KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 65



"Bu pamit ya, baik-baik dirumah, Arkan, Dimas, jangan bertengkar terus, kasihan ibu,. belajar yang bener jangan banyak main" ucap Reno berpamitan pada ibu dan kedua adiknya.


"Kamu juga hati-hati disana, kuliahnya yang fokus biar cepat selesai, ibu hanya bisa berdoa dari sini"


"Iya Bu, doakan kuliah ku cepat kelar"


"Jangan lupa mas tiap libur semester kalau sempat pulang usahakan pulang ya, nanti kalau kami libur sekolah bakalan kesana jengukin kamu juga"kata Dimas


"Nggak usah neko-neko, fokus saja belajar biar cepet lulus terus kuliah" balas Reno memeluk kedua adiknya dan terakhir ibunya.


Reno masuk ke dalam mobil yang ia sewa milik Rino diantar langsung oleh sang pemilik ke bandara meskipun memakan waktu seharian lebih.


Reno memandang wajah-wajah ibu dan adiknya dari dalam kaca mobil dengan deraian air mata.


"Saya juga gitu mas, tiap mas saya berangkat ke pondok hati saya nangis" ucap Rino di sebelahnya yang sedang fokus mengemudi


"Kita senasib No, saya nggak pernah kepikiran bakalan pergi jauh meninggalkan mereka" balas Reno menghapus jejak air mata di pipinya


"meski fisik kita berjauhan tapi hati tetap bersama mas, perantara nya ya cuma doa" ujar Rino


"Kamu sekelas sama Dimas?" tanya Reno


"Nggak, adik saya yang sekelas dengan Dimas, saya kakak kelasnya mas" jawab Rino


"Oh pantas pola pikir kamu dewasa banget, adik kamu berapa?"


"Tiga, satu laki-laki yang sekelas dengan Dimas dan dua perempuan masih SD kelas enam dan kelas 8 SMP."


"Jadi kamu lima bersaudara? kakak kamu kelas berapa?"


"Kuliah Nyambi mondok mas di kota S, selesai mondok di pesantren besar langsung kuliah tapi Nyambi tinggal di pondok juga, katanya dia lebih tenang kalau tinggal di pondok daripada ngekos"


"Sudah semester berapa?"


"Sama kayak mas Reno kayaknya semester lima, dia ambil jurusan tafsir hadits"


"Kakakmu hafidz ya?"


"Hehe iya hafidz tiga puluh juz, rencananya bakal lanjut di Mesir kalau lulus dan sementara ini mau ngurus beasiswa kesana mas"


"Wah hebat ya mas mu, kapan-kapan kalau kita ada umur panjang pengen dong ketemu mas mu"


"Nanti sebelum ke bandara kita singgah jengukin sebentar di pondok mas, ada titipannya ibu soale"


"Oh ya? okelah, aku seneng kalau dapat teman baru apalagi kalau dia santri, aku bisa banyak belajar"


"Hahaha mas Reno ini suka tantangan rupanya, ya mudah-mudahan di izinkan sama pengurus pondok nya untuk di temui mas"


****


"Kenapa yah?" tanya Kinara melihat sang ayah duduk termenung di kursi goyang di halaman belakang rumah.


"Nggak papa, anak-anak kamu mana?"


"Lagi tidur siang sama papanya, Ayah ada masalah? kok kelihatan murung semenjak pulang dari kota?"


"Nggak papa, ayah cuma lagi mikirin proyek kamu saja, bingung sama satu orang warga yang ngotot tanahnya nggak mau di bebaskan bahkan Nerima ganti rugi juga nggak mau, padahal semua warga sudah setuju tinggal dia saja yang ngotot sekali"


"Bisa aku lihat dokumen tanahnya yah, kalau bisa aku mau ketemu langsung sama orangnya besok"


"Apa kamu berani menghadapi orang keras dan kaku seperti dia Ra? warga aja kapok"


"Masa sih yah? emang orangnya ngomong alasannya nggk mau di bebaskan tanah nya?"


"Ya itu dia nggak mau ngomong tiap di tanya, tetap ngotot nggak mau, kita jadi kesel sendiri"


"Apa sudah sepuh?"


"Ya sudah besok aku yang bakalan ketemu langsung"


"kamu yakin?"


"Doakan saja"


"Keisya mana?"tanya tuan Wibowo


"Pergi kerumah Arini, ayah yakin mau ngelepas Keisya kuliah?"


"Insha Allah, ayah nggak mau dia merasa tertekan, lagian disana juga ada Arini, mereka beda jurusan tapi tinggal satu kos"


"Aku cuma khawatir kalau dia tiba-tiba sakit, siapa yang bakalan jagain, kalau saja Reno nggak ngebatalin pertunangan mereka waktu itu"


"Udah nggak usah di bahas, Keisya sudah nyaman dengan semua proses yang sudah di jalaninya, jangan ungkit soal itu lagi"


"Apa ayah nggak pernah tahu kabar soal Reno?"


"Nggak pernah, justru ayah yang seharusnya minta maaf karena sudah membuat Reno dan ibunya meninggalkan rumah mereka"


"Mas Azka juga sudah berkali-kali nyari jejaknya tapi nggak pernah ketemu, kadang aku kasihan sampai aku menentang dia buat lupain semuanya tapi mas Azka tetap ngotot dengan keyakinannya bakalan nemuin Reno"


"Sudahlah, ayah minta mulai sekarang hiduplah dengan tenang, tanpa harus mengusiknya lagi, doakan saja Reno hidup dengan baik dimana pun dia berada"


"Iya yah"


"Ra, asal kamu tahu, yang seharusnya di salahkan itu ayah bukan Reno atau ibu dan adiknya, ayah yang sudah salah mengambil langkah, tanpa pernah melihat bagaimana kondisi mental Keisya saat itu, semua yang sudah Reno lakukan justru membuat ayah semakin sadar akan sikap ayah yang tidak tahu diri ini nak, seharusnya ayah memberikan waktu pada Keisya bukan malah mengekangnya dengan perjodohan"


"Ayah menyesal?"


"Ya, ayah sangat menyesal setelah semua terjadi, ayah benar-benar telah menyesali semuanya sekarang"


"Jadi ini alasan ayah nggak mau memaksa Keisya dan membiarkan dia mengambil langkah sendiri untuk hidupnya?"


"Kamu benar, ayah tak mau membuat ia merasa tertekan lagi hingga frustasi dan nekat bunuh diri, biarkan saja dia menjadi dirinya sendiri tanpa merasa membebani siapapun"


"Baiklah, aku akan simpan baik-baik semua nasihat ayah hari ini, aku juga bakalan melarang mas Azka untuk mencari Reno lagi, termasuk kak Revan juga"


"oh ya apa kakakmu baik-baik saja sama istrinya?"


"Alhamdulillah baik, emang kenapa yah?"


"nggak papa, ayah cuma pernah denger dari teman kalau Vivi sempat pulang kerumah orang tuanya di Solo karena bertengkar dengan Revan"


"Oh kalau Soal itu aku nggak pernah denger yah, emang sempat mbak Vivi pulang kampung karena bapak nya sakit, itu aja sih"


"Oh begitu, kakakmu selama menikah sudah menjaga jarak, bahkan sudah jarang menelpon ayah apalagi memberi kabar, kadang ayah pikir dia sibuk, tapi waktu dengar dia ada masalah dengan istrinya, malah bilang baik-baik saja waktu ayah telpon"


"Oh ya? emang sempat sih aku juga bertengkar soal tanah ibu yang pernah di jual ke bapak sambungnya Reno"


"Maksud kamu?"


"Mas Reno nyimpen dokumen lama surat tanah ibu waktu tanah itu belum di jual, tapi Tante Ranti nyimpen dokumen baru surat-surat tanah dan proses jual belinya, mas Reno waktu itu marah karena mikir kalau aku permainkan"


"Salahnya juga ibumu dulu nggak nyimpen surat-surat itu dengan baik, tapi beruntung Ranti orang yang bisa dipercaya bahkan saat ibumu bingung nyari dokumen, Ranti lebih dulu buat surat kehilangan ke polisi dan surat-surat tanah itu langsung di proses"


"Apa ayah sambung nya Reno sekaya itu Ayah"


"Hahaah, dia orang kaya yang paling dermawan yang ayah kenal semasa masih hidup, beliau orangnya sederhana dan bersahaja, tidak pernah mau menampakkan semua kekayaannya bahkan anak istrinya saja tidak ada yang tahu hingga kini"


"masak sih?"


"Suatu saat kamu juga akan tahu"