
pov Kinara
Aku tak pernah menyangka jalan hidup yang aku lalui seperti ini berbanding terbalik sebelum ibu tiada. dulu aku selalu merasa semua baik-baik saja. sejak kecil ibu, ayah dan kak Revan menyayangiku. aku menjadi putri kecil mereka yang paling di sayangi.
Ayah yang begitu penyayang, ibu apalagi, semua hal aku dapatkan darinya, terlebih lagi kak Revan yang paling menyayangiku melebihi dirinya sendiri. hingga apapun yang aku lakukan ia begitu protective.
Kak Revan yang memang sejak kecil sudah di latih beladiri, menunggang kuda, menembak, bahkan keahlian khusus seorang detektif pun ia miliki, itulah sebabnya ia begitu over protective padaku. dulu aku merasa seperti ratu baginya apapun yang ku mau selalu ia turuti bahkan saat aku memintanya untuk mengajari ku berlatih bela diri, menembak dan menunggang kuda. awalnya ia keberatan namun pada akhirnya ia mengalah dan mau mengajariku karena tak kuasa melihatku menangis sepanjang waktu.
Meski aku sudah memiliki bekal pertahanan diri, ibu, ayah dan kak Revan selalu mengingatkan aku agar tak menjadi orang yang sombong dan selalu membanggakan diri. Mereka selalu mengajari ku untuk berlaku sederhana dalam setiap tindakanku.
Urusan pertemanan pun terkadang mereka terlalu over. agar aku tak sembarang memilih teman. sejak aku masuk taman kanak-kanak, aku sudah memiliki teman baik dua dari mereka masih bersama ku hingga kami duduk di bangku SMA. mereka Cici dan Ririn. hanya mereka berdua teman baikku yang benar-benar mengerti siapa aku.
Mungkin kontak batin kami yang begitu lekat sejak pertama kali berkenalan di taman kanak-kanak. sejak saat itu apapun yang kami lakukan harus dilakukan bersama. hingga urusan pakaian pun kami harus sama terkadang membuat orang tua kami begitu riweuh saat memilihkan pakaian.
Tidak jarang kami janjian pergi berbelanja bersama orang tua. untungnya kedua orang tua kami masing-masing saling berteman baik. hingga orang tua kami saling percaya satu sama lain. kemanapun kami pergi orang tua kami tak pernah khawatir.
Bahkan saat aku berziarah ke makam saudari kembarku Keisya, mereka juga akan ikut beserta kedua orang tua mereka tanpa terkecuali. setiap tahun aku memperingati hari kematian Keisya dengan mereka, membersihkan makamnya, menaburkan bunga dan membacakan doa untuknya agar tenang di alam sana.
Meski aku sedih tak bisa mengingat wajah saudari kembarku, tapi aku bisa bahagia karena ada mereka yang begitu menyayangiku. hingga musibah itu tiba.
Saat ibu terkena serangan jantung dan harus di rawat di rumah sakit selama berbulan-bulan. itulah awal menyakitkan dalam hidupku menyaksikan orang yang paling berharga dalam hidupku harus berjuang antara hidup dan mati dengan banyaknya selang tertancap di tubuhnya.
Aku terpuruk tapi kedua sahabatku dan orang tuanya yang selalu ada untuk ku. mereka memberiku semangat untuk terus hidup, terus tersenyum dalam keadaan apapun. hingga hari menyakitkan itu tiba. hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku.
Hari dimana aku melihat ibu di bunuh secara sengaja oleh seseorang yang tak aku kenal. dan aku masih mengingatnya hingga kini. laki-laki biadab yang tega membunuh ibu ku. pria yang aku tahu jika ia saudara tiri dari ibuku. pria yang menjadi duri dalam keluargaku, yang menabur kebencian mendalam di hatiku. dan aku mengutuknya. apa salah ibuku padanya hingga ia tega berbuat hina dengan melenyapkan nyawa manusia tak bersalah.
Saat itu aku baru saja pulang les bahasa Inggris di sebuah lembaga kursus privat di kota ini. aku berencana menemani ibu setelahnya. sepulang les aku tak langsung pergi ke rumah sakit melainkan ke sebuah toko buku untuk membeli buku paket persiapan ujian nasional SMP yang beberapa bulan lagi terlaksana.
Setelah puas aku singgah untuk berbelanja di toko kue langganan ibuku membeli beberapa snack dan kue kering kesukaan ku dan ibu. aku baru tiba di rumah sakit saat menjelang malam biasanya di jam seperti itu sudah ada pergantian shift perawat yang bertugas merawat ibu.
Saat aku sudah tiba di rumah sakit, aku tak langsung menemui ibu melainkan ke bangsal anak khusus penderita kanker terlebih dahulu. barulah setelah melaksanakan sholat Maghrib di mushola rumah sakit aku menuju ke ruang dimana ibu ku di rawat.
Saat hendak memegang kenop pintu aku mendengar suara seorang pria berkata kasar pada ibuku. dan aku tidak mengenal suara itu. lantas ku buka sedikit pintu yang tidak tertutup rapat itu.
...Flashback tiga tahun lalu...
"Kenapa kau tega Amina, aku yang lebih dulu mencintaimu, kenapa kau tega menyakiti ku dengan menikahi orang lain yang tak ada apa-apanya dibanding kan dengan ku?!"
"Maaf, kau tetap kakak ku meski kita tidak ada hubungan darah. kau anak dari istri kedua bapak ku. meski tidak haram untuk kau nikahi, tapi ini urusan hati, aku tidak mencintaimu sejak awal dan aku hanya menganggap mu tak lebih dari seorang kakak."
"Bohong, kau bohong Amina, sekian lama aku berusaha mencarimu saat kau pergi, aku yang sudah memberimu pekerjaan melalui ibuku, apa kau lupa hah? saat kau bilang kau ingin bertemu bapak, aku tahu orang yang kau maksud itu suami kedua ibuku saat aku mengajakmu datang kerumah ku malam itu. apa kau lupa semua nya hah?"
"Anthony itu bukan aku, itu Amira adik kembarku yang kau kenal, sudah berapa kali ku katakan jika itu Amira, dan Amira sudah tiada sejak kau kehilangan dia. kami juga tidak menemukan jasadnya hingga kini. entah masih hidup atau tidak"
"Bedebah, aku tak pernah percaya omong kosong mu Amina, aku tak akan percaya, meski kau tak mau mengakuinya tapi aku punya sesuatu yang akan membuatmu bisa menerima ku. apa kau tahu dia sudah bersamaku sejak kau kehilangan dia saat ulang tahun di usianya yang ke tiga. hahaha. aku yang mengambilnya. aku yang merawatnya, jika aku tak bisa memilikimu setidaknya aku bisa memilikinya dalam hidupku."
"Jangan lakukan itu ku mohon, jangan lakukan"
"Aku tidak akan pernah mengabulkan keinginan mu Amina sebelum kau mau menerimaku, dan menceraikan suami bedebahmu itu."
"Tidak akan pernah aku lakukan. jika aku tak bisa memilikimu dia pun tak akan berhak memiliki mu juga. camkan itu Amina!!"
"Ku mohon...aahh...hah.huh.huh" Suara nafas Amina mulai tak stabil dan Anthony masih terus berucap yang semakin membuat kondisi Amina semakin menurun drastis.
Saat detektor berbunyi dan memperlihatkan garis lurus saat itu Anthony begitu terkejut, lalu dengan gontai ia bergegas ke luar dari dalam ruangan sebelum ada perawat yang datang.
Anthony keluar dengan langkah seribu tanpa peduli apapun lagi, bahkan sosok Kinara yang terduduk akibat kerasnya ia membuka pintu rawat inap tidak ia pedulikan asalkan ia bisa melarikan diri secepatnya dari rumah sakit.
...Flashback off....
Aku terkejut saat mendengar bunyi nyaring detektor jantung, saat aku hendak membuka lebar pintu, tiba-tiba saja ada yang membukanya dari luar dan menabrak ku yang tengah berdiri. beruntung aku masih bisa bersandar pada tembok dan menunduk. pria itu semakin lari ketakutan, mungkin ia mengira jika aku adalah perawat karena pakaian yang ku gunakan berwarna putih.
Tak lama datang rombongan perawat dan dokter tepat saat aku hendak berdiri. mereka masuk ke dalam ruangan ibu dan memeriksa kondisi ibu.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun" ucap salah seorang pria berjas putih yang memegang snelli. diikuti oleh yang lainnya mengucapkan kalimat yang sama. aku tergugu di tempat. penglihatan ku tiba-tiba gelap dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.
Sejak kematian ibu aku tak lagi ada semangat untuk melanjutkan hidup. semua terasa hampa. tidak ada lagi yang memberiku wejangannya yang begitu menenangkan, tidak ada lagi perintah untuk sholat tepat waktu. tidak ada lagi yang menegur kami saat aku dan kedua sahabat ku sedang bermain bersama di dalam kamar, tidak ada lagi yang menyiapkan sarapanku di pagi hari, tidak ada lagi yang menyambut kepulangan ku dari sekolah. hidupku benar-benar hampa. namun ada satu hal yang ku ingat sehari sebelum ibu meninggal. beliau berpesan padaku agar tak menyimpan dendam pada siapapun, apapun yang terjadi dalam hidupku aku harus belajar untuk ikhlas menerimanya.
Seiring waktu perlahan aku bisa menerima keadaan, belajar untuk ikhlas menerima meski di saat yang bersamaan aku juga kehilangan semangat ku di sekolah karena seseorang yang berarti bagiku. Rangga, dialah salah satu semangat ku di sekolah, namun dia juga menghilang secara tiba-tiba di saat aku juga kehilangan ibuku.
Setelah tiga tahun berlalu, aku mulai bisa menata hatiku meskipun bayangan pria brengsek itu masih tetap tersimpan rapat dalam ingatanku. mencoba memaafkan seperti apa yang ibu pinta padaku. tidak mudah memang tapi itulah kenyataannya, memaafkan itu kerja hati sedang melupakan itu kerja otak.
Di saat aku baru saja masuk semester ganjil penaikan kelas tiga SMA, ayah tiba-tiba jatuh sakit dan singkat cerita beliau meminta padaku memenuhi wasiat ibuku. aku harus menikah dengan pria yang sudah ibuku jodohkan untuk ku.
Menolak??
Awalnya aku menolak keras, aku tidak mau menikah, masih banyak jalan terjal di depan sana yang menungguku untuk meraih semua impian yang ingin aku gapai. tapi disisi lain aku tak bisa menolak keinginan ayah, bukan tak rela hanya saja aku belum sanggup jika harus kehilangan lagi sebelum bisa memenuhi keinginan ayah dan almarhum ibu.
Terpaksa??
Yah terpaksa aku harus menerima pernikahan ini, meski aku juga tak mengenal siapa dia sebelumnya. aku masih ingat dulu ibu selalu berpesan jika kelak aku menikah harus bisa legowo jadi perempuan, harus bisa menerima segala kelebihan dan kekurangan seorang suami karena disitulah letak surga ku ada pada keridhoan suamiku.
Singkat cerita pernikahan itu terjadi dan disitulah awal mula semua permasalahan dalam keluargaku mulai terkuak satu persatu.
Hingga aku berada di titik terendah dalam hidupku, satu persatu keganjilan atas kematian ibuku mulai terbongkar, tentang saudara kembar ku yang ternyata juga masih hidup juga adik kembar ibu ku yang juga ternyata masih hidup.
Sakit??
Aku sakit saat tahu kenyataan jika Keisya tidaklah meninggal melainkan di culik dan di sekap selama puluhan tahun oleh orang yang tak lain adalah saudara tiri ibuku. Aku marah karena merasa seperti orang bodoh selama lima belas tahun menziarahi makam yang ternyata bukan makan saudari kembar ku. setiap tahun aku memperingati kematian nya. bahkan mereka yang tega menyimpan kenyataan menyakitkan ini hanya diam saja membiarkan aku dalam kebodohan ku karena keegoisan mereka.
Dan yang membuat aku paling terluka adalah saat aku mendengar bahwa saudari kembar ibuku ternyata masih hidup. aku semakin merasa bodoh karena mau saja aku menerima semua kebohongan mereka. kebohongan yang ayah, kak Revan, juga kedua mertua dan suamiku yang ternyata tahu semua permasalahan keluarga ku. aku muak. aku benci, aku benar-benar merasa tidak berguna.
Aku belum siap dan belum sanggup untuk menerima kenyataan ini. terlebih lagi saat aku bertemu dengan Tante Amira. bayangan kehadiran ibu membuatku semakin kalut, shock dan aku tak tahu apa-apa lagi saat melihat wajah duplikat milik ibuku itu.
to be continue...🥰🥰🥰🥰