KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 62



"Seharusnya saya yang meminta maaf sama kamu dan ibumu Ren, karena egoku kmu merasa tertekan, benar apa yang dikatakan anak dan menantu saya kalau Keisya masih butuh penanganan khusus karena mental belum sembuh total" ucap tuan Wibowo pada Reno.


Reno datang kerumah tuan Wibowo bersama dengan Bintoro, pria paruh baya itu menyambut kedatangan nya dengan tangisan haru sekaligus bahagia dan bersalah.


tuan Wibowo menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum lanjut berbicara.


"Dulu aku terlalu egois karena merasa takut akan kehilangan waktu untuk menikahkan satu-satunya anakku, di satu sisi saya juga ingin melaksanakan wasiat almarhum ibunya, jika akan mencarikan jodoh untuk Keisya agar ada yang melindungi nya kelak jika aku sudah tiada" kenang tuan Wibowo


"Tapi ternyata Saya salah, aku terlalu menuruti nafsu dan tidak memikirkan resiko apa yang akan di alami oleh putriku karena kenekatan yang saya lakukan, sampai pada akhirnya kamu mengakhiri semuanya tanpa basa-basi"


"Kinara benar, Azka dan Revan juga benar, kalau sikap egois ku justru akan menjerumuskan Keisya ke dalam jurang terdalam di hidupnya, Keisya beberapa kali nekat bunuh diri di pesantren, bahkan sampai harus kami lakukan penanganan khusus untuk jiwa nya yang sedang terguncang"


"Semuanya karena kesalahan saya nak Reno, saya yang salah, seharusnya saya yang meminta maaf sama kamu dan ibumu" ucap tuan Wibowo di akhir kalimat nya.


"Maafkan juga saya yang sudah memberikan luka pada Keisya tuan" ucap Reno sendu.


"Sama-sama kita saling memaafkan, semua ini jadi pelajaran berharga untuk saya juga kalian generasi selanjutnya, jangan lagi mengulang kesalahan yang sama seperti kami sebagai orang tua" ujar tuan Wibowo memeluk Reno dengan erat.


Bintoro yang menyaksikan langsung interaksi tuan besarnya dengan mantan calon menantunya membuatnya tak bisa menahan air mata. banyak pelajaran berharga yang Ia dapatkan dari semua permasalahan yang terjadi dalam keluarga majikan nya itu.


Sementara itu di sisi lain, Kinara dan Keisya sedang makan bersama di rumah paklik Kardi beserta keluarga yang lainnya.


"Kamu mau kemana le?" tanya Bulik Sri pada Azka yang sedang mengambil kunci motor di atas meja.


"Jemput ayah cuma ayah saja yang nggak ada disini" jawab Azka


"Ayah pergi ke rumah pak RT mas ada keperluan buat jalan tol yang katanya mau di bangun itu loh" sahut Keisya dari dapur.


"Hah?" Azka kaget mendengar ucapan Keisya kemudian menoleh kearah Kinara yang sedang menyuapi si kembar


"Yank, bener?" tanya Azka memastikan


"Iya, masa Keisya mau bohong"


"Cepet amat, kirain proyeknya baru mau jalan dua bulan lagi?"


"Emang ngurusin surat-surat pembebasan tanah warga yang kena dampak seenak ngulek adonan martabak?" seru Kinara yang kesal dengan pertanyaan istrinya.


"Ck, selalunya begitu" gumam Azka kesal dengan tingkah istrinya dan berakhir duduk di antara kedua anaknya Yangs Edang asyik dengan mainannya sembari mulutnya tetap mengunyah.


"Sini aku yang suapin mereka, kamu makan dulu lah, gabung sana sama yang lain, mas sudah" ucap Azka meminta sang istri untuk bergabung makan dengan yang lain.


"Tinggal dikit, nanggung lah, abis ini kamu yang jagain mereka, aku mau bantu-bantu cuci piring di belakang"Kata Kinara


"Kenapa ayah yang turun tangan ngurusin proyek kamu?"


"Ayah sendiri yang minta untuk bantu, padahal udah aku larang, tapi ayah ngotot karena ada sawahnya juga yang kena dampak gitu loh cerita nya"


"Emang berapa hektar?"


"Punya ayah dua hektar, yang kena justru hampir separuhnya sih katanya"


"Masak?"


"Bukannya sebagian masih tanah warga yang lain?"


"Iya juga, tapi maunya ayah gitu, ya udah turutin aja yang penting proyek ku beres, cafe kamu gimana?"


"Udah ada yang berani nyoba?"


"Alhamdulillah udah ke ke empat puluh kali Kriting nyoba resep baru dan peminatnya udah lumayan banyak sih"


"Kenapa nggak kamu sendiri aja yang buat resep baru?"


"Justru resep baru yang udah aku louncing dirusakin sama Kriting, gara-gara dia naro garem terlalu banyak alhasil jadi berantakan, padahal menu dessert legendaris, untung aja yang nyobain anak MIPA, auto ngakak deh gara-gara ulah Kriting, sampai dikasih nama cafe Asin D'new trainer di kelas"


"Hahaha Anjai juga tuh anak, sekarang aku ngerti kenapa Kriting ngamuk-ngamuk datang kerumah waktu itu, cuma gara-gara kamu marah-marah?"


"Hah, kriting datang kerumah?"


"Iya dia cerita soal kamu ngambek marah-marah gara-gara dia salah naro garem"


"Mas mbak, mau makan nggak? nggak tak sisain biar kapok" teriak Arini dari arah dapur


"Tuh di panggil, dah sana biar mereka aku urusin"


"Nih mangkuknya"


***


"Kalau gitu saya permisi tuan, saya harus balik lagi ke rumah" pamit Reno setelah hampir satu jam berada di rumah tuna Wibowo.


Meski ia tidak bisa menemui Keisya setidaknya ia bis meminta maaf secara langsung dengan tuan Wibowo sebagai orang tua.


Benar apa yang di katakan Vivi, kalau tuan Wibowo menyesal dengan sikap gegabah nya menjodohkan anak di saat putrinya masih dalam kondisi mental yang masih kacau.


Setidaknya rasa bersalahnya pada Keisya sudah berkurang setelah hari ini. biarlah rasa cinta ini saja yang ia pendam sendirian, biarlah Keisya bahagia dengan pilihannya.


Meskipun tuan Wibowo tidak mengatakan secara gamblang, Reno sudah tahu dari Vivi beberapa hari lalu kalau Hanan pernah melamar Keisya bersama kedua orang tuanya.


"Hiduplah dengan baik kei, berbahagialah selalu bersama mereka yang menyayangi mu, semoga pria itu menjadi sumber bahagia mu dunia akhirat" batin Reno sedih memandang foto Keisya yang ada di atas nakas.


"Salam untuk ibu dan adik-adik mu ya ren, sampaikan permintaan maaf saya karena membuat kalian harus hidup menjauh" kata tuan Wibowo pada Reno.


"Sama-sama tuan, maaf saya hanya bisa menambah luka mental Keisya, semoga saja kelak akan ada laki-laki yang bisa membuatnya bahagia" balas Reno.


"Kamu sendiri? kenapa nggak nginap saja, ini sudah malam" tawar tuan Wibowo


"Saya sudah terlanjur menghubungi teman saya di kota c tuan, saya akan menginap disana" tolak Reno halus


"Oh ya udah, hati-hati bawa mobilnya jangan terkecoh kalau kamu lewat kawasan hutan, lebih baik kamu menginap di hotel saya sebelum memasuki hutan"


"Terimakasih tawarannya tuan, insha Allah doakan selamat dan aman sampai dirumah"


"Iya sama-sama, kita saling mendoakan, sebelum pergi, saya boleh bertanya satu hal lagi?"


"Iya apa tuan?"


"Apa kamu masih mau menyembunyikan identitas mu dari teman-teman yang lain?"


"Iya tuan"


"Jadi begitu, ya sudahlah, nggak papa"