
"Jadi gimana dokter Siska?" tanya Revan dengan raut wajah khawatir
"Nggak papa, nona muda hanya kelelahan dan sedikit stres terlebih lagi..... (menoleh pada Keisya yang berdiri di samping pintu) dia hanya butuh waktu Van, biarkan dia istirahat dulu jangan katakan apapun nanti jika dia bangun" ucap dokter Siska
"Emm boleh aku bicara denganmu secara privasi?" tanya dokter Siska kemudian
"Boleh, ayo keruang kerja saja dok, Aldo jaga Kinara ya, kalau udah bangun panggil aku di bawah"
"Oke kak Sip!"
Revan segera keluar dari kamar di ikuti dokter Siska, Ia berhenti sejenak di depan Keisya yang berdiri menggamit kedua tangannya dan menunduk takut.
"Keisya...."panggil Revan sembari memegang kedua pundak adiknya. Keisya masih tetap menunduk takut.
"Kamu bisa istirahat dulu di kamar kamu ya nanti saya yang akan menemui mu di kamar" ucap Revan pelan
"Ba...baik tuan..ma....ma...maafkan sa...saya" ucap Keisya gugup.
"Ayo saya antar"
Revan menggandeng lengan Keisya menuju ke kamarnya, setelah memastikan Keisya istirahat ia segera menuju ke ruang kerja.
"Jadi apa yang akan kau bicarakan Sis?" tanya Revan yang duduk di kursi kebesarannya setelah memberikan sekaleng minuman dingin pada dokter Siska.
"Ini soal adik kembar lo...bisa lo ceritain ke gue?"
Terlihat Revan menghela nafasnya berat, memijat pelipisnya lalu mengambil sebatang rokok dan pemantik.
"Ck, gue tahu lo berat, sedikit aja lah nggak papa biar gue bisa kasi solusi, jujur aja gue sempet ngira itu tadi Kinara ternyata bukan."
"Gue nggak tahu harus mulai dari mana Sis, ini terlalu berat buat gue, intinya Keisya itu di culik sama saudara tiri ibu gue sejak umur tiga tahun, tapi kita semua ngomongnya ke Kinar kalau Keisya itu udah meninggal sejak kecil bahkan foto lama mereka juga sebagian udah gue bakar karna ayah yang minta."
"Keisya sejak kecil nggak pernah melihat dunia luar meskipun ia harus berpindah dari satu negara ke negara lain. yang ia tahu hanya Anthony ayah kandung yang merawatnya setelah ibunya meninggal karna seperti itu yang Anthony doktrin di kepala Keisya."
"Keisya menderita trauma sosial /social anxiety disorder karna sejak kecil yang tertanam di otaknya kalau manusia itu jahat dan ia hanya harus percaya sama pengasuh dan guru privat yang di utus oleh Anthony saja dan selain mereka tidak boleh."
"Semenjak Om Denias berhasil meloloskan Keisya dari genggaman Anthony, pada awalnya Keisya tidak bisa di ajak berkomunikasi, butuh waktu lama sampai ketika Om Denis memutuskan salah satu kemenakan asistennya menjadi asisten pribadi Keisya, disitulah awal perubahan Keisya secara perlahan-lahan meski belum sempurna."
"Gue turut prihatin, nggak nyangka sebegitu rumitnya permasalahan keluarga lo sampe adik lo juga kena imbasnya, oh ya gue denger lo mau lamaran sama Vivi?"
"Heh, lo tau, gue aja belom ngomong, itu kemauan ayah yang maunya di cepetin malah udah ngelamarin langsung ke bapaknya Vivi tanpa ngomong ke gue dulu."
"Bukannya malah bagus lebih cepat lebih baik, ya udah gue pulang soalnya ada jadwal operasi nanti sore"
"Oh oke, makasih banyak Sis"
"Sama-sama Van" ucap dokter Siska keluar dari ruang kerja dengan menundukkan wajah. membuat Revan sedikit heran karna tidak biasanya dokter Siska bersikap seperti itu.
"Eh kak, Kinara siuman tuh nyariin daritadi" ucap Aldo di balik pintu
"Oh iya gue kesana" Revan menyusul langkah panjang Aldo.
"Dek, gimana perasaan kamu?" tanya Revan khawatir seraya membawa Kinara ke dalam pelukannya. Kinara menangis semakin menjadi membuat Revan dan Aldo semakin kebingungan.
"Apa perlu kakak panggil Azka?" tawarnya dan Kinara hanya menggeleng lemah
"Trus mau apa? mau kakak panggilkan mama Hanna?" Kinara pun tetap menggeleng Revan mendengus kasar jika sudah seperti ini memang susah membujuk adiknya. untung saja sejak insiden di ruang rapat tadi ayah serta om dan tuan Anderson bisa mengerti untuk tidak menampakkan diri dulu di hadapan Kinara meski Revan tahu mereka juga merasa snagat bersalah.
"Do bisa jemput calon istri gue di kampus xxx?" tanya Revan
"Sekarang kak?"
"Iya, ntar gue telpon dulu" Revan merogoh saku celananya
"Waduh lupa gue, ketinggalan di kantor, pinjem ponsel lo deh siniin" ucap Revan
"Nih kak, masih ada kayaknya bonus nelpon gue" ujar Aldo menyerahkan ponselnya pada Revan.
Setelah menerima ponsel Revan langsung menghubungi Lutfiah. ia tahu hanya Lutfiah saja yang bisa ngambil hati Kinara jika sudah dalam kondisi seperti ini.
"Do, orang nya udah keluar kelas, lo jemput sekarang"
"Oke".
"Dek, maafin kakak ya, bukan maksud kakak mau nyembunyiin ini semua dari kamu, kakak butuh waktu buat ngomong semua ini ke kamu. ayah, ibu, om Denias, mertua kamu, kami semua sudah berusaha keras ngelindungin kamu dan berusaha nyelametin Keisya. sejak kecil ayah dan om Denias sudah berusaha tanpa lelah supaya Keisya bisa berkumpul lagi sama kita dan ribuan kali juga mereka gagal buat nyelametin Keisya"
"Kalian berarti banget buat kakak, ayah dan ibu, Sejak Keisya menghilang kondisi ibu langsung drop selama bertahun-tahun namun demi kamu ibu selalu tersenyum. ibu nggak mau kamu sedih. kakak jadi saksi mata kesedihan yang ibu rasakan selama itu sampai ibu pergi ninggalin kita selamanya. terlebih ayah yang semakin hari semakin terpuruk sebab memendam rasa bersalah pada ibu karna tidak bisa membawa pulang Keisya."
"Tolong kamu maafin kami semua ya dek, kakak, ayah, om Denis dan om Anderson bersalah udah nyembunyiin hal sebesar ini dari kamu. kami semua sayang sama kalian tanpa beda. tolong kamu terima kehadiran Keisya, jangan salahkan dia karna dia juga korban keegoisan paman Anthony. Keisya butuh kamu, dia butuh kita semua ada di sampingnya menuntun setiap langkahnya, tolong kamu mengerti maafkan kami dek, maafkan kami" Revan menangis tersedu masih merangkul Kinara yang juga menangis pilu.
Tanpa mereka sadari ada seseorang di balik pintu yang mendengar semuanya. ia pun menangis tertahan, ada rasa haru, bahagia, sedih, kecewa bercampur menjadi satu. Ia tak pernah menyangka akan seperti ini. lima belas tahun hidup dalam kehampaan tanpa tahu apapun dan hanya mengikuti perintah papa yang ternyata bukanlah orang tua kandungnya melainkan orang lain yang memiliki dendam pada orangtua nya.
Ya, Keisya tadi hendak melihat keadaan Kinara, sejak Revan _ah Tuan_ yang ia tahu membawanya masuk ke kamar dan meninggalkannya, rasa penasaran dan rasa khawatir yang berlebih membuatnya merasa tidak nyaman berada dalam kamar, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan melihat sendiri kondisi kakak kembarnya. meski Rena sempat mencegahnya namun ia tetap keukeuh pada pendiriannya, akhirnya Rena memilih mengalah saja.
"Kenapa kalian tega, membiarkan aku percaya dengan semua omong kosong ini?" Kinara berteriak histeris melepas pelukan Revan dan melemparinya dengan apa saja yang ia pegang.
Bik Asih dan Rena yang mendengar keributan langsung lari ke arah sumber suara namun saat tiba di depan pintu Revan mencegahnya. Revan memberi kode agar mereka mengurus Keisya saja.
prang
prang
brak
kluntang tang
"Dek, tenang dek?" Revan berusaha menghalau apa saja yang Kinara lemparkan.
"Apa kematian ibu yang di bunuh secara sengaja juga kalian tahu hah?" ucap Kinara berteriak
Duaaar..
Revan bungkam seketika mendengar ucapan Kinara. darimana sang adik tahu jika Ibu mereka di bunuh secara sengaja oleh Anthony.
"Jawab kak!" teriak Kinara lagi
"Aku benci kalian!" Kinara berteriak semakin menjadi
"Akulah saksi mata utama kematian ibu asal kalian tahu, aku tahu lebih dari yang kalian tahu aku benci Anthony dan aku benci Keisya!" teriaknya menggelegar.
Bik Asih dan Rena tak kuasa menahan tangis melihat kemarahan Kinara terlebih kondisi Keisya yang langsung drop saat melihat dan mendengar semua kemarahan Kinara.
Keisya pingsan di depan pintu kamar begitu mereka datang hendak membantu Revan. Revan yang peka dan tahu situasi lebih memilih menghadapi seorang diri atas kemarahan Kinara.
"Pergi dari sini, aku benci kalian aku benci!" Kinara merosot ke lantai tubuhnya lunglai dengan cucuran air mata yang semakin deras.
Revan berjalan menghampirinya dan berusaha meraih tubuh adiknya, namun penolakan yang ia dapatkan.
"Pergi!" Teriak Kinara sembari mendorong tubuh sang kakak. namun bukan Revan namanya jika tak bisa melakukan apapun. ia meraih tubuh Kinara dengan paksa dan membawanya ke tempat tidur.
" Tetap disini dan jangan coba keluar, lakukan apa saja asal jangan melakukan hal ceroboh." ucap Revan dingin dengan tatapan mengintimidasi.
Kinara tak menggubris ia berteriak semakin kencang. Revan menutup pintu dengan keras
Blam
Revan bersandar di dinding samping pintu menutup kedua matanya dan mengusap kasar wajahnya, semua yang ia khawatirkan selama ini akhirnya terjadi juga. Teka teki kematian ibunya terjawab sudah dan kini kebohongan tentang Keisya akhirnya terbongkar sudah.
Saat di ruang rapat mereka tidak menyadari kehadiran Kinara yang sudah mendengar semuanya. barulah saat mendengar benda jatuh mereka menyadari jika ada yang mendengar semua percakapan mereka.
Saat Revan keluar untuk melihat siapa pelakunya ia tak sengaja menabrak paper bag berisi cake kesukaan ayahnya. Revan langsung berlari mencari Kinara dan bertanya pada Arum tentang Kinara.
Sebelum memutuskan pergi ia sempat meminta ayahnya, om Denias dan tuan Anderson agar mereka tidak menemui Kinara terlebih dahulu. setelah melacak keberadaan Kinara melalui tuan Anderson, Revan langsung bertolak ke tempat tujuan, beruntung saat Kinara pingsan di depan pintu ia sudah tiba.
Dan sekarang jika sudah seperti ini akan lebih sulit lagi membujuk Kinara. butuh waktu lama hingga ia bisa menerima kenyataan terlebih dengan kebohongan yang sudah lima belas tahun ini mereka dengungkan pada Kinara.
Entah dengan cara apa ia bisa menenangkan Kinara. harapannya kini hanya dengan Lutfiah sang calon istri yang memiliki sifat keibuan lemah lembut namun tegas dan sangat peka.
Jika harus meminta ayah itu sudah tak mungkin, om Denias ataupun tuan Anderson sudah lebih tidak mungkin lagi. semenjak sang ibu meninggal tak ada lagi senyum ceria yang selalu Kinara tampilkan seperti dulu, Kinara menjadi pribadi yang lebih tertutup dan terkesan selalu menghindari orang tertentu yang menurutnya tidak sreg. selama ini ia hanya mau banyak bicara kepada ke empat sahabatnya selain mereka ia hanya bicara seperlunya saja.
Prang
Brak
Revan tersentak kaget dari lamunannya mendengar suara benda di banting dari dalam. buru-buru ia masuk kembali ke dalam kamar dan melihat bingkai foto Kinara dan Keisya saat mereka masih kecil hancur berantakan di lantai. Bahkan gucci kesayangan peninggalan almarhumah sang ibu pun sudah tak tersisa.
"KINARA SARASWATI WIBOWO!" teriak Revan menyebut nama lengkap sang adik dengan tatapan tajam yang siap menghunus tanpa ampun.
"Pergi!" teriak Kinara
"KINARA!" Teriak Revan tak mau kalah
"Aku benci pembohong!"
"KINARA!" teriak Revan lagi sembari mengangkat sebelah tangannya hendak menampar sang adik namun rupanya ada tangan yang lebih dulu dengan sigap menahan tangannya.
"Seperti inikah calon suamiku?" ucap lembut Lutfiah namun penuh penegasan. membuat Revan seketika bungkam dan perlahan menurunkan tangannya dengan sedikit kasar.
"Kak lebih baik kita keluar, biar bu dosen aja yang tangani adik lo" ucap Aldo menepuk pundak Revan.
Lutfiah mendekati Kinara setelah Revan dan Aldo keluar dari kamar. dengan lembut ia memeluk Kinara, mengusap punggung dan kepala Kinara penuh kasih membiarkannya menumpahkan semua tangisnya di pundak Lutfiah.
"Menangislah sepuasmu, mbak akan tetap ada disini sampai kamu sendiri yang suruh mba pergi." ucap Lutfiah lembut sembari membelai lembut kepala Kinara.