KINARA (Tresno Soko Kulino)

KINARA (Tresno Soko Kulino)
S2 Part 78



Setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh, akhirnya Keisya tiba di rumah sang kakak yang sudah lama tak pernah Ia kunjungi.


Kebetulan ayah mereka sedang ke luar negeri bersama besannya untuk meninjau proyek baru yang akan mereka kerjakan sekaligus liburan.


Di usianya yang sudah senja tuan Wibowo masih tetap produktif meskipun anak-anaknya melarang untuk bekerja. di minta untuk menikah lagi juga tak mau karena masih ingin setia dengan almarhum istrinya yang sudah banyak berkorban untuk dirinya dan juga keluarga.


pernah suatu ketika, Keisya mengenalkan ayahnya dengan salah seorang dosen nya di kampus. cek per cek setelah mereka bertemu ternyata mereka adalah teman semasa sekolah satu organisasi bahkan mereka sudah saling kenal dengan almarhum ibunya.


setelah kejadian itu Keisya akhirnya menyerah dan tak mau lagi memaksakan kehendaknya pada sang ayah.


"Assalamualaikum anak-anak Tante mana suaranya?" ucap Keisya saat memasuki rumah sang kakak menenteng sebuah koper dan tas serta paper bag oleh-oleh untuk dua keponakannya.


"Waalaikumsalam Kei? kok udah datang katanya besok" tanya Kinara seraya mengambil tas dari tangan Keisya.


"Iya harusnya besok, tapi kemarin aku ajuin proposal udah di ACC sama dosen pembimbing jadi pulangnya di cepetin" jawab Keisya


"Alhamdulillah,jadi penelitian disini?"


"Batal, katanya mas Hanan biar di desa aja yang lebih dekat kalau mau bolak balik ke Malang, mas Hanan juga sementara nyelesaiin tesisnya, emang beneran minta cuti di kantor mbak?" tanya Keisya sembari duduk dan meminum segelas air dari dispenser.


"Iya kemarin minta cuti dua hari katanya mau ambil angket di tempat penelitian nya, aku tawarin pakai mobil kantor nggak mau katanya lebih cepat kalau naik motor" balas Kinara


"Emang gitu sih orangnya, oh ya ada salam dari umi Tin mbak, kapan datang lagi ke desa"


"Nanti aja kalau mbak ada libur, lagi banyak tender jadi bingung mau nyelesaiin yang mana dulu"


"Mas Azka mana?"


"Di cafe, ada yang order paket katering untuk hajatan katanya jadi sibuk"


"Tumben mama Hanna nggak kesini?"


"Barusan aja pulang, Bulik Sri sehat kan?"


"Sehat semua, Arini lagi di deketin anaknya pak kyai, tapi sok gengsi kikikik"


"Masak? trus sama pak dokter itu gimana ceritanya?"


"Nggak tahu, terakhir kali aku denger dari Arini kalau dokter itu di jodohkan sama orang tuanya"


"Oh, kirain paklik sudah ngasih lampu hijau"


"Emang sudah, tapi karena masalah keluarga pak dokter nya minta waktu nyelesaiin dulu, anak-anak kemana kok sepi?"


"Ngaji di mushola sama mbaknya"


"Mbak, Aku ketemu Bu Fitri seminggu yang lalu"


Deg


Kinara yang sedang menuang sayur di wadah langsung terhenti mendengar ucapan Keisya.


"Bu Fitri? dimana?"


"Di stasiun kereta, cuma ngelihat dari jarak jauh, mau nyamperin akunya udah masuk kereta"


"Orangnya sama siapa?"


"Sama si kembar"


"Semoga mereka baik-baik saja"


"Mbak kok masih baik gitu sama mereka?"


"Karena mereka juga baik sama almarhumah ibu dan juga udah bantu ngerawat mbak waktu masih kecil" ucap Kinara mengenang. Keisya mengangguk-angguk.


"Kamu nggak ada dapat kabar apa-apa dari Reno?"


"Ya nggak lah mbak, ngapain juga mikirin dia, orang udah ilang di telan bumi, mbak kenapa sih?"


"nggak papa, kemarin sahabat mbak dari luar negeri datang dan nanyain Reno, kita nggak tahu mau jawab apa, ya akhirnya jujur kita bilang kalau dia hilang entah kemana"


"Lagian kenapa harus pake ngilangin jejak segala, kalau aja dari awal dia bilang nggak mau terima permintaan ayah, ya udah ngomong aja, jadi aku nggak terlanjur nyaman sama ibunya, eh malah ujug-ujug di batalin tanpa diskusi dulu"


"Mungkin karena takut ancaman kak Revan Kei"


"Emang kak Revan ada ngasih ancaman?"


"Iya, waktu ayah masuk rumah sakit, Reno minta maaf sama kak Revan, kalau saat itu nggak ada kak Vivi,mungkin Reno sudah babak belur"


"Hah, ya udahlah males banget aku ngebahas itu mbak, butik masih ramai kan?"


"Masih, orderan Alhamdulillah selalu ada, mbak rencana mau lepas ke kamu secepatnya, biar agak ringan"


"Ntar dulu lah, aku masih mau nyantai, desain baru udah ku kirim ke email kak Mala buat louncing bulan depan"


"Iya, kak Mala udah ngomong, pesenan baju kamu buat lamaran nanti udah jadi"


"Ya Alhamdulillah, besok siang aku lihat ke butik"


Obrolan mereka berhenti saat pintu utama di ketuk beberapa kali. Keisya kembali ke kamar tamu untuk istirahat sejenak. hari ini memang dia berencana ingin menenangkan tubuh dan pikirannya yang sudah terkuras banyak karena pengajuan proposal yang berkali-kali gagal dan di tolak dosen pembimbing. dan setelah perjuangan panjang dan di acc Keisya langsung mengemasi barang-barang nya untuk pulang ke rumah sang kakak.


"Kei, ini ada tamu kita bikin pesta barbeque di halaman belakang nanti malam" teriak Kinara dari luar pintu kamar.


"Iya, aku mau tidur dulu".


****


"mau kemana Ren?" tanya om Danu saat Reno keluar membawa kunci mobilnya


"Kerumahnya Jaka, ada yang mau di kerja om, adiknya butuh bantuan mau kerja skripsi". jawab Reno


"Insha Allah kalau cepat pulang ya langsung ke sana, soalnya kemarin Jaka bilang ada bahan baku mau masuk, sekalian cek barangnya, om kesana kan?"


"Iya besok mau rapat sama direksi, soal proyek baru di daerah pemekaran"


"Oh oke lah, pergi dulu om, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam hati-hati, pulang apa nggak?"


"Nggak mau nginap disana malam ini"


"oke"


"Reno kemana lagi pa?" tanya Tante Meri yang datang membawa kopi dan sepiring donat hangat.


"Biasa kerumah si Jaka, mana Gito? papa mau bicara" kata om Danu


"Gito...sini dulu nak di panggil papa"


"Iye daeng, sebentar pake baju ka dulu" kata Gito dengan logat bugis dari dalam kamar. kedua orang tuanya hanya geleng-geleng kepala mendengar logat anaknya yang berubah selama hidup di Sulawesi.


"Kenapa Ki papaku sayang?" tanya Gito begitu keluar dari kamar dan menghampiri sang papa.


"Nggak papa, duduk dulu, bikinin kopi juga ma"


"Lagi puasa ngopi pa, udah aku bilang berkali-kali"


"Kamu ini baru semenit logat mu lain lagi"


"Hahahahaa" Gito justru tertawa lebar mendengar ocehan papanya.


"Kenapa sih pa, ada apa, kalau udah kayak gini biasanya yang dibahas itu serius"


"Kalau sama kamu papa nggak bisa serius, karena muka mu aja udah bikin ketawa hahahaha" seru Danu menjahili anaknya


"Ya udah aku pergi, besok ada jadwal operasi pagi" ucap Gito seraya berdiri hendak pergi.


"Eh no no no, duduk dulu"


"Lagian tinggal ngemeng aja susah amat"


"Gito, kalau bicara sama papa yang baik-baik nak, kebiasaan kamu itu di rubah lah kalau di rumah" nasihat Tante Meri.


"Ya kan papa yang ngajarin ma, jangan aku Mulu di salahin, papa aja usil apalagi anaknya"


"masook pak ekooo hahaha" mereka berdua akhirnya tertawa.


"Gito, kamu ngomong apa sama Reno, kenapa sampai dia nekat mau nikahin Andin? padahal kamu tahu kalau dia aja susah payah buat ngelupain Keisya sampai sekarang" tanya om Danu serius.


"Ya dia minta saran, aku kasih dong pa, gara-garanya waktu dia nolongin sepupunya Andin, ternyata dokter yang merawat dan mengoperasi Puput itu dokter Fritz, dia masih keluarga dari Azka, kakak iparnya Keisya, cek per cek dokter itu juga yang ngobatin trauma dan gangguan mentalnya Keisya gara-gara kesalahan Reno dulu, nah pas lagi konsul si Reno ngaku kalau Andin itu istrinya, makanya pas pulang dia kayak orang bingung, sampai-sampai Andin juga bingung, tapi Reno di tanya nggk mau jawab, kan kesel jadinya"


"Dan kamu nyaranin Reno buat nikahin Andin gitu? buat ngilangin kecurigaan dan kebohongan Reno?" tanya Tante Meri


"Iya, abis mau kasi solusi apa lagi, Andin juga kalau aku lihat punya perasaan khusus ke Reno, saking Reno_nya aja yang nggak peka ma"


"Kamu satu rumah sakit sama dokter Fritz kan?"


"Kebetulan pernah satu organisasi sampai sekarang, ikatan dokter Indonesia di singkat IDI"


Plak


"Ditanya baik-baik jawabannya nyeleneh terus" omel Tante Meri.


****


Sampai dirumah Jaka, Reno langsung turun tangan membantu adik laki-laki Jaka yang sedang sakit dan harus mengerjakan skripsi. jadilah tenaga dan kepintaran Reno bermanfaat untuk Edi yang justru sakit saat tengah menyelesaikan skripsinya.


Setelah selesai, Reno duduk lesehan di sudut kamar yang lampunya ia ganti menjadi lampu hias remang-remang. pikirannya melayang pada satu nama yang masih bertahta di hatinya hingga kini.


Beberapa Minggu lalu sahabatnya di luar negeri memberi kabar kalau akan pulang ke tanah air.


Kemarin Beno memberikan kabar kalau mereka akan mengadakan reuni dadakan di rumah Kinara malam ini. hanya satu dirinya saja yang tidak bisa datang meski berbagai alasan ia berikan pada Beno. hingga tak ada pilihan kecuali memblokir nomor kontak Beno.


Reno memandang wajah ayu Keisya di layar ponselnya dan membaca seluruh pesan yang sudah lebih dari tiga tahun lalu Keisya kirimkan saat mereka masih bertunangan.


"Bang, mau sampai kapan kamu sembunyi disini, proyek yang kita kerja sudah selesai dan untuk proyek baru masih menunggu persetujuan direktur". ucap salah satu temannya


"Entahlah, lagian gue udah wisuda kan, udah ngajar juga, sekarang gue masih mau fokus disini aja, ada sekolah yang butuh seorang guru di daerah lereng gunung tempat pemekaran sana, gue mau ngajar disana untuk sementara" ucapnya


"Yakin? mau kesana? udah cari lokasi buat tempat tinggal?"


"Yakin, tapi belum nyari rumah tinggal"


"Saya yang urus semuanya kalau gitu, Abang terima beres oke?"


"Oke terimakasih Jak, gue berhutang budi banyak sama Lo"


"No problem saya tidur dulu, eh btw udah bilang sama bos Danu apa belum bang?" tanya Jaka


"Itu urusan belakangan, om Danu pasti ngerti kok"


"Lah tapi bukannya Lo mau ke luar negeri? denger-denger dari si Gito Lo mau nikah dalam waktu dekat?"


"Arrh Gito mulut ember...nanti lah gue cerita" ucap Reno kesal.


"Okelah jangan lupa bahagia bang heheh"


Setelah temannya masuk ke dalam rumah, ia menarik nafas panjang, seraya melihat foto sosial media Seorang wanita yang pernah di sakitinya di masa lalu.


"Kei, maafkan aku, kamu udah berubah, Hanan orang yang pantas untuk kamu. dia banyak berjasa buat kamu, aku menyesal Kei, menyesal sudah memberi luka untuk mu, seharusnya aku yang memberi kamu penawar, maafkan aku" batin nya sedih.