedih.
Selang beberapa saat mama Hanna langsung berlari ke lantai atas melihat kondisi Kinara yang sudah menggigit bibirnya menahan sakit.
Mama Hanna langsung memanggil semua asisten dan supir untuk membawa Kinara ke klinik.
"Bawa mobilnya agak cepetan dikit Pak" ucap mama Hanna panik di dalam mobil karena Kinara sudah mengeluarkan lendir berwarna merah di balik gamis yang di kenakan.
Bim Siti dengan sigap mengurut kedua kaki Kinara yang sudah mulai mengencang karena menahan sakit di perut sedangkan mama Hanna menopang kepala Kinara dan mengusap puh yang membanjiri wajahnya.
Mbak Reni ikut di mobil lain, dan sedang sibuk menghubungi Azka serta keluarga yang lainnya melalui ponselnya dan ponsel Kinara serta mama Hanna yang di amanahkan padanya.
Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di klinik bidan Yunik. Kinara langsung di tangani dan di dampingi oleh mama Hanna.
Azka yang masih ada kelas langsung meminta izin pulang setelah mendapat telpon jika Kinara akan melahirkan. beruntung dosen yang tengah mengajar termasuk dosen yang pengertian dan humble, jadi Azka bisa meminta izin lebih mudah.
Tuan Wibowo yang sedang berada di desa dan tengah mengawasi pembangunan rumahnya yang sudah 85% selesai, merasa bahagia mendengar kabar Kinara akan melahirkan.
tuan Wibowo pergi menemui Bulik Sri dan pak Kardi untuk meminta izin ke kota melihat kedua cucu kembarnya akan lahir. tuan Wibowo pergi bersama pak Kardi dengan menumpang mobil angkutan barang yang biasa di gunakan Bagus dan istrinya untuk membawa peralatan tenda. suatu kebetulan hari itu istri bagus mendapat job di kota sebelah sekaligus untuk belanja peralatan make up pengantin yang sudah habis ke kota xx serta mengambil gaun pengantin model terbaru yang sudah mereka pesan sejak enam bulan lalu.
Tuan Wibowo tak henti-hentinya mengucap syukur saat mendengar kabar jika cucunya sudah lahir dengan selamat, namun di saat yang sama kondisi Kinara juga masih kritis dan pingsan setelah melahirkan hingga harus di rawat di rumah sakit.
"Cucu ayah cewek cowok" begitu ucap Azka saat menelfon sang mertua.