
"Kei, kamu nggak nyesel menolak Gus Hanan?" tanya ayahnya setelah keluarga Gus Rohid pamit pulang.
"Nggak, emang nggak ada perasaan apa-apa sama dia, kalau aku nerima sama aja aku nyakitin diri sendiri juga dia dan keluarganya yah.." jawab Keisya lugas
"Kamu benar, ayah baru mengerti sekarang kamu benar-benar berbeda dari kakakmu Kinara, apapun keputusan dalam hidupmu ayah setuju saja, karena kamu yang menjalani dan kamu yang tahu apa yang terbaik untuk kamu sendiri" kata ayah
"Ya..ya...karena kak Fritz pernah ngomong jangan maksain sesuatu kalau memang kita nggak mampu karena bukan hanya kita yang bakal sakit tapi orang lain juga ngerasain sakit nya" ucap Keisya mengingat pesan dokter Fritz.
Gurat wajah yang semakin menua itu menyiratkan senyum tanda rasa syukurnya bisa memeluk kembali anak yang puluhan tahun terpisah dengan nya.
Tepukan di pundak Keisya beberapa kali ia berikan. berharap suatu saat sang anak bisa menggapai cita-cita nya tanpa terbebani apapun.
"Ayah bangga sama kamu nak, kamu sudah semakin dewasa, Minggu depan ayah mau ke kota J, kamu tinggal sementara dirumah Bulik Sri, ayah kemungkinan lama karena harus mengurus pengalihan rumah sakit ke direktur yang baru, nggak apa-apa kan?" ucap tuan Wibowo
"Nggak papa, lagian Arini juga katanya mau libur kemungkinan dia juga pulang kok" kata Keisya
"Sampai urusan ayah benar-benar selesai ayah baru nggak akan kemana-kemana lagi, ayah janji"
"Iya ayah, Kei ngerti, ayah nggak usah khawatir soal perusahaan dan anak-anaknya kami bertiga bisa kok menghandle semua"
"Terimakasih nak, ibumu di surga pasti bangga sama kamu, maafkan kami yang tidak berdaya membawa mu kembali sejak dulu"
"Udah ayah nggak usah pake acara nangis segala, kei sudah bisa menerima semuanya dengan ikhlas sekarang"
"Hahaha ayah bahagia akhirnya kita bisa berkumpul lagi, nanti kalau kakak-kakak mu ada waktu liburan kita ngumpul disini semua" ucap tuan Wibowo
"Semoga saja nanti libur semester mbak Kinar bisa datang kesini, si kembar nggak lama ulang tahun yang pertama"
"Oh ya,,hahaha ayah sampai lupa kalau sudah punya dua cucu, udah lama nggak video call mereka"
"Mbak Kinar orang sibuk kayak kipas angin muter-muter kesana kemari terus, kak Revan juga gitu makin hari makin galak sih katanya anak-anak butik kalau ketemu"
"Oh ya? hahahaha"
"Mereka memang begitu, ayah cuma berharap kalian baik-baik saja dan Sling mendukung satu sama lain"
"So pasti lah"
"Hahaha"
*****
"Vi, baru pulang?" tanya Revan begitu sampai di rumah di lihatnya sang istri sedang berbaring santai di depan televisi.
"Hem" jawab Vivi cuek. tangannya sibuk mengelus bulu si Bruni kucing kesayangannya.
Revan hanya mendesah kesal melihat sikap cuek Lutfiah. sudah seminggu semenjak ia pamit pergi ke Kalimantan untuk mengisi seminar, sikap Lutfiah benar-benar berubah tidak seperti biasanya.
Lutfiah yang lemah lembut dan penyayang berubah menjadi sosok yang cuek dan tidak peduli lagi meskipun Lutfiah tidak pernah meninggalkan kewajibannya melayani suami, tapi sikap acuh tak acuh nya membuat Revan kalang kabut di buat nya.
"Vi, kamu masih marah sama mas? maaf kalau mas salah" ucap Revan lembut
Lutfiah langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan sedikit menjaga jarak dari Revan.
"Semudah itu?" tanya Lutfiah sinis
"Maaf, kalau mas sudah menuduh mu yang bukan-bukan"ucap Revan
"Apalagi yang mau mas jelaskan?"tanya Lutfiah
"Maaf sudah buat kamu marah, mas cuma khawatir kamu dapat masalah disana Vi" kilahnya
"Sebelum kita menikah mas sudah tahu kan pekerjaan ku apa, kesibukan ku apa? berapa tahun kita kenal mas? apa mas nggak ingat semua perjanjian pranikah?" kata Vivi marah
"Maaf" cuma satu kata itu yang terucap dari bibir Revan.
"Sampai hari ini apa pernah aku mengeluhkan pekerjaan kamu meskipun kamu pergi pagi pulang pagi? nggak pernah mas, karena aku percaya kamu mas, kalaupun aku niat selingkuh mungkin kita nggak akan sampai di titik ini, perjuangan kita bertahun-tahun saling menerima saling mendukung kamu pikir itu hal yang main-main buat aku? kalau hanya mau main-main buat apa aku pertahanin kamu sampai kita menikah mas! aku yang dengan susah payah menyamakan kedudukan dan status agar di terima keluarga kamu, sekarang kamu pikir aku cuma mau main-main? kamu pikir aku, orang tua dan keluarga aku nggak minder dengan status sosial kita yang jauh berbeda? kamu anak orang berada sedangkan aku hanya anak seorang penjual asongan yang pendapatannya nggak seberapa mas, kamu pikir aku hanya main-main selama ini mas? picik banget kamu ya" ucap Vivi berapi-api lalu meninggalkan Revan yang terdiam tanpa merubah posisinya.
Blam
Pintu kamar tertutup keras, Revan sedikit berjingkat saking kagetnya, hanya mengelus dada yang bisa ia lakukan. jika sudah begini entah sampai kapan Lutfiah akan membaik lagi.
Revan merubah posisi berbaring, matanya menatap si Bruni yang sudah tidur nyenyak di atas sofa.
"Hai Brun, Lo nggak denger semuanya kan?" tanya Revan pada Bruni.
**
"Loh mas kok nggak jadi masuk?" tanya Kinara pada Azka yang kembali lagi ke mobil dengan menenteng map yang hendak ia berikan pada Revan
"Kita pulang aja, cuaca lagi nggak enak hawanya, singgah di cafe De'Est yuk minum jus kesukaan" ucap Azka sedikit mengerling pada istrinya
"Kenapa sih? mereka bertengkar lagi?" tanya Kinara penasaran
"Hem, orang yang diam dan sabar kalau marah menakutkan juga ternyata ya, kamu jangan gitu ya sayang, kalau mas salah tolong di ingatin" ucap Azka
Kinara mengeryit lalu "kamu denger mbak Vivi ngamuk? baru tahu ya, dia itu emang gitu kalau udah marah biasa sampai sebulan, mas Revan itu tipe orang yang mudah marah tapi mudah selesai, kalau mbak Vivi dia orang yang realistis dan jujur, kalau merasa nggak di percaya apalagi di tuduh yang bukan-bukan dia bakalan marah sampe berbulan-bulan kalau dia memang benar" ucap Kinara
"Serem banget, baru kali ini mas denger perempuan ngamuk kayak gitu, moga-moga kamu nggak sampai gitu ya?" kata Azka bergidik
"Berdoa saja lah mas" ucap Kinara tersenyum geli
"Jadi kita kemana dulu ini, pulang atau singgah ke cafe? kasihan anak-anak mas mereka capek, kasihan juga suster Ema jagain mereka" ucap kinara menoleh ke kursi belakang melihat dua anaknya tertidur begitu juga dengan suster Ema.
"Ya udah pulang aja istirahat" putus Azka akhirnya.