
"Om, ini sudah gelas ke sepuluh, masih mau nambah kopinya?" tanya Revan pada tuan Denias yang sejak tadi tidak beranjak dari berkas di tangannya.
Sudah dua hari sejak pertemuan mereka dengan nyonya Amira, membuat tuan Denias kalang kabut membuka kembali kasus lima belas tahun lalu tentang kehilangan Keisya juga salah satu korban tabrak lari seorang siswi SMA yang baru saja terkuak kasusnya.
"Huh, gara-gara si bontot nambahin kerjaan, harusnya usia segini udah waktunya istirahat" keluh tuan Denias pada akhirnya.
Revan hanya tersenyum geli melihat tingkah pamannya yang menggerutu tak karuan karna harus membuka kasus lama.
"Van, kamu hubungi Yusuf dan Anderson, jangan lupa bokap lo juga suruh dateng ke markas nanti malam seperti biasa" titah tuan Denias pada keponakannya.
"Sip" Revan hanya menjawab singkat sembari mengacungkan jempolnya. sedetik kemudian jari jemarinya sudah menekan tombol kontak pada ponselnya.
"Om, ayah nggak bisa datang karna hari ini jadwalnya ngunjungin Keisya" ucap Revan setelah menutup panggilan telponnya.
"Ahh iya maaf om lupa, nanti om telpon Rena, sdh seminggu om belum jengukin Keisya" sahut tuan Denias.
"Om, udah tahu kalo Keisya banyak berubah?" tanya Revan di sela membuka berkas
"Ya ya, Rena sudah laporan kok, syukurlah dia sudah mulai terbiasa dan perlahan membuka diri, terlebih lagi udah belajar sholat dan ngaji satu kemajuan yang berarti" kata tuan Denias penuh semangat. Revan hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Bagaimana sama Kinara? " tanya tuan Denias pada Revan
Revan hanya memutar bola mata jengah mendengar pertanyaan pamannya.
"Hei di tanya diem saja" gertak tuan Denias
"Ck, wajarlah kalo mereka jadi lebih sering berantem, si mulut ember selalu mengeluh sama aku tiap hari" ucap Aldo
"maksud kamu Aldo?"
"hem siapa lagi, tiap hari mengeluh pusing liat mereka berantem, nggak di sekolah nggak di rumah dimana-dimana asal bareng selalu berantem" papar Revan
"Hahahaaa kayak Anderson sama Hanna dulu juga gitu, Azka itu cemburuan sama kayak babenya meskipun babenya sedikit cuek, kalo Azka lebih gentle dikit hahaaaaa" seloroh tuan Denias
"Emang iya gitu om?"
"Heem tanya aja sama orangnya"
"Isshh nggak lah"
***
"Hai bengong aja" ucap Beno menepuk pundak Azka yang duduk di teras mushola. lalu ikut duduk di samping Azka.
"Ngapain sih berapa hari gua liat lo murung terus?" tanya Aldo yang hanya di balas gelengan oleh Azka. Beno mencebik lalu memukul kepala Azka dengan peci di tangannya.
"ck kalo ada masalah cerita dong, kenapa sih lo?" tanya Beno hati-hati namun Azka masih bergeming.
Karna jengah sedari tadi tidak mendapat respon, Beno memilih merebahkan dirinya di lantai teras mushola. memberi waktu pada sang sahabat untuk bicara.
Hanya ada mereka berdua di teras samping mushola, setelah sholat dhuhur siswa siswi lain masuk ke kelas masing-masing.
Ujian Nasional sudah selesai tiga hari lalu, tapi mereka masih harus menyelesaikan ujian praktek yang masih menyusul karna ada beberapa halangan hingga di tunda beberapa hari.
Azka memandang langit yang cerah hari itu, anak muda yang baru akan menginjak 19 tahun beberapa hari lagi itu terlihat berulang kali menghembuskan nafasnya kasar. menutup mata sejenak lalu membukanya berulang kali ia lakukan.
"Ben," panggilnya tanpa menoleh
Hening
"Ben" panggilnya lagi namun tak ada sahutan dari sang pemilik tubuh gempal itu. Azka menoleh mendapati sahabatnya itu mendengkur dengan posisi terlentang dan mulut sedikit terbuka.
"Dasar" Azka mencebik lalu beralih memandang langit setelah itu ikut merebahkan tubuhnya di samping Beno hingga terlelap.
"Ra...." Panggil Aldo yang berjalan di belakangnya
"Hem, apa sih?" tanya Kinara tanpa menoleh
"Lo liat Beno nggak?"
"Nggak"
" Aish beneran nih, buku paket gue di bawa lagi, mana ada tugas terakhir dari bu Riri gue selipin disitu."Aldo menggerutu sendiri.
"Salah sendiri kan?" ucap Kinara.
"Aissh lo mah gitu, bantuin kek, mana bu Riri ngomel mulu" Omel Aldo.
"Lo kan yang selalu bareng dia, ngapain nanya ke gue sih, salah alamat pak!" sahut Kinara.
"Ck, repot dah lo" Aldo bersungut lalu berbalik arah mencari keberadaan sahabatnya. Kinara memandang heran kepergian Aldo.
"Nggak biasanya tuh anak kayak gitu, biasa paling males ngumpulin tugas, kesambet setan apaan semalem hahaa"batin Kinara seraya melanjutkan langkahnya menuju ke ruang guru.
"Eh Hai Ra," Sapa Rangga saat Kinara tiba di depan pintu ruang guru. mereka tanpa sengaja berpapasan saat Rangga hendak keluar.
"Eh Hai" Kinara menunduk sembari tersenyum.
"Mau ngumpulin tugas dari bu Riri?" tanya Rangga basa basi.
"Iya nih, baru selesai juga tugas terakhir baru sempet aku selesaikan, kamu ngapain?"
" Baru ketemu pak Fadil nyerahin tugas Seni Budaya sama tugas dari bu Riri"
"Oh ya udah aku masuk dulu"
" Iya aku pamit" Ucap Rangga berlalu meninggalkan ruang guru. Di benaknya masih teringat dengan gadis yang mirip dengan Kinara beberapa waktu lalu saat ia mengantar pesanan.
"Apa mungkin itu Kinara, kayaknya nggak mungkin, aku kenal banget Kinara kayak gimana, nggak mungkin dia pakai baju terbuka kayak gitu" batin Rangga sembari melanjutkan langkah.
Jam terakhir telah selesai semua siswa berhambur keluar kelas menuju ke tempat parkir kendaraan mereka.
"Gue duluan Ra.." sapa Cici yang melewatinya dengan kendaraan roda dua yang baru saja di berikan oleh maminya.
"Cieee motor baru nih ye... ojek mbak ojeeek" Ledek Kinara yang hanya dapat peletan lidah dari sang empunya motor.
"Woi,,Ci, awas ban depan lo bocor hhaaaahaa" teriak Ririn yang berjalan di samping Kinara
"Doa lo jelek banget cupu" Teriak Cici tanpa menoleh.
"Ahh anak mami baru dapet motor baru bahagia kebangetan" kata Ririn
"Itu udah impiannya dari dulu, biar belajar mandiri kata tante Ira makanya dari sd sampai sekarang naiknya ojek langganan mulu" tambah Kinara.
"Gue salut banget sama tante Ira, biar kata Cici itu anak tunggal dan manja banget, tapi tante Ira bisa didik dia jadi cewek mandiri" tukas Ririn.
"Hem, gue juga salut banget sama beliau"
" Gue duluan ya, noh sopir gue udah dateng" Pamit Ririn
" Oke hati-hati"
Kinara melanjutkan langkah ke tempat parkir menunggu Aldo sembari memainkan ponselnya.
"Ck lo dari mana sih di tunggu dari tadi" omel Kinara saat Aldo tiba di parkiran.
"Sorry gue dapet hukuman dari bu Riri lari 150 kali keliling lapangan futsal, ini gara-gara si Beno menghilanga tanpa jejak" cerocos Aldo berapi-api.
"Gimana ceritanya buku lo sama Beno?"
" Dia minjem buat nyatet tugas akhir dari pak Juan, gue lupa kalo tugas dari bu Riri gue selipin di buku paket, mana gue harus buat ulang lagi aarrgghh...." Aldo merasa kesal.
"Ya udah gue bantuin deh, tapi di rumah papa ya ntar malem" usul Kinara karena merasa kasihan
"Beneran nih?" tanya Aldo dengan wajah berbinar.
"Suwer, dateng aja habis sholat isya"
"Okeh bu bos, yuk cabut"
Kinara dan Aldo akhirnya keluar halaman sekolah tanpa teringat dengan dua orang yang masih terlelap di lantai teras mushola.
Hingga beberapa menit berlalu mereka sampai di depan gerbang kediaman tuan Anderson, barulah mereka teringat denga Azka.
Kinara menoleh begitupun dengan Aldo, lewat sorot mata keduanya mereka menyadari sesuatu yang tertinggal.
"Azka"
"Azka"
Ucap mereka bersamaan. keduanya langsung mengambil ponsel masing-masing dan melihat jam yang tertera di layar ponsel.
"Jam tiga sore" ucap Kinara, pasalnya saat mereka pulang tadi masih singgah untuk makan siang di cafe langganan mereka dan membeli peralatan tugas Aldo dari Bu Riri.
tuut tuut
"Nggak di angkat" ucap Kinara
"Coba gue yang telpon" sahut Aldo
"Sama aja" ucap Aldo setelah mematikan panggilan.
"Haduh gimana nih, kalau tahu bos besar kita bisa kena marah"
"Tenang aja, gue liat dulu hasil sadapan ponselnya Azka" ucap Kinara
"Ternyata di sekolah, trus kemana aja nih anak, kita pulang tadi sekolah udah sepi kan ya?" ucap Kinara setelah melihat hasil sadapan ponsel Azka.
"Mana mungkin juga dia di sekolah jam segini, ini udah sore." timpal Aldo.
" tapi ini beneran, posisi Azka di sekolah" Kinara keukeuh dengan argumennya
"Aiishh masa kita mau nyusulin ke sekolah lagi, kan udah di tutup sama bang Asep"
"Lha trus gimana dong"
" Au ahh, bilang aja sama bos deh daripada berabe ujung-ujungnya gue juga yang kena nanti"
" aihh terserah lo deh, gue masuk duluan bye. jangan lupa ntar malem"
Sementara itu di sekolah, dua orang satpam masih berkeliling menyusuri sekolah sesuai peraturan yang di terapkan untuk mereka agar sekolah tetap aman saat di tinggalkan.
"Astaghfirullah eta barudak ckckck" ucap bang Asep saat melihat dua insan sejenis yang tidur mendengkur bak orang adu kekuatan sumo vs cungkring"
"Kumaha atuh Sep?" tanya mang Jaja yang datang menyusul di belakangnya.
"Noh si barudak, tidur kesetanan, gue kerjain aja lo" ucap bang Asep.
"Eh jangan macem-macem Sep, itu anak si bos bule, mau lo kena damprat trus di pecat?"
"Eh, nggak deh, nggak jadi, ya udah bangunin dah mang"
"Dah sono lo liat di belakang lab ada kafanx kunti ketinggalan kagak" ucap Mang Jaja meledek Asep yang memang rada penakut orangnya.
"Sa ae lo mang"
"Den, den Azka bangun udah sore, kalian nggak pulang?"
aaaaarrgggghhhh